Sabtu, 26 Maret 2016

Cuma Saya Yang Bisa?

Ada satu istilah bahasa Belanda yang cukup populer di tengah masyarakat kita: minderwardeg, yang seringkali diringkas menjadi minder.

Secara antropologis, konon, karena sejarah kemerdekaan negeri ini yang banyak diisi cerita penjajahan (tiga setengah abad oleh Belanda dan tiga setengah tahun oleh Jepang), bangsa kita mesti menanggung sifat tak percaya diri, gampang kagum kepada bangsa lain, dan kurang menghargai kemampuan dan karya diri sendiri.

Inilah ciri-ciri sifat minder, yang secara ilmiah disebut sebagai inferiority complex.

Selain inferiority complex, ada juga yang mengidap superiority complex. Kebalikan dari mereka yang minder, penyandang superiority complex justru sangat yakin dengan kemampuan dirinya sendiri, merasa lebih hebat dari orang lain, bahkan tak bisa tertandingi atawa tersaingi oleh mereka.

Benak orang-orang seperti ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran seperti: “Cuma saya yang bisa!”, “Hasil sayalah yang terbaik!”, atau “Karya orang lain tidak akan sehebat punya saya!”.

Sesungguhnya, tipologi di atas bukanlah sekadar sebuah gambaran teoretis. Kita bisa menemukan orang-orang seperti itu dalam keseharian kehidupan, termasuk dalam konteks pekerjaan. Atau, jangan-jangan tanpa disadari kita juga memiliki sindrom serupa?

Seorang teman memberikan kiat praktis untuk mengidentifikasi kelompok ini. Katanya, jika bekerjasama ataupun memimpin sebuah tim, penyandang superiority complex tak akan mudah berbagi atau mendelegasikan pekerjaan. Bukan karena tak tahu manfaat dan cara melakukan delegasi, namun semata-mata ada mental-block yang menyelimuti pikirannya.

Ada tiga mental-block yang lazim menjadi penghalang seseorang melakukan delegasi.

Pertama, mental-block “I don’t have time to delegate!”. Karena merasa dikejar oleh pekerjaan yang serba penting dan mendesak, ia seolah tak punya waktu untuk melakukan diskusi dan delegasi kepada orang lain.

Merasa begitu sibuknya, yang bersangkutan dengan spontan berpikir: “Boro-boro mengurusi orang lain, menangani diri sendiri saja sudah kewalahan.”

Lebih hebat

Kedua, mental-block “I will lose my control and credit points”. Melakukan delegasi alias pembagian tugas dan tanggungjawab pada dasarnya memberi kesempatan pada orang lain untuk belajar lewat pengalaman dan penugasan langsung.

Itu sama artinya memberi peluang ke mereka untuk bertumbuh lebih cerdas, terampil, dan kompeten.

Bukannya tak mungkin, melalui proses pembelajaran seperti itu, orang lain atau bawahan bisa menjadi lebih hebat dari sang pimpinan. Akhirnya, dia sanggup bekerja secara mandiri dengan kualitas dan reputasi yang baik. Dan, kemandirian bekerja serta reputasi yang cemerlang, secara potensial bisa menjadi ancaman psikologis bagi seorang pimpinan yang tidak siap.

Mengapa? Karena ia akan merasa tidak dibutuhkan dan diakui lagi. Ia akan merasa kehilangan otoritas terhadap orang lain, dan credit-points yang lahir dari kerja tim seolah-olah akan diberikan ke bawahan atau rekan kerjanya, bukan kepada dirinya lagi.

Yang terakhir atau ketiga, sekaligus juga mental-block yang lazim muncul dengan diam-diam di kepala seorang pimpinan, yakni mental block “I can do it better!”.

Mental-block ini seringkali muncul secara naluriah (dan tanpa disadari) oleh para penyandang superiority complex. Kendala mental ini membuatnya merasa jadi superman yang sangat self-centric.

Para penyandang superiority complex dengan kendala mental ini menganggap dirinya sebagai satu-satunya orang yang mampu melakukan tugas pekerjaan dengan sempurna.

Hanya dirinya yang tahu segala informasi dan pengetahuan, sekaligus cuma dirinya yang cakap melakukan tugas dan tanggungjawab pekerjaan. Tidak ada orang lain yang sanggup mengikuti, apalagi menandingi kemampuan miliknya.

Kendala mental seperti ini membuat seseorang begitu bangga dengan kemampuan dan prestasi yang dimilikinya. Sekaligus dia sensitif terhadap ketidakmampuan dan wanprestasi dari orang lain.

Dalam bahasa pergaulan, mental block ini membuat orang cenderung menjadi narsistik, sekaligus juga ge-er alias gede rasa.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah posting seorang sahabat di media sosial. Begini bunyinya, “Even you have made the difference in life, it doesn’t mean that the world will depend on you. No one is indispensable.”

Sekalipun kita sudah begitu hebat dan banyak berjasa dalam kehidupan, bukan berarti bahwa kehidupan di seluruh dunia akan bergantung kepada kita. Mengapa? Karena, dalam hidup memang tak ada orang yang tak tergantikan.

Alam semesta memiliki kearifannya sendiri.


Ekuslie Goestiandi

Baca selengkapnya...

Rabu, 09 Maret 2016

Detik-detik Gerhana di Palembang yang Tertutup Awan

Palembang jadi salah satu kota yang dilintasi jalur totalitas gerhana matahari. 

Sayang, detik-detik tertutupnya matahari terhalang oleh awan. 

Acara puncak fenomena gerhana matahari total di Palembang dipusatkan di sepanjang Jembatan Ampera, serta di area Benteng Kuto Besak.  Jembatan kebanggaan warga Palembang sampai ditutup untuk lewat kendaraan karena banyaknya warga yang antusias untuk menyaksikan fenomena ini. 

Pantauan detikTravel di lokasi, Rabu (9/3/2016), tercatat ribuan orang tumpah ruah memenuhi Jembatan Ampera. Tak hanya turis lokal, banyak pula turis mancanegara yang menyaksikan fenomena alam langka ini. 

"Ini adalah anugerah Tuhan yang maha kuasa untuk masyarakat Palembang. Kita beruntung bisa menyaksikan fenomena alam langka seperti ini," kata Alex Nurdin, Gubernur Sumsel. 

Sayang, momen saat bayangan bulan menutupi matahari ini tidak bisa terlihat jelas dari atas Jembatan Ampera. Gumpalan awan besar terlihat menutupi matahari. Terang saja gerhananya menjadi tidak bisa terlihat. 

Penonton pun terlihat kecewa, beberapa sempat bersorak saat awan bergerak dan memperlihatkan sedikit penampakan matahari. Namun sorak-sorai itu berganti jadi gumaman 'Huuu' saat gumpalan awan kembali menutup matahari. 

"Yah, jadi tidak kelihatan mataharinyo," kata salah satu pengunjung. 

Fenomena alam langka ini hanya terjadi puluhan bahkan ratusan tahun sekali. Sayang jika momen ini terhalang awan tebal di Palembang. 


Sumber : Detik

Baca selengkapnya...

Minggu, 04 Oktober 2015

Orang yang Suka Menakut-nakuti

Sejak kecil kita sering mendengar orang dewasa menakut-nakuti dengan setan. Dan akhirnya kita jadi urung melangkah. Malam hari kita bisa dicekam ketakutan, dan bermimpi yang aneh-aneh.
  
Sewaktu remaja, hal serupa juga berulang. Saat akan mendaki gunung misalnya, selalu ada saja yang mengatakan itu berbahaya, akan tersesat, kelaparan, dirampok, tersedak asap belerang, tergelincir dan seterusnya. Nyatanya, kita malah melihat puncak yang indah, dan hamparan bunga edelweis yang menakjubkan. 

Memang kaki kita babak belur, dan sepanjang perjalanan ada jalur yang licin dan membuat Anda terjatuh. Tetapi semuanya bisa diatasi. 

Sewaktu memasuki SLTA saya juga ditakut-takuti. Maklum ini SMA elit di tengah-tengah Menteng – Jakarta Pusat, yang rata-rata siswanya berasal dari kalangan atas. Selain mahal rata-rata alumnusnya diterima di kampus-kampus elit menjadi dokter, insinyur atau ekonom. Dan bahkan banyak yang keluar negeri. Namun sewaktu diterima, semuanya terbelalak. 

Demikian juga sewaktu penentuan uang sekolah, tergantung pada kemampuan masing-masing. Dan orang tua saya hanya bisa mengatakan tak semenakutkan yang dikatakan banyak orang. 

Krisis Ekonomi? 

Demikianlah dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan orang-orang yang gemar menakut-nakuti yang tujuannya mungkin baik, tetapi mungkin juga tidak. Siapa yang akan mempercayai mereka?

Tentu orang-orang yang belum berpengalaman, yang punya harta banyak, yang takut kehilangan dan mereka yang tidak mau. Tidak mau apa? Ya tak mau kerja, tak mau berpikir. 

Ada pepatah mengatakan, “If you want to, you’ll find the way. If you don’t want to, you’ll find excuses.” Artinya, hanya orang-orang yang mau bergerak yang akan menemukan jalannya. Sedangkan yang tak menginginkannya, akan terus membuat-buat alasan, merangkai cerita dan mengirim berita negatif. 

Kehidupan ini sesungguhnya bukanlah kumpulan dari ramalan-ramalan perorangan yang berisi khayalan dan ocehan, melainkan sebuah akibat dari perbuatan jutaan manusia yang saling berinteraksi. Ada yang mengambil tindakan, dan ada yang bereaksi. Semua terpulang pada apa yang dipikirkan dan yang dipercayai. 

Semua gagasan dan opini bertarung untuk meyakinkan sesuatu sambil berharap menjadi langkah yang masif. 

Ekonomi adalah sebuah kumpulan perilaku yang outcome-nya akibat dari perbuatan manusia, yang akhirnya membentuk sebuah pola. Pola itu bisa bergerak ke atas, bisa juga ke bawah. Bila itu bergerak ke bawah, bisa saja ia menukik balik ke atas, menjadi anomali karena manusianya berpikir positif. 

Sebaliknya ia bisa bergerak makin liar, jatuh ke jurang (kendati fundamental ekonominya bagus), karena kita saling menyepak, menyalahkan, menakut-nakuti, dan menolak untuk bekerjasama karena mempercayai yang negatif. 

Sikap suatu bangsa terhadap krisis sesungguhnya tercemin dalam apa yang mereka definisikan pada kata krisis itu sendiri. Di Barat, krisis dimaknai sebagai “Sebuah titik belok” for better or for worse

Di China ia sebagai wei-ji yang artinya “kesempatan” atau ”peluang” dalam bahaya. Tetapi di sini, di Indonesia, John Echols dan Hassan Shadily (Kamus Bahasa Inggris-Indonesia) menjelaskan: krisis adalah sebuah situasi yang gawat, genting atau kemelut. 

Krisis akan benar-benar membuat para penakut kecut saat media sosial dan media massa ramai-ramai melaporkan suasana yang genting. Hanya karena dollar melambung seribu – dua ribu perak dalam sebulan ini. Pokoknya mencekam. Padahal pengusaha tahu, PHK butuh proses dan makan waktu berbulan-bulan dan amat mahal. Mana mungkin begitu dolar melambung pengusaha langsung PHK minggu depannya. 

Sekarang tampak betul adanya kelompok yang menakut-takuti masyarakat karena tidak ingin kita keluar dari kesulitan. Untuk keluar dari lembah terdalam, pertama-tama kita harus percaya pada kekuatan kita, lalu bekerjasama, saling membangun. Bukan saling mengejek dan menarik kaki mereka yang tangannya sudah menyentuh bibir jurang. 

Lantas siapa yang tidak mempan ditakut-takuti? Pertama, pasti kaum beriman. Mereka adalah orang yang percaya akan bantuan Allah dan terus berupaya. Kedua, mereka yang sudah berpengalaman, yang tahu bahwa susah tak akan berlansung selamanya. 


Konflik Etnis Kalbar 

Ini juga konflik yang mencekam. Saya teringat dengan konflik etnis di Kalbar 1999. Sebagai dosen terbang di Universitas Tanjung Pura, keluarga saya tentu terkejut ketika ada seseorang mengirimkan faksimili tentang kepala seorang petugas keamanan yang dipancung dan ditaruh di pagar hotel. 

Keluarga saya menjadi heboh dan minta agar saya tidak berangkat. Tapi saya katakan mengajar ini juga ibadah. Anak-anak gelisah karena tahu kalau soal pendidikan, ayahnya tak bisa menyurutkan langkah. Mereka menelfon Kampus. Mahasiswa yang menjawab berebut bicara. “Minta tolong agar ayahmu berangkat, kami sudah lengkap dan menunggu,” kata mahasiswa saya. 

Saya tak tahu percakapan selanjutnya, karena sudah harus segera berangkat. Di atas pesawat saya lihat bangku-bangku kosong ditinggalkan penumpang yang ketakutan. Purser yang bertugas, mengajak saya bicara dan bertanya-tanya mengapa saya nekat berangkat. Mereka menggunjingkan saya yang duduk di sudut jendela tanpa teman. 

Di Bandara Supadio, Pak Efi, pimpinan universitas menjemput saya dengan riang. Putra Melayu asli Kalbar itu bercerita panjang lebar tentang kejadian beberapa hari lalu. Tetapi selebihnya tak ada tanda-tanda kejadian yang mengerikan di sana. 

Pontianak aman dan mahasiswa saya bertepuk tangan saat menyambut saya karena kabarnya hanya satu dosen yang “berani” datang. Padahal mereka rata-rata berjuang 8 – 12 jam datang dari berbagai daerah pedalaman untuk mendengarkan kuliah saya. 

Saya pun memberi bonus waktu dan bermalam di sana bersama mereka. Esoknya kami menengok para pengungsi dan mereka mentraktir saya makan kwetiau Apolo yang terkenal itu. 

Saya katakan, sewaktu keadaan sulit kita justru harus belanja agar uang berputar. Mereka pun setuju dan pemilik warung gembira. Pegawainya pun bisa gajian. 

Kita Aktor Utamanya 

Belajar dari beragam peristiwa di atas, saya perlu mengajak Anda semua agar tidak tercekam dengan rasa takut yang berlebihan. Hidup bukanlah sebuah episode spekulasi seperti kita yang kini terperangkap menerka kurs dolar. Hidup adalah sebuah perjalanan panjang untuk meraih keberhasilan. 

Kita sudah membuktikan bahwa hasil yang kita capai adalah berasal dari kerja keras, kepercayaan dan kreativitas. Bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, kita semua sepakat. Tetapi kita perlu berusaha semaksimal mungkin. 

Benar, kita adalah aktor ekonomi, jadi hasil akhir dari episode kenaikan atau menguatnya dollar AS adalah juga karena peran kecil kita. Tetapi dalam usaha dan pekerjaan yang kita jalankan, kita adalah aktor utamanya. Mengapa ada pihak yang gemar menakut-nakuti? 

Tentu ada banyak jawaban. Ada yang terlalu sayang dengan anda, tetapi juga benar, ada yang tak mau anda berhasil. Bagi kaum pemalas ini adalah kesempatan untuk beristirahat. 

Bagi yang culas, setiap keberhasilan anda adalah tamparan besar bagi mereka. Itu sebabnya mereka akan terus menakut-nakuti, mencela, bahkan memasang perangkap dan beragam ranjau agar anda jatuh dan berhenti. Tetapi itu tak akan berarti kalau bangsa ini bukan penakut.  


Oleh : Rhenald Kasali

Baca selengkapnya...

Selasa, 30 September 2014

Menikmati Angsa Hitam

Saat memutuskan untuk membeli saham, investor dianjurkan melakukan analisis fundamental. Mereka harus memprediksi arus kas perusahaan di masa depan agar bisa memperkirakan nilai perusahaan. Namun benarkah kinerja perusahaan bisa diprediksi?

Suatu ketika, di kelas investasi, saya mengusulkan kepada mahasiswa, "Bagaimana kalau kita undang juga seorang paranormal sebagai pengajar tamu?" Mahasiswa langsung tertawa karena membayangkan diajar oleh paranormal di mata kuliah yang penuh logika.

Tentu saya bercanda. Bagaimana mungkin mahasiswa program S-2 belajar hal-hal yang tidak scientific? Namun pesan yang ingin saya sampaikan ke mereka adalah hal tersulit dalam valuasi saham atau perusahaan bukanlah memahami metode valuasinya. Metode populer seperti discounted cash flows bisa mereka telan secara cepat. Tetapi untuk mendapatkan valuasi dengan akurasi tinggi dibutuhkan kemampuan untuk "menerawang" masa depan. Kita harus bisa memprediksi kondisi perekonomian dunia, nasional, industri atau sektor hingga perusahaan.

Puluhan pertanyaan sulit bermunculan saat kita melakukan valuasi. Apakah The Fed akan mengurangi stimulus ekonomi? Apakah krisis utang Eropa bakal kumat lagi? Berapa pertumbuhan ekonomi Indonesia jika subsidi BBM dikurangi? Apa dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN? Apakah harga batubara akan segera naik? Bagaimana integritas manajemen perusahaan? Apakah margin laba dan pertumbuhan penjualan bisa ditingkatkan? Apakah…

Sampai di sini seorang mahasiswa menyela dengan wajah serius, "Stop Pak, tampaknya kita memang perlu belajar ilmu penerawangan dari Ki Joko Bodo…" Kelas kembali grrrr.

Valuasi tidak semudah yang kita bayangkan. Antara lain karena ada kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kita pikir hal itu mustahil terjadi, namun kenyataannya bisa terjadi. Masalahnya, kejadian langka ini bisa membawa dampak besar.

Nassim Nicholas Taleb, pakar keuangan dari New York University dan mantan trader saham di Wall Street, menyebut kejadian yang hampir mustahil tersebut sebagai "Black Swan." Istilah ini diambil dari cerita tentang keyakinan bahwa angsa semuanya berwarna putih. Angsa hitam adalah mustahil karena mereka tidak sadar bahwa di Australia terdapat angsa hitam. Maka angsa hitam adalah kejadian yang tak umum (unusual), namun bukan tak mungkin (impossible). Karena probabilitasnya amat kecil, kejadian angsa hitam sulit diprediksi.

Banyak contoh kejadian angsa hitam. Di Piala Dunia 2014, dalam mimpi yang terburuk-pun orang tidak berani meramal bahwa Brazil bakal kalah 1-7 dari Jerman. Brazil adalah mbah-nya sepakbola. Main di kandang sendiri lagi. Kalah 0-1 saja sudah merupakan bencana. Kalah 1-7? Itu "hil yang mustahal", meminjam celetukan terkenal legenda Srimulat, Asmuni.

Dalam bukunya, The Black Swan: The Impact of Highly Improbable (2007), Nassem Taleb memberikan contoh kejadian angsa hitam. Mulai dari penggunaan internet, komputer pribadi, Perang Dunia I, pecahnya negara Uni Sovyet hingga serangan 11 September.

Di bidang ekonomi, beberapa contoh angsa hitam misalnya, market crash di Wall Street 1929, kebangkrutan Lehman Brothers, raksasa keuangan berusia 150 tahun, Long Term Capital Management (LTCM), hedge fund terkenal di AS. LTCM awalnya sukses dan mustahil jika bangkrut karena dikelola oleh dua pemenang Nobel bidang ekonomi, Myron Scholes dan Robert Merton. Namun akhirnya gulung tikar juga akibat gagal bayar obligasi pemerintah Rusia.

LTCM gagal memprediksi default pemerintah Rusia beserta dampaknya. Ini mirip dengan kejadian 11 September di New York. Pemerintah AS tidak mampu membaca kemungkinan serangan ke gedung tinggi menggunakan roket pesawat komersial.

Di bursa saham kita, kejadian mana yang bakal termasuk angsa hitam dan mana yang termasuk mustahil? Apakah perusahaan blue chip seperti Astra International, Semen Indonesia dan Bank Mandiri tidak mungkin bangkrut? Apakah harga saham Bumi Resources bisa kembali ke level Rp 8.000 per saham? Apakah Tiga Pilar Sejahtera bisa lebih hebat daripada Indofood?

Dalam bukunya, Nassem Taleb tidak mengajarkan bagaimana memprediksi kejadian Black Swan. Namun ia menasehati agar pembaca membangun pertahanan yang solid terhadap dampak negatif yang ditimbulkan angsa hitam dan mampu memanfaatkan dampak positifnya. Dampak kejadian angsa hitam tergantung pada observer-nya. Kejutan angsa hitam bagi seekor ayam kalkun berbeda dari kejutan untuk si pemotong ayam kalkun. Keberhasilan iPhone adalah angsa hitam bagi kompetitor, namun pasti tidak untuk pemegang saham Apple. Maka, pembaca harus menghindari posisi sebagai ayam kalkun dengan cara mengidentifikasi kelemahan-kelemahan sehingga bisa menjadikan angsa hitam menjadi angsa putih.

Jika kita siap menghadapi kejadian angsa hitam, kita tidak mudah panik ketika ia tiba-tiba muncul di antara kerumunan angsa putih. Kejadian angsa hitam tidak bisa dihindari, namun bukan berarti tidak bisa dinikmati.

Oleh : Lukas Setia Atmaja

Baca selengkapnya...

Minggu, 16 Februari 2014

Ikan Dan Tepung Sang Kakek

Konon, hiduplah seorang kakek keturunan China di Perakitan, di tepian Sungai Musi, Sumatera Selatan. Kala itu, Sungai Musi masih berlimpah dengan ikan, sampai-sampai warga yang hidup di tepian sungai tersebut bosan dengan menu ikan yang hanya digoreng, dibakar, direbus atau di pindang.

Demikian pula sang kakek. Ia lalu mencoba berkreasi membuat makanan baru dengan bahan ikan yang ditangkap dari sungai Musi. Ia membuat makanan dari daging ikan yang digiling, lalu dicampur dengan tepung tapioka / kanji. Makanan itu menurutnya cukup enak dan pendapat yang sama juga disampaikan tetangga dan kenalannya. 

Akhirnya, ia pun mencoba menjual makanan yang dibuatnya itu. Kemudian, setiap hari, ia menjajakan makanan tersebut keliling kota Palembang dengan sepedanya. Karena makanan tersebut belum “berjudul”, orang-orang menandai makanan tersebut sebagai makanan buatan kakek. 

Dalam bahasa China, kakek disebut pek atau mpek. Maka, mereka yang berminat membeli makanan tersebut memanggil sang kakek dengan “mpek, mpek” dan jadilah makanan tersebut dinamai mpek mpek. 

Belida 

Awalnya, mpek mpek dibuat dari belida yang banyak dan mudah ditemukan di Sungai Musi. Akan tetapi, karena keberadaan ikan itu semakin lama semakin langka, harganya pun kian mahal. Maka, ikan belida untuk membuat mpek mpek diganti dengan ikan lain, diantaranya gabus, putak, toman dan bujuk. 

Selain itu, bisa juga diigunakan ikan yang berasal dari laut, seperti tenggiri, kakap merah, parang-parang, ekor kuning, sebilah atau tuna putih. 

Soal rasa tentu berbeda. Namun, saat ini tempaknya pembuat mpek mpek lebih bersepakat menggunakan ikan tenggiri sebagai bahan pembuat mpek mpek. 

Alasannya, ikan tenggiri mempunyai tekstur daging yang lembut dan mudah dihaluskan. Selain lembut, durinya pun gampang dipisahkan dari daging ikan. Bukan itu saja, kulit ikan tenggiri juga dapat digunakan untuk membuat mpek mpek kulit, yang mempunyai rasa khas dan tekstur yang agak berserat. Ini hampr mirip dengan ikan belida, yang menjadi cikal bakal ikan yang digunakan untuk membuat mpek mpek. 


Sumber : kompas

Baca selengkapnya...

Selasa, 21 Januari 2014

Mempersiapkan Dana Pensiun

“Siapa yang menanam, dia-lah yang akan menuai.” Peribahasa ini nampaknya sesuai untuk menggambarkan bagaimana kualitas kehidupan pensiun setiap orang nantinya. Semakin dini Anda mempersiapkan dana pensiun, semakin siap Anda menghadapi masa pensiun. 

Jangan Tunggu Sampai Terlambat 

Masa pensiun merupakan fase perubahan yang besar dalam hidup Anda. Jika dulu Anda terbiasa disibukkan dengan berbagai aktivitas di kantor, maka sekarang Anda memiliki lebih banyak waktu luang dan tentu saja Anda tidak lagi mendapati rekening Anda terisi oleh sejumlah nominal gaji yang biasa Anda terima dari kantor. Bagi sebagian orang, terkadang kondisi seperti ini menjadi kurang menyenangkan karena jika ternyata uang pensiun yang Anda terima jauh berbeda dari gaji Anda, maka mau tidak mau Anda harus mengubah gaya hidup Anda secara drastis. Tentu Anda tidak ingin hal ini terjadi pada Anda, bukan? 

Rencanakan Sejak Dini 

Meskipun masa pensiun Anda masih lama, jangan ragu untuk mulai membuat perencanaan dana pensiun mulai dari sekarang. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah menghitung besarnya kebutuhan selama masa pensiun Anda di masa depan. Anda pun bisa menentukan gaya hidup seperti apa yang Anda inginkan saat pensiun nanti. 

Langkah kedua adalah menentukan strategi yang tepat untuk mencapai target dana pensiun tersebut. Jika masa pensiun Anda masih lima tahun lagi atau lebih, sebaiknya tempatkan dana Anda di instrumen-instrumen investasi. Namun, jika masa pensiun Anda sudah di bawah lima tahun, jangan paksakan diri untuk melakukan investasi. Jika Anda mengikuti iuran pensiun di kantor Anda, masukkan juga nilainya ke dalam perhitungan dana pensiun Anda. 

Jangan ragu untuk membuat janji dengan perencana keuangan independen untuk berkonsultasi seputar perencanaan pensiun Anda.Semua orang pasti menginginkan kehidupan pensiun yang bahagia. Dengan mempersiapkan pensiun sejak dini, bukan tidak mungkin Anda memiliki kemandirian finansial di masa tua nanti sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga Anda. Anda pun tak sekadar bisa membiayai kebutuhan pensiun, tetapi juga menjadi kakek-nenek yang bisa memanjakan cucu-cucu Anda. 


Ratih Nurmalasari

Baca selengkapnya...

Kamis, 16 Januari 2014

Ini 6 Poin untuk Jaga Stabilitas Perekonomian 2014

Berikut ini 6 poin penting yang menjadi fokus utama pemerintah untuk menjaga stabilitas pertumbuhan perekonomian nasional pada 2014. 

Keenam pon itu yaitu kualitas belanja negara, daya beli masyarakat, investasi, daya saing produk dalam negeri, pengelolaan impor, dan perdagangan dalam negeri. 

Hal itu dikemukakan Menko bidang Perekonomian Hatta Rajasa usai mengikuti rapat kabinet paripurna pertama pada 2014 bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/1/2014). 

Menurut Hatta, menjaga kualitas belanja negara sangat penting untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi. "Selalu harus ada ruang fiskal di 2014 ini untuk belanja modal," katanya. Dia menuturkan sebagian besar belanja modal adalah untuk keperluan infrastruktur. Pada 2014, ujarnya, terjadi kenaikan belanja modal sebesar 6,7% menjadi Rp206 triliun. "Perlu reformasi birokrasi untuk mengembalikan agar belanja yang lebih berkualitas ini jadi sangat penting," katanya. 

Hatta melanjutkan fokus kedua pemerintah yaitu menjaga daya beli masyarakat dengan mengendalikan laju inflasi. Pemerintah, lanjutnya, sudah bertekad untuk mengendalikan inflasi pada angka 4,5% plus minus 1%. 

Fokus ketiga, ujarnya, mendorong pertumbuhan investasi karena hal itu berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja. "Penting menjaga seluruh investasi yang ada di Tanah Air untuk tidak kolaps apalagi pindah karena suatu alasan," katanya. 

Fokus keempat, lanjut Hatta, peningkat daya saing, terutama untuk produk nonmigas yang diekspor ke luar negeri. Pemerintah, ujarnya, berkomitmen meningkatkan diversifikasi pasar tujuan ekspor dengan meningkatkan keberagaman dan kualitas produk. "Saudara tahu, kebijakan mineral dan batu bara kita cukup baik direspon pasar. Kita bertekad untuk tidak lagi mengekspor bahan mentah," ujar Hatta. 

Fokus kelima, lanjut Hatta, mengendalikan impor produk-produk yang berpotensi menurunkan daya saing produk domestik di pasar dalam negeri sambil memperluas pasar domestik. 

Adapun fokus keenam pemerintah yaitu memperkuat perdagangan dalam negeri karena sangat berpengaruh dalam menjaga kestabilan harga, kelancaran barang, dan menciptakan iklim usaha. "Dalam kaitan ini, maka sistem logistik nasional kita menjadi sangat penting," katanya. Dia menegaskan pemerintah telah berkomitmen untuk mempercepat seluruh hal-hal yang berkaitan dengan konektivitas seperti pelabuhan, bandara, dan moda transportasi, termasuk pembangunan double track, sejumlah ruas jalan tol, dan pembangkit listrik tambahan 49.000 mega watt. 

"Sehingga, walaupun kita perlu hati-hati karena faktor eksternal masih akan terasa, kami menghadapi 2014 dengan lebih optimis," ujarnya. 


Sumber : Bisnis Indonesia

Baca selengkapnya...

Selasa, 14 Januari 2014

Dunia Separuh Separuh...

Ya Chun pelajar di Tsung Lin University Fo Guang Shan tidak suka dengan dosen pembimbingnya. Dia selalu menolak instruksi dan nasehat gurunya itu. Suatu hari Master Hsing Yun, pimpinan universitas, memanggilnya. 

“Dengar-dengar kamu ada masalah dengan dosen pembimbingmu. Apakah yg membuatmu kurang puas terhadap beliau ?". 

Ya Chun tidak melewatkan kesempatan ini, setengah jam lamanya dia mengutarakan kejelekan dosennya. Master Hsing Yun mendengarkan dan tiada hentinya minta dibeberkan fakta kejelekan dosennya dan saran-sarannya. Setelah Ya Chun kehabisan ide tentang saran-saran perbaikan untuk sang dosen, akhirnya Master Hsing Yun berkata, “Kalau sudah selesai, sekarang ganti saya yang bicara, ya ?” Ya Chun manggut-manggut. 

Master Hsing Yun berkata, “Kamu ini adalah orang yang berkarakter membedakan hitam putih secara jelas, memandang perbuatan buruk layaknya musuh” Ya Chun mengangguk dan berkata dengan bangga, “Shifu, Anda benar. Saya memang orang seperti itu !” Master Hsing Yun melanjutkan, “Kamu tahu, dunia ini adalah dunia yang separuh separuh. Langit separuh, bumi separuh. lelaki separuh, perempuan separuh, bajik separuh, jahat separuh, jernih separuh, keruh separuh. Sangat disayangkan, apa yang kamu miliki adalah dunia yang tidak utuh”. 

Ya Chun tercengang sekian saat, lalu bertanya, “Kenapa Shifu mengatakan yang saya miliki adalah dunia yang tidak utuh ?". 

Master Hsing Yun menjawab, “Karena yg kamu cari adalah kesempurnaan, hanya bisa menerima sisi sempurna yg hanya separuh saja, tidak bisa menerima ketidak sempurnaan yg merupakan sisi separuhnya lagi. Oleh karena itu, yg kamu miliki adalah dunia yg tidak utuh, tidak akan pernah menjadi bulat utuh”.

Ya Chun seketika itu juga merasa limbung, tidak tahu harus bagaimana. Dia lalu bertanya, “Lantas, saya harus bagaimana ?”. 

Master Hsing Yun dengan welas asih menjawab, “Belajar toleran terhadap dunia yang tidak sempurna, maka kamu akan memiliki sebuah dunia yang utuh”.

Baca selengkapnya...

Sabtu, 04 Januari 2014

Sudut Pandang

Di sebuah kantor Anne dan Stella terlibat dalam pembicaraan berikut: 

Anne: Hi Stella, apa kabar? Kemarin merupakan malam yang sempurna bagi saya bagaimana dengan dikau sahabatku? 

Stella: Aduh Anne, semalam itu bencana. Suami saya telat pulang kerja, makan malam terburu-buru dan dua menit kemudian dia tertidur di depan TV. Bagaimana dengan kamu Anne? 

Anne: Wah kalo saya sih semalam mengalami pengalaman yang luar biasa. Suami saya pulang kerja lalu mengajak saya keluar untuk makan malam yang romantis. Setelah makan malam, kita berjalan selama sejam. Ketika pulang dia nyalakan lilin-lilin di sekeliling rumah. Sungguh seperti cerita di dongeng. 

Disaat yang bersamaan suami mereka juga terlibat dalam pembicaraan. 

Suami Anne: Hi Steve, apa kabar? Gimana keadaanmu semalam? 

Suami Stella: Luar biasa Andy. Kemarin malam setibanya saya di rumah, makan malam sudah tersedia di meja makan, saya makan dengan lahapnya lalu jatuh tertidur sesudah itu. Kalo kamu gimana? 

Suami Anne: Malapetaka Steve. Ketika pulang, tidak ada makan malam, PLN memutuskan listrik rumah saya karena saya lupa membayarnya. Jadi saya ajak Anne makan diluar yang ternyata harganya mahal sekali sehingga uang saya tidak cukup untuk bayar taxi pulang. Kami pulang jalan kaki kurang lebih sejam. Ketika tiba di rumah karena tidak ada listrik, saya terpaksa harus menyalakan lilin di semua sudut rumah. Huh sungguh pengalaman yang buruk. 

Kejadian yang sama dikisahkan dua orang yang berbeda menghasilkan dua cerita berbeda. Tergantung bagaimana sudut pandang kita terhadap suatu masalah atau hal tersebut. 

Sudut pandang kita akan menentukan komunikasi kita. Komunikasi bisa positif dan bisa juga negatif, itu tergantung bagaimana kita memutuskan kemana sudut pandang kita akan membawa kita.

Baca selengkapnya...

Kamis, 05 September 2013

Kera dan Ikan

Pada suatu masa hiduplah 2 makhluk bersahabat, seekor kera dan seekor ikan. Sang kera hidup di atas sebatang pohon yang tumbuh di pinggir sungai, tempat hidup si ikan. Mereka sering meluangkan waktu untuk ngobrol dan bertukar pikiran bersama-sama. Sungguh persahabatan yang indah. 

Hingga pada suatu saat, kera melihat sesuatu di kejauhan. Ya! Banjir bandang di hulu sungai dan siap segera menerjang ke tempat yang lebih rendah! Tempat tinggal kera dan ikan! 

Segera sang kera melompat ke bawah, memanggil sang ikan seraya bekata, “Hoi ikan!! Dimana kau?” “Aku di sini kera”, jawab sang ikan. “Cepat kemari… Banjir bandang melanda dari hulu sungai sana. Cepatlah kau ikut aku. Biar kuselamatkan kau. Akan kuamankan kau bersamaku di puncak dahan tertinggi pohon ini”. 

“Tapi kera…” Jawab sang ikan… “Sudahlah!! Tak ada waktu untuk berdebat! Yang penting kau aman,” tegas sang kera tanpa menunggu penjelasan ikan. 

Tak lama, banjir bandang mendera semua benda di permukaan rendah di seputar sungai satu jam lamanya. Sampai akhirnya banjir surut. Selama itu pula kera memeluk erat ikan sahabatnya. 

Setelah reda, sang kera melompat kembali ke bawah, hendak mengembalikan sang ikan ke sungai. “Hai ikan, bangun!” serunya. Tapi ikan tetap diam, "Ikan… Ikan… bangunlah! Banjir bandang sudah berlalu. “IKAN!!!… IKAN!!” Kera berseru keras. 

Tersadarlah ia bahwa… Ikan telah mati. Mati akibat pelukannya. Manalah ada ikan biasa yang bisa hidup di luar air? Tapi kera tak memberi kesempatan sang ikan menjelaskan. Dengan cara pandangnya sendiri, ia hendak menyelamatkan ikan. Namun bukannya selamat, malah sang ikan malah mati kekeringan. 

Seringkali dalam kehidupan ini kita gegabah menentukan sesuatu yang terbaik bagi orang lain. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain. Mencoba menolong orang lain jika dilakukan dengan cara yang salah justru bisa menghancurkan orang yang kita tolong.

Baca selengkapnya...

Minggu, 01 September 2013

5 Tips Menghadapi Krisis Keuangan

Guna menghadapi segala kemungkinan dari situasi ekonomi yang kurang menggembirakan, kita perlu menata ulang keuangan kita. Jangan sampai kita kesulitan saat krisi terjadi. Berikut tipsnya: 

1 . Jangan putus asa. Jangan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri dan jangan meragukan diri sendiri. Ekonomi satu negara selalu bersiklus dan siklus ini akan berubah. Jika Anda terlibat dalam mencari pekerjaan, teruslah mencari. Jika Anda khawatir tentang pekerjaan Anda, tempatkan kekhawatiran ke belakang pikiran Anda dan fokus pada pekerjaan terbaik yang dapat Anda lakukan . 

2. Shift Tabungan. Salah satu penyakit jangka panjang ekonomi seperti AS adalah sangat rendahnya tingkat tabungan nasional. Kita harus belajar dari kisah Yusuf dan mimpi Firaun, pada saat paceklik terpenting adalah memiliki surplus untuk menjaga saat jatuh kembali. 

3 . Lunasi Utang. Sejauh yang Anda bisa, lunasi hutang untuk melindungi kredit Anda, tetapi dengan segala cara, lakukan hal yang strategis . Lunasi utang berbunga tinggi seperti kartu kredit . Banyak orang berpikir yang terbaik adalah untuk mempercepat pembayaran hipotek, tetapi tidak masuk akal untuk mempercepat melunasi utang yang berbunga rendah, utang pajak dikurangkan jika Anda memiliki jenis utang lain. 

4. Gunakan situasi saat ini sebagai kesempatan untuk mempertajam keterampilan atau untuk menjelajahi daerah baru. Misalnya pikirkan soal pendidikan profesional, baik untuk maju ke tingkat keterampilan yang lebih tinggi untuk pergeseran ke siklus yang positif. Jangan tinggal diam. Carilah kesempatan untuk menjadi sukarelawan, misalnya. Sebab banyak lembaga non-profit menghadapi pemotongan anggaran, waktu dan energi. Anda dapat membantu mereka mengatasi tantangan mereka . 

5. Tinjau anggaran Anda. Namun, melakukannya secara judicially. Selalu ada beberapa cara untuk mengurangi pengeluaran. Terutama pada apa yang disebut daerah marjinal – a.l. langganan majalah yang Anda sering sisihkan tapi tidak dibaca, saluran ekstra seperti televise berbayar di mana Anda ternyata tidak mengaksesnya, situs web langganan Anda, tetapi Anda tidak mengunjunginya. Memeriksa kembali semua yang Anda miliki di daftar tagihan abadi. Namun, jangan lupa kewajiban Anda untuk beramal. Ingat selalu ada seseorang yang tidak kaya seperti Anda . 


Sumber : bisnis.com

Baca selengkapnya...

Sabtu, 24 Agustus 2013

Mengapa Manusia Melihat Cahaya Terang Saat Mendekati Kematian?

Orang yang mengalami mati suri atau mendekati kematian sering kali melaporkan bahwa dirinya melihat cahaya terang. Ilmuwan terus bertanya-tanya mengapa hal itu terjadi. Benarkah cahaya terang itu terkait hal-hal di luar nalar? 

Dalam studi terbaru, seperti diberitakan BBC, Selasa (13/8/2013), ilmuwan mengungkapkan bahwa cahaya terang yang dilihat saat mendekati kematian mungkin saja dipicu oleh lonjakan aktivitas elektrik pada zona otak yang bertanggung jawab untuk penglihatan. 

"Banyak orang mengira otak tidak aktif atau ada dalam aktivitas rendah (hipoaktif) setelah seseorang dinyatakan meninggal secara medis. Kami menunjukkan jika bukan hal tersebut yang terjadi," ujar Dr Jimo Borjigin dari University of Michigan yang menjadi penulis utama studi ini. 

"Justru, maka otak menjadi lebih aktif saat menjelang kematian daripada ketika seseorang masih hidup," tambah Borjigin yang memublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. 

Borjigin dan rekannya memonitor aktivitas otak sembilan ekor tikus yang sekarat. Tiga puluh detik setelah jantung berhenti berdetak, gelombang otak frekuensi tinggi yang disebut osilasi gamma ternyata melonjak. 

Gelombang tersebut adalah salah satu dari fitur saraf yang diduga mendukung dengan kesadaran pada manusia, terutama saat berperan menggabungkan informasi dari bagian otak yang berbeda. Pada tikus, aktivitas otak ini justru lebih tinggi sesaat setelah jantung berhenti daripada saat sadar. 

Menurut Borjigin, hal yang sama mungkin juga terjadi pada manusia. Peningkatan aktivitas otak dan kesadaran bisa memicu penglihatan-penglihatan saat menjelang kematian atau ketika mengalami mati suri. 

"Ini dapat memberikan kerangka untuk membantu menjelaskan (pengalaman melihat cahaya saat mendekati kematian). Fakta bahwa seseorang melihat cahaya sebelum meninggal mengindikasikan bahwa korteks visual dalam otak memiliki aktivitas yang tinggi," kata Borjigin. 

Menanggapi hasil riset ini, Jason Braithwaite dari University of Birmingham berpendapat bahwa fenomena ini semacam "perayaan terakhir" yang dilakukan oleh otak. Temuan ini mendemonstrasikan pendapat yang diyakini sejak lama, yakni dalam kondisi tak biasa, aktivitas otak bisa melonjak. 

Dr Chris Chambers dari Cardiff University menyatakan, masih sangat sedikit yang diketahui tentang kematian pada manusia. Temuan menarik ini dapat membuka pintu untuk studi lebih jauh pada manusia sendiri. 

"Namun kita juga harus sangat berhati-hati sebelum menarik kesimpulan tentang pengalaman mendekati kematian pada manusia. Perlu dilakukan pengukuran aktivitas otak pada tikus selama proses jantungnya berhenti berdetak untuk mengetahui hubungan dengan pengalaman pada manusia," tambahnya. 


Dyah Arum Narwastu

Baca selengkapnya...

Jumat, 23 Agustus 2013

Pelajaran Berharga Dibalik Mengantri

Seorang guru di Australia pernah berkata,“Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai MATEMATIKA. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai MENGANTRI."

Sewaktu ditanya,“Mengapa? Inilah jawabannya, 

1. Karena hanya perlu waktu 3 bulan secara intensif untuk melatih anak bisa matematika. Sementara perlu waktu 12 tahun atau lebih untuk melatih anak agar bisa mengantri dengan baik dan benar. 

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika, kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari siswa yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak. 

Memang ada pelajaran berharga dari MENGANTRI? Ya ! Banyak sekali pelajaran berharganya, yakni : 

1. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, harus datang lebih awal dan itu butuh persiapan lebih awal; 

2. Anak belajar bersabar. Menunggu giliran tiba, terutama jika ia di antrian paling belakang; 

3. Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu dan tidak merasa dirinya yang paling penting; 

4. Anak belajar berdisiplin. Aturan mengantri adalah tidak menyerobot dan itu berarti tidak mengambil hak orang lain; 

5. Anak belajar kreatif. Untuk mengatasi kebosanan saat mengantri merangsang berpikir untuk melakukan suatu aktivitas (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri); 

6. Anak bisa belajar bersosialisasi. Menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian; 

7. Anak belajar tabah. Menjalani proses dalam mencapai tujuannya, sehingga tidak melegalkan cara-cara kotor dalam mencapai tujuan.

Baca selengkapnya...

Rabu, 21 Agustus 2013

Three Differences Between Managers and Leaders

A young manager accosted me the other day. "I've been reading all about leadership, have implemented several ideas, and think I'm doing a good job at leading my team. How will I know when I've crossed over from being a manager to a leader?" he wanted to know. 

I didn't have a ready answer and it's a complicated issue, so we decided to talk the next day. I thought long and hard, and came up with three tests that will help you decide if you've made the shift from managing people to leading them. 

Counting value vs Creating value. You're probably counting value, not adding it, if you're managing people. Only managers count value; some even reduce value by disabling those who add value. If a diamond cutter is asked to report every 15 minutes how many stones he has cut, by distracting him, his boss is subtracting value. 

By contrast, leaders focuses on creating value, saying: "I'd like you to handle A while I deal with B." He or she generates value over and above that which the team creates, and is as much a value-creator as his or her followers are. Leading by example and leading by enabling people are the hallmarks of action-based leadership. 

Circles of influence vs Circles of power. Just as managers have subordinates and leaders have followers, managers create circles of power while leaders create circles of influence. 

The quickest way to figure out which of the two you're doing is to count the number of people outside your reporting hierarchy who come to you for advice. The more that do, the more likely it is that you are perceived to be a leader. 

Leading people vs Managing work. Management consists of controlling a group or a set of entities to accomplish a goal. Leadership refers to an individual's ability to influence, motivate, and enable others to contribute toward organizational success. Influence and inspiration separate leaders from managers, not power and control. 

In India, M.K. Gandhi inspired millions of people to fight for their rights, and he walked shoulder to shoulder with them so India could achieve independence in 1947. His vision became everyone's dream and ensured that the country's push for independence was unstoppable. The world needs leaders like him who can think beyond problems, have a vision, and inspire people to convert challenges into opportunities, a step at a time. 

I encouraged my colleague to put this theory to the test by inviting his team-mates for chats. When they stop discussing the tasks at hand — and talk about vision, purpose, and aspirations instead, that's when you will know you have become a leader. 

Agree? 


by Vineet Nayar

Baca selengkapnya...

Minggu, 18 Agustus 2013

Merdeka Dari Korupsi

Selalu ada kebanggaan yang datang menyelinap setiap merayakan kemerdekaan. Kemerdekaan yang telah 68 tahun kita rayakan ini, pasti bukanlah harga yang murah. Bahkan di setiap tarikan napasnya, ada jejak pengorbanan, yang setiap saat pula mampu membangkitkan detak-detak nasionalisme. Tetapi sesungguhnya, arti kemerdekaan ini tidak hanya bebas dari penjajahan bangsa asing, tetapi juga memuat cita-cita luhur untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Negeri ini dilahirkan untuk melindungi, mencerdaskan, dan mensejahterakan rakyatnya. 

Nikmat dari kemerdekaan sejatinya adalah adanya penghargaan terhadap hak yang sama bagi setiap warga negara untuk menghirup kebebasan, sekaligus memeroleh jaminan pendidikan, jaminan sosial, dan penghidupan yang layak. Publik juga berhak menikmati kebebasan berpendapat, berserikat, berkumpul, dan berpolitik tanpa disertai rasa takut. Dan yang tidak kalah pentingnya, negeri ini harus bebas dari korupsi. Korupsi yang telah sedemikian rupa menjajah kita, telah merampas hak-hak bangsa ini untuk sejahtera bersama-sama. 

Sungguh demokrasi yang kita bangun sebagai manisfestasi kemerdekaan, justru melupakan tujuan dasar filosofi yang telah ditanamkan pendiri bangsa ini, yaitu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Akibatnya ketika keran keterbukaan dibuka lebar, yang terjadi adalah kebebasan yang melupakan kewajiban. Demokrasi dipahami sebatas prosedural untuk memburu kekuasaan dan kekayaan. 

Soal nilai inilah yang kita lupa. Kita tidak mengembangkan kultur dan etika demokrasi, karena kita hanya cenderung mengubah undang-undang, struktur, dan lembaga. Akibatnya bukan kultur yang membaik, tetapi justru budaya korupsi yang beranakpinak. Sungguh ironis, demokrasi yang dibangun untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan memberikan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat negeri ini, justru melahirkan koruptor-koruptor yang datang silih berganti. 

Perayaan kemerdekaan ini semestinya memang tidak sekadar membangun nasionalisme, tetapi juga peneguhan tekad bersama untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Mari kita rayakan kemerdekaan ini dengan tidak terus menerus merusak diri sendiri. Berhentilah korupsi. Karena korupsilah yang membuat Indonesia semakin miskin. Dan Indonesia tidak sepenuhnya merdeka jika korupsi belum benar-benar tumpas. Sungguh akan sangat membanggakan jika melihat negeri ini merdeka dari korupsi, dan kemerdekaan yang kita peringati ini membawa semua rakyat Indonesia sejahtera. 


smartfm jakarta

Baca selengkapnya...