Kamis, 19 Agustus 2010

Kungfu Emosi

Konon, ada sebuah kisah menarik ketika diceritakan Bruce Lee, sang master kungfu ditemui seorang pengajar seni bela diri lain, yang datang untuk memintanya sebuah nasihat, "Bagaimana teknik yang baik dalam menghadap musuh?". Dengan cepat, Bruce Lee merespon, "Apa itu musuh? Tidak ada musuh. Karena tidak ada kata "saya" atau "musuh" dalam pertempuran. Saya fokus dan menyatu dengan gerakannya saat dia menyerang.

Saya bermain. Semakin keras ia memukul, semakin keras pukulan akan berbalik kepadanya. Saya tidak memukul, tetapi saya memastikan orangpun menghargai saya secara utuh!"

Berkaitan dengan komentar Bruce Lee di atas, dapat kita perhatikan bahwa kungfu ataupun seni bela diri lainnya sebenarnya bukan saja bersifat fisik, tetapi banyak pembelajaran mental yang terkandung didalamnya.

Termasuk soal emosi pun, sebenarnya kita bisa belajar banyak dari pirnsip Kungfu. Karena itulah, kali ini kita akan bicara soal Kungfu Emosi. Istilah Kungfu Emosi ini sendiri, bukanlah istilah yang dibuat-buat.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles Manz, seorang penulis pengajar kepemimpinan dalam bukunya yang berjudul Emotional Discipline.

Apakah Kungfu Emosi itu? Prinsip Kungfu Emosi menurut Manz adalah mirip seperti yang dikatakan oleh Bruce Lee diatas, yakni upaya memanfaatkan kekuatan serangan dari lawan agar justru bisa menjadi keuntungan buat kita.

Menurut Mantz, logika kungfu pun dapat diterapkan pada konflik-konflik emosional. Pertama-tama, tetap respek dan menghormati seseorang yang menyerang Anda. Kedua, jangan membahayakan orang lain tanpa ada alasan yang jelas. Ketiga, daripada melawan serangan emosi, lebih baik kita pakai energi tersebut untuk cari solusi.

Musuh Bebuyutan

Dalam menerapkan ilmu Kungfu Emosi ini, ada beberapa ciri "musuh bebuyutan" yang bisa jadi pemicu kapan serta situasi dimana ilmu Kungfu Emosi ini perlu Anda gunakan.

Pertama-tama adalah tatkala Anda harus menghadapi orang yang sangat defensif mempertahankan dirinya, serta mulai menyalahkan orang lain. Musuh lainnya adalah orang-orang yang senang menyerang ide-ide Anda atau yang terakhir adalah orang-orang yang telah melanggar hak Anda dan menyerang secara agresif kepentingan ataupun wewenang Anda.

Nah, sebelum kita bicarakan soal teknik dalam Kungfu Emosi ini, mari kita bicarakan respon umum yang biasanya diberikan oleh orang menghadapi musuh yang seperti itu.

Umumnya, respon paling sering dan paling primitif yang diberikan seseorang adalah respon general adaptation syndrome (GAS) yang berasal naluri di sistem limbik di otak yakni fight (melawan) atau flight (lari).

Namun, kedua-duanya sebenarnya sama sekali tidak memecahkan masalah menghadapi "musuh-musuh" di atas. Coba kita analisis.

Apa yang terjadi saat kita fight (melawan). Misalkan seseorang menyerang Anda dengan mengatakan bahwa produk kreasi Anda tidak laku di pasar karena Anda tidak mengerti pasar sama sekali.

Lantas, Anda membalasnya dengan mengatakan bahwa dia mengucapkan hal tersebut karena iri bahwa Andalah yang diberikan kesempatan mengembangkan produk. Apa yang akan terjadi?

Kemungkinan besar, dia akan menjadi semakin defensif. Persoalan yang sebenarnya pun makin tidak selesai, bahkan lebih buruknya, masalahnya kini bisa jadi semakin personal.

Bagaimana masalahnya jika kita menggunakan teknik flight (lari dari masalah)? Misalkan ada situasi dimana Anda diserang oleh salah satu famili Anda di depan keluarga besar.

Dia mengatakan anda tidak becus mengurus anak karena anak Anda ternyata baru saja mendapatkan kasus di sekolah. Apa yang terjadi jika Anda flight (lari) dari situasi ini? Akibatnya, si famili Anda tersebut, akan merasa seperti dapat angin.

Lain kali dia mungkin akan melakukannya lagi, bisa jadi pada diri Anda bisa pula dengan dia orang lain. Di sisi lain, ia pun tidak akan pernah belajar.

Teknik Kungfu Emosi

Di dalam program pelatihan kecerdasan emosional yang saya berikan, saya mengembangkan beberapa prinsip dari Charles Manz dan menyesuaikan dengan kondisi kita.

Saya menyebutnya teknik kungfu emosi. Filosofi utama dalam Kungfu Emosi ini adalah: Seek not to harm others, but only to protect self from violation by others.

Intinya, ada kalanya dimana kita juga harus berani "membela diri kita atau membela mereka yang diperlakukan secara tidak adil jika sudah terjadi pelanggaran prinsip-prinsip".

Bagaimana teknik kungfu emosi ini kita terapkan? Pertama, Anda merephrase ataupun mengulang apa yang dikatakan dan dilakukannya. Langkah ini untuk memperjelas dan untuk memfokuskan sehingga ia bisa melihat apa yang dikatakan dan dilakukannya.

Kedua, secara tegas, Anda ungkapkan apa yang Anda rasakan terkait dengan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tersebut. Setelah itu, Ketiga, Anda pun sebaiknya mengungkapkan apa yang kita kehendaki dan harapkan dari orang tersebut.

Dan kalaupun ternyata sikap kita tersebut tidak dihargai oleh orang tersebut, lantas pilihan terakhir yang mungkin kita lakukan barulah berupaya 'memberi pelajaran berharga baginya' namun Anda tetap mengendalikan emosi Anda.

Misalkan dalam suatu acara yang gagal, Anda pun dipersalahkan oleh rekan kerja Anda. Dia menyatakan didalam rapat umum bahwa salah satu sebab kegagalan acara adalah karena Anda begitu sibuknya sehingga dia tidak punya kesempatan untuk mempersiapkannya dengan Anda.

Padahal, jelas-jelas dialah yang sulit Anda hubungi dan berulangkali menolak untuk bertemu. Maka, teknik kungfu emosi ini bisa dipakai dengan kalimat, "Barusan saya mendengar Anda mengatakan bahkan acara ini menjadi gagal karena kurangnya persiapan waktu yang disebabkan oleh saya yang sulit untuk diajak bertemu.

Saat mendengar komentar Anda, terus terang saya marah sekaligus merasa dipersalahkan. Saya pikir lebih baik kita berfokus pada faktor-faktor yang membuat acara kita gagal daripada saling menyalahkan orang."

Namun, bagaimana jika ternyata yang diberitahu justru semakin gencar menyerang? Maka langkah memberikan pelajaran pun harus dimulai. Langkah pertama paling mudah dan sederhana adalah dengan membeberkan fakta yang perlu ia ketahui, sehingga ia tidak mengucapkan dan bersikap seenaknya.

Langkah membalas kedua adalah bisa dengan menyidir atau menggunakan humor sindiran buatnya. Selanjutnya, kalaupun ternyata berbagai cara tersebut tidak mempan dan orang itupun sama sekali tidak menghargai orang lain, mungkin beberapa langkah terakhir ini dapat dipakai, jika hal ini bisa menyadarkannya.

Meskipun, memang langkah ini sebaiknya dihindari. Sebab jika tidak dipergunakan dengan tepat, bisa menyulut api permusuhan yang semakin besar. Caranya, dengan menggunakan 'tombol panas' (hot button) orang tersebut, misalkan "Saya tahu Anda marah karena promosi Anda yang gagal.

Tetapi, jangan bawa-bawa emosi Anda dengan menuduh orang lain sembarangan". Ataupun jika orang tersebut tetap tidak bergeming, langkah terakhir adalah membingkai ulang serta balikkan (reframe and redirect) apa yang telah diucapkannya sehingga menjadi bumerang untuk orang itu sendiri.

Misalkan, "Heran sekali bisa punya partner segoblok kamu". Respons reframe and redirectnya menjadi, "Lha yang milih partner kan kamu, berarti kamu juga sama gobloknya dong".

Intinya, tentu saja menggunakan kungfu emosi ini harus bijak! Kita harus tetap memegang teguh prinsip-prinsip menghargai diri sendiri dan orang lain. Di sisi lain, kita juga fleksibel dalam menentukan langkah yang tepat, sebab tidak semuanya harus dilawan.

Seperti kata Bruce Lee, jadilah seperti air yang mengalir, Be water, my friend. Be water. It can flow or it can crash. Be water my friend!


Oleh: Anthony Dio Martin

Baca selengkapnya...

Jumat, 06 Agustus 2010

Orang yang Tepat

Pemimpin baru membawa atau membentuk tim kerja yang baru. Galibnya begitu. Sebab salah satu tugas awal seorang pemimpin adalah melakukan perekrutan untuk memastikan bahwa posisi-posisi penting ditempati oleh orang yang tepat. Mengisi posisi-posisi penting secara serampangan bisa berakibat fatal. Risiko untuk berhasil perlu diperbesar dengan memastikan posisi-posisi penting diisi oleh orang yang tepat.

Ketika Susilo Bambang Yudhoyono memilih berpasangan dengan Jusuf Kalla dalam pemilihan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Republik Indonesia secara langsung tahun 2004 silam, tidak banyak yang optimis bahwa mereka akan menang. Namun, makin dekat dengan waktu pemilihan umum, popularitas mereka makin mantap, dan akhirnya mereka benar-benar memenangkan pemilihan umum yang bersejarah itu.

Lalu, ketika pemilihan langsung Capres dan Cawapres Republik Indonesia periode 2009-2014 akan berlangsung, banyak pihak menjagokan duet incumbent SBY-JK yang dinilai cukup ideal untuk dipertahankan. Ternyata, dengan modal suara Partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilihan umum legislatif, SBY punya pendirian tersendiri dan memilih untuk menggandeng Boediono sebagai Cawapres. Berbagai spekulasi kembali merebak, tetapi masyarakat luas agaknya memang masih pro-SBY.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana dengan formasi anggota kabinet pemerintah periode 2009-2014? Akankah SBY-Boediono berani memberikan porsi cukup besar kepada kaum teknokrat dan profesional untuk mengisi kursi departemen strategis? Akankah posisi menteri yang memimpin departemen teknis diserahkan kepada orang-orang partai pendukungnya? Apapun pilihan SBY-Boediono, stabilitas dan instabilitas pemerintahannya akan juga ditentukan oleh penempatan orang-orang didalam kabinet tersebut.

Dalam konteks mikro, para pemimpin perusahaannya juga mengalami hal yang senada seirama. Jika pemilik perusahaan berganti, maka boleh jadi sebuah tim eksekutif baru perlu segera dibentuk menggantikan yang lama. Dan jika pemimpin baru menawarkan visi perubahan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, maka umumnya ia akan memastikan lebih dulu bahwa posisi-posisi strategis dipegang oleh orang-orang yang sejalan dengan dirinya.

Terkadang, untuk menyelamatkan muka sejumlah orang, struktur organisasi diubah untuk memberikan tempat kepada orang-orang baru, tanpa harus menyingkirkan orang-orang lama; setidaknya untuk sementara waktu.

Selanjutnya, jika orang-orang sudah direkrut dan ditempatkan, bagaimana seorang pemimpin dapat tahu bahwa ia telah memilih orang yang tepat untuk tiap posisi strategis? Indikator apa saja yang bisa dipergunakan untuk menjawab soal ”tepat dan tidak tepat” ini?

Tidak ada jawaban yang definitif dan mutlak. Namun, studi Jim Collins, dalam karya terbarunya bertajuk How The Mighty Fall: And Why Some Companies Never Give In (2009), mungkin dapat dijadikan rujukan awal.

Menurut Collins, yang sebelumnya kondang sebagai pengarang buku Good to Great: Why Some Companies Make the Leap….and Others Don’t (2001), sedikitnya ada enam sifat penting yang menunjukkan bahwa suatu posisi penting sudah ditempati oleh “orang yang tepat”.

Pertama, orang yang tepat cocok dengan nilai-nilai inti perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang hebat membangun budaya dimana mereka yang tidak memiliki nilai-nilai institusi yang sama dikelilingi antibodi dan ditolak seperti virus. Orang bertanya: Bagaimana caranya agar orang memiliki nilai inti yang sama?” Jawabnya: rekrut orang yang sudah memiliki kecenderungan ke arah itu—dan pertahankan mereka.

Kedua, orang yang tepat tidak perlu diatur dengan ketat. Ketika Anda merasa perlu mengatur seseorang dengan ketat, Anda mungkin telah melakukan kesalahan rekrutmen. Anda tak perlu menghabiskan banyak waktu ”memotivasi” dan ”mengatur” orang yang tepat. Dalam diri mereka sudah tertanam konsep bahwa mereka akan mati-matian produktif, termotivasi sendiri, mampu mendisiplin diri, dan sangat terpacu untuk unggul dibanding yang lain.

Ketiga, orang tepat mengerti bahwa mereka tidak punya ”pekerjaan”—tapi tanggung jawab. Mereka paham perbedaan antara daftar tugas dan tanggung jawab mereka yang sesungguhnya. Orang yang tepat bisa berkata, ”Saya satu-satunya orang yang memanggul tanggung jawab final untuk …”.

Keempat, orang yang tepat memenuhi komitmen mereka. Dalam sebuah kultur disiplin, orang menganggap komitmen sebagai sesuatu yang sakral—mereka melakukan apa yang mereka katakan akan mereka lakukan, tanpa mengeluh. Sama halnya, ini berarti mereka sangat berhati-hati dalam mengatakan apa yang akan mereka lakukan, berhati-hari untuk tidak pernah over-committed atau menjanjikan sesuatu yang tidak bisa mereka penuhi.

Kelima, orang yang tepat antusias dengan perusahaan dan pekerjaan perusahaan. Mereka menunjukkan intensitas antusiasme yang luar biasa.

Keenam, orang yang tepat menunjukkan kematangan jendela-dan-cermin. Ketika sesuatu berjalan lancar, orang yang tepat menunjuk keluar jendela, memuji faktor-faktor selain diri sendiri. Mereka menyoroti pihak-pihak lain yang memberikan kontribusi. Namun, ketika segala sesuatu berjalan tidak sebagaimana mestinya, mereka tidak menyalahkan situasi dan orang lain. Mereka memandang ke cermin dan berkata, ”Saya yang bertanggung jawab”.

Jika para pemimpin dan eksekutif puncak organisasi belum memiliki perangkat yang lebih baik untuk mengukur tepat tidaknya orang-orang yang ditempatkannya pada posisi penting, maka keenam sifat penting yang diusulkan Collins bisa dipergunakan untuk sementara. Namun lebih dari itu, para pengamat dan konstituen pemimpin tertentu dapat menggunakan hal yang sama untuk memberikan penilaian apakah pemimpin mereka (kita) sudah menempatkan orang-orang yang tepat pada posisi-posisi strategis. Semoga.


~ ANDRIAS
HAREFA ~

Baca selengkapnya...

Kamis, 05 Agustus 2010

Menjual Keperawanan

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi,wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya. Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini.
Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
” Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang? “
” Tidak! ” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
” Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
” Apakah tidak boleh? ” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..
” Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
” Maksud, bapak? “
” Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ”
” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang,
izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ” Kata wanita itu dengan suara lambat.

” Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? ” Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu.
Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawabrosur.
” Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. ”
” Saya ingin menjual diri saya, ” Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
” Mari ikut saya, ” Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya. Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperatif karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu. Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Disebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
” Apakah anda serius? ”
” Saya serius ” Jawab wanita itu tegas.
” Berapa tarif yang anda minta? ”
” Setinggi-tingginya. .’ ”
‘ Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
” Saya masih perawan ”
” Perawan? ” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat.
Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.
Pikirnya ” Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
” Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”
” Kalau tidak terbukti? “
” Tidak usah bayar …”
” Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik kekiri dan ke kanan. ” Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. ” ” Cobalah. ”
” Berapa tarif yang diminta? ”
” Setinggi-tingginya. ”
” Berapa? ”
” Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? ”
” Baiklah.. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.”

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

” Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Ini termasuk yang tertinggi, ” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
” Saya ingin yang lebih tinggi…”
” Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ”
” Tidak adakah yang lebih tinggi? ”
” Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawananda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotelberbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baikterhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh … ”

” Saya ingin tawaran tertinggi … ” Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.” Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya.Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. ” Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

” Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan. Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu…” Berapa? ” Tanya pria itu kepada Wanita itu.

” Setinggi-tingginya ” Jawab wanita itu dengan tegas.
” Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
” Rp.. 6 juta, tuan ”
” Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam.”
Wanita itu terdiam. Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawabanbagus dari wanita itu.
” Bagaimana? ” tanya pria itu.
”Saya ingin lebih tinggi lagi …” Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
” Bawa pergi wanita ini. ” Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
” Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? ”
” Tentu! ”
” Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu … ”
” Saya minta yang lebih tinggi lagi …”
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
” Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. ”
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudahsekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepongenggamnya.

” Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup? ” Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika.

” Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ” Pak, apakah anda butuh wanita … ??? ”
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.
” Ada wanita yang duduk disana, ” Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi. Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

“Dia masih perawan..”
Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter.
” Benarkah itu? ”
” Benar, pak. ”
” Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu … ”
” Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.” ‘
” Saya tidak peduli … ” Pria itu menjawab dengan tegas. Pria itu menyalami hangat wanita itu.
” Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
” Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu. Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar …” Beritahu berapa harga yang kamu minta? ”
” Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ”
” Maksud kamu? ”
” Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih …. ”
” Hanya itu …”
” Ya …! ”
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal.. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan
selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

” Siapa nama kamu? ”
” Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar … ” Kata wanita itu
” Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”
”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ”
” Ada ! ” Kata pria itu seketika.
” Sebutkan! ”
” Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah … ” Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

” Saya tidak mengerti …”
” Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”

” Dan, apakah bapak ikhlas….? ”
” Apakah uang itu kurang? ”
” Lebih dari cukup, pak … ”
” Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ”
” Silahkan …”
” Mengapa kamu begitu beraninya … ”
” Siapa bilang saya berani. Saya takut pak …Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat
untuk sebuah keyakinan … ”

” Keyakinan apa? ”
” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita …. ” Wanita itu kemudian melangkah keluarkamar.
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata: ” Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini … ”
” Kesadaran… ”
… . .Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
” Kamu sudah pulang, nak ”
” Ya, bu … ”
” Kemana saja kamu, nak … ???”
” Menjual sesuatu, bu … ”
” Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan.. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan. ….

” Kini saatnya ibu untuk berobat … ” Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual… ”. Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: ” Antar kami kerumah sakit …”

Baca selengkapnya...

Senin, 02 Agustus 2010

Ayam Atau Telur Duluan? Terjawab Sudah

"Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?" sudah jadi pertanyaan paling filosofis maupun ilmiah selama berabad-abad. Tapi kini, jawabannya sudah tersedia.

Para ilmuwan pekan ini mengklaim telah memecahkan teka-teki tersebut. Jawabannya, kata mereka, adalah ayam.

Seperti dilaporkan Mailonline, para peneliti menemukan bahwa pembentukan kulit telur bergantung pada satu protein yang hanya ditemukan di indung telur ayam. Artinya, telur hanya bisa ada jika berada di dalam ayam.

Protein yang disebut ovocledidin-17, atau OC-17 - bertindak sebagai katalis untuk mempercepat pengembangan kulit telur itu.

Cangkan keras ini penting sebagai tempat bagi kuning dan putih telur. Para ilmuwan dari universitas di Sheffield dan Warwick menggunakan super komputer untuk men-'zoom in' pembentukan telur tersebut.

Komputer yang disebut HECToR itu mengungkapkan bahwa OC-17 sangat penting dalam memulai kristalisasi atau tahap awal penciptaan kulit telur.

Protein tersebut mengubah kalsium karbonat menjadi kristal kalsit yang membentuk kulit telur.

Kalsit kristal ada di berbagai tulang dan tempurung tetapi mereka terbentuk lebih cepat di dalam ayam. Unggas itu mampu menghasilkan 6 gram kulit telur setiap 24 jam.

Dr Colin Freeman, dari Departemen Teknik Material Universitas Sheffield, mengatakan : "Selama ini orang mengira bahwa yang terlebih dulu ada adalah telur, tapi kini kita memiliki bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa sebenarnya ayamlah yang lebih dulu ada."

"Protein itu sudah diidentifikasi lama dan diketahui terkait dengan pembentukan telur. Ternyata, dengan memeriksanya secara jeli kita dapat melihat cara protein itu mengendalikan proses pembentukan kulit telur."

"Menarik untuk diketahui bahwa berbagai jenis spesies burung tampaknya memiliki variasi protein dengan cara kerja yang sama," kata Freeman.

Profesor John Harding, dari jurusan yang sama di Sheffield, mengatakan bahwa penemuan itu bisa berguna untuk hal lain.

"Memahami cara ayam membuat kulit telur dapat memberi petunjuk menuju rancangan baru maupun bahan baru," katanya.

'Alam telah menemukan solusi inovatif untuk semua jenis masalah dalam ilmu tentang materi dan teknologi - kita dapat belajar banyak dari alam."

Penemuan itu dipublikasikan dalam makalah "Structural Control Of Crystal Nuclei By An Eggshell Protein".


~ Antara ~

Baca selengkapnya...

Minggu, 25 Juli 2010

Budaya Menghukum

Limabelas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai?

Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?"

"Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. "Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.

Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya. "Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.


~RHENALD KASALI - Ketua Program MM UI~

Baca selengkapnya...

Jumat, 18 Juni 2010

Kata Hati

Peristiwa ini terjadi di Pintu Satu Senayan. Saat itu saya sedang mengendarai mobil. Sekitar dua puluh meter sebelum berbelok ke Jalan Pintu Satu Senayan, saya menyalakan lampu sinyal. Tetapi beberapa pengendara sepeda motor seakan tak perduli. Mereka tetap memaksa dan menerobos. Satu, dua, sepeda motor berhasil lolos. Tetapi sepeda motor ketiga gagal. Tabrakan tak terhindarkan.

Sepeda motor yang dikemudikan dengan kencang -- karena berharap bisa menerobos celah sempit yang tersisa – akhirnya membentur mobil saya dengan keras. Sang pengemudi terpental lalu terhempas di trotoar.

Saya menepi dan berhenti. Sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa itu menyuruh saya jalan terus. Menurut mereka pengendara motor itu yang salah. Sementara saya melihat pengendara sepeda motor bangkit dan dengan terpincang-pincang berusaha mendorong motornya ke pinggir jalan. Hati kecil saya memerintahkan saya untuk turun dari mobil.

Mulanya pengemudi sepeda motor tersebut menolak tawaran saya untuk diperiksa di Rumah Sakit Djakarta, yang jaraknya tak jauh dari lokasi tabrakan. Dia mengaku hanya butuh waktu sebentar guna memulihkan kondisi tubuhnya. Saya mendesak dan mengatakan akan menanggung biaya pengobatan termasuk kerusakan motornya. Akhirnya dia bersedia.

Setelah membawa pengemudi motor itu ke rumah sakit, meninggalkan uang untuk perbaikan motornya, dan meninggalkan kartu nama, barulah kami berpisah. Jika harus menghitung “kerugian” saya dalam peristiwa itu, bukan cuma karena mobil saya rusak, tetapi juga waktu yang terbuang dan peluang yang hilang karena hari itu saya batal presentasi.

Sebagai manusia biasa, ada waktunya saya merasa jengkel pada ulah pengendara sebagian pengendara sepeda motor di Jakarta. Banyak yang ugal-ugalan dan merasa merekalah “raja jalanan”. Mereka seakan tidak perduli pada keselamatan jiwa sendiri dan orang lain. Terlalu banyak pengalaman tidak menyenangkan berhadapan dengan pengendara sepeda motor yang seperti itu.

Suatu hari anak saya menelepon. Dia melaporkan mobilnya ditabrak pengendara sepeda motor. Mobil rusak cukup serius. Pengendara motor terluka dan motornya juga rusak. Saya lalu meminta anak saya segera membawa sang pengemudi sepeda motor ke rumah sakit. “Biayanya kamu yang bayar nanti uangnya ayah transfer ke atm-mu,” ujar saya. Anak saya protes. Menurut dia pengendara motor yang menabrak, mengapa dia yang harus menanggung akibatnya?

Selesai selesai membawa sang pengendara sepeda motor ke rumah sakit dan membayar semua biaya, anak saya menelepon lagi. Dia melaporkan semuanya sudah beres. “Sekarang kasih dia uang untuk perbaikan motornya,” ujar saya. Anak saya terperangah. Dia semakin tidak mengerti dengan “perintah” ayahnya tersebut. “Dia yang menabrak, mengapa kita yang harus mengganti? Kan mobilku juga rusak?” ujarnya keberatan.

Tidak mudah menentukan sikap dalam situasi seperti itu. Sebab selama ini saya mengajarkan kepada anak-anak saya untuk berani bersikap ketika membela kebenaran. Sebab kebenaran harus ditegakkan. Tetapi menghadapi situasi tabrakan seperti yang dialami anak saya, dan yang juga saya alami, hati saya mendua.

Istri saya sempat bertanya apakah keputusan saya tersebut bijaksana? Sebab dengan mengganti biaya pengobatan sekaligus mengganti kerusakan sepeda motor, bukankah merupakan pengakuan bersalah? Jika anak saya yakin dia tidak bersalah, mengapa saya seakan memaksa dia untuk mengaku bersalah? Bukankah hal ini melanggar prinsip yang saya ajarkan?

Persoalan lain, dengan keputusan saya itu, sang pengendara sepeda motor tidak akan belajar dari kesalahannya. Ujung-ujungnya dia tetap tidak akan berhati-hati karena berpikir akan ada yang mengganti biaya pengobatan dan kerusakan sepeda motornya.

Dalam banyak kejadian seperti itu, hati saya memang mendua. Antara akal dan hati berbeda. Akal saya mengatakan pengemudi sepeda motor yang ugal-ugalan seperti itu harus mendapat pelajaran. Tetapi hati saya tidak tega membayangkan beban yang harus dipikul sang pengendara sepeda motor tersebut.

Boleh jadi semua itu karena saya pernah mengalami trauma dalam urusan tabrakan lalu lintas. Sewaktu kecil, saat duduk di bangku kelas dua SD, saya pernah ditabrak mobil hingga terlempar masuk ke tempat sampah. Sang pengemudi melarikan diri. Tetapi untung di belakang mobil tersebut ada seorang anggota TNI AL yang melihat dan mengejar mobil tersebut.

Singkatnya, sang perwira Angkatan Laut itu berhasil “memaksa” pengemudi yang menabrak saya untuk membayar semua biaya perawatan kaki saya yang bengkak dan mengalami retak di bagian tempurung.

Tetapi, cuma sekali itu dia datang membawa obat-obatan. Setelah itu sang pengemudi menghilang tak pernah kembali. Tinggalah ibu saya yang harus menanggung beban karena harus meneruskan perawatan kaki saya. Padahal waktu itu kehidupan kami pas-pasan. Waktu itu sebagai orangtua tunggal, ibu harus membanting tulang untuk menghidupi kami sekeluarga dengan menjahit.

Pengalaman masa kecil itu rupanya terus membayang-bayangi kehidupan saya. Saya marah setiap mengingat kejadian itu. Marah pada pengemudi mobil yang menabrak saya dan meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Meninggalkan ibu saya yang harus menanggung beban pengobatan. Mungkin di alam bawah sadar, saya tidak ingin apa yang saya alami, terjadi pada orang lain.

Maka, ketika saya dihadapkan pada kasus tabrakan yang saya alami dan yang terjadi pada anak saya, persoalan salah dan benar bukan persoalan utama lagi. Saya tidak ingin akal mengalahkan hati saya. Jika harus memilih, saya memilih kata hati. Sebab saya tidak ingin apa yang saya alami ketika kecil dulu, terjadi pada orang lain.


Kick Andy

Baca selengkapnya...

Rabu, 16 Juni 2010

Harapan & Kewajaran

Alkisah, seorang Biksu muda ditugaskan mengurus sebuah vihara tua. Letaknya terpencil di puncak gunung. Biksu muda itu merasa sangat gembira. Ia memang sedang sangat bersemangat. Membangun kembali vihara yang sudah usang merupakan kesempatan baik untuk membuktikan bahwa ia mampu mengurus sesuatu dengan baik. Ia mencurahkan segenap usahanya sehingga vihara itu kelak akan menjadi vihara yang sempurna, sesuai dengan idealismenya.

Di vihara tersebut juga tinggal seorang biksu tua. Biksu itu sudah sangat tua sehingga ia tidak lagi mengajar, dan hanya melewatkan waktunya dengan meditasi dan hidup penuh ketenangan. Wajarlah biksu muda itu pun membantu mengurus segala keperluan biksu tua. Mempersiapkan makanan dan lain-lain.

Suatu hari, ada berita bahwa guru biksu muda itu akan berkunjung ke vihara tersebut, bersama teman-teman biksu muda itu dari vihara yang dulu ditempatinya. Tentu mereka semua akan datang meninjau, sampai sejauh mana keberhasilan biksu muda melaksanakan tugasnya.

Sejak pagi biksu muda sudah bersiap menyambut rombongan gurunya. Semua sudut dibersihkannya dengan baik dan rapi. Ia ingin membuktikan kepada guru dan teman-temannya, bahwa ia mampu melaksanakan tugasnya.

Malam sebelumnya angin bertiup kencang sekali. Halaman vihara penuh dengan tumpukan daun yang berserakan dari pohon besar yang ada di tengah taman. Biksu muda menyapu dengan giat dan penuh semangat. Semua daun dikumpulkan, dimasukkan ke dalam tempat sampah dan diangkut lalu dibuang. Seluruh kegiatannya diperhatikan dengan cermat oleh biksu tua dari teras kamarnya.

Setelah selesai bekerja keras dan membersihkan semua, biksu muda menengok ke arah biksu tua dan menanyakan komentarnya.

"Bagus, bagus!" kata biksu tua itu. "Hanya tinggal satu lagi yang harus dilakukan supaya benar-benar sempurna."

Biksu muda itu bingung. Rasanya ia telah melakukan semuanya dengan baik dan benar.

"Tuntun saya ke halaman. Nanti saya tunjukkan." lanjut biksu tua itu.

Dengan sedikit ragu dan tidak mengerti biksu muda itu menuntun biksu tua ke halaman. Namun ia juga sudah cukup lama mengenal biksu tua itu sehingga ia yakin ada sesuatu yang tidak terduga yang akan dialaminya.

Biksu tua itu langsung menuju pohon dan dengan segenap sisa tenaganya yang rapuh, mengoyang-goyangkan pohon. Daun-daun berjatuhan, kembali berserakan di setiap jengkal halaman.

Tidak ada waktu lagi untuk membersihkannya karena ternyata rombongan guru biksu muda itu sudah tepat tiba di gerbang vihara.

Biksu tua itu berkata dengan puas : "Nah, sekarang segalanya sempurna!"

Kita semua mempunyai persepsi sendiri tentang kesempurnaan. Kita membawa gagasan sendiri tentang apa yang "seharusnya". Kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengatur agar keadaan menjadi "sesuai" dengan keinginan kita.

Kita ingin mengatur segalanya. Keluarga, teman-teman, rekan sekerja, umat se-vihara. Kita mengira bahwa kalau semua sesuai dengan "harapan" kita, kita akan bahagia.
Gagasan kesempurnaan terus menerus menghadapkan kita dengan kenyataan kehidupan.

Gagasan itu, harus kita sadari, hanyalah gagasan. Sebuah konsep yang bukan hanya tidak selalu bisa diterapkan "sebagai mana mestinya" karena hidup nyatanya selalu berubah. Bahkan gagasan kita sendiri atas "kesempurnaan" itu pun mungkin berubah seiring bertambahnya usia kita.

Bahagia mulai dan berakhir dalam diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat memberikannya kepada kita, tidak ada yang dapat mengambilnya dari kita. Kalau kita bergantung pada suatu keadaan tertentu untuk bahagia, maka kita bisa kehilangan kebahagiaan itu.

Tidak perlu ngotot menciptakan suatu dunia yang segalanya sesuai dengan apa yang kita anggap sebagai "seharusnya". Berdamailah dengan segala sesuatu apa adanya.

Daun jatuh dari pohon? Tidak masalah.

Melihat daun jatuh dan berharap jangan ada daun di taman, menimbulkan masalah.

Orang lain boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat kita, bukan masalah.

Ge-er merasa bahwa kita harus membuat mereka setuju, itu menyebabkan masalah.


~Higher Than Happiness~

Baca selengkapnya...

Minggu, 30 Mei 2010

Rahasia Ketangguhan Pemimpin

Baru-baru ini ada seorang Menteri yang dikenal berintegritas mundur dari Kabinet Indonesia Bersatu. Banyak yang mengaguminya sebagai pemimpin langka di negeri ini. Sebagian lain menyayangkan keputusan itu, meski sebagian lain memafhuminya, namun ada pula yang mencibirnya.

Tak apa. Keputusan seseorang tidak mungkin memuaskan semua pihak. Tugas utama pemimpin adalah mengambil keputusan yang disertai keyakinannya, selain ia juga mampu berkomunikasi dan membangun tim efektif. Sejarah yang akan menguji keputusan sang Menteri itu kelak.

Setelah mundur, sang Menteri mencurahkan isi hatinya pada sebuah forum seminar yang diliput media luas. Menurut media, alasan utama pengunduran dirinya lantaran ia merasa tidak diterima lagi oleh sistem dan lingkungan politik negeri ini.

Pendek kata, boleh jadi menurutnya sistem dan lingkungan politik negeri ini "buruk" atau ia merasa bila situasi di negeri ini bukan lagi "pertarungannya", melainkan tanggungjawab pemimpin yang lebih tinggi lagi, wallahu'alam.

Seandainya ada kesempatan menyampaikan saran, alangkah bijaknya bila beliau dapat menahan diri agar "suhu" politik mendingin, sebab hal yang baik bila disampaikan pada waktu yang tidak tepat, dapat menjadi bahan perdebatan yang belum tentu produktif.

Sungguhpun demikian, alangkah bijaknya pula bila kita dapat mengormati keputusan dan pandangannya itu. Rekam jejaknya yang berani mengambil keputusan dengan asumsi yang dipahaminya adalah kisah tentang contoh pengambilan keputusan pemimpin sejati pada situasi lingkungan finansial global yang tak dapat diduga.

Keputusannya untuk menyelamatkan sebuah bank kecil yang ditujukan untuk menghindari dampak buruk yang lebih besar, sehingga belakangan ekonomi negeri ini kini membaik memang menjadi bahan perdebatan apakah berdampak sistemik atau tidak.

Perdebatan itu entah sampai kapan akan berakhir. Para politisi dan ekonom pun berbeda pendapat, meskipun Perbanas dan para bankir membenarkan keputusan sang Menteri.

Saya tak bermaksud mengulas lebih jauh keputusan sang Menteri itu. Kisah ini mengingatkan saya pada kisah-kisah para pemimpin tangguh, yang mampu membuat perbedaan, tanpa bermaksud membuat perbandingan dengan sang Menteri. Rakyat lah yang akan menilai. Sebab mereka punya hati dan pikirannya sendiri.

Seorang teman berujar, ada kebebasan memilih untuk bersikap dan bertindak, ada pilihan atau keputusan sulit yang harus diambil, dan tentu saja ada risiko yang harus ditanggung setelahnya. Setiap orang bebas meletakkan dirinya dalam sejarah.

Para pakar kepemimpinan mengajak kita untuk tetap memiliki imaginasi yang baik meski boleh jadi kita hidup pada lingkungan buruk.

Imaginasi baik yang disertai ikhtiar dan disiplin untuk melakukan yang terbaik, disertai pada kayakinan pada pertolongan Sang Maha Kuasa adalah kunci sukses yang sering kita dengar tentang kisah para pemimpin besar.

Seseorang yang melakukan sesuatu yang disertai imaginasi kebaikan akan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang menempatkan sistem atau lingkungan sekitar sebagai bagian dari pendukung misi hidupnya, "seburuk" apapun lingkungan itu.

Lingkungan yang "buruk" itu sejatinya adalah medan latihan penempaan lahirnya pemimpin yang lebih tangguh.

Kisah-kisah keberhasilan pemimpin tangguh sering melintasi sekat ruang dan waktu, bahkan agama dan keyakinan sekalipun. Sebagai contoh, kepemimpinan Muhammad Yunus menjadi inspirasi dimana-mana. Budi pekerti Bunda Teresa juga telah menjadi pelajaran tentang kekuatan niat baik dan dahsyatnya pelayanan. Demikian pula, Mahatma Gandhi dikagumi dimana-mana.

Konsep Ketuhanan yang berbeda dalam berbagai agama yang diyakini para penganutnya hendaknya tidak membatasi kita untuk berbagi pelajaran tentang rahasia keberhasilan kepemimpinan yang tangguh, bukan?

Sebagai seorang Muslim, tentu saya meyakini bila Sang Maha Kuasa senantiasa memberikan hamba-Nya untuk berkesempatan memilih dan mengubah keadaan yang dihadapinya. Dia Maha Tahu akan kemampuan makhluk paling sempurna ciptaan-Nya untuk dapat melakukan pilihan-pilihan terpuji di hadapan-Nya.

Ibarat sebuah pagelaran musik berkelas dunia, kreasi dan stamina manusia terpuji itu semakin kuat dalam dalam mengatur irama atau lagu yang diinginkannya.

Ia adalah manusia merdeka, lantaran sikap dan tindakannya tidak disandera oleh kondisi lingkungan sekitarnya.

Bagaikan seorang maestro, ia mampu mengkonfigurasikan kombinasi semua alat musik dan pemain-pemain yang tersedia menjadi persembahan yang tetap indah di hadapan siapapun yang mendengarkannya.

Tentunya, ia pun punya pilihan lain untuk menyerah atau berhenti memimpin pagelaran itu, lantaran sebagian alat musik dan kualifikasi pemain-pemainnya tidak seperti yang ia harapkan.

Namun, ia tidak melakukan hal itu, sebab ia yakin, situasi yang dihadapinya telah disediakan oleh sang pemilik hajat pagelaran musik, yang tahu kemampuan sang maestro itu.

Sahabatku yang baik, ilustrasi pagelaran musik itu adalah tentang kehidupan kita. Kehidupan yang kita hadapi adalah rangkaian situasi yang hadir di hadapan kita, meski boleh jadi kita sering tidak mengharapkannya.

Meski kita tidak punya kebebasan sepenuhnya memilih situasi yang dihadapi, bukankah kita punya kebebasan untuk merespon atau bersikap atas situasi yang kita hadapi itu, bukan?.

Sang Maha Kuasa lebih tahu kemampuan manusia ciptaan-Nya, bila memilih tindakan sebagai manusia terpuji.

Saat kita berdoa dengan sepenuh hati agar dijauhkan dari semua masalah, seringkali justru masalah datang, yang membuat kita makin tangguh lantaran kita mampu mengatasinya, bukan?

Kekuatan Keyakinan

Kekuatan keyakinan adalah harta tak ternilai yang kita miliki.

Mengapa bila kita yakin bisa melakukan sesuatu, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, biasanya kemudahan dan berbagai "kebetulan" terjadi? Demikian sebaliknya, bukan?.

Secara sains, ahli fisika, Prof. Yohannes Surya, membuktikan hal itu. Berbagai keberhasilan para siswa-siswi Indonesia meraih juara Olimpiade Sains dan Matematika beberapa tahun ini dapat dijelaskan dari perspektif ilmu fisika.

Ketika impian membawa nama baik negeri, kesungguh-sungguhan, disiplin, pikiran positif dan totalitas bertemu, maka secara fisika, semua lingkungan serentak memberikan "kemudahan" dan menjadi energi besar yang mendukung keberhasilan proyek kemanusiaan itu. Ia menyebutnya sebagai gerakan Semesta Mendukung atau "Mestakung".

Dalam sebuah perbincangan dengan Prof. Yohannes Surya pada awal tahun 2008, saya memperoleh gambaran menarik bahwa persiapan, pengiriman dan pelaksanaan beberapa tim Olimpiade yang dipimpinnnya tidak difasilitasi oleh ketersediaan sumberdaya dan logistik yang melimpah.

Malah menurutnya, kesiapan sumberdaya dan logistik sering terpenuhi secara minimal pada saat-saat terakhir menjelang keberangkatan.

Prof. Yohannes Surya dan rekan-rekan selain menggalang dukungan Pemerintah, juga para sponsor dan dukungan perorangan yang peduli tentang kualitas dan prestasi anak bangsanya.

Menurutnya, memang tidak mudah melakukan ikhtiar itu, namun ia punya keyakinan kuat bila gerakan kebaikan ini akan sampai pada tujuannya. Selain terus memompa semangat diri dan timnya, ia juga terus mempompa semangat para siswa-siswinya.

Mereka semua memiliki kepribadian kuat sembari terus membangun jejaring dukungan.

Kisah keberhasilan Tim Olimpiade ini membuktikan bahwa manusia sejatinya memiliki kekuatan yang luar biasa bila ia memiliki kepribadian yang kuat yang dibangun atas imaginasinya tentang kebaikan pada masa depan, disiplin, ketekunan, prasangka positif dan senantiasa terbuka untuk terus mengasah kemampuan setiap hari.

Dengan kekuatan kepribadian itu, maka lingkungan buruk apapun, sekali lagi, adalah medan latihan dan penempaan diri.

Kisah luar biasa ini sesungguhnya adalah pengulangan atas berbagai sejarah masa lalu.

Ketangguhan Pemimpin Masa Lalu
Pada masa lalu banyak tokoh perubahan mampu mengubah keadaan buruk untuk menjadi karya yang menyejarah.

Sejarah keberhasilan negeri ini menjadi pelaku utama perlawanan negara-negara terjajah terhadap kolonialisme (1945-1955) juga membuktikan hal itu. Kita sering melupakannya.

Setelah Konperensi Asia-Afrika yang digagas Indonesia pada tahun 1955 di Bandung, makin banyak negara-negara terjajah memerdekakan diri. Konperensi itu telah menjadi inspirasi besar bagai bangsa-bangsa lain.

Seokarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, Agus Salim dan para pendiri Republik lainnya adalah para manusia biasa yang memiliki kekuatan keyakinan dan tindakan-tindakan yang luar biasa.

Kekuatan kepribadian juga telah membuktikan dahsyatnya perlawanan Pangeran Diponegoro, Tjut Nyak Dhien, Teuku Umar, Pattimura, Kyai Maja, Sultan Hasanudin, Maulana Yusuf dan para Pahlawan Nasional kita lainnya terhadap penjajah Belanda pada masa lalu, melalui kemampuannya menggalang dukungan Rakyat yang dipimpinnya.

Maukah kita belajar dari para pemimpin besar itu? Jangan lupakan sejarah, atau "jas merah" kata Seokarno pada tahun 1967.

Kisah paling fenomenal bagi saya adalah ketangguhan kepribadian seorang pribadi mempesona, Nabi Muhammad SAW. Kekuatan kepribadiannya mampu membekalinya untuk mengatasi berbagai situasi buruk yang dihadapinya pada empat belas abad silam.

Kekuatan kepribadian itu bahkan dipupuk sejak sebelum Beliau diangkat jadi Rasul pada usia 40 tahun.

Sejak muda, rekam jekaknya adalah manusia terpercaya, Al Amien. Siapapun yang berbisnis dengannya merasa mendapat pelayanan terbaik.

Keunikan sekaligus kelebihannya dalam berbisnis ialah ia senantisa menguraikan lengkap kelebihan dan kekurangan produk yang dibawanya, disertai kesantunannya dalam berbisnis.

Semua perilaku itu telah teruji telah menjadikannya sebagai manusia yang dikagumi (the most admired business person) oleh siapa saja pada masa itu.

Demikian mempesonanya, para investor yang berasal dari kaum Nasrani dan Yahudi justru memintanya untuk mengelola bisnis mereka.

Muhammad SAW sejak muda terus memupuk karakternya sebagai pribadi yang jujur (shidiq), amanah (mampu menjaga kepercayaan), fathonah (memiliki kompetensi unggul) dan tabligh (kuat bersilaturahmi).

Dengan bekal kepribadian yang kuat itu, Nabi Muhammad SAW mampu menghadapi berbagai lingkungan buruk yang dihadapainya.

Kisah perlakukan buruk warga Taif dan Suku Quraisy adalah latihan yang menempa pribadi Muhammad SAW yang justru semakin kuat dan pejal.

Sahabatku yang baik, sekali lagi, tulisan ini tidak untuk membandingkan kisah-kisah besar masa silam dengan saat ini. Namun, tak ada salahnya bukan kita belajar terus dari sejarah dan kisah masa silam ini agar dapat menjadi sumber kearifan bagi kita untuk menjadi para pemimpin tangguh, lantaran sejarah terus berulang?

Saya selalu ingat kata-kata bijak "nahkoda hebat selalu terlatih dari kemampuannya mengatasi berbagai badai yang ganas".

Komitmen untuk menegakkan kejujuran, keadilan, ketekunan, keberanian, membangun kompetensi, melakukan pelayanan terbaik, menjaga kepercayaan teman atau mitra, serta menjaga silaturahmi adalah nilai-nilai yang sejatinya dapat memperkuat kekuatan kepribadian kita sebagai manusia merdeka, bukan?

Sebab dengan bekal semua kekuatan itu, semua badai yang datang justru menjadi kesempatan untuk menempa kualitas kepemimpinan diri kita agar terus naik kelas, bukan? Wallahu'lam.

Ahmad Mukhlis Yusuf

Baca selengkapnya...

Sabtu, 29 Mei 2010

Mencoba Berpisah dari Sri Mulyani

Malam itu kita mencoba berpisah dari Sri Mulyani.

Saya katakan "mencoba". Sebab sering kali, dan terutama malam ini, kita menyadari: orang bisa hanya sebentar mengucapkan "halo", tapi tak pernah bisa cuma sebentar mengucapkan "selamat berpisah".

Mungkin karena kita tak tahu apa sebenarnya arti "berpisah".

Terutama dalam hal Sri Mulyani. Kita mengerti, ia akan pergi ke Washington, DC, untuk sebuah jabatan baru di Bank Dunia; tapi itu tak berarti ia akan berpisah dari kita di Tanah Air. Tentu saja ia akan sibuk di sana, sebagaimana kita akan sibuk di sini. Tapi kita bisa yakin ia akan tak putus-putusnya memikirkan kita-bukan "kita" sebagai teman-temannya, melainkan "kita" sebagai bagian dari "Indonesia". Dan begitu pula sebaliknya: kita tak akan bisa melupakan dia.

Lagi pula, "berpisah" mengandung kesedihan, sementara peristiwa ini tak seluruhnya sebuah kesedihan. Saya melihat Sri Mulyani menerima jabatannya yang baru ini dengan gembira. Mungkin lega. Satu hal yang bisa dimaklumi.

Sebab, sejak Oktober 2009, ia sudah jadi sasaran tembak. Berbulan-bulan ia jadi target dari premanisme politik. Yang saya maksud dengan "premanisme" di sini tak jauh berbeda dengan ke-brutal-an yang kita saksikan di jalan-jalan-sebuah metode yang dipakai oleh sebuah kekuatan untuk menguasai satu posisi.

Metode premanisme itu adalah metode tiga jurus, dalam tiga fase.

Mula-mula gangguan terus-menerus, yang makin lama makin meningkat. Mula-mula ancaman yang membayang dari gangguan itu. Fase berikutnya adalah sebuah tawaran untuk "berdamai" kepada pihak yang diganggu. Dan akhirnya, pada fase yang ketiga, tatkala pihak yang diganggu tak tahan lagi, akan ada imbalan yang dibayarkan agar gangguan itu berhenti. Juga akan ada janji bahwa pihak yang diganggu akan selanjutnya diproteksi.

Sudah tentu, antara sang pengganggu dan sang protektor (yang kadang-kadang bersikap manis dan santun) ada kerja sama. Bahkan bukan mustahil sang protektor itulah yang menggerakkan para pengganggu. Makin sengit gangguannya, makin besar yang dipertaruhkan-dan akan makin besar pula imbalan yang diminta dan didapat.

Bila premanisme di jalanan akan menghasilkan imbalan uang atau protection money, imbalan dalam premanisme politik adalah naiknya posisi kekuasaan.

Demikianlah yang terjadi dengan kasus Bank Century. Imbalan yang harus diserahkan adalah mundurnya Sri Mulyani dari jabatan Menteri Keuangan. Segala cara dipakai, segala daya dibayar. Politikus Senayan tak henti-hentinya membentak dan menggedor-gedor. Melalui media yang dikuasai dengan baik, kampanye anti-Sri Mulyani (dan Boediono) digencarkan. Demonstrasi-demonstrasi yang berisik dan agresif muncul. Sri Mulyani diboikot di sidang DPR, meskipun ia oleh pimpinan DPR diundang dengan resmi sebagai Menteri Keuangan. Boediono dikesankan akan dimakzulkan dari posisinya sebagai wakil presiden.

Akhirnya semua kita tahu: Sri Mulyani dipaksa berubah dari sebuah asset menjadi sebuah liability bagi pemerintahan SBY. Ia tidak bisa bertahan lagi. Ia tidak dipertahankan lagi oleh Presiden, yang barangkali merasa bahwa pemerintahannya akan habis energi karena direcoki terus-menerus.

Akhirnya semua kita tahu, hanya beberapa jam setelah Sri Mulyani dinyatakan turun dari jabatannya, konstelasi politik berubah. Akhirnya semua kita tahu, apa dan siapa yang mendapatkan kekuasaan yang lebih besar setelah itu. Dan akhirnya kita menyaksikan, perecokan dan keberisikan yang berlangsung berbulan-bulan itu dengan segera berhenti. Medan politik sepi kembali. Stabilitas tampak terjamin. Presiden lega.

Saya kira, Sri Mulyani juga lega: kini ia terbebas dari posisi sebagai bulan-bulanan kampanye buruk. Tapi tak kalah penting, ia meninggalkan jabatannya tanpa cacat. Bahkan seperti diucapkannya dalam kuliah umumnya tadi malam, ia merasa menang, dan ia berhasil. Ia merasa menang dan berhasil karena ia tetap "tak bisa didikte" hingga meninggalkan prinsip hidupnya, hati nuraninya, dan kehormatan dirinya.

Dalam hal itu, perpisahan malam ini merupakan pelepasan yang rela dan senang hati untuk seseorang yang kita sayangi dan kagumi.

Tapi saya akan berbohong jika mengatakan perpisahan ini bebas dari rasa risau.

Kita risau bukan karena Sri Mulyani turun; kita risau karena merasakan bahwa sebuah harapan telah jadi oleng, terguncang-harapan untuk mempunyai Indonesia yang lebih bersih. Kita risau karena kita jadi ragu, masih mungkinkah tumbuhnya kehidupan politik yang adil dan tak curang di tanah air kita.

Mampukah kita membebaskan diri dari premanisme politik? Bisakah berkurang kekuatan uang di parlemen, hukum, dan media dalam demokrasi kita? Sanggupkah kita membersihkan kehidupan bernegara kita dari jual-beli dukungan, jual-beli kedudukan, jual-beli keputusan-bagian yang paling gawat dalam koreng atau kanker besar yang bernama "korupsi" itu?

Pemerintahan SBY-Boediono punya janji yang seharusnya dianggap suci-yakni membangun sebuah pemerintahan yang bersih, melalui reformasi birokrasi, melalui pemberantasan korupsi. Semula kita punya keyakinan besar, janji itu akan jadi sikap yang teguh, dan sikap itu akan jadi program, dan program itu konsisten dijalankan. Tapi kini saya tak bisa mengatakan bahwa keyakinan itu masih sekuat dulu.

Tentu saja kita masih bisa percaya, pemerintah ini tetap ingin melanjutkan usaha ke arah Indonesia yang bebas dari korupsi; namun persoalannya, masih mampukah dia?

Tak perlu diulangi panjang-lebar lagi, Sri Mulyani dengan berani dan bersungguh-sungguh memulai reformasi birokrasi di tempatnya bekerja. Dalam sejarah Indonesia, mungkin baru Sri Mulyani-lah Menteri Keuangan yang dengan tangguh mencoba membersihkan aparatnya-sebuah langkah awal dari sebuah kerja yang panjang, yang mungkin baru akan selesai satu-dua generasi lagi.

Tapi kini pemerintahan SBY-Boediono telah kehilangan Menteri Keuangan yang tangguh ini.

Tentu saja Sri Mulyani bisa digantikan. Tak seorang pun seharusnya dianggap indispensable. Pengganti Sri Mulyani tidak dengan sendirinya seorang yang lemah.

Tapi beban jadi bertambah berat. Untuk membuat rakyat kembali yakin bahwa pemerintah ini masih ingin membangun sebuah republik yang bersih, Presiden SBY harus melipatgandakan ikhtiar. KPK yang kuat harus didukung dengan jelas, perlawanan terhadap Mafia Pengadilan harus lebih diefektifkan, polisi dan kejaksaan dibersihkan, dan tak kurang penting: legislasi dan regulasi yang tidak kompromistis terhadap kekuatan-kekuatan yang korup.

Tapi mungkinkah hal itu dapat terlaksana sekarang?

Kini politikus Senayan semakin merasa kuat dan semakin angkuh; mereka telah berhasil membuat Presiden berkompromi dan menyudutkan Sri Mulyani hingga jadi beban politik bagi pemerintah.

Pada saat yang sama kita lihat juga bagaimana politikus Senayan-terutama para pencari dan penadah suap-mencoba membuat KPK lemah dan Tim Anti-Mafia Pengadilan tak bergigi. Premanisme politik yang menang memang tidak mudah dijinakkan.

Pada saat yang sama kita pun layak ragu, bisakah kabinet menjalankan kebijakan yang merugikan kepentingan kelompok bisnis tertentu-ketika Aburizal Bakrie, tokoh bisnis, politik, dan penguasa media itu, berada dalam posisi yang sangat kuat di dekat kabinet dan DPR sekaligus.

Di depan kekuatan seperti itu, akan bisa tumbuh kesan kroniisme kembali lagi, seperti di zaman Orde Baru dulu. Di depan kroniisme, parang yang akan membabat korupsi akan tumpul.

Sesuatu yang serius akan terjadi jika pemerintahan SBY-Boediono gagal menjawab rasa keraguan yang saya sebut di atas. Yang akan terjadi adalah hilangnya sebuah momentum-yakni momentum gerakan nasional melawan korupsi. Pada hemat saya, gerakan ini adalah panggilan perjuangan terpenting dalam sejarah Indonesia sekarang.

Sekali momentum itu hilang, susah benar untuk mendapatkannya lagi. Sekali momentum itu hilang, kita akan hidup dengan korupsi yang tak habis-habis.

Tentu, Indonesia tak akan segera runtuh. Bahkan negeri ini akan mungkin berjalan dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan, 6 persen atau 7 persen. Tapi akan ada sesuatu yang mungkin tak bisa diperbaiki lagi-yakni terkikisnya "modal sosial", runtuhnya sikap saling percaya dalam masyarakat.

Sebab yang dirampok oleh para koruptor dari masyarakat bukan cuma uang, tapi juga kepercayaan dan harapan. Korupsi yang kita alami tiap hari akan membuat kita selamanya curiga kepada orang lain yang berhubungan dengan kita dalam bisnis dan politik. Korupsi yang kita alami tiap hari akan membuat kita hidup dengan sinisme-dengan keyakinan bahwa semua orang dapat dibeli.

Sinisme ini racun-dan terkikisnya "modal sosial" akan membuat sebuah negeri setengah lumpuh dan menyerah.

Tapi baiklah. Saya tak ingin membuat acara kita berpisah dari Sri Mulyani ini hanya diisi dengan deretan kecemasan.

Sejarah Indonesia menunjukkan, harapan adalah sesuatu yang sulit, tapi tak pernah padam. Kita memang sering kecewa; kita memang tahu sejak 1945 Indonesia dibangun oleh potongan-potongan optimisme yang pendek. Tapi sejak 1945 pula Indonesia selalu bangkit kembali. Bangsa ini selalu berangkat kerja kembali, mengangkut batu berat cita-cita itu lagi, biarpun berkali-kali tangan patah, tubuh jatuh, dan semangat terguncang.

Sementara itu, makin lama kita makin arif: kita memang tidak akan bisa mencapai apa yang kita cita-citakan secara penuh; tapi kita merasakan bahwa Indonesia adalah sebuah amanah-dan dalam pengertian saya, sebuah amanah adalah tugas takdir dan sejarah. Dengan kata lain, kita tak bisa melepaskan diri dari komitmen kita buat Indonesia. Selama kita ada.

Perpisahan kita dari Sri Mulyani malam ini justru merupakan penegasan komitmen itu. "Jangan berhenti mencintai Indonesia," itulah kata-kata Sri Mulyani kepada jajaran pejabat Kementerian Keuangan yang harus ditinggalkannya, agar melanjutkan reformasi.

Kata-kata itu hidup, karena ia dihidupkan oleh perbuatan dan pengorbanan. Dan kita mendengarkannya. Maka pada titik ini baiklah kita ucapkan: kita akan melanjutkan reformasi itu, Ani. Jika malam ini kita ucapkan "selamat jalan", kita sekaligus juga mengucapkan: "You shall return."


Goenawan Mohamad

Baca selengkapnya...

Kamis, 27 Mei 2010

Konferensi Agung Sangha Indonesia Detik Waisak 06.07.23 WIB

Detik Waisak 2554 BE/2010 akan diperingati oleh umat Buddha hari Jumat (28/5/2010) pada pukul 06.07.23 WIB. Umat Buddha dari Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) akan merayakannya di Candi Mendut, sedangkan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) akan merayakannya di Candi Borobudur.

Ribuan umat Buddha akan memadati dua lokasi tersebut. Di Candi Borobudur akan hadir pula sekitar 200 biksu asing dari berbagai negara, antara lain Thailand, Taiwan, China, Singapura, Inggris, dan Australia.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Walubi Provinsi Jawa Tengah David Hermanjaya mengatakan, khusus untuk Thailand, dari jumlah biksu yang sebelumnya direncanakan datang 150 orang, pada hari Waisak besok,hanya akan datang 30 orang. "Sekitar 120 biksu tidak dapat datang karena kondisi negara yang tidak memungkinkan dengan adanya kerusuhan politik," ujarnya.


Regina Rukmorini - Kompas

Baca selengkapnya...

Kembali pada "Karuna"

Peringatan dan perayaan Waisak 2554 tahun ini dirayakan umat Buddha Indonesia di tengah-tengah situasi bangsa yang dilanda berbagai persoalan politik, ekonomi, terorisme, dan permasalahan korupsi yang dilakukan oleh para oknum pemangku pemerintahan, mulai dari level bawah sampai atas yang melakukan perampokan dan perampasan harta rakyat.

Slogan pembangunan manusia seutuhnya tidak lebih dari sekadar pemanis bibir belaka. Padahal, sesungguhnya, apabila rusak moral dan akhlaknya, maka rusaklah bangsa ini.

Setiap tahun di bulan Waisak umat Buddha di seluruh penjuru dunia merayakan tiga peristiwa istimewa yang terjadi pada manusia agung Buddha Gau- tama. Tahun 623 sebelum Masehi di Taman Lumbini atau Rummindei, Sidharta lahir. Tahun 588 sebelum Masehi, Sidharta mencapai keterbangunan nurani secara paripurna, kemudian pada tahun 543 sebelum Masehi beliau wafat di hutan Sala milik suku Malla, Kusinara.

Peristiwa agung yang terjadi pada bulan Waisak tersebut merupakan sebuah rangkaian kehidupan yang penuh dengan totalitas dedikasi dan karya besar bagi kemanusiaan, peradaban, dan alam semesta.

Realisasi spiritualitas keterbangunan nurani Sidharta bukanlah suatu capaian yang berangkat dari ketakutan atau penolakan sepihak terhadap penderitaan pribadi ataupun yang bersifat kebetulan karena sudah dipilih dan ditakdirkan, melainkan berangkat dari observasi langsung terhadap realitas kehidupan diiringi kepedulian terhadap derita semua agregat kehidupan, yang kemudian diperjuangkan dengan sepenuh hati tanpa kenal lelah.

Pola perjuangan Sidharta adalah dengan menggunakan seluruh potensi fisik dan mental dalam proporsi yang seimbang, bukan dengan membaca aksara-aksara suci yang terkodifikasi dalam kitab-kitab sehingga menghasilkan realisasi yang hidup, riil, dan berlaku universal.

Dalam tataran yang sederhana, keistimewaan kebangkitan nurani spiritual Sidharta yang kemudian disebut sebagai Buddha pada dasarnya merupakan suatu realisasi dengan mengikuti kata hati yang sama manusiawinya dengan yang kita miliki, kadang juga hati yang sama rapuhnya.

Konsistensi Sidharta dalam memilih, bersikap, bertindak dalam bingkai spiritualitas hati yang jernih dalam menghadapi setiap kondisi berbeda dengan kita yang cenderung mengabaikan suara nurani terutama ketika dihadapkan pada suasana untung-rugi, pujian-celaan, bahagia-menderita, dan berbagai kondisi dualisme hidup lainnya.

Merenungkan realisasi Sidharta tersebut, kebangkitan bukanlah monopoli milik-Nya dan juga bukan sesuatu yang di luar potensi manusia, tetapi dalam diri manusia terdapat potensi spiritual tersembunyi yang luar biasa (buddhata) sehingga yang harus kita lakukan adalah mengembangkan dan membuka kemungkinan-kemungkinannya.

Nurani dan spiritualitas Buddha memiliki keseimbangan dua sayap utama yang saling melengkapi, yakni karakter bijaksana (prajna) dan karakter kepedulian atau belas kasih (karuna). Kasih tanpa diiringi kebijaksanaan bukanlah kasih yang sesungguhnya, demikian juga kebijaksanaan tanpa kasih atau kepedulian hanyalah kebijaksanaan semu.

Mengembangkan keduanya secara sinergi adalah cara terbaik menghormati Buddha daripada sekadar merayakan peristiwa-peristiwa hidup-Nya dalam ingar-bingar upacara megah, tetapi minus pemahaman substansial.

Karakter bijak dan penuh kepedulian terhadap derita makhluk lain merupakan denyut nadi spiritualitas yang sesungguhnya. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dua karakter ini merupakan modal dasar untuk membentuk masyarakat, bangsa dan negara yang maju, harmonis, bermartabat.

Prestasi apa pun yang telah dimiliki masyarakat suatu bangsa akan mudah hancur jika dua karakter ini absen dari khazanah kehidupan berbangsa atau hanya sekadar didiskusikan dalam tataran idealisme akademis ataupun teologis.

Kurangnya kepedulian terhadap sesama adalah awal dari tindakan mementingkan diri sendiri, memakmurkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri dengan cara apa pun yang pada titik ekstremnya termanifestasikan dalam tindakan mencuri, korupsi, menggunakan wewenang secara salah sehingga dapat meluluhlantakkan derap langkah pembangunan bangsa.

Jika latihan spiritual kita semakin dalam, menekankan pada kebijaksanaan dan belas kasih, kita akan berkali-kali berjumpa dengan penderitaan makhluk hidup lain dan kita akan memiliki kemampuan untuk mengenalinya, menanggapinya, dan merasakan belas kasih mendalam, alih-alih perasaan apatis atau tak berdaya.

Di tengah berbagai masalah yang dihadapi, bangsa ini sebenarnya masih sangat banyak menyisakan harapan dan potensi besar untuk cerah, bangkit, dan tampil sebagai garda terdepan dalam kancah taman sari pergaulan internasional.

Memang tidak ada satu atau dua formula utama yang dapat dijadikan sebagai solusi tunggal, yang diperlukan adalah jalinan ikatan tulus bagi setiap anak bangsa untuk membantu membangkitkannya.

Seiring dengan momentum Waisak ini, umat Buddha Indonesia seyogianya membantu memberikan kontribusi positif bagi upaya bersama membangkitkan kemajuan bangsa dan negara melalui internalisasi nilai-nilai spiritualitas dasar kebuddhaan, yakni kepedulian (karuna) dan kejernihan atau kebijaksanaan (prajna) dalam bingkai keindonesiaan.

Kesadaran berkontribusi adalah kunci bagi tumbuhnya kreativitas hidup untuk terus berkarya bagi bangsa sebagaimana dipesankan Buddha, manusia yang tak mau berkarya dan berkontribusi dalam menjalani kehidupannya adalah ciri nyata kemunduran derajat manusia.


Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum Sangha Agung Indonesia, Pembina Majelis Buddhayana Indonesia

Baca selengkapnya...

Jumat, 07 Mei 2010

Belajar Kungfu

Pada suatu ketika, ada seorang pemuda menemui seorang guru Kungfu. Guru tersebut kemudian menanyakan tujuan kedatangan pemuda itu. Dengan sopan pemuda itu menjawab, “Saya ingin belajar Kungfu, menjadi murid Guru.”

“Kelak, saya ingin menjadi guru Kungfu yang hebat dan disegani di negeri ini,” lanjut pemuda itu.
“Bagus. Keinginanmu cukup bagus,” puji sang guru.
Kemudian pemuda itu memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf Guru, kalau boleh saya bertanya. Berapa lamakah waktu yang akan saya butuhkan untuk menjadi seorang guru kungfu yang paling hebat di negeri ini?”.
“Sekurang-kurangnya 10 tahun,” jawab sang guru singkat.
“Sepuluh tahun? Bukankah itu terlalu lama, Guru? Bagaimana jika saya melipatgandakan usaha saya? Berapa lama waktu yang akan saya butuhkan?” tanya sang pemuda gelisah.
Sang guru tidak segera menjawab. Ia menatap pemuda itu. Lalu dengan dengan tegas berkata, “Dua puluh tahun!”

Pemuda itu terhenyak oleh jawaban sang guru. “Lalu, kalau saya berlatih siang malam dan tidak istirahat, berapa lama waktu yang dibutuhkan?” desak pemuda itu.
Dengan cepat dan singkat, sang guru menjawab, “Tiga puluh tahun!”
Ia ingin bertanya sekali lagi, berharap jawaban sang guru kali ini dapat memuaskan hatinya.
“Kenapa saya lebih rajin, waktu yang dibutuhkan lebih lama ?” tanya pemuda sangat ingin tahu.
“Jika suatu pekerjaan dikerjakan dengan terburu-buru, maka pekerjaan itu tidak akan pernah dapat diselesaikan dengan baik. Sama, jika kamu terburu-buru ingin menguasai jurus-jurus kungfu yang hebat lalu menjadi guru kungfu yang luar biasa, maka kamu juga tidak akan pernah mencapai semua itu. Sangat masuk akal bukan?” jelas sang guru.

Pesan :
Suatu prestasi atau hasil yang istimewa memerlukan proses yang tidak selalu mudah dan cepat. Vincent Van Gogh menjelaskan, “Pencapaian yang hebat bukan dilakukan dengan dorongan kuat semata-mata, tetapi adalah gabungan seri langkah-langkah yang kecil.” Proses mencapai semua itu bukan hanya memerlukan upaya yang keras, diperlukan pula standar sikap, kompetensi, keimanan, serta visi sesuai dengan hasil yang diinginkan.
Bila ingin mendapatkan hasil yang lebih baik, maka kualitas sikap, kompetensi, keimanan kuat, serta visi juga harus jauh lebih baik. Hasil yang lebih besar harus didahului oleh peningkatan kualitas kelima faktor seperti yang disebutkan tadi. Artinya, sejalan dengan proses itu sendiri, kualitas sikap, kompetensi, keimanan, serta visi akan mengikuti standar hasil yang ingin dicapai.
Semakin tinggi kesabaran dan komitmen untuk mengikuti setiap tahap prosesnya, maka hasil yang diperoleh juga akan semakin istimewa. “Dari pengamatan riwayat tokoh-tokoh sukses di dunia ini, kita mendapatkan bahwa mereka mengalami ujian dan tantangan yang besar baru bisa berhasil. Sebelum sebuah tugas yang berat diberikan, kita akan selalu diuji dengan berbagai cara,” terang Dr. Napoleon Hill. Maka ciptakan impian sekaligus melengkapinya dengan komitmen dan kesabaran mengikuti prosesnya, untuk sekedar memastikan Andapun bisa mencapai prestasi yang teristimewa.

Baca selengkapnya...

Sri Mulyani dan Estetika

Boleh-boleh saja salah satu pentolan total football Johan Cruyff - selain Rinus Michels dan Frank Rijkaard - sejak era 1970-an mengerek panji estetika sepak bola, bahwa sepak bola intipatinya adalah chaos yang dikejar, diperebutkan, dikuasai dan dikontrol agar berbuah gol.

Keadaan chaos dijauhi manusia, karena manusia tidak ingin didekap alunan musik berirama dan serba teratur.

Di mata punggawa Belanda, chaos dihadapi, kalau perlu diciptakan, sebab dengan begitu chaos bisa dikuasai dan dikontrol.

Publik penggila bola pun berdecak kagum seraya berkata, "inilah sepak bola buah karya rasionalitas".

Semuanya diabdikan kepada Yang Indah dengan huruf besar. Boleh dibilang sepak bola Belanda menggarap realita lapangan yang chaotic dengan menyuguhkan ritme permainan dengan mengedepankan fantasi yang mengobarkan rasa keindahan.

Yang Indah, artinya mau bertanya mengenai apa yang dinamai dan dialami sebagai yang indah. Inilah yang disebut sebagai estetika sepak bola. Dan Sri Mulyani Indrawati menerapkan tiga rumus dasar estetika.

Bagi Mbak Ani - sapaan akrab Sri Mulyani - keindahan adalah tata harmoni dalam segala sesuatu yang terukur, merujuk kepada filsuf Plato dan Thomas Aquinas.

Kedua, keindahan merupakan kontemplasi dari Sang Indah dengan huruf besar yang mengacu kepada filsuf Plato, Plotinos dan Agustinus.

Ketiga, keindahan ditemukan dalam pengalaman manusia dengan mengarah kepada pendapat Aristoteles dan Thomas Aquinas.

Setelah menjalankan kontemplasi dalam hitungan hari demi hari, menyikapi sorot kasus bailout Bank Century bertubi-tubi, bahkan disebut-sebut sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas kebijakan itu, Sri Mulyani memilih melakoni tata harmoni dalam menjalankan laga kehidupan.

Ia memerankan estetika sepak bola dengan mengusung Yang Indah, karena ia memahami untuk memaknai "yang chaotic".

Lihat saja penampilannya yang boleh dibilang indah ketika memasuki lift saat tiba di Kantor Kementrian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8).

Mengenakan busana lengan panjang dan rok selutut, ia melipat kedua tangannya dan meletakannya di badan.

Bahasa tubuh ekpresif yang ingin mengatakan hukum besi dari estetika bahwa seni bukanlah semata benda, tetapi kata.

Ya, estetika adalah kata, karena itu nilai adalah sesuatu yang bersifat subyektif, terpulang kepada manusia yang menilainya.

Ketika estetika dibaca oleh Sri Mulyani, maka setiap orang, setiap kelompok, setiap masyarakat memiliki nilai-nilainya sendiri yang disebut sebagai seni.

Puncak dari makna estetika itu, Bank Dunia memberi pernyataan bahwa ia ditunjuk menjadi Direktur Pelaksana Grup Bank Dunia mulai 1 Juni 2010.

Bagaimana tidak bermakna estetis dan bernuansa ekspresif? Paling tidak ada dua momen yang membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh ingin mengurai segala peristiwa yang chaotic seputar kasus Century.

Pada 30 November 2009, ia berinisiatif memberikan keterangan kepada KPK terkait kasus Bank Century di Kantor Kementrian Keuangan.

Pada 11 Desember 2009, untuk kali kedua ia berinisiatif memberikan keterangan kepada KPK di Kantor Kementrian Keuangan.

Yang indah justru diucapkannya, sehari sesudah heboh pengunduran dirinya sebagai Menteri Keuangan.

"Nanti akan ada lebih 70 negara di bawah saya. Saya akan tetap bangga dan senang, Indonesia sebagai contoh reformasi (birokrasi), jadi (dapat) menunjukkan pada negara berkembang, bahwa reformasi bukan kasus di text book, itu realitas dan terjadi di negara kita ini, Indonesia," katanya dalam sambutan di Kanwil Ditjen Perbendaharaan, Jakarta, Kamis.

Yang juga indah dinyatakan oleh Presiden Bank Dunia Robert Zoellick.

"Ia menteri keuangan yang baik dengan pengetahuan mendalam mengenai isu-isu pembangunan dan peran Bank Dunia," kata bos Bank Dunia itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengungkapkan Yang Indah dengan menyetujui pengunduran diri Menkeu Sri Mulyani.

"Terhadap ini semua, saya harus menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa sesungguhnya kita kehilangan salah satu menteri terbaik, menteri keuangan, karena harus berpindah tempat berada dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, kemudian bertugas atau mengabdi di Bank Dunia," kata presiden.

Sisi estetika dari pernyataan-pernyataan itu merujuk kepada Yang indah dari laga kehidupan: ya, kita harus hidup tanpa utopia lagi.

Tinggalkan segala utopia tentang segala kesempurnaan. Kaum utopis sebaiknya bercermin, impian mereka berakhir dengan kepedihan dan kesuraman. Utopia tidak dapat membuat manusia berkembang.

Sri Mulyani paham betul bahwa utopia berakhir sia-sia, absurd. Yang oke, ia meramu estetika dan total footbal sebagai bagaimana membela dan mempertahankan lini belakang, dan mencoba menarik kemenangan dengan melakukan serangan balik ke jantung pertahanan lawan.

Estetika bola, baginya, ialah melahirkan keteraturan (self organization), yang justru menjadi label dari sepak bola Belanda dengan total football-nya.

Mbak Ani "belajar" dari Michels bahwa serangan dalam laga bola dibangun dari lini belakang. Mbak Ani juga berguru dari Cruyff bahwa serangan perlu diekstremkan dengan dikerahkan dari segala lini.

Post scriptum, berangkat dari heboh seputar Mbak Ani, utopia boleh tiada, tetapi rasanya utopia tidak boleh mati dalam sepak bola.

Sesungguhnya, chaos masih dapat dikontrol menjadi keteraturan, organisasi diri dan keindahan.

Sri Mulyani Indrawati, begitu namanya. Di mata estetika, ia mendekonstruksi seni. Seni bukan semata meniru alam (mimesis), tetapi menciptakan kualitasnya sendiri.

Dan politik adalah seni.


A.A. Ariwibowo

Baca selengkapnya...

Kamis, 06 Mei 2010

Rahasia Kebahagiaan

Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan : Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.

Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.

Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.

Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati : memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.

Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang- orang patut menerima kehangatannya.

Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".

Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan- bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?

Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman- pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.

Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipiil.

Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya. Rasakan apa yang dikatakannya.

"Tak ada kesenangan yang lebih besar dari pada membantu seseorang membuat perbedaan positif dalam kehidupan orang tersebut." ~ Mary Rose McGeady ~

Baca selengkapnya...

Selasa, 04 Mei 2010

BANGUNLAH JEMBATAN JANGAN TEMBOK

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.

Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki.

Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak.

Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu.

Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan,? kata pria itu dengan ramah..

Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan.?

Oh ya !? jawab sang kakak.

Saya punya sebuah pekerjaan untukmu.?

Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku.

Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan Airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang Memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku Sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya. Kata tukang kayu, Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan.

Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang.?

Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai Kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.

Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru Saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya.

Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertanian nya dengan ladang pertanian adiknya.

Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Dari seberang sana , terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki Jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.

Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini.. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku? kata sang adik pada kakak nya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.

Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu, pinta sang kakak.

Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini,? kata tukang kayu, tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.?


Sadarkah kita bahwa ;

Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, karena seharusnya kita melihat yang ada di depan?

Kita lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan sehingga kita dapat mendengar dari dua sisi dan dua arah. Menangkap pujian maupun kritikan, dan mendengar mana yang salah dan mana yang benar.

Kita dilahirkan dengan otak tersembunyi di kepala, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya. Karena tak seorang pun dapat mencuri isi otak kita. Yang lebih berharga dari segala permata yang ada.

Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut.

Karena mulut tadi adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah, bahkan membunuh. Lebih baik sedikit bicara, tapi banyak mendengar dan melihat.

Kita dilahirkan dengan satu hati, yang mengingatkan kita. Untuk menghargai dan memberikan cinta kasih dari dalam lubuk hati.

Belajar untuk mencintai dan menikmati untuk dicintai, tetapi jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan.

Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini terasa menjadi lebih indah.

Baca selengkapnya...