Selasa, 10 Februari 2009

Cara Mengajar Terbaik

Hiduplah seorang guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa orang murid, salah satu di antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru menyuruh muridnya yang gagu untuk turun gunung.

Sang guru berkata, "Besok, turun gununglah dan sebarkanlah ajaran Kebenaran yang telah kubabarkan kepada semua orang."

Muridnya yang gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas, "Maafkan saya Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran Guru, saya ini kan gagu. Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja yang tentu mampu membabarkan ajaran Guru dengan lebih baik?"

Sang Guru tersenyum dan meminta muridnya merasakan sebiji anggur yang diberikan olehnya. "Anggur ini manis sekali," tulis muridnya.

Sang Guru kembali memberikan sebiji anggur yang lain. "Anggur ini masam sekali," tulis muridnya.

Kemudian Gurunya melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun diberi anggur yang manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, "Masam... masam...."

Sang Guru menjelaskan pada muridnya,

"Kebenaran bukanlah untuk dihafal, bukan pula cuma untuk dipelajari, tapi yang terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cacat tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan batin kita. Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu, tapi tidak pernah mengetahui manisnya madu itu. Kita jangan seperti beo yang pintar mengoceh, tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya.

Engkau memang tidak mampu berbicara dengan baik, tapi bukankah engkau bisa menyebarkan Kebenaran dengan cara-cara lain, misalnya menulis buku? Dan yang lebih penting, bukankah perilaku kamu yang sesuai dengan Kebenaran akan menjadi panutan bagi yang lain?"

Itulah cara mengajar yang terbaik: teladankan Kebenaran dalam perilakumu, bukan cuma dalam omonganmu....

Be Happy!


Sumber : Ehipassiko Foundation

Baca selengkapnya...

Senin, 09 Februari 2009

Sukses Yang Membebaskan

Bila ada yang mengatakan, kesuksesan adalah sebentuk kutukan, mungkin banyak orang akan mengerutkan alis sebagai tanda tidak percaya. Terutama karena terlalu lama manusia telah bius bahwa kesuksesan adalah sebentuk garis finish kehidupan yang harus dicapai. Kerja keras, belajar keras, mencintai yang keras, semuanya yang serba keras ini dilakukan untuk mencapai kesuksesan. Jumlah saldo di bank yang menggunung, penampilan yang aduhai, nama yang dikenal banyak orang, rumah mewah yang mentereng hanyalah sebagian atribut-atribut kesuksesan yang paling dicari
Banyak sudah yang dihasilkan oleh pandangan hidup seperti ini. Dari hal-hal mikro seperti keluarga sejahtera, sampai tumbuhnya ekonomi negara seperti Cina yang demikian mencengangkan. Sukses ternyata tidak saja menjadi energi pribadi, tetapi juga menjadi mesin perekonomian yang bisa menarik gerbong-gerbong perekonomian dalam jumlah banyak. Banyak sudah acungan jempol yang ditujukan pada konsep hidup seperti ini.

Namun, sebagaimana wajah kehidupan yang lainnya, sukses juga berwajah ganda. Di satu sisi ia membantu, di lain sisi ia membelenggu. Soal wajah sukses yang membantu, tentu telah banyak diulas dan dibicarakan. Namun soal wajah sukses yang membelenggu, ini yang mulai banyak mengganggu. Perceraian, perselingkuhan, penyakit akibat bekerja terlalu keras, bahkan permusuhan serta peperangan bisa menjadi akibat dari sukses yang membelenggu.

Sebut saja, kesombongan sebagai buah sukses. Terlalu banyak orang sukses kemudian diperangkap kesombongan. Dan mudah ditebak apa yang diperoleh manusia setelah diperangkap kesombongan. Kesuksesan telah membuat manusia berbaju ego tebal, menganggap diri paling tinggi serta menempatkan orang lain dalam posisi yang lebih rendah.

Penyakit kelelahan adalah contoh lain. Ada seorang sahabat kaya raya yang memperoleh kekayaannya dengan jalan kerja keras. Namun ketika usia menginjak tua, kemudian sakit-sakitan, seluruh kekayaan habis untuk ongkos berobat di Singapura. Bahkan, ketika kekayaan habis pun, penyakit belum kunjung pergi. Ada juga cerita tentang pria setia yang demikian setianya sama keluarga sampai-sampai harus pulang malam terus dari tempat kerja. Namun begitu jadi orang kaya, kesetiaannya entah pergi ke mana. Kesuksesan harus dia bayar dengan perceraian.
Inilah sekelumit wajah kesuksesan yang memenjara. Sukses (terutama materi) yang dikejar dengan tidak sedikit biaya, dari sekolah yang keras, belajar yang keras, sampai dengan kerja yang keras, bahkan tidak sedikit yang membayarnya dengan harga lebih besar lagi berupa perceraian dan berantakannya rumah tangga, ternyata tidak membebaskan. Sebaliknya malah menjadi penjara-penjara yang menyengsarakan.

Tentu tidak disarankan kalau dari sini, banyak sahabat yang takut akan kesuksesan. Tidak disarankan juga menggunakan argumen dalam tulisan ini untuk menghakimi banyak orang sukses. Yang memerlukan perenungan mendalam dalam hal ini, bagaimana membuat sukses yang menelan biaya demikian besar ini bukannya memenjara, sebaliknya malah membuat hidup semakin terbebaskan?

Rute menuju ke sebuah tempat memang tidak pernah satu. Salah satu rute yang layak direnungkan dalam mencapai sukses yang membebaskan adalah dengan mencermati pikiran. Benar pendapat seorang guru bahwa mind is a good servant but a bad master. Sebagai pembantu, pikiran memang pembantu yang amat mengagumkan. Namun sebagai penguasa, pikiran juga penguasa yang demikian memenjara. Secara lebih khusus lewat sifat pikiran yang hanya mengerti melalui dualitas. Tidak saja penyakit yang memenjara, sehat juga memenjara. Terutama kalau sehat kemudian berharap selamanya sehat walafiat. Tidak saja derita memerangkap, bahagia juga memerangkap karena kebahagiaan menghadirkan keserakahan untuk tidak mau berganti situasi.

Sukses sebagai hasil olahan pikiran juga serupa. Tidak saja gagal memenjara, sukses juga memerangkap. Terutama karena kesuksesan diikuti oleh keterikatan agar sukses abadi. Akibatnya, kesuksesan disertai banyak ketakutan. Inilah salah satu awal dari sukses yang memenjara.

Seorang guru yang memahami hal ini pernah memberikan saran sederhana tetapi mengagumkan, Try not too attach to any thought that arise in your mind! Rupanya, keterikatan berlebihan terhadap apa saja yang muncul di pikiran bisa memenjara. Sehingga, apa pun gambar yang muncul di pikiran, lebih disarankan untuk berjarak seperlunya. Tidak saja dengan kegagalan, dengan kesuksesan juga perlu berjarak. Ketika manusia berhasil berjarak terhadap seluruh dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, benar-salah, bahagia-sedih, dll.) inilah tanda-tanda terbukanya pintu gerbang kebebasan.

Tidak mudah tentunya, terutama karena manusia telah lama dipenjara pikiran. Diperlukan langkah-langkah pendisiplinan pikiran yang panjang. Dan meditasi adalah salah satu kendaraan penting dalam hal ini. Tugas meditator dalam hal ini, apa saja yang muncul di pikiran (baik-buruk, sukses-gagal, bahagia-derita) disarankan hanya dilihat. Persis seperti melihat gambar-gambar sinetron di televisi. Semuanya berganti terus-menerus. Dan yang melihat bisa berjarak terus tanpa perlu terpengaruh berlebihan. Seorang guru pernah berbisik, Just seeing is your true nature. Siapa saja yang tekun terus-menerus melihat, akan datang waktunya bisa memahami apa yang disebut sebagai sukses yang membebaskan.


Oleh : Gede Prama

Baca selengkapnya...

Minggu, 08 Februari 2009

Pembeli Istimewa

Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai).

Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu.

Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, "Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya".

Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis. Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, "Terima kasih atas kunjungan anda".

Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, "Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli".

Si pemilik toko itu berkata, "Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain."

"Mengapa lain," tanya pelayan.

"Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, kue manju itu sangat penting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya", demikian penjelasan sang pemilik toko.

Konosuke Matsushita, sekarang ini adalah pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.



Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food For Thought, dari buku Etos Bisnis dan Etika Manajemen

Baca selengkapnya...

Sabtu, 07 Februari 2009

Mengubah Pola Pikir

Sekelompok wisatawan tertahan di suatu tempat asing di luar kota. Mereka hanya menemukan bahan makanan yang kedaluwarsa. Karena lapar, mereka terpaksa menyantapnya, meskipun sebelumnya dicobakan dulu kepada seekor anjing yang ternyata menikmatinya dan tak terlihat efek sampingnya.

Keesokan harinya, ketika mendengar anjing itu mati, semua orang menjadi cemas. Banyak yang mulai muntah dan mengeluh badannya panas atau terserang diare. Seorang dokter dipanggil untuk merawat para penderita keracunan makanan. Kemudian sang dokter mulai mencari sebab-musabab kematian si anjing yang dijadikan hewan percobaan tersebut. Ketika dilacak, eh ternyata anjing itu sudah mati karena terlindas mobil.

Apa yang menarik dari cerita di atas? Ternyata kita bereaksi menurut apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan kenyataan itu sendiri. We see the world as we are, not as it is. Akar segala sesuatu adalah cara kita melihat. Cara kita melihat mempengaruhi apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan mempengaruhi apa yang kita dapatkan. Ini disebut sebagai model See-Do-Get.

Perubahan yang mendasar baru akan terjadi ketika ada perubahan cara melihat. Ada cerita menarik mengenai sepasang suami-istri yang telah bercerai. Suatu hari, Astri, nama wanita ini, datang ke kantor Roy, mantan suaminya. Saat itu Roy sedang melayani seorang pelanggan. Melihat Astri menunggu dengan gelisah, pimpinan kantor menghampirinya dan mengajaknya berbincang-bincang. Si Bos berkata, "Saya begitu senang, suami Anda bekerja untuk saya. Dia seorang yang sangat berarti dalam perusahaan kami, begitu penuh perhatian dan baik budinya." Astri terperangah mendengar pujian si bos, tapi ia tak berkomentar apa-apa.

Roy ternyata mendengar komentar si bos. Setelah Astri pergi, ia menjelaskan, "Kami tak hidup bersama lagi sejak 6 bulan lalu, dan sekarang dia hanya datang menemui saya bila ia membutuhkan tambahan uang untuk putra kami."

Beberapa minggu kemudian telepon berbunyi untuk Roy. Ia mengangkatnya dan berkata, "Baiklah Ma, kita akan melihat rumah itu bersama setelah jam kerja." Setelah itu ia menghampiri bosnya dan berkata, "Astri dan saya telah memutuskan memulai lagi perkawinan kami. Dia mulai melihat saya secara berbeda tak lama setelah Bapak berbicara padanya tempo hari."

Bayangkan, perubahan drastis terjadi semata-mata karena perubahan dalam cara melihat. Awalnya, Astri mungkin melihat suaminya sebagai seorang yang menyebalkan, tapi ternyata di mata orang lain Roy sungguh menyenangkan. Astrilah yang mengajak rujuk, dan mereka kembali menikmati rumah tangga yang jauh lebih indah dari sebelumnya.

Segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah. Karena itu, bila ingin mengubah nasib secara drastis, kita perlu melakukan revolusi cara berpikir. Stephen Covey pernah mengatakan: "Kalau Anda menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda."

Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda. Ini contoh sederhana. Seorang anak bernama Alisa yang berusia empat tahun selalu menolak kalau diberi minyak ikan. Padahal, itu diperlukan untuk meningkatkan perkembangan otak dan daya tahan tubuhnya. Betapapun dibujuk, ia tetap menolak. Dengan maksud baik, kadang-kadang ia dipaksa menelan minyak ikan. Ia menangis dan meronta-ronta. Usaha tersebut memang berhasil memaksanya, tapi ini bukan sesuatu yang win-win. Si Orang tua menang, ia kalah. Ini pendekatan yang dimulai dengan Do.

Maka ditemukanlah cara lain yaitu dengan mengubah paradigma Alisa. Si Orang tua tahu Alisa sangat suka sirup, karena itu minyak ikan tersebut di aduk dengan air dalam gelas. Ternyata, ia sangat gembira dan menikmati "sirup" minyak ikan itu. Bahkan, sekarang ia tak mau mandi sebelum minum "sirup" tersebut.

Contoh sederhana ini menggambarkan proses perubahan yang bersifat inside-out (dari dalam ke luar). Perubahan ini bersifat sukarela dan datang dari Alisa sendiri. Jadi, tidak ada keterpaksaan. Inilah perubahan yang diawali dengan See. Perubahan yang dimulai dengan Do, bersifat sebaliknya, yaitu outside-in. Perubahan seperti ini sering disertai penolakan. Jangankan dengan bawahan, dengan anak kecil seperti Alisa saja, hal ini sudah bermasalah.

Pendekatan hukum bersifat outside-in dan dimulai dengan Do. Orang tidak korupsi karena takut akan hukumannya, bukan karena kesadaran. Pada dasarnya orang tersebut belum berubah, karena itu ia masih mencari celah-celah yang dapat dimanfaatkannya. Pendekatan SDM berusaha mengubah cara berpikir orang. Akar korupsi sebenarnya adalah pada cara orang melihat. Selama jabatan dilihat sebagai kesempatan menumpuk kekayaan, bukannya sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, selama itu pula korupsi tak akan pernah hilang. Inilah pendekatan inside-out. Memang jauh lebih sulit, tetapi efek yang dihasilkannya jauh lebih mendasar.

Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah nasib, yang perlu Anda lakukan cuma satu: Ubahlah cara Anda melihat masalah. Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang sendiri sebagai tantangan dan rahmat yang terselubung. Orang-orang ini sangat berjasa bagi Anda karena dapat membuat Anda lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar. Saya menyukai apa yang dikatakan John Gray, pengarang buku Men Are From Mars and Women Are From Venus. Gray melihat masalah dan kesulitan dengan cara yang berbeda. Ujarnya, "Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh."

Baca selengkapnya...

Jumat, 06 Februari 2009

Dimana Letak Kebahagiaan

Ada dua ekor anjing yang bersahabat. Anjing yang besar dan anjing yang kecil. Anjing yang kecil selalu mengeluh tentang penderitaan hidupnya dan selalu berharap kapan kiranya dewa keberuntungan akan datang untuk menolongnya agar terlepas dari penderitaan dunia.

Anjing yang tua selalu menasehati anjing yang kecil dan berkata: "Meskipun tak punya rumah tetapi kita bisa tinggal dimanapun. Hidup di dunia ini asal tidak mengalami kelaparan dan kedinginan sudah cukup. Jika dipelihara oleh manusia dan menjadi seekor anjing yang meminta belas kasihan majikan, maka akan kehilangan kebebasan dan kehormatan".

Anjing kecil tersebut tidak mau mendengar nasehat anjing tua, selalu bermimpi bahwa dirinya - dari anjing yang bebas mengembara – menjadi anjing yang dipelihara manusia.
Pada suatu hari, anjing kecil tersebut pergi ke tempat peramal dan bertanya: "Dimanakah kebahagiaan itu berada?"

"Kebahagiaan itu berada pada ekor kamu!"

Setelah mendengar kata-kata tersebut, anjing kecil tersebut mati-matian berputar ingin menggigit ekornya untuk menangkap kebahagiaan. Dia lari sekuat-kuatnya ingá berkeringat, tetapi tetap tidak dapat menggigit ekornya. Akhirnya dengan letih dia berkata kepada anjing tua: "Menurut ramalan, kebahagiaan saya berada pada ekor saya. Tetapi saya tidak dapat menangkap kebahagiaan. Tolong beritahu, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan kebahagiaan?"

Anjing tua dengan tersenyum berkata: "Saya mencari kebahagiaan dengan berjalan menuju ke depan. Tidak pernah berkeluh kesah tentang masa lampau, tidak pernah kuatir dan takut tentang keadaan sekarang dan juga tidak pernah kuatir tentang masa yang akan datang. Asalkan kaki saya melangkah ke depan maka kebahagiaan yang berada di ekor saya pasti mengikuti saya".

Dimanakah sesungguhnya kebahagiaan berada?. Rasa curiga sering membuat kita jauh dari pandangan kebahagiaan. Keragu-raguan sering membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh kebahagiaan. Demikian pula rasa iri hati membuat pandangan kita kabur terhadap kebahagiaan, dan melamun membuat kita lepas dari pelukan kebahagiaan.

Jangan mencari kebahagiaan di luar diri, jangan mengemis kepada siapapun. Kebahagiaan berada di dalam batin kita sendiri***

Baca selengkapnya...

Kamis, 05 Februari 2009

Berbagi Senyum

Senyum. Sebuah kata yang kini terasa amat mahal di kancah kehidupan Jakarta! Saya terkesan dengan salah satu ajakan yang pernah diluncurkan sebuah perusahaan milik negara melalui iklan televisi: “Sudahkah Anda Senyum Hari Ini?” Iklan layanan masyarakat yang menampilkan soft power perusahaan tersebut ditutup dengan ungkapan bijak “Senyum Mengawali Perubahan”.

Seorang pemimpin puncak sebuah bank swasta yang dibebani tugas memasyarakatkan senyum di kalangan karyawan, khususnya teller, resepsionis dan petugas keamanan, sempat heran: “Tersenyum kok sukar banget!”

Untuk menebar dan berbagi senyum, yang diperlukan hanyalah niat dan tekad nan tulus. Makna dan nilai kemaslahatannya sudah teruji. Baik dari segi kesehatan jasmani -- urat dan otot sekitar wajah langsung terenggangkan -- maupun dari aspek insani. Senyum menyejukkan hati bagi pemberi dan penerimanya, serta membuka titik awal komunikasi dua arah yang menyejukkan, bahkan mencerahkan. Senyum juga berpotensi menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah pribadi. Smile is inspiring.

Pokoknya, senyum itu membahagiakan kita dan sesama. Bunda Teresa berpetuah, “Smile at each other, smile at your wife, smile at your husband, smile at your children -- it does not matter who it is -- and that will help you to grow up in greater love for each other.” Senyum hendaknya tulus -- demi kebahagiaan orang lain -- dan jujur, tanpa rasa terpaksa, agar melahirkan rasa damai dan nyaman. Alangkah indahnya hidup ini bila dengan berbagi senyum kita akan “... grow up in greater love for each other”.


#######


Indah nian hidup bila setiap orang rela berbagi senyum. Dengan senyum, kita akan makin dewasa merawat cinta kasih dalam diri pribadi untuk kemudian saling bebagi dengan sesama. Jack Canfield & Mark Victor Hansen dalam Chicken Soup for the Soul menulis: “Spread love everywhere you go: first of all in your own house. Give love to your children, to your wife or husband, to a next door neighbor ... Let no one ever come to you without leaving better and happier. Be the living expression of God's kindness; kindness in your face, kindness in your eyes, kindness in your smile, kindness in your warm greeting.” Dengan membagi kasih sayang kepada sesama, hidup terasa indah.

Yes, life is beautiful. Robert Benigni, sutradara dan aktor film La Vita `e Bella (Life is Beatiful) bertutur, “Just open your eyes. And see that life is beautiful.” Tataplah dunia ini dengan hati, Pak Truno menguatkan. Mengutip Ronggowarsito ia menatap hidup masa kini: “Kali ilang kedunge. Pasar ilang kumandange. Wong lanang-wadon ilang wirang.” Sungai hilang kedalamannya. Pasar hilang riuh rendahnya. Kaum lelaki dan perempuan tidak lagi menghiraukan martabatnya.

Olah batin memperkaya wawasan akan makna hidup. Senyum dan cinta kasih memaknainya. Sisi lain yang memberi warna hidup adalah tertawa. Menurut Sean O'Casey, “Laughter is wine for the soul. Once we can laugh, we can live. It is the hilarious declaration made by man that life is worth-living.” Tertawa itu bak anggur bagi sang jiwa. Bila senyum, cinta kasih dan tawa terpadu dalam niat untuk saling berbagi dengan sesama. Hidup ini, Saudara, memang sungguh indah dan nyaman.***


Oleh : HB. Supiyo

Baca selengkapnya...

Rabu, 04 Februari 2009

Mengukir Prestasi, Meredam Frustrasi

Recession is when your neighbor loses his job. Depression is when you lose your job(Ronald Reagan,1980). Krisis ekonomi selalu disertai depresi psikologis yang hebat. Bukti paling nyata adalah kasus bunuh diri yang dilakukan manajer investasi asal Prancis (Thierry de la Villehuchet), konglomerat asal Jerman (Adolf Merckle), dan juru lelang properti di Chicago (Steven Good).

Hal serupa juga terjadi saat terjadi Depresi Besar 1929-1933. Banyak orang frustrasi karena standar hidup pada 1933 lebih rendah dari apa yang sudah mereka nikmati pada 1922. Pada situasi yang sangat gawat bagi kelangsungan sistem ekonomi kapitalisme itu, sejarah mencatat surat yang dikirim John Maynard Keynes kepada Presiden Roosevelt, yang isinya meminta agar pemerintah Amerika Serikat segera mencairkan anggaran belanja secara besar-besaran untuk proyek-proyek yang banyak menyerap tenaga kerja.

Bagi Keynes, mempertahankan anggaran berimbang dalam kondisi resesi adalah kebodohan. Solusi untuk mengatasi resesi adalah menaikkan permintaan agregat. Pengeluaran rumah tangga merupakan komponen kunci dari permintaan agregat tersebut. Itu sebabnya pengeluaran rumah tangga harus didorong naik.
Jika pendapatan meningkat, belanja rumah tangga juga akan meningkat. Kecenderungan untuk konsumsi (marginal propensity to consume) ini akan menciptakan efek pengganda (multiplier effect). Diktumnya yang terkenal,"the higher the degree of consumption, the higher the multiplier".
Resep Keynes yang amat manjur pada saat itu mampu menjauhkan ilmu ekonomi dari tudingan Thomas Carlyle (1849) yang menyebut ilmu ekonomi sebagai "the dismal science" (?ilmu yang murung'). Bagi para pengikut Keynes, ekonomi mirip sebuah mobil yang memiliki pedal gas dan pedal rem.
Pedal gas adalah pengeluaran pemerintah yang lebih besar dan pajak yang lebih rendah. Pedal ini yang harus ditekan pada masa resesi. Bagi para pemikir moneteris yang sering dianggap lawan dari kubu Keynesian, ekonomi memang memiliki pedal gas dan pedal rem, tetapi dalam pandangan mereka yang disebut pedal rem adalah jumlah uang beredar yang lebih besar (higher money supply).
Penelitian Milton Friedman, tokoh besar kubu moneteris, menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat cen-derung stabil, dan hanya berubah apabila ada harapan terhadap perubahan pendapatan secara permanen (permanent income hypothesis). Depresi 1929-1933 menjadi parah karena jumlah uang beredar turun sepertiganya.
Dengan demikian, bila Keynesian melihat kebijakan fiskal lebih efektif untuk menjinakkan ancaman resesi, kaum moneteris melihat tingkat suku bunga dan laju kredit lebih memberi harapan. Jadi, pernyataan Presiden Nixon (1971) bahwa "We are all Keynesians now", atau pengakuan Franco Modigliani (1977) bahwa "We are all monetarists now", tidak bisa kita terima begitu saja.
Keduanya harus digunakan secara cerdas dan tepat. Ilustrasi ini mungkin tepat untuk menggambarkan pilihan kebijakan pada masa ekonomi sulit. Seorang pebisnis yang sukses suatu hari mengunjungi mantan dosennya. Pada saat masuk ruang kerja sang dosen, dia terkejut karena membaca soal tes yang persis sama dengan soal yang diajukan kepadanya sekitar lima belas tahun lalu.
Tak bisa menahan keheranannya, pebisnis tersebut bertanya, apakah sang dosen tidak takut apabila para murid mencari jawaban dari pekerjaan para murid di masa lalu? Dengan tenang sang dosen menjawab," No, that's okay. I do keep the same questions. It's the answers I change each year".
Keynes sendiri pernah dikritik karena sering dinilai tidak konsisten mempertahankan argumen teoretisnya. Terhadap kritik yang demikian, Keynes hanya menjawab, "When my information changes, I alter my conclusions. What do you do, Sir?"
Sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah dalam menghadapi resesi tampak merupakan upaya untuk menggabungkan potensi pendekatan Keynesian dan moneteris. Ini terlihat dari keberanian pemerintah untuk mengusulkan defisit anggaran yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya, bersamaan dengan upaya Bank Indonesia untuk terus menekan suku bunga primer.
Meski demikian, efektivitas stimulus fiskal masih menjadi persoalan besar mengingat pola pengeluaran anggaran yang masih cenderung menumpuk di akhir tahun. Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga menarik, karena di tengah upaya pemerintah pusat menggerakkan ekonomi nasional, ternyata banyak dana pembangunan yang diendapkan oleh pemerintah daerah, yang jumlahnya per Juni 2008 mencapai Rp 94,4 triliun, atau meningkat empat kali lipat dibanding tahun 2003.
Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak memiliki dampak berarti terhadap penurunan harga-harga kebutuhan pokok juga harus segera dicermati. Apakah penurunan tersebut jauh dari ekspektasi masyarakat yang sudah berhitung harga seharusnya turun lebih besar, sehingga upaya tidak menurunkan harga merupakan strategi tepat untuk menekan pemerintah agar harga BBM kembali diturunkan?
Apakah potensi penurunan biaya produksi akibat penurunan harga BBM termakan oleh kenaikan biaya akibat penurunan kurs rupiah? Dalam beberapa bulan ke depan, akurasi, efisiensi, dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam meredam dampak krisis ekonomi akan diuji. Kita mengharapkan indeks prestasi yang lebih baik, bukan indeks frustrasi yang semakin meluas.


Prof . Hendrawan Supratikno PhD Penulis, Guru Besar FE UKSW, Salatiga.
Dosen pascasarjana di sejumlah universitas.

Baca selengkapnya...

Selasa, 03 Februari 2009

Menjadi Manusia Bebas

Krisis dahsyat menghantam muka Bumi, dan konon, puncaknya akan terjadi di sekitar pertengahan tahun yang baru ini. Disadari atau tidak, kekhawatiran dan ketakutan melanda umat manusia. Ketakutan kehilangan pekerjaan, nasib usaha, yang semuanya bermuara pada ketidakpastian dan ketidakamanan. Kegalauan melanda jiwa-jiwa yang tanpa disadari mengganggu produktivitas kerja dan fungsi hidup keseharian.

Namun, krisis itu tidak bisa dihadapi dan dijalani hanya dengan rasa takut dan khawatir. Itu adalah sikap mental pecundang (loser mentality).... Krisis dahsyat itu hanya bisa dihadapi dan ditaklukkan dengan sikap mental sebaliknya (winner mentality).

Ada dua esensi sikap mental pemenang yang diperlukan: Pertama, menjadi ”penyapu jalan terbaik”! Martin Luther King Jr pernah mengatakan, ... Seandainya seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu sebagaimana halnya Michelangelo melukis, atau Beethoven mengomposisi musiknya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. Ia seharusnya menyapu sedemikian baiknya sehingga segenap penghuni surga maupun Bumi berhenti sejenak untuk berkata: ”Di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan demikian baik.”

Maka, profesi dan pekerjaan apa pun yang dijalani sekarang, lebih dulu perlu diterima dengan rasa syukur. Masih banyak saudara lain yang kehilangan pekerjaan, belum bekerja, tak tahu harus berbuat apa. Krisis tak berhak mengganggu dan menggugat yang ada di tangan kita sekarang. Dari rasa syukur akan timbul kesadaran baru bahwa apa yang masih ada itu adalah karunia, sekaligus amanah. Harus dijalankan sebaik-baiknya dan yang terbaik.

Itulah bentuk mental syukur terpenting dalam kondisi serba krisis dan menakutkan seperti sekarang. Menjalankan sebaik-baiknya apa yang ada di tangan adalah ”ibadah” paling bernilai (bentuk rasa syukur paling konkret), yang bukan hanya berguna bagi kita, tetapi juga bagi manusia lain yang terkait dengan kita. Menjalankan segala sesuatunya dibarengi dengan kekhawatiran dan ketakutan akan dahsyatnya krisis, apa adanya, seadanya (yang penting masih ada yang dikerjakan) sama sekali tak berguna bagi siapa pun dan hanya membuat penghuni surga dan Bumi mencibir serta menangis.

Manusia Budak atau Bebas

Kedua, menjadi ”manusia bebas”! Esensi sikap mental pertama tersebut hanya bisa dibentuk melalui esensi mental kedua, yakni menjadi ”manusia bebas”, seperti dimaksudkan Lao Tzu: ”... Jika engkau hanya mengerjakan segala sesuatu sebatas apa yang diharapkan darimu, maka engkau tak ubahnya seorang budak. Namun jika engkau mengerjakannya lebih dari yang diharapkan, barulah engkau menjadi manusia bebas.”

Kalimat bijak itu sungguh menyiratkan esensi makna yang indah sekaligus dahsyat. Jika kita hanya bekerja dan menjalankan tugas kewajiban sebatas yang diharapkan, di- standarkan, diminta, maka sesungguhnya kita masih dibatasi dan dikurung oleh batasan-batasan eksternal.

Misalnya, karyawan yang bekerja tentu mempunyai target-target atau KPI (key performance indicator). Target atau KPI ini tentunya ditetapkan oleh pihak eksternal (manajemen, atasan, atau perusahaan). Maka, karyawan yang bekerja hanya ”sebatas” memenuhi target dan KPI-nya, secara hakiki, ia dibatasi dan dikendalikan oleh pihak eksternal. Itulah yang dimaksud ”budak”. Apalagi jika ia bekerja kurang atau di bawah KPI-nya.

Bagaimana menjadi manusia bebas? Ya, jika seseorang (sesuai profesinya masing-masing), mau memberi dan bekerja lebih dari apa yang diharapkan, lebih dari target dan KPI-nya. Artinya, ia telah berani, bersedia, dan mampu menetapkan sendiri batasan- batasan kerja dan hidupnya (tidak lagi oleh pihak eksternal). Karyawan ”budak” hanya bekerja sebatas KPI-nya. Karyawan ”bebas” bekerja melebihi KPI-nya tanpa diminta.

Sikap mental menjadi ”manusia bebas” inilah yang sangat diperlukan di negeri ini. Makna kemerdekaan bukan hanya sekadar lepas dari para penjajah bangsa asing. Bukan jadi ”bangsa budak”, melainkan bangsa pemenang yang mampu mengatasi krisis global sehebat apa pun.


oleh Herry Tjahjono

Baca selengkapnya...

Senin, 02 Februari 2009

Iklim Kejujuran

Tidak jauh dari tempat saya tinggal ada sebuah jalan yang cukup panjang, sebuah jalan pedesaan yang rimbun berjajar rapi di sebelah kanan kirinya pohon rindang. Sejauh mata memandang di kiri dan kanan adalah sawah subur membentang.Setiap kali saya lewat jalan itu, saya lebih suka memacu mobil saya perlahan, mematikan AC dan membuka kaca jendela lebar-lebar sambil sesekali menarik nafas panjang menikmati segarnya udara.

Tapi, setiap lima tahun sekali, saya atau mungkin siapa pun yang lewat jalan itu, harus bisa berlapang dada. Manakala saat ini di sepanjang jalan itu tiba-tiba saja berubah begitu ramai oleh gambar caleg partai yang begitu lebat memenuhi kanan kiri tepi jalanan. Saya tidak tahu persis apakah cara kampanye seperti ini cukup efektif, yang jelas cara inilah yang saat ini banyak dilakukan. Yang kemudian sebagai orang yang harus bisa berbagi, maka kita harus bersabar untuk membiarkan itu terjadi sampai musim kampanye usai.

Beberapa hari lalu, ada sebuah kejadian yang cukup lucu. Dimana seseorang di jalan itu, hampir saja dikeroyok beramai-ramai gara-gara kedapatan mengambili dan merobek-robek beberapa gambar caleg. Untunglah polisi segera mengamankannya. Dan selidik punya selidik, ternyata dia adalah seseorang yang terganggu jiwanya. Sudah beberapa tahun terakhir ini dia mengalami depresi berat sehingga terkadang dia melakukan sesuatu diluar kendali akal sehatnya.

Hal yang lucu adalah, kabarnya ketika ditanya polisi, apa motivasi-nya mengambili gambar caleg itu, dia dengan ringan dan cengengesan menjawab, bahwa gambar-gambar itu merusak pemandangan. Nah..!

Walaupun dia bisa dikelompokkan sebagai orang yang tidak sehat mentalnya, tapi kita harus mau jujur bahwa dia adalah orang yang jujur, dan berani dengan kejujurannya. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa terkadang kita justru marah terhadap orang yang jujur kepada kita.

Saya pikir, tidak mudah untuk membangun sebuah iklim kejujuran terhadap orang-orang di sekitar kita, atas apa yang ada dan terjadi, dan segala yang kita lakukan. Dan semua ini justru tergantung kepada pilihan-pilihan sikap kita terhadap orang-orang yang justru memberi kita informasi apa adanya terhadap kita. Sehingga pilihan kita tadi akan membentuk sebuah iklim dimana kemudian orang cenderung untuk selalu jujur kepada kita, atau justru berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya di hadapan kita.

Karena orang yang jujur di sekitar kita, tak ubahnya sebuah cermin. Ketika suatu saat kita buruk muka kemudian memilih untuk membelah cermin, maka bisa dipastikan bahwa lambat laun cermin-cermin itu memilih untuk tidak mendekat kepada kita. Atau kalaupun mereka mendekat, mereka memilih merubah diri mereka menjadi gambar-gambar yang indah tinimbang menjadi sebuah cermin.

Perilaku orang-orang yang spontan mengeroyok orang dalam cerita saya di atas, mungkin salah satu contoh tipikal kita yang justru cenderung menjadi marah bila ada orang lain yang mengatakan atau melakukan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan atau dikatakan (perilaku jujur), tapi tidak sesuai dengan harapan kita terhadap perilakunya.

Sehingga bila suatu saat anda mendapati seseorang berkata bohong kepada anda, mungkin ada baiknya anda justru bertanya kepada diri anda sendiri sampai seberapa jauh anda selama ini membangun iklim kejujuran terhadap orang-orang di sekitar anda..


Oleh : Pitoyo Amrih

Baca selengkapnya...

Minggu, 01 Februari 2009

Badri

Setitik air menetes ke kepalanya, dan sejak saat itu Badri seakan-akan dilahirkan kembali. Ia jadi seseorang yang baru.

Kisahnya saya baca dalam Kompas 19 Januari yang lalu. Kisah itu membuat saya percaya bahwa jangan-jangan ada mukjizat, kata lain dari sesuatu yang menakjubkan. Mukjizat dalam versi ini tak datang ke dunia secara spektakular. Ia menyusup dalam berkas-berkas kecil.

Badri tinggal di sebuah kampung yang merupakan bagian dari Desa Tugu Utara, di Kecamatan Cisarua, Bogor. Bertahun-tahun lamanya, lelaki yang kini berumur 60 tahun itu jadi tukang babat hutan. Bersama beberapa temannya, ia ke luar masuk kawasan Puncak yang waktu itu rimbun dan sejuk. Dengan gergaji dan parang mereka tebangi pohon-pohon untuk dipotong-potong dan dijual sebagai kayu bakar. Empat tahun lamanya, sejak tahun 1975, sejak ia berumur 36 tahun, Badri mendapatkan nafkahnya dengan merusak hutan.

Tapi sesuatu terjadi di sebuah hari di bulan Oktober tahun 1979.
Siang itu ia tak pergi bersembahyang Jum’at. Sejak pagi ia terus saja menebangi pohon. Di tengah hari, ketika siang jadi terik, ia beristirahat sejurus. Ia duduk. Mendadak, katanya, seperti dikutip Kompas, setetes air jatuh ke kepalanya.
”Hanya setetes,” katanya, ”tetapi membuat badan saya segar. Keletihan saya menebang pohon dan memikul kayu langsung hilang.”

Ia pun melihat ke sekeliling, mencari dari mana tetes air itu datang. Ternyata, butir bening yang sejuk itu jatuh dari pokok yang baru ditebangnya. ”Saya terkejut,” kata Badri. ”Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu.”

Sejak hari itu—ia ingat tanggalnya dengan persis, 6 Oktober 1979—ia gundah. Ia kembali masuk ke luar hutan, tapi kali ini tidak untuk menebang, melainkan untuk membuktikan bahwa pohon-pohon memang menyimpan air di tubuh mereka, di akar mereka yang masuk ke tanah. Setelah ia menemukan kenyataan itu sendiri, ia pun yakin. Ia pun bertekad. “Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang pohon”, tuturnya. Bahkan ia bersumpah akan terus menanam sampai akhir hidupnya.

Maka hampir tiap hari ia membawa coredan, alat pembuat lobang kecil di tanah tempat akan dipendamnya bibit. Hampir tiap hari, dengan tubuhnya yang tua, kurus tapi liat, dilapisi kulit yang hitam legam terbakar matahari, Badri mengembalikan ke bukit-bukit di Puncak daun dan dahan dan akar hutan tropis. Ia menebus. Ia memulihkan. Ia tak mau lelah. Kakek itu menampik sakit.

Janji itu tak mudah. Ia kehilangan sumber nafkahnya: sang pencuri kini jadi sang pemberi. Isterinya marah. Hidupnya sendiri tak selamanya aman. Badri menciptakan musuh. Beberapa kali ia ditangkap dan dianiaya para spekulan tanah dan petugas keamanan villa-villa di kawasan Cisarua. Sebab ia tak ragu untuk menanam pohon apa saja di tanah kosong mana saja – yang tak jarang kepunyaan orang tapi dibiarkan terlantar atau sedang dibidik untuk diperjual-belikan.

Ia melakukan itu sejak 1979. Sampai sekarang: sebuah kesetiaan non-institusional. Yang mengarahkannya bukanlah satu program, satu lembaga, atau ajaran, melainkan sebuah “kejadian”.

Kata “jadi” -- sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang tak mudah diterjemahkan -- menggambarkan perubahan yang-potensial ke dalam yang-aktual, yang-belum ke dalam yang-sudah. “Kejadian” juga mensugestikan sesuatu yang tak rutin dan terkadang menakjubkan. Jika yang dialami Badri dan yang membuat dirinya berubah kita sebut sebuah mukjizat itu karena semuanya berlangsung di sebuah masa ketika hal demikian sungguh tak lazim. Inilah masa ketika orang berbuat segala sesuatu konon dipacu oleh kepentingan-diri.
Kita bayangkan Badri: tetesan air itu membuatnya terguncang, tapi dengan segera jadi sebuah tekad, pada 6 Oktober 1979 itu. Dengan itu Badri tak merasa perlu bertanya untuk siapa dia menanam pohon tiap hari selama tiga dasawarsa.
Ia seorang militan. Tapi seorang militan lain mungkin akan mengorbankan dirinya untuk sesuatu yang tertutup, misalnya kaum atau pihaknya sendiri. Militansi Badri tidak demikian: ia bekerja untuk sesuatu yang tak berpuak. Ia menjangkau sesuatu yang secara universal terbuka. Pohon-pohon itu tumbuh dan hutan itu akan kembali rimbun untuk siapa saja, bahkan untuk manusia dalam geografi dan generasi yang tak akan ia kenal.
Mungkin orang akan mencemooh Badri: ia naif. Ia tak berpikir bahwa bila Puncak jadi hijau kembali, bila hutan tumbuh dan menyimpan air, yang akan menikmatinya terutama orang yang berduit dan berkuasa. Pendeknya, niat untuk menjangkau sesuatu yang universal itu bodoh, melupakan bahwa “sesama” tak pernah “sama”, kecuali sebagai angka statistik.
Tapi saya tak akan mencemooh Badri. Ia mungkin tahu tapi mungkin juga tidak bahwa orang-orang kaya di Jakarta adalah perusak hutan yang lebih buas ketimbang para pencuri batang pohon seperti dia sebelum 1979. Orang-orang berduit dan berkuasa membangun vila dan membedah lereng, memakai mobil dengan karbon dioksida yang paling ganas, dan mengkonsumsi sandang-pangan dengan rakus hingga segala yang alami dikorbankan. Tapi salahkah Badri bila ia terus menanam pohon di bukit itu?

Saya kira kita perlu melihat bahwa kisah orang ini, yang bernama lengkap Badri Ismaya (dan “Ismaya” adalah Semar dalam wayang, jelata yang juga dewata), adalah sebuah cerita penebusan yang mendasar: di zaman yang dibentuk oleh keserakahan manusia, Badri jadi sebuah antidot. Ia menangkal kerakusan. Ia tak mengambil. Ia menyumbang.

Agaknya ia tak ingin kita membunuh diri dengan saling menghancurkan, setelah putus asa melihat diri sendiri sebagai unsur yang keji di planet bumi. Agaknya ia ingin manusia seperti pohon hutan: makhluk yang luka tapi memberi tetes air dan keajaiban.


Goenawan Mohamad

Baca selengkapnya...

Selasa, 27 Januari 2009

Ternyata . . . Hidup Ini Sederhana . . .

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik .

Ada seorang anak melakukan magang kerja di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Pegawai-pegawai lainnya menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, anak tersebut di tarik untuk bekerja di perusahannya.
Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik."
Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah. "
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah .

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."

Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja .

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?"
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana ."
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan:
"Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.
Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"
Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

You are what you think about. Beware of your mind.






Baca selengkapnya...

Jumat, 23 Januari 2009

Renungan Tiga Cara Melihat uang

Apakah Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala berikut ini?

- Kesulitan mendapatkan uang yang Anda butuhkan?
- Merasa lelah bekerja keras dan membanting tulang untuk mendapatkan uang?
- Merasa telah mengerahkan segala cara namun uang yang Anda harapkan tak kunjung datang?

Jika jawaban Anda ‘ya’ terhadap salah satu, sebagian atau semua pertanyaan di atas, mungkin selama ini Anda melihat uang dengan cara yang salah. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak kisah berikut ini.

Suatu ketika,seorang tukang pembuat taman mendapatkan pesanan untuk mengerjakan taman di sebuah rumah. Segera si pembuat taman menyampaikan rincian biaya yang termasuk pembelian bahan-bahan, pembelian taman dan upah kerja.setelah terjadi tawar-menawar singkat akhirnya harga disepakati dan keesokan harinya si tukang mulai bekerja. Namun sesungguhnya si pemilik rumah belum melakukan survei harga sehingga ia tidak mengetahui berapa harga yang wajar untuk pekerjaan tersebut. Setelah pembuatan taman selesai dan pembayaran dilakukan, si pemilik rumah akhirnya menyadari bila jumlah yang dibayarkannya jauh diatas harga wajar. Si tukang memperhitungkan jumlah bahan yang dibutuhkan hampir dua kali lipat dari jumlah yang sesungguhnya dipakai. Ia menghitung tenaga kerja tiga kali lebih banyak dari yang sesungguhnya. Yang lebih parah lagi, harga tanaman yang ditagihkan empat kali lebih tinggi dari harga yang sewajarnya. Mungkin si tukang akan berpendapat, ‘Salah sendiri, kenapa tidak teliti sebelum membeli.’ Atau mungkin malah ia berpikiran, ‘Dasar rejeki, dari mana aja dah datangnya.’ Sepintas, sepertinya si tukang diuntungkan karena kecerdikannya dan si pemilik rumah dirugikan karena kebodohannya. Tapi benarkah demikian?

Si pemilik rumah, setelah menyadari bahwa dia dikerjai oleh si tukang, dengan segera mengurungkan niatnya untuk menyerahkan pekerjaan lain kepada si tukang. Si pemilik rumah bermaksud membuat tanaman yang lebih besar dari rumah lainnya. Namun kali ini dia lebih hati-hati. Selain ia melakukan survey harga, ia pun mencari tukang lain yang memberi harga lebih pantas dengan kualitas yang relative sama. Bahkan, ketika salah satu tetangganya tertarik untuk memakai jasa si tukang, si pemilik rumah langsung mengingatkan si tetangga dengan menceritakan kejadian yang dialaminya. Segera tetangga-tetangga di sekitarnya mengetahui kejadian tersebut dan akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk menggunakan jasa si tukang. Bulan-bulan berikutnya, si tukang sepi order dan harus mangkal ditempat lain di mana belum ada orang yang menyadari taktik dagangnya. Tapi, segera satu orang di tempat tersebut menyadari dan menceritakannya, maka si tukang harus kembali harus berpindah tempat. Demikian seterusnya ia akan bekerja semakin keras untuk memburu penghasilan.

Pada umumnya kita semua melihat uang dengan mata kita. Namun sesungguhnya ada dua cara lain untuk melihat uang. Selain melihat uang dengan mata, manusia juga sebenarnya bisa melihat uang dengan pikiran dan melihat uang dengan hati. Namun karena sebagian besar dari kita sejak kecil telah terbiasa melihat uang dengan mata maka kemampuan kita untuk melihat uang dengan pikiran dan melihat uang dengan hati menjadi menurun bahkan hampir hilang. Sampai disini mungkin para pembaca bertanya-tanya, apa sebenarnya perbedaan antara melihat uang dengan pikiran dan melihat uang dengan hati? Semoga ilustrasi berikut membantu Anda.

Seorang pengamen masuk ke sebuah rumah makan. Segera ia mendatangi salah satu meja di mana sebuah keluarga sedang asyik menyantap ikan bakar. Pengamen itu pun segera memainkan gitarnya dan mulai menyanyi di dekat keluarga tersebut. Baru satu baris lagu dinyanyikan, si pengamen segera menyodorkan kaleng kosong kepada salah satu anggota keluarga tersebut. Sang Ibu yang sedang asyik menyantap hidangan dan tangannya masih berlepotan dengan kecap dan sambal dengan sangat berhati-hati dan bersusah payah merogoh uang receh dari tasnya. Kehadiran pengamen ini bukannya memberikan keceriaan tetapi sungguh mengusik ketenangan pengunjung yang hadir. Selain suara sang pengamen fals, gitar tak berirama, ia pun mendesak pengunjung untuk segera menyodorkan uang. Sebelum ada tanda-tanda pengunjung akan mengeluarkan uang, si pengamen akan mulai mengetuk-ngetukkan kaleng kosong tersebut ke meja makan. Dan sebaliknya, begitu uang diterima, si pengamen pun langsung pindah ke meja lain. Pengamen tersebut melihat uang dengan mata. Dan berapa uang yang dia dapat? Mungkin seratus perak per pengunjung. Sesekali mereka mungkin mendapatkan pengunjung yang memberi mereka lima ratus atau seribu perak.

Di tempat makan yang lain, dengan menu yang sama yaitu ikan bakar, seorang pengamen lain mengambil tempat salah satu sudut. Ia sudah melengkapi dirinya dengan microphone, gitar dan harmonica. Pada saat pengunjung mulai berdatangan, maka pengamen inipun mulai melantunkan lagu-lagu yang digemari oleh para pengunjung. Ia sangat terampil memainkan gitar dan harmonikanya di samping suara yang merdu ia lantunkan. Setiap kali ia menyelesaikan satu lagu, ia tidak pernah meminta pengunjung untuk mengumpulkan uang. Bahkan ia sebenarnya tidak pernah meminta uang sama sekali selain meletakkan sebuah kotak persis di samping ia berdiri. Apa yang terjadi? Para pengunjung yang merasa terhibur oleh kehadiran sang pengamen satu per satu mulai memasukkan uang ke dalam kotak itu. Biasanya, uang yang dimasukkan adalah uang kembalian dari membayar makanan mereka. Karena pada saat mereka memasukkan uang tersebut mereka tida direpot kan oleh tangan yang kotor karena makanan serta mereka sedang memegang uang pecahan satuan besar plus merasa terhibur dengan performance si pengamen maka pengamen kedua ini pun mendapatkan pemberian yang lebih besar dibandingkan pengamen pertama sebelumnya. Rata-rata para pengunjung memberi kan seribu perak bahkan cukup banyak yang memberikan lima ribu perak. Pengamen yang satu ini melihat uang dengan pikiran. Ia telah memikirkannya dengan teliti bahwa bila ia menyodorkan kotak uangnya pada para pengunjung, maka pengunjung akan memberi dalam terpaksa. Dan uang yang diberikan secara terpaksa biasanya kecil jumlahnya.

Di rumah makan yang lainnya lagi, dengan menu tetap ikan bakar, pengamen yang berbeda menggunakan pakaian yang rapi. Dia menyapa ramah para pengunjung dan menghampiri meja mereka satu per satu. Dengan sangat sopan dan bersahabat, ia menanyakan apakah ada lagu kesukaan pengunjung yang ingin ia nyanyikan. Bila ada, maka ia pun segera memetik gitarnya dan melantukan suaranya dengan merdu khusus untuk pengunjung tersebut. Pada setiap kesempatan ia selalu memastikan apakah para pengunjung bisa menikmati lagu yang ia nyanyikan dan apakah kehadirannya bisa menghibur dan menemani para pangunjung yang sedang menyantap hidangannya. Si pengamen di sini tidak menyiapkan kotak uang atau kaleng kosong seperti pengamen-pengamen sebelumnya. Ia hanya menggelar banner bertuliskan, “Marilah kita bersama-sama mengembalikan masa depan anak-anak yang putus sekolah.” Memang setengah dari uang si pengamen itu akan disumbangkan untuk membantu anak-anak putus sekolah disalah satu kampung. Hebatnya lagi, si pengamen tidak menetapkan harga untuk CD yang dijualnya itu. Bahkan bila ada pengunjung yang berminat membeli CD- nya namun kebetulan kehabisan uang untuk membayar makanan, maka si pengamen dengan senang hati bersedia memberikan CD-nya gratis. Para pengunjung pun beramai-ramai membeli CD si pengamen tersebut. Bahkan banyak diantaranya yang membeli lebih dari satu untuk diberikan kepada temannya sebagai hadiah. Uang yang diberikan kepada para pengunjung pun jauh lebih besar. Rata-rata mereka memberikan uang sepuluh hingga dua puluh ribu perak.

Pengamen yang ketiga ini melihat uang dengan hati. Ia tidak melihat uang sebagai penghasilannya namun sebagai ekspresi kepuasan dan keikhlasan para pengunjung rumah makan tersebut. Bahkan ia tidak memperhitungkan uang tersebut sebagai kepentingannya melainkan sebagai kepentingan orang-orang yang menggantungkan harapan kepadanya. Apakah Anda sudah melihat uang dengan hati atau pikiran? Ataukah Anda masih melihat uang dengan mata? Hati-hati! Ada julukan khusus untuk orang-orang yang selalu melihat uang dengan mata yaitu ‘mata duitan‘. Bila Anda mengalami kesulitan dalam mendapatkan uang sebagai penghasilan Anda, cobalah untuk menggunakan mata yang lain dalam melihat uang tersebut. Melihat uang dengan pikiran membutuhkan kecerdasan financial. Melihat uang dengan hati membutuhkan kecerdasan spiritual yang diantaranya meliputi keikhlasan dan kesabaran. Uang yang Anda harapkan mungkin tidak serta merta langsung Anda rasakan saat itu. Namun kalau sudah tiba saatnya, uang itu akan datang secara berkelimpahan. Jauh lebih banyak dari uang yang yang Anda peroleh secara instan. Cara melihat uang yang berbeda ternyata memberikan rejeki yang berbeda pula. Dunia ini memang mengajar kita dengan cara yang aneh. Bila kita terlalu bernafsu untuk mendapatkan uang, justru uang itu menjauh dari kita. Semoga Anda bisa mulai melihat uang dengan pikiran dan terlebih lagi dengan hati.


Disalin kembali oleh : Livia Indrawan








Baca selengkapnya...

Kamis, 22 Januari 2009

Ukuran Kaya

”Untuk memulai perjalanan menuju suatu tempat, Anda sebaiknya tahu di mana posisi Anda saat ini.” ~ Pandir Karya

”Seberapa kaya Anda sekarang?” tanya saya kepada sejumlah kawan.
”Cukup kaya untuk ukuranku,” kata Iin.
”Masih jauh dari kaya,” jawab Toni.
”Tergantung definisi kaya itu apa dulu,” kata Herlina.
”Yah, sedang-sedang saja,” ujar Didi
. ”Kalau tabungan sepuluh jutaan sih punya,” jelas Diah.
”Dibanding Ciputra aku miskin banget,” kata Rudy.
”Di antara kawan-kawan se-SMA dulu, aku paling kaya,” gagas Yuyun.
”Sedikit lebih kaya dibandingkan ayahku ketika seusiaku,” ujar Lilik.
”Aku sih nggak kaya, tapi suamiku yang kaya,” papar Dewi.
”Cukuplah untuk hidup tanpa bekerja 20 tahun ke depan,” kata Indra.

***

Seorang perempuan dengan tinggi badan 170 sentimeter, bisa diterima umum kalau disebut ”tinggi”. Sementara seorang lelaki dengan tinggi badan yang sama, mungkin masih belum dianggap cukup ”tinggi”. Lelaki bisa dianggap ”tinggi” kalau ukurannya 175 sentimeter ke atas. Itu pun kalau di Indonesia. Di Amerika Utara, Eropa Barat, Afrika Selatan, atau di Asia Timur boleh jadi patokan untuk disebut berbadan tinggi itu berbeda-beda lagi angkanya. Jadi yang disebut ”berbadan tinggi” meski sudah terukur secara kuantitatif, tetap saja bisa dianggap relatif (tidak mutlak pasti sama 100 persen). Paling tidak batas minimum untuk disebut ”tinggi” itu masih bervariasi antar wilayah di berbagai belahan dunia ini.

Hal yang sama berlaku bila kita berbicara soal ”orang kaya”. Pengertian ”kaya” menjadi sangat relatif, kecuali kita sepakat menetapkan suatu ukuran kuantitatif sebagai kriteria atau indikator utama untuk menilai. Misalnya, kita bisa menggunakan jumlah penghasilan tahunan untuk menentukan kaya tidaknya seseorang. Dengan indikator ini, data yang pernah dikutip Handi Irawan cukup menarik untuk disimak. Sebab Konsultan Pemasaran terkemuka yang sukses mengembangkan Frontier Consulting Group itu menunjukkan data bahwa 85 persen penduduk dunia mengumpulkan penghasilan tahunan sekitar Rp 21.820.000,- (atau Rp 59.800,- per hari). Mereka yang berpenghasilan di atas Rp 254 juta per tahun (atau 695.000,- per hari), sudah termasuk dalam kelompok top 10 persen. Jika penghasilan per tahunnya naik menjadi Rp 337 juta (atau Rp 923.300,- per hari), maka orang tersebut akan masuk kelompok 5 persen yang teratas. Dan hanya sekitar 1 persen penduduk dunia yang mampu mengumpulkan penghasilan di atas Rp 475 juta per tahun (atau Rp 1.301.400,- per hari).

Jika jumlah penghasilan tahunan hendak kita jadikan indikator untuk menentukan kaya tidaknya seseorang, maka angka manakah yang akan kita pergunakan sebagai penghasilan minimum dari mereka yang kita kelompokkan sebagai ”orang kaya”? Lalu, berdasarkan angka tersebut, seberapa kayakah Anda (dan saya)?

Jumlah penghasilan tahunan bisa membantu kita mengukur seberapa kaya diri kita sekarang ini. Namun, jika indikatornya menggunakan jumlah dana likuid yang dimiliki—yakni dana yang mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, dan produk perbankan lainnya—maka orang dengan penghasilan tinggi belum tentu pantas di sebuat ”kaya”. Sebab, jika penghasilan yang tinggi habis dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup mewah, atau untuk membantu sanak saudara yang banyak jumlahnya, atau habis untuk biaya pengobatan penyakit tertentu, maka jumlah dana likuid yang benar-benar tersimpan di bank boleh jadi tak terlalu besar.

Dalam hal ini, jika kita menyimak data-data yang sering disampaikan para praktisi perbankan, terutama yang menangani wealth management, sering disebutkan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 200.000 orang pemilik dana likuid di atas Rp 1 miliar (kurang dari 0,1 persen dari total penduduk yang 220 juta jiwa). Dari jumlah tersebut, sekitar 40.000 di antaranya memiliki dana likuid lebih dari Rp 5 miliar (kurang dari 0,02 persen penduduk). Dan 10.000 di antaranya bahkan memiliki dana likuid di perbankan di atas Rp 10 miliar (kurang dari 0,005 persen penduduk).

Jadi, jika dilihat dari dana likuid yang kita miliki, maka seberapa kayakah Anda sekarang ini? Selanjutnya, pada tingkat internasional, sejumlah literatur biasanya mendefinisikan orang kaya sebagai orang yang memiliki harta kekayaan bersih—bukan dana likuid—senilai minimum US $ 1 juta, atau sekitar Rp 9-10 miliar. Dengan indikator ini, lebih dari 10.000 orang Indonesia termasuk dalam kelompok orang kaya dunia (total jumlahnya 7,7 juta dari 6 miliar penduduk bumi).

Ketiga indikator di atas, yakni jumlah penghasilan, jumlah dana likuid yang dimiliki, atau jumlah harta kekayaan bersih, memang bisa dipergunakan untuk menilai seberapa dekat atau seberapa jauh kita (Anda) dari kriteria untuk disebut sebagai ”orang kaya”. Dan berdasarkan pemahaman terhadap posisi kita hari ini, bisa dipikirkan kemudian strategi yang bagaimana yang perlu ditempuh untuk meraih kekayaan yang dicita-citakan.

Namun demikian, masih ada cara lain yang mungkin lebih menarik untuk kita gunakan mengukur seberapa kaya diri kita (Anda) sekarang ini. Cara ini dipergunakan oleh Stanley dan Danko, penulis buku laris The Millionaire Next Door. Dengan menggunakan faktor umur, jumlah penghasilan tahunan, dan jumlah kekayaan bersih, kedua peneliti kaum kaya Amerika itu memberikan petunjuk dengan ”rumus” berikut : Kalikan Usia Anda dengan Penghasilan Tahunan sebelum Pajak dari semua sumber, kecuali warisan. Bagi dengan sepuluh. Angka ini, dikurangi kekayaan karena warisan, adalah kekayaan bersih yang seharusnya sudah Anda kumpulkan / miliki saat ini.

Misalnya, Indra berusia 40 tahun, berpenghasilan kotor Rp 100 juta per tahun—jumlah ini termasuk gaji, THR, bonus, bunga deposito, pendek kata semuanya. Jumlah harta kekayaan bersih Indra seharusnya adalah (40 x Rp 100 juta) dibagi 10 = Rp 400 juta. Atau bila Dewi berpenghasilan kotor Rp 80 juta per tahun, dan usianya 35 tahun, maka harta kekayaan bersih yang seharusnya dimiliki Dewi adalah (35 x Rp 80 juta) dibagi 10 = Rp 280 juta. Kekayaan bersih itu sendiri dihitung dengan menjumlah total aset (seluruh harta benda) di kurangi total hutang.

Dengan rumus di atas, apabila jumlah harta kekayaan bersih kita sekitar angka yang seharusnya, maka kita dianggap Average Accumulator of Wealth (Pengumpul Kekayaan Rata-rata). Jika harta kekayaan bersih kita dibawah angka yang seharusnya, maka kita dikelompokkan sebagai Under Accumulator of Wealth (Pengumpul Kekayaan yang Bodoh). Sementara jika harta kekayaan bersih kita ternyata jauh di atas angka yang seharusnya—setidaknya dua kali lipat dari itu—maka kita akan disebut sebagai Predigious Accumulator of Wealth (Pengumpul Kekayaan yang Luar Biasa).

Jadi, bisakah Anda mengukur seberapa kaya Anda sekarang?

Baca selengkapnya...

Sabtu, 10 Januari 2009

Kearifan segenggam garam

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal saleh dan bijak. Di suatu pagi yang basah, dengan langkah lunglai dan rambut masai, datanglah seorang lelaki muda, yang tengah dirundung masalah. Lelaki itu tampak seperti orang yang tak mengenal bahagia. Tanpa membuang waktu, dia ungkapkan semua resahnya: impiannya gagal, karier, cinta dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sendok, tenang, bibirnya selalu tampilkan senyum.

"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?" pinta Pak tua itu.
"Asin dan pahit, pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah ke tanah.
Pak Tua itu hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan beriringan, tapi dalam kediaman. Dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, masih dengan mata yang memandang lelaki muda itu dengan cinta, lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga, yang membuat gelombang dan riak kecil. Setelah air telaga tenang, dia pun berkata, "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah".
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut tamunya.
"Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.
"Tidak," jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu anakku, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai pandangan hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar dari keleluasan itu."
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasihat.
"Hatimu anakku, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar di hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.






Baca selengkapnya...

Kamis, 01 Januari 2009

The 7 Laws of Happiness

Dua pertapa bertemu seorang wanita cantik jelita yang ingin menyeberangi sungai. Sayang, air sungai terlalu tinggi. Maka, salah seorang pertapa menggendong si wanita sampai ke seberang.

Pertapa yang lainnya menyaksikan peristiwa itu dengan penuh kemarahan. Dalam hati ia mencaci maki temannya habis-habisan. Ia tak habis pikir mengapa si kawan berani menyentuh wanita, bahkan menggendongnya menyeberangi sungai. Apakah ia lupa ajaran agamanya? Mengapa ia memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi?
Setelah hal itu berlangsung beberapa lama, akhirnya ia tak sabar lagi dan bertanya kepada sang kawan, “Mengapa kamu tega-teganya menggendong wanita itu?” Mendengar hal itu pertapa yang tadi menggendong wanita berkata keheranan, “Kawanku, aku sudah meninggalkan wanita itu sejak dua jam yang lalu, tapi mengapa engkau masih terus membawanya?”
Apa sebenarnya perbedaan antara kedua pertapa tersebut? Pertapa yang menggendong wanita sesungguhnya hanyalah berniat membantu si wanita. Ia tidak memikirkan wanita itu. Begitu selesai membantu ia pun segera melupakan si wanita dan kembali berkonsentrasi pada apa yang ia lakukan. Sementara pertapa kedua selama dua jam memikirkan wanita itu dan merasa iri karena tidak berkesempatan menyentuhnya. Pertapa pertama merasa bahagia karena bisa membantu orang lain, sementara pertapa kedua diliputi rasa kemarahan yang sudah tentu menjauhkannya dari kebahagiaan.
Kebahagiaan memang berkaitan dengan kondisi pikiran kita. Kebahagiaan amat bergantung pada pikiran-pikiran yang kita pilih. Ini berbeda dari kesuksesan yang bergantung pada pilihan tindakan kita.
Ada banyak tindakan kebaikan yang tidak menghasilkan kebahagiaan. Anda dapat menolong orang, tetapi bila Anda menolong karena mengharapkan balasan, Anda tidak akan bahagia. Anda hanya akan bahagia bila Anda tulus dan ikhlas. Bila Anda tidak membalas orang yang memfitnah Anda, Anda sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi Anda belum bahagia bila Anda masih memendam kemarahan. Anda hanya akan bahagia kalau Anda memaafkan. Bila Anda mengajarkan kebaikan kepada orang lain, Anda sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi Anda tidak akan pernah berbahagia bila Anda melakukannya untuk pamer atau menyombongkan diri. Anda bisa saja sukses karena mengambil tindakan yang benar, tapi Anda tidak akan bahagia sebelum Anda memilih pikiran yang benar.
Kebahagiaan akan sangat tergantung pada pilihan pikiran di balik setiap tindakan kita. Saya menyebut pikiran ini dengan The 7 Laws of Happiness. Ini adalah pikiran-pikiran yang harus kita pilih agar menghasilkan kebahagiaan. Tiga pikiran pertama berkaitan hubungan dengan diri kita sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai: patience (sabar), gratefulness (syukur) dan simplicity (sederhana). Tiga pikiran kedua berkaitan hubungan kita dengan orang lain: love (kasih), giving (memberi) dan forgiving (memaafkan). Adapun satu pikiran terakhir berkaitan hubungan kita dengan Sang Pencipta, yaitu surrender (berserah).
Sabar adalah menyadari bahwa segala sesuatu berproses. Karena itu sabar bukanlah mengurut dada, melainkan menikmati proses karena dalam hidup ini proses adalah yang terindah. Sabar menyatukan badan dan pikiran di satu tempat, masuk ke dalam kekinian dan menyatu dengan alam semesta.

Syukur adalah menyadari bahwa kita sudah memiliki ”modal” yang cukup untuk bahagia. Syukur mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang telah kita miliki, meresapinya, dan menikmati setiap detailnya.

Sementara sederhana merupakan kemampuan menangkap hakikat di balik setiap kerumitan. Sederhana bermakna menyadari bahwa segala sesuatu adalah sederhana, tapi kitalah yang sering kali membuatnya rumit. Jadi, bila syukur berfokus pada titik awal dan menyadari potensi kita sepenuhnya; sederhana berfokus pada tujuan dan masalah yang kita hadapi, serta menemukan hakikat di balik kerumitannya.
Sementara kasih adalah landasan kita untuk berhubungan dengan orang lain. Ini lebih dari sekadar menang-menang yang sebenarnya mengisyaratkan hubungan transaksional. Saya hanya mau berhubungan dengan Anda bila saya mendapatkan keuntungan yang setimpal. Kasih jauh lebih fundamental, sebab kasih tidak akan pernah menghitung-hitung kemenangan. Bukankah mengasihi saja sudah merupakan sebuah kemenangan tersendiri?
Namun, kasih hanya akan menjadi teori bila tak diwujudkan dalam bentuk memberi. Di lain pihak banyak orang yang memberi tetapi tidak dilandasi kasih. Mereka memberi karena maksud tertentu. Tentu saja bukan pemberian semacam ini yang saya maksud.

Sementara itu, memaafkan adalah bentuk pemberian yang tersulit, karena adanya mitos yang kita percaya bahwa memaafkan menunjukkan kelemahan dan hanya menguntungkan orang lain. Padahal memaafkan tidak yang diuntungkan dari memaafkan kecuali diri kita sendiri.
Pilihan pikiran terakhir adalah berserah yang berarti menyerahkan hal-hal yang tidak mampu kita kerjakan kepada Tuhan. Walaupun demikian, masih banyak orang yang salah kaprah. Mereka menyerahkan pekerjaan mereka kepada Tuhan. Padahal Tuhan tidak akan pernah melakukan apa yang kita sendiri bisa lakukan. Tuhan hanya akan melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Berserah merupakan pikiran penutup yang menjadikan kebahagiaan kita lengkap. Bukankah hakikat hidup ini struggle to surrender?

Oleh : Arvan Pradiansyah






Baca selengkapnya...