Sabtu, 17 April 2010

Tanda-tanda Overdosis Vitamin

Terkadang orang masih terus mengonsumsi suplemen vitamin meskipun kebutuhan vitamin dalam tubuhnya telah terpenuhi. Akibatnya sering terjadi kondisi overdosis vitamin. Apa saja tanda-tanda overdosis vitamin?

Vitamin adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup oleh tubuh manusia untuk menjalankan fungsi tertentu. Namun, jika tubuh kelebihan vitamin alias overdosis justru akan menimbulkan efek samping yang buruk.

Vitamin diklasifikasikan manjadi dua, yaitu yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K). Semua vitamin diperoleh dari sumber tumbuhan dan hewan, atau keduanya.

Tidak adanya vitamin dalam tubuh dapat menimbulkan suatu kondisi yang dikenal sebagai defisiensi vitamin (kekurangan vitamin).

Beberapa penyakit dari defisiensi vitamin menunjukkan kondisi medis yang cukup parah, dan karenanya orang disarankan untuk melakukan diet seimbang untuk mencegah kondisi ini. Ada juga tersedia suplemen vitamin yang dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin dalam tubuh.

Kondisi overdosis vitamin muncul ketika ada kelebihan asupan salah satu vitamin. Kondisi ini juga dikenal sebagai keracunan vitamin, karena kelebihan vitamin dalam tubuh menimbulkan beberapa efek samping.

Overdosis vitamin yang larut dalam lemak menimbulkan efek samping yang lebih serius dibandingkan dengan vitamin yang larut dalam air.

Hal ini karena, kelebihan vitamin yang larut dalam air bisa diatasi dengan banyak minum dan mengeluarkannya dari tubuh melalui urin. Ini bertentangan dengan vitamin yang larut dalam lemak.

Seperti dilansir vitamins-nutrition.org, Jumat (9/4/2010), gejala-gejala overdosis atau keracunan vitamin tergantung pada jumlah vitamin yang berlebih.

Overdosis vitamin A

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang penting bagi penglihatan normal dan produksi sel di dalam tubuh. Gejala overdosis vitamin A:

- Penglihatan kabur
-
Pusing
- Keadaan pingsan
- Haid tidak teratur
- Mual
- Insomnia
- Diare
- Ruam kulit
- Nyeri sendi
- Sakit kepala

Overdosis vitamin B

Vitamin B, juga dikenal sebagai B kompleks, adalah satu set vitamin B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (niacin), B6 (pyridoxine), B9 (asam folat), dan B12 (cobalamin).
Gejala overdosis vitamin B:

- Susah bernapas
- Nyeri dengan sensai terbakar
- Mati rasa di kaki dan tangan
- Kehilangan koordinasi otot
- Sakit kepala
- Depresi
- Kelumpuhan

Overdosis vitamin C

Vitamin C atau asam askorbat sangat penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga untuk menyembuhkan luka lebih cepat.
Gejala overdosis vitamin C:

- Sariawan
- Batu ginjal
- Diare
- Sakit perut
- Badan panas
- Sakit perut
- Insomnia

Overdosis vitamin D

Vitamin D atau calciferol diperlukan untuk penyerapan kalsium serta pertumbuhan dan pemeliharaan tulang dalam tubuh.
Gejala overdosis vitamin D:

- Kelemahan otot
- Sakit kepala
- Tuli
- Kehilangan nafsu makan
- Mual
- Kelelahan
- Muntah
-
Nyeri tulang

Overdosis vitamin E

Vitamin E merupakan antioksidan penting yang juga diperlukan untuk reproduksi normal pada manusia.
Gejala overdosis vitamin E adalah:

- Hipertensi
- Kelemahan otot
- Kelelahan
- Payudara lunak
- Lambat penyembuhan luka

Overdosis vitamin K
Vitamin K merupakan vitamin penting yang dibutuhkan oleh tubuh karena membantu dalam penggumpalan darah.
Gejala overdosis vitamin K meliputi:

- Mual
- Muntah
- Anemia
- Diare
- Ruam kulit

Jika ada gejala yang disebutkan di atas, pengobatan overdosis vitamin sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter. Karena sebagian besar gejalanya seperti gejala medis yang lain, maka penting untuk didiagnosa dengan baik.

Segera hentikan asupan suplemen vitamin adalah langkah utama dalam mengobati overdosis vitamin. Kedua, dokter mungkin menyarankan untuk menghindari makan makanan yang tinggi kadar vitamin masing-masing. Ketiga, dokter mungkin meresepkan beberapa obat yang membantu dalam mengobati gejala overdosis vitamin.

Gejala overdosis vitamin dapat diobati jika tepat waktu dan perawatan yang tepat dilakukan. Sebagai tindakan pencegahan, perlu juga untuk memeriksa label multivitamin dan suplemen untuk agar lebih aman.


Merry Wahyuningsih - detikHealth

Baca selengkapnya...

Jumat, 16 April 2010

Para pengkhianat

Dalam diskusi malam itu, sahabatku membawa tema pengkhianatan. Nama Yudas Iskariot jadi topik pembahasan. Maklum, baru saja pekan lalu, dia merayakan Paskah dan memperingati kematian Yesus Kristus.

“Yudas masih ada di sekitar kita. Pengkhianatan adalah tema yang relevan bagi bangsa kita yang sedang sempoyongan,” demikian sahabatku berkeyakinan.

Perhatikan saja, lanjut dia, banyak pemimpin di negeri ini mengkhianati janjinya, politisi tidak setia pada ucapannya saat berpidato di depan konstituen.

Bukannya memperjuangkan kesejahteraan rakyat, sebaliknya mereka mengorup uang rakyat. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap publik yang seharusnya mereka layani.

Banyak jenderal yang setiap pagi berdiri tegap ketika menghormati bendera merah-putih, tetapi melakukannya tanpa hati. Buktinya, setelah itu mereka tidak malu-malu merampas hak-hak warganya sendiri.

Untuk melengkapi rujukan pengkhianatan, kami berangkat lebih jauh lagi. Lalu, nama Brutus pun terseret masuk dalam permenungan itu. Tak terhindarkan, William Shakespeare dijadikan rujukan.

Dalam karya drama bertajuk Julius Caesar, Shakespeare menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan sang kaisar. Ketika Brutus dengan sebilah belati datang dan akan menghujamnya ke tubuhnya, Julius berujar, ” Et Tu, Brute?”

“Dan engkau juga Brutus?” Mana mungkin, Brutus yang ‘orang dekat’ melakukan itu? Julius semula ragu. Tapi, keraguan itu menghilang ketika dia mulai mengerang kesakitan dan merasakan semburan darah dari tubuhnya yang terluka.

Bernama lengkap Marcus Junius Brutus, politikus yang pernah masuk dalam lingkaran utama kekaisaran Roma itu hidup pada periode 85 sebelum Masehi hingga tahun ke-42.

Ayahnya dibunuh oleh Pompey Magnus. Ibunya Servilian Caepinius, saudari tiri Cato yang pernah menjadi Gubernur Ciprus. Ibunya itu kemudian menjadi selir Julius Caesar.

Pada tahun 49 SM, ketika terjadi percekcokan antara Pompey dan Julius, Brutus bergabung dengan Pompey. Saat itu Kaisar berpesan kepada pasukannya, bila Brutus menyerahkan diri secara sukarela, jangan bunuh dia, tetapi tahanlah dia di dalam penjara. Andaikan dia melawan, jangan lukai dia. Julius memang mencintai Brutus.

Ketika perang Pharsallus berakhir, Brutus menulis surat meminta maaf kepada Julius. Dalam surat itu dia mengumbar gairah dan komitmennya untuk memajukan demokrasi di Roma.

Permohonan maaf Brutus diterima. Dia diterima sebagai kerabat dekat dan kemudian diangkat menjadi gubernur di daerah jajahan yang bernama Gaul.

Pada 44 SM, Brutus terlibat dalam konspirasi untuk membunuh Julius Caesar. Terutama setelah kaisar memproklamasikan diri sebagai pemimpin diktator seumur hidup.

***

Kendati telanjur menjadi simbol pengkhianatan, Shakespeare tetap menaruh hormat kepada orang ini. Dia memperlihatkan rasa hormatnya kepada Brutus karena kesetiaannya kepada warga Roma. Ini yang terbaik bagi Roma, demikian Shakespeare dalam sebuah solilokuinya.

Shakespeare meletakkan kalimat ini dalam mulut Brutus. Kalau ada seorang bertanya kepada saya mengapa membunuh kaisar, jawabannya adalah “bukan karena saya membenci kaisar, tetapi karena saya mencintai Roma.”

Kisah Brutus memang sangat mirip dengan Judas Iskariot. Yang satu terkait tokoh Julius Caesar, pemimpin yang paling berpengaruh di Roma saat itu. Di kisah yang lain ada Yesus, pemimpin yang di atas salibnya tertulis Iesus Nazaremus Rex Iodaorum (Yesus orang Nasaret, Raja orang Yahudi).

Akan tetapi, yang lebih penting, kedua tokoh itu meninggal karena konspirasi politik musuh-musuhnya. Brutus dan Judas bagian dari konspirasi itu.

Judas adalah salah satu dari 12 murid Yesus yang kemudian mengkhianati gurunya untuk mendapatkan uang sebanyak 30 keping perak. Karena penangkapan harus dilakukan pada malam hari, dia diminta untuk menunjukkan di mana Yesus berada.

“Kemudian seorang dari dua belas, disebut Yudas Iskariot, pergi kepada imam-imam kepala dan mengatakan,” Apa yang akan diberikan kepadaku kalau aku memberikan-Nya kepada Anda?. “Mereka lalu membayarkan tiga puluh keping perak. Sejak saat itu ia mencari kesempatan untuk mengkhianati Dia.” (Matius 26:14-16)

Perhatikan juga pertarungan bathin Brutus yang dilukiskan oleh Shakespeare. “It must be by his death: and, for my part, I know no personal causes to spurn at him, but for the general. He would be crown’d: How might that change his nature, there’s the question. It is the bright day that brings forth the adder; And that craves wary walking.” (Julius Caesar I, iii. 10-15)

Dalam kedua kisah di atas, para pengkhianat hadir di tengah masa yang mudah diperdaya, publik yang gampang dimanipulasi.

Dalam kisah Julius Caesar, setelah pembunuhan Caesar, Brutus memberikan pidato di tengah kerumunan orang Roma.

Dengan pidatonya itu dia berusaha meraih simpati dengan memberikan argumentasi mengapa Julius Caesar harus mati. Dia menonjolkan keberhasilannya, kendati seperti yang diakuinya, itu hanya untuk sesaat.

Namun, kemudian Antonius yang berbicara setelah itu atas nama kaisar membantah argumentasi Brutus dengan menegaskan bahwa bukan kaisar, tetapi bahwa tindakan konspirator itu yang berbahaya.

Dalam kisah Yesus pun demikian. Orang banyak pun juga dimanipulasi oleh para konspirator. Pada saat itu, Pilatus, wakil kaisar Roma di Yudea yang tidak menemukan kesalahan Yesus memberikan pilihan kepada mereka apakah harus membebaskan Yesus atau seorang tahanan yang lain yang bernama Barabas. Mereka lebih memilih Barabas.

Akhir yang tragis

Seperti diakui Brutus, keberhasilannya cuma sesaat. Lebih dari itu, para pengkhianat itu mengakhiri hidupnya secara tragis. Mereka membayar keputusan mereka secara mahal, mereka membunuh dirinya sendiri.

Brutus mati dengan pedang hambanya, sementara Yudas pergi menggantung diri setelah penyaliban Yesus, gurunya.

Kisah Yudas dan Brutus terasa belum cukup menggambarkan situasi di dalam negeri. Kita harus membuka lagi kisah tentang Ken Arok dengan alur cerita dan penggambaran watak yang tidak kalah kompleks.

Tokoh politik dari kerajaan Jawa tidak hanya bercerita tentang pengkhianatan, tetapi dendam yang membara di antara mereka.

Berdasarkan naskah Pararaton, dia tidak hanya membunuh Tunggul Ametung orang yang harus dikawalnya di Tumapel, tetapi juga merebut istrinya, Ken Dedes. Tumapel adalah bagian dari Kerajaan Kediri saat itu.

Sebelum itu, Ken Arok juga membunuh sahabatnya, Mpu Gandring yang diminta untuk membuat keris pusaka yang akan digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung.

Aluran ceritanya sudah akrab di telinga kita. Ketika dia memesan keris, Mpu Gandring menjanjikan selesai dalam setahun. Namun, baru 5 bulan dia datang untuk mengambil keris yang belum selesai. Dia merebut keris itu dan menghujamnya ke dada si pembuat keris.

Setelah kembali ke Tumapel dia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo, rekan sesama pengawal. Kebo Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua orang yang ia temui, sehingga semua orang mengira keris itu adalah milik Kebo Hijo.

Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk alkohol. Tunggul Ametung di bunuh di atas ranjang disaksikan Ken Dedes. Pagi harinya, Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan di tubuh majikannya. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes.

Ken Arok lalu juga kemudian mengkhianati kesetiaanya terhadap pusat dan memberontak kepada Kediri pada 1222 dan dia menjadi raja pertama.

Seperti Brutus, Ken Arok kelihatan berhasil, tetapi itu hanya sesaat. Dia terkena kualat ramalan bertuah Mpu Gandring bahwa keris sakti itu akan memakan korban tujuh nyawa.

Ken Arok kemudian dibunuh oleh Anusapati, anak Tunggul Ametung yang dikandung Ken Dedes saat kematian ayahnya.

Maka lengkaplah kisah para guru ‘pengkhianatan’, dari Brutus hingga Ken Arok. Kisah dengan perwatakan yang kompleks, cukup menggambarkan naluri saling berkhianat dan dendam para pejabat di negeri kita.

Hiruk pikuk politik dalam beberapa bulan terakhir adalah cerita tentang dendam para pengkhianat yang saling membongkar kebobrokan.

Di tengah aksi tuding seperti itu, publik yang mudah dimanipulasi terkadang gamang mengambil sikap. Siapa yang harus dibela? Para pengkhianat itu? Ah, tentu saja tidak!

Yang jelas, sekalipun ada dari mereka yang bersedia ‘menggantung diri’ seperti Yudas, mereka toh akan tetap dikenang sebagai pengkhianat. Kasihan…


Bisnis Indonesia

Baca selengkapnya...

Seberapa Aman MSG Dikonsumsi?

Kontroversi konsumsi monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa dalam makanan tak pernah usai. Asosiasi industri glutamat bersikeras MSG aman buat tubuh sebaliknya pakar kesehatan tak berhenti mengingatkan bahaya MSG.

Pelaku industri mengatakan glutamat buatan dalam MSG tidak berbeda dengan glutamat alami yang tertelan saat makan makanan yang mengandung protein.

Pelaku industri mencontohkan setengah sendok teh MSG dalam setiap 1 pound (0,45 kg) daging berisi kurang dari 10 persen kandungan glutamat alami yang ada dalam daging ayam.

Sebenarnya amankah konsumsi MSG untuk tubuh?

Dilansir dari herbsspices, Senin (11/4/2010), badan pengawas obat dan makanan Amerika (FDA) mengakui MSG sebagai produk aman yang sama amannya seperti garam, merica dan gula.

Asosiasi industri glutamat mengutip rekomendasi badan kesehatan dunia (WHO) yang membatasi konsumsi MSG yang aman adalah 1/3 ounce per hari atau 9,45 gram per hari.

Tapi seperti dilansir helium.com, MSG memiliki efek samping bagi anak-anak dan orang dewasa. MSG memang membuat masakan menjadi lebih gurih karena mengandung garam sodium dari asam glutamat tapi tidak mengandung nilai gizi selain hanya untuk meningkatkan cita rasanya.

MSG juga dimasukkan dalam kategori excitotoxin atau neurotoksin yang memiliki efek yang lama kelamaan (degeneratif) merusak otak dan sistem saraf.

Cara kerja MSG yang merusak saraf otak ini melalui selaput di dalam mulut ketika dimasuki aliran darah melalui makanan yang mengandung MSG.

MSG dibuat dengan menggunakan proses buatan yang memecah dan mengubah glutamat terikat ke dalam bentuk bebas. Glutamat bebas ini bisa memasuki aliran darah 10 kali lebih cepat dibanding glutamat alami.

Efek MSG dan excitotoxins menyebabkan orang akan makan lagi setelah makanan makanan yang mengandung MSG karena efek MSG dan excitotoxins memicu insulin, adrenalin, penyimpanan lemak, ketagihan untuk makan.

Seperti dikutip dari eHow, Senin (12/4/2010) ada beberapa efek samping yang bisa timbul setelah mengonsumsi MSG yaitu:

1. Sensasi atau rasa terbakar di bagian belakang leher dan dada
2. Mual
3. Sesak napas
4. Nyeri dada
5. Rasa haus dan mulut kering
6. Pusing
7. Mengantuk
8. Serta adanya hasrat untuk mengonsumsi makanan lain.

Reaksi terhadap MSG ini bisa terjadi kapan saja, ada yang langsung terasa setelah mengonsumsi tapi ada juga yang baru terasa hingga dua hari kemudian.

Sedangkan salah satu efek lain dari MSG pada anak-anak adalah dapat memicu terjadinya serangan asma, karenanya bagi penderita asma diusahakan untuk menghindari penggunaan MSG.

Asam glutamate yang terkandung dalam MSG adalah suatu neurotransmitter yang dapat membangkitkan rasa pada sistem saraf. Pada beberapa orang tertentu dapat mengakibatkan masalah neurologis seperti perubahan mood, menjadi bingung dan timbul migrain.

Berdasarkan penelitian terhadap tikus di laboratorium ditemukan peningkatan peluang obesitas karena konsumsi MSG. MSG di dalam tikus muda memiliki risiko tiga kali lipat jumlah insulin dalam pankreasnya yang memicu obesitas. Laporan ini berjudul 'Sensory And Autonomic Nerve Changes In The Msg-Treated Rat: A Model Of Type II Diabetes' yang dibuat peneliti dari UAE University.

MSG cukup banyak terdapat dalam berbagai jenis makanan seperti makanan ringan, makanan yang bisa tahan lama atau pada makanan yang dijual bebas, sehingga terasa sulit untuk dihindari secara total.

Kadang-kadang produsen juga tak lagi menulis MSG di label makanannya. Tapi menulis dengan nama lain glutamat, calcium caseinate, yeast extract, hydrolyzed protein, textured protein, gelatino.

Konsumen yang harus memutuskan apakah MSG bermanfaat atau berbahaya karena MSG masih dibolehkan dalam makanan dan dianggap aman.

Tapi jika MSG membuat tidak nyaman dan menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan sebaiknya tidak lagi menggunakan MSG.


Irna Gustia, Vera Farah Bararah - detikHealth

Baca selengkapnya...

Kamis, 15 April 2010

Alergi Kian Kejam Gara-gara Perubahan Iklim

Perubahan iklim dapat meningkatan angkos berobat alergi dan penyakit asma di Amerika Serikat di atas harga sekarang 32 miliar dolar AS per tahun, demikian kelompok konservasi dan kesehatan melaporkan, Rabu.

Planet yang memanas ini membuat musim-musim menjadi panjang dan menghasilkan lebih banyak serbuk penyebab alergi di dua pertiga daerah-daerah padat penduduk bagian timur AS, lapor National Wildlife Federation dan Asthma and Allergy Foundation of America, dalam laporannya.

Biaya pengobatan alergi dan asma karena stimulasi alergi di AS adalah 32 miliar dolar AS, selain juga mengurangi masa kerja dan merendahkan produktivitas kerja, sambung laporan itu.

"Perubahan iklim akan membuat pohon-pohon pemicu alergi seperti ek dan 'hickory' (sejenis pohon berkulit keras di AS) menggantikan pinus, pohon rapi, dan cemara yang umumnya tidak menyebabkan alergi sehingga lebih banyak orang yang terserang pemicu alergi di musim panas," kata Amanda Staudt, ilmuwan iklim pada Wildlife Federation.

Musim panas akan tiba 14 hari lebih cepat dibandingkan 20 tahun lalu, kata Staudt.

Di musim gugur, rerumputan akan tumbuh lebih luas dan menumpahkan lebih banyak serbuk selama musim yang semakin panjang itu, kata Staudt dalam perbincangan via telepon.

Ada bukti bahwa rerumputan yang merupakan pemicu alergi terbesar di AS, tumbuh lebih cepat begitu kandungan karbondioksida atmosfer meningkat.

Karbondioksida --gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim-- dihasilkan dari sumber-sumber buatan manusia seperti kendaraan berbahan bakar fosil dan pembangkit listrik tenaga uap (batu bara), juga sumber alami lainnya termasuk nafas manusia.

Karbondioksida

"Dengan semakin banyaknya karbondioksida, rerumputan menjadi menghasilkan lebih banyak serbuk dan bahkan memproduksi lebih banyak serbuk pemicu alergi, sehingga alergi musim gugur akan menjadi pukulan terbesar (terhadap kesehatan manusia)," kata Staudt.

Rata-rata suhu global tahun lalu telah mencetak rekor tahunan tertinggi kedua dan dekade 2000-2009 adalah dekade paling panas, kata Goddard Institute for Space Studies, NASA.

Ini artinya pertanian dan zona-zona pertumbuhan alam bergerak ke arah utara, membuat pohon-pohon penghasil serbuk bertahan hidup lebih lama dari biasanya, demikian laporan itu.

Sekitar 10 juta penduduk AS menderita asma yang dipicu alergi, yang mana serangan asma dipicu oleh serbuk atau udara pemicu alergi asma lainnya.

Serangan asma ini tampaknya meningkat karena pemanasan global menyebabkan pemicu alergi menjadi lebih luas persebarannya, disamping lebih banyak dan lebih kuat.

Tanaman merambat nan beracun (poison ivy), salah satu dari 10 tumbuhan memicu masalah medis di AS yang dilaporkan menjadi penyebab 350.000 kasus kulit setiap tahun, akan semakin beracun dan semakin menyebar karena perubahan iklim.

Ketika bersentuhan dengan udara yang lebih banyak karbondioksidanya, maka 'poison ivy' menghasilkan lebih banyak serbuk urushiol yang memicu alergi, yaitu unsur yang membuat kulit gatal-gatal.


Reuters/Jafar Sidik

Baca selengkapnya...

Apa Gunanya Perjanjian ACFTA Pasal 6 ?

Upaya melakukan renegosiasi 228 pos tarif ACFTA akhirnya gagal dilakukan sehingga 228 pos tarif tersebut tetap diimplementasikan. Keputusan itu tentu saja mengecewakan para pengusaha karena jauh-jauh hari pengusaha nasional yang bergerak di bidang industri sudah meminta agar pos tarif tersebut diperjuangkan untuk bisa ditunda.

Menteri Perindustrian MS Hidayat menyayangkan kegagalan renegosiasi tersebut, karena sesuai kesepakatan, seharusnya Indonesia tetap dapat memperjuangkan pos tarif yang dirugikan oleh perjanjian tersebut. “Renegosiasi itu hak kita. Pasal 6 (Protokol Kerja Sama ACFTA) menyebutkan, jika ada sektor yang merasa dirugikan berhak mengajukan renegosiasi ataupun modifikasi,” kata Hidayat.

Kepastian tentang gagalnya upaya renegosiasi tersebut dikemukakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Selasa (6/4) yang menyatakan bahwa proses renegosiasi atau pembicaraan ulang 228 pos tarif ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) sudah final. Ke depan, peningkatan daya saing dan pengamanan pasar dalam negeri menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah dan dunia usaha.
Reaksi KADIN pun tidak berbeda, dan tetap meminta penundaan atas 228 pos tarif ACFTA dan mendesak pemerintah untuk tetap mengusahakan penundaan 228 pos tarif tersebut, selain berusaha meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Menurut Pjs Ketua KADIN, Adi P. Taher, penundaan pos tarif dan bantuan peningkatan daya saing yang dijanjikan China bukanlah opsi yang dapat dipilih salah satu. Penundaan 228 pos tarif itu wajib dan itu ada di pasal enam kerangka perjanjian ACFTA.
Sampai hari ini memang belum nampak reaksi lebih lanjut dari industri-industri yang selama ini disinyalir akan terkena dampak paling parah akibat diberlakukannya perjanjian ACFTA sejak awal tahun ini.
Munculnya Kekecewaan berbagai pihak dengan gagalnya upaya renegosiasi penundaan 228 pos tarif ACFTA, karena dampaknya diprediksi banyak pengamat memang akan sangat luas. Kalau selama ini diprediksi industri nasional yang akan terkena dampak negatif akibat perdagangan bebas ASEAN - China (ACFTA) gambarannya adalah industri-industri besar, ternyata dampak negatifnya juga mengancam industri kecil dan menengah. Hal ini dikemukakan oleh mantan Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjoro -Jakti.
Bahkan ditegaskan bahwa justru industri skala kecil dan menengah ini yang paling rentan dari banjirnya produk China. Sektor ini tidak tersentuh pihak asing sehingga sangat rentan terimbas FTA (Free Trade Area).
Keberhasilan China selama ini tidak terlepas dari investasi negara-negara maju ke negara tirai bambu tersebut. Jepang, negara-negara Eropa, dan lainnya gencar menanamkan modalnya di China setelah negara tersebut memasuki era keterbukaan.
Menurut Dorojatun, lebih dari separuh ekspor manufaktur China merupakan produk negara-negara maju tadi. Dengan adanya perdagangan bebas yang dimulai 1 Januari 2010, tidak terelakkan produk-produk asal negeri tirai bambu tersebut akan membanjiri Indonesia.
Satu hal yang menarik dari penjelasan Dorojatun adalah, kenyataan itu tidak berarti hancur bagi industri domestik, karena pengusaha Indonesia bisa melakukan konsolidasi dengan perusahan-perusahaan yang berinvestasi di China untuk meningkatkan daya saingnya.
Bahkan dikemukakan bahwa jika investasi di China sudah penuh, bukan mustahil penanaman modal asing dari negara-negara maju tersebut akan berpindah ke Indonesia. Syaratnya menurut Dorojatun, pemerintah harus mempersiapkan infrastruktur di daerah. Tiga puluh dua persen APBN atau sekitar Rp310 triliun harus diarahkan untuk membangun infrastruktur sehingga bisa menopang sektor industri di daerah.
Namun demikian, hal itu tentu saja tidak mudah dan era perdagangan bebas tahun 2010 bagi industri nasional tetap akan merana, karena untuk sementara harus berjuang keras untuk bersaing melawan produk massal berharga murah yang selama ini datang dari China.
Menunggu investasi di China penuh dan negara-negara maju mengalihkan investasinya ke Indonesia, perlu waktu panjang dan selama itu pula industri nasional harus berjuang, bersaing melawan produk China.
Suka atau tidak suka, kondisi tersebut kini sudah di depan mata, padahal sejumlah industri nasional sudah menyatakan tidak sepenuhnya siap menghadapi situasi ini. Karena itulah, dampak dari pemberlakuan perjanjian ACFTA akan terasa berat karena upaya yang bisa dilakukan untuk bisa meningkatkan daya saingpun tidak banyak, karena sejumlah kendala yang ada mempersulit keadaan. Kita tertinggal dalam pengembangan teknologi, padahal kekuatan daya saing dari sejumlah produk yang ada saat ini ditentukan oleh teknologi yang digunakan.
Iklim usaha di dalam negeri pun tidak sepenuhnya mendukung, terutama masalah ekonomi biaya tinggi yang hingga kini masih juga dirasakan sejumlah pengusaha. Ditambah lagi dengan kendala infrastruktur yang cukup mengganggu, terutama energi listrik.
Lebih dari itu, faktanya di Indonesia, salah satu persoalan yang menghambat pemulihan ekonomi Indonesia adalah pembangunan infrastruktur yang sangat tertinggal di belakang kebutuhan yang semakin meningkat di semua sektor, baik di jalan darat, pelabuhan, lapangan terbang, pembangunan pembangkit listrik, dan yang paling parah adalah air minum.
Untuk mengatasi persoalan ACFTA, tentunya tidak sepantasnya kalau kita harus menunggu sampai investasi di China penuh dan berharap negara-negara maju mengalihkan investasinya ke Indonesia .
Tetapi sejak awal tahun ini pengusaha dan pemerintah harus bersama-sama mencari jalan keluar secepatnya.
Pemerintah perlu menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif sehingga investor tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia karena daya tariknya, bukan karena investasi di China sudah penuh.
Dukungan masyarakat pun sangat diperlukan untuk lebih mengutamakan produk dalam negeri kendati harga dan kualitas mungkin masih belum setara. Tetapi ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyelamatkan industri nasional.
Dukungan seperti itu perlu kita berikan secara maksimal selama industri nasional sendiri belum mampu bersaing secara langsung dengan produk-produk massal berharga murah, yang diprediksi akan membanjiri pasar domestik berkaitan dengan perdagangan bebas ASEAN - China. Dan inilah pekerjaan rumah paling berat yang harus dilakukan bersama oleh Pemerintah dan dunia usaha untuk bisa meningkatkan daya saing, dan terutama untuk menjaga pasar dalam negeri.


Businessnews

Baca selengkapnya...

Rabu, 14 April 2010

Kekuatan Ucapan "Terima Kasih"

Hanya dengan menyampaikan "terima kasih", ternyata bisa memberi manfaaat bagi orang yang menerima dan menyampaikan ucapan tersebut, demikian hasil satu penelitian.

Menyampaikan terima kasih bisa memperbaiki perilaku dalam hubungan antar-manusia, demikian penelitian di Florida State University, Tallahasse.

Mengatakan "terima kasih" juga menguatkan hubungan dengan membuat orang yang menyampaikannya merasa lebih bertanggung jawab terhadap kesejahteraan pasangannya, demikian penelitian yang diterbitkan di dalam Psychological Science.

Untuk mengerti bagaimana menyampaikan terima kasih dapat membantu menguatkan hubungan, para peneliti melakukan tiga bentuk penelitian berbeda.

Dalam satu penelitian, 137 mahasiswa menyelesaikan survei yang mengukur seberapa sering mereka menyampaikan terima kasih kepada teman atau pasangan. Hasilnya menunjukkan rasa terima kasih berhubungan secara positif dengan persepsi manusia dalam paham komunal.

Di dalam penelitian kedua, yang melibatkan 218 mahasiswa, menyampaikan terima kasih diramalkan meningkatkan persepsi penutur mengenai penguatan hubungan dalam waktu lama.

Penelitian ketiga, 75 laki-laki dan perempuan secara acak dibagi menjadi empat kelompok.

Selama tiga pekan, satu kelompok menyampaikan terima kasih kepada teman, yang kedua menyatakan memikirkan rasa terima kasih tentang seorang teman, sedangkan kelompok tiga memikirkan kegiatan sehari-hari dan keempat melakukan interaksi positif dengan seorang teman.

Bagi yang menyampaikan terima kasih, hubungan dilaporkan menguat setelah penelitian berakhir dibandingkan dengan kelompok lain.

Terima kasih, ketika disampaikan, meningkatkan kekuatan komunal, menurut kepala peneliti Nathaniel Lambert, wakil peneliti di Universitas tersebut.

Temuan itu masuk akal, karena "ketika menyampaikan terima kasih, kamu akan memusatkan perhatian pada hal baik yang telah dilakukan oleh orang tersebut", katanya.

"Itu membuat anda melihat mereka dari sudut pandang positif dan membantu anda memusatkan perhatian pada ciri-ciri baik mereka," kata Lambert sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua.

Lambert mengatakan, tim penelitinya menguji pendapat bahwa orang yang berterima kasih melihat hubungan tersebut bersifat komunal, merasa lebih pantas berkorban untuk orang tersebut dan lebih niat dalam membantu.

Walaupun penelitian tersebut hanya melihat orang yang menyampaikan terima kasih, Lambert berspekulasi "mereka yang menerima ucapan terima kasih akan terdorong melakukan hal yang sama. Mereka akan membalas rasa terima kasihnya. Jadi seperti berbentuk spiral yang mengarah ke atas".


Antara

Baca selengkapnya...

Merenungkan Kondisi Bangsa

Dalam empat bulan terakhir, kondisi bangsa menunjukkan sebuah situasi paradoksal. Di satu sisi, demokrasi tampak semakin tegar dan kokoh. Namun, di sisi lain, semakin banyak persoalan yang mencuat ke permukaan yang membuktikan bahwa demokrasi belum dapat menciptakan kondisi ideal dalam pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Transparansi yang menjadi kunci pembuka kotak pandora kian mempertegas bahwa semakin ditelusuri ke dalam, semakin ditemukan banyak kejanggalan dan penyimpangan di dalam pelaksanaan pemerintahan dan penegakan hukum.

Akhir tahun lalu skandal Century mencuat ke permukaan, dan masih menjadi perbincangan hangat hingga sekarang. Selang beberapa pekan kemudian, mencuat pula isu mafia hukum dan makelar kasus di tubuh institusi kepolisian. Untuk kasus yang satu ini, nama Komisaris Jenderal Susno Duadji menjadi semakin populer. Di mata publik, mantan Kabareskrim ini boleh jadi dianggap sebagai pahlawan. Tetapi di mata petinggi Polri, ia dianggap sebaliknya. Bersamaan dengan lantunan nyanyian Susno, terkuaklah makelar kasus pajak di lingkungan Ditjen Pajak yang diduga melibatkan sejumlah petinggi Polri, pejabat Ditjen Pajak, dan kejaksaan. Kasus ini tidak pelak meroketkan nama Gayus Tambunan, pegawai Ditjen Pajak yang sempat melarikan diri ke Singapura sebelum akhirnya menyerah. Bahkan minggu terakhir Maret kemarin terkuak lagi penangkapan Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Ibrahim yang tengah menerima uang suap dari pengacara Adner Sirait.
Skandal Century, mafia hukum dan makelar kasus di tubuh Polri dan makelar pajak di lingkungan Ditjen Pajak merupakan contoh kasus yang layak menggugah kesadaran kita sebagai bangsa untuk bersama-sama merenungkan kondisi bangsa ini ke depan. Kontemplasi atau perenungan ini layak bahkan mesti dilakukan oleh karena di tengah optimisme yang terus dihembuskan pemerintah dan berbagai jajarannya, satu per satu kebobrokan di dalam tubuh penyelenggara negara dan pejabat publik justru memperlihatkan adanya upaya sistematis dari sejumlah kalangan untuk mengkhianati rakyat. Di satu sisi, rakyat berbahagia sebab setiap terjadi kasus-kasus serupa, selalu muncul pernyataan dan janji dari penyelenggara negara untuk segera melakukan pembenahan. Namun, semakin banyak kasus yang terkuak, sebetulnya semakin mekar pesimisme dan antipati rakyat kepada penyelenggara negara itu. Pada akhirnya, rakyat lalu berkesimpulan bahwa penguatan institusi demokrasi tidak berjalan paralel dengan penguatan komitmen kebangsaan para penyelenggara negara.
Kalau kita mau berterus-terang, harus dikatakan bahwa mencermati kondisi bangsa saat ini, jelas sekali bagaimana optimisme dan pesimisme itu hanya dibatasi oleh sebuah garis yang sangat tipis.
Pada waktu-waktu tertentu keduanya bahkan saling bercampur-aduk. Itu menunjukkan bahwa pemerintah dan segenap penyelenggara negara belum mampu memelihara konsistensi agar optimisme yang ditiupkan dapat terus berhembus hingga berwujud menjadi sebuah pencapaian dan prestasi yang secara riil dinikmati seluruh rakyat.
Demokrasi memang tidak dibangun dalam semalam. Demokrasi pun tidak mungkin dapat dibangun oleh manusia-manusia yang tidak demokratis. Tetapi agar seluruh elemen bangsa merasa berkewajiban menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi, demokrasi itu sendiri mestinya mampu menampakkan seberkas cahaya di ujung terowongan yang gelap gulita. Berkas cahaya itu dapat diterbitkan oleh lembaga-lembaga penyelenggara negara, termasuk kepolisian, kejaksaan, kantor-kantor pelayanan pajak, dan sebagainya. Terlebih lagi aparat negara yang menjadi simbol dan penyelenggara pemerintahan. Mereka inilah yang menjadi ujung tombak dari setiap upaya mewujudkan tujuan bernegara. Maka, manakala mereka justru melakukan tindakan yang melawan arus kewajiban mereka, wajar jika timbul kegemparan dan kemarahan rakyat.
Munculnya sosok yang berani mengambil risiko seperti Susno Duadji barangkali memang diperlukan saat ini. Soalnya, transparansi yang membonceng di belakang gerbong demokrasi dan reformasi belum juga mampu melahirkan perbaikan menyeluruh dan mendasar di dalam tubuh lembaga penyelenggara negara. Oleh sebab itu, mutlak dibutuhkan cara lain untuk membongkar berbagai skandal yang selama ini dianggap sebagai sebuah kelaziman di tubuh penyelenggara negara. Apa yang dilakukan oleh Susno merupakan sebuah tindakan untuk menghentikan apa yang disebut delict continuatum atau upaya melanggengkan tindak pidana. Tiadanya upaya sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk memberantas mafia hukum dan makelar kasus serta menindak tegas pelakunya merupakan sebuah bentuk delict continuatum itu. Akibatnya, transisi kepemimpinan selalu melahirkan fenomena damnosa hareditas, yakni pemimpin baru terpaksa menerima warisan yang justru mencelakai diri sendiri.
Benar bahwa perbaikan menyeluruh dan permanen tidak dapat diwujudkan hanya dengan melakukan perenungan atau kontemplasi dimaksud. Kendati begitu, perenungan paling tidak diharapkan menjadi semacam upaya secara sadar untuk melakukan retrospeksi dan introspeksi kolektif. Lebih dari itu, yang sangat diharapkan adalah bahwa dengan berhembusnya isu praktik mafia hukum dan makelar kasus dalam beberapa bulan terakhir ini dapat memastikan dimulainya perbaikan dan reformasi menyeluruh dan mendasar di tubuh Polri, Ditjen Pajak, Kehakiman, Kejaksaan, dan Pengacara. Dengan pembenahan dan perbaikan menyeluruh dan permanen itu, diharapkan institusi tersebut melangkah ke depan dalam kondisi bersih dari noda yang selama ini menempel di tubuhnya. Singkat kata, rakyat tidak ingin lagi mendengar adanya praktik mafia hukum dan makelar kasus di lembaga-lembaga tersebut.


Businessnews

Baca selengkapnya...

Selasa, 13 April 2010

Define Your Personal Leadership Brand in Five Steps

You probably already have a personal leadership brand. But do you have the right one?

The question is not trivial. A leadership brand conveys your identity and distinctiveness as a leader. It communicates the value you offer. If you have the wrong leadership brand for the position you have, or the position you want, then your work is not having the impact it could. A strong personal leadership brand allows all that's powerful and effective about your leadership to become known to your colleagues, enabling you to generate maximum value.

What's more, choosing a leadership brand can help give you focus. When you clearly identify what you want to be known for, it is easier to let go of the tasks and projects that do not let you deliver on that brand. Instead, you can concentrate on the activities that do.

So how do you build a leadership brand? My co-author Dave Ulrich and I came up with these five steps.

1. What results do you want to achieve in the next year?

The first thing you should do is ask yourself, "In the next 12 months, what are the major results I want to deliver at work?" Take into account the interests of these four groups:

•Customers
•Investors
•Employees
•The organization
Dave and I once worked with a very talented and hardworking executive we'll call Tricia. Her successful performance in several varied roles at her organization — she'd been an auditor, a process engineer and a customer-service manager — earned her a promotion into a general manager position, charging her with running one of the company's largest businesses. To succeed at her first large-scale leadership position and meet the complex set of expectations she would encounter in it, she knew she needed to become more deliberate about the way she led others. In short, she knew she needed a new leadership brand, and asked us for help in forging it.

We advised Tricia to begin by focusing on the expectations of those she was working to serve, rather than on what she identified as her personal strengths. Leadership brand is outward focused; it is about delivering results. While identifying innate strengths is an important part of defining your leadership brand, the starting point is clarifying what is expected of you.

2. What do you wish to be known for?

Tricia knew she was seen as technically proficient and hardworking, but somewhat aloof. These traits, she realized, added up to a leadership brand that would not take her very far in her new role.

With that in mind, Tricia picked six descriptors that balanced the qualities that came naturally to her with those that would be critical in her new position. She then tested her choices by sharing them with her boss, her peers, and some of her most trusted subordinates. She simply asked them, "Are these the traits that someone in this general manager role should exhibit?" Their responses helped her refine her list to ultimately include the following traits:

•Collaborative
•Deliberate
•Independent
•Innovative
•Results-oriented
•Strategic
3. Define your identity

The next step is to combine these six words into three two-word phrases that reflect your desired identity. This exercise allows you to build a deeper, more complex description: not only what you want to be known for, but how you will probably have to act to get there. For example, calmly driven differs from tirelessly driven. Experimenting with the many combinations that you can make from your six chosen words helps you crystallize your personal leadership brand.

Tricia combined the six descriptors into the following three phrases:

•Independently innovative
•Deliberately collaborative
•Strategically results-oriented
She tested this with several colleagues, neatly pulled together what came easily to Tricia ("independently innovative" and "strategically results-oriented") with what she could accomplish through disciplined effort ("deliberately collaborative"). Tricia was satisfied that it aptly described both the kind of leader she was and the kind of leader she was becoming.

4. Construct your leadership brand statement, then test it.

In this step, you pull everything together in a leadership brand statement that makes a "so that" connection between what you want to be known for (Steps 2 and 3) and your desired results (Step 1). Fill in the blanks:

"I want to be known for being ______________ so that I can deliver __________."

Tricia's leadership brand statement read: "I want to be known for being independently innovative, deliberately collaborative and strategically results-oriented so that I can deliver superior financial outcomes for my business."

With your leadership brand statement drafted, ask the following three questions to see if it needs to be refined:

•Is this the brand identity that best represents who I am and what I can do?
•Is this brand identity something that creates value in the eyes of my organization and key stakeholders?
•What risks am I taking by exhibiting this brand? Can I live this brand?
After going through this exercise, Tricia was satisfied that she had crafted a personal leadership brand that was appropriate for her new role and within her power to live and make real.

5. Make your brand identity real

Espoused-but-unlived brands create cynicism because they promise what they do not deliver. To ensure that the leadership brand you advertise is embodied in your day-to-day work, check in with those around you. Do they see you as you wish to be seen? If you say you are flexible and approachable, do others find you so?

After Tricia defined her personal leadership brand, she shared it with others. She let people know that she was evolving as a leader and invited their feedback, especially on her efforts at working collaboratively.

The exercise of forging a leadership brand and the day-to-day discipline of making it real, Tricia said, helped her stay focused on the most important challenges of her new role.

To be sure, your leadership brand isn't static; it should evolve in response to the different expectations you face at different times in your career. In our work, we have seen that leaders with the self-awareness and drive to evolve their leadership brands are more likely to be successful over the long term — and to enjoy the journey more.


By Norm Smallwood.
Co-founder of The RBL Group, a strategic HR and leadership systems advisory firm. He is author, with Dave Ulrich and Kate Sweetman, of the 2009 Harvard Business Press title, The Leadership Code: Five Rules to Lead By and with Dave Ulrich on the 2007 title, Leadership Brand: Developing Customer-Focused Leaders to Drive Performance and Build Lasting Value (Harvard Business School Press, 2007).

Baca selengkapnya...

Senin, 12 April 2010

Oknum, Siapakah Engkau?

Beberapa detik sebelum jari-jari tangan saya mengetikkan sesuatu untuk Anda sekalian para pembaca, saya belum tahu persis (gagasan) apa yang akan saya tulis, kecuali setelah sayup-sayup siaran televisi di dekat tempat saya mengetik, menyiarkan berita tentang korban makelar kasus (markus) di Indramayu, yang diperas oknum polisi dan membuat sang korban berumah di kandang kambing, karena rumahnya sendiri telah dijual untuk membayar sang markus.

Keluarga korban markus itu, kali ini dikunjungi banyak orang. Beberapa di antaranya datang dari Jakarta, datang untuk menyampaikan simpati.

Seorang ibu, kelihatannya dari kalangan menengah ke bawah, jauh-jauh datang dari Jakarta, hanya untuk mengungkapkan simpati dan membawa “sesuatu” sekedarnya. Ia mengatakan terharu dengan kasus itu, mengingatkan pada kasus yang pernah ia alami. Tak jelas “kasus yang pernah ia alami” itu seperti apa.

Dalam berita itu, seorang lelaki dari keluarga korban, mengatakan telah diberi cek oleh seseorang ketika ia datang ke Jakarta (keluarga korban markus ini pernah melaporkan kasusnya ke Tim Satgas Anti-Mafia Hukum). Semula ia tak tahu kalau “kertas” alias cek itu bisa diuangkan. Cek itu nilainya lima belas juta rupiah.

Tapi, yang menarik bagi saya adalah bukan ceknya itu.

Yang membuat saya tergerak, dan tiba-tiba saya ingin menuliskan sesuatu, adalah ketika ia mengatakan bahwa uang itu akan dipakai untuk melunasi utang-utangnya yang dipakai untuk membayar oknum polisi yang memerasnya.

Yang menarik adalah, beberapa kali ia menyebut polisi yang menipunya sebagai oknum. Oknum polisi. Tetapi siapakah oknum?

Untuk menjawab yang satu itu, terpaksa saya bersusah payah untuk melacak kembali sebuah tulisan kolom yang masih saya kenang hingga sekarang. Judulnya “Oknum”, yang menulis Pak Tjip alias Soetjipto Wirosardjono (birokrat kolomnis yang eksentrik itu). Tulisan itu dimuat di Kompas, Minggu, 5 Juli 1991.

Pak Tjip memperkenalkan dirinya sebagai Oknum. Dan inilah percakapan saya dengan “tulisan” Pak Tjip itu. Sekaligus kangen-kangenan imajiner dengan beliau (kolomnis senior pada masanya).

Pak Tjip: “Nuwun Sewu, kenalkan, nama saya Oknum. Sehari-hari saya pejabat, tetapi sebagai Oknum saya tidak menjabat. Paling-paling saya dipanggil Oknum pejabat. Karena itu mohon dimaklumi. Perbuatan saya harus dipisahkan dari jabatan saya.”

Saya: Interupsi Pak. Untuk sementara jelas, tampaknya sudah jelas. Oknum ialah pejabat yang perbuatannya tidak mencerminkan perilaku kepejabatannya. Pejabat yang bermental penjahat, begitukah Pak Tjip?

Pak Tjip: “Karena apa yang saya lakukan sebagai Oknum tidak ada sangkut pautnya dengan jabatan saya. Tatkala menjabat, sungguh semua perbuatan saya adalah konstitusional.”

Saya: Konstitusional itu sesuai dengan undang-undang dasar, hukum yang paling dasar dalam suatu negara. Tapi Pak Tjip, kalimat “semua perbuatan saya adalah konstitusional”, kesannya kok jadi lucu. Entah kenapa ya, hehe.. Lucu saja.

Pak Tjip: Maksudnya, “Di kursi kehormatan, saya selaku pejabat, semuanya adalah terang, terbuka, dan berdasarkan peraturan. Tetapi, sebagai Oknum,..”

Saya: Nah, ini yang kita tunggu. Tetapi, apa Pak Tjip?

Pak Tjip: “Tetapi, sebagai Oknum, eksistensi saya abstrak, seabstrak impian atau bayangan. Kalau jabatan saya adalah wadah segala keadilan dan kebenaran, maka sebagai Oknum, saya adalah tumpuan segala comberan.”

Saya: Ya, ya, ya, saya paham Pak Tjip. Jarak antara “Saya” (pejabat) dan “Oknum” itu, kalau demikian tipis, bermuka dua: muka manis, konstitusional, malaikat di satu sisi; tapi muka bejat, inkonstitusional, setan di sisi lain. Kalau baik, dibilang prestasi pejabat, kalau bejat prestasi “Oknum”...

Pak Tjip: “Saya punya banyak teman. Bekerja di banyak tempat. Mengais nafkah dari banyak sumber. Tetapi, semua teman saya bernama sama dengan saya. Mereka juga Oknum. Ada Oknum pejabat pajak. Oknum polisi. Ada Oknum anggota DPR...”

Saya: Kalau sekarang namanya Markus Pak, singkatan dari “makelar kasus”. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini. Kasihan juga kan, yang nama aslinya memang Markus? Kayaknya media massa harus siap diprotes deh, sama perkumpulan orang-orang bernama Markus se-Indonesia, bahkan sedunia. Tapi, ya sabar saja deh yang namanya terlanjur Markus, yang penting bukan “makelar kasus”. Kembali ke Oknum, Pak Tjip, makhluk ini memang aneh sekali..

Pak Tjip: “Tatkala hanya Oknum yang busuk, bejat dan menyeleweng semena-mena, lembaga tak bisa disalahkan biar dunia dijungkirbalikkannya. Peraturan selalu benar. Kekuasaan selalu adil. Instansi selalu bersih... Tidak ada kekuasaan yang bisa disalahkan... Bila something goes wrong, maka itu tentulah kesalahan Oknumnya”.

Saya: O, kalau boleh saya ikut menggarisbawahi Pak Tjip: lembaga, peraturan, kekuasaan, semuanya itu kambing putih. Kambing hitamnya, Oknum!

Pak Tjip: “Tatkala kekuasaan tidak ambeg parama arta, berarti emban cinde emban oyodan (pilih kasih, yang satu digendong kain selendang berenda, yang lain digendong dengan akar-akaran), diskriminatif, memihak dan menguntungkan suatu pihak atas beban pihak lain, maka jangan sekali-sekali salahkan lembaganya. Carilah kesalahan itu pada Oknumnya.”

Saya: Hehehe... Paradoks alias nglulu banget. Ataukah memang demikian watak kekuasaan, tak zaman penjajahan atau kemerdekaan (Orde Lama, Orde Baru, atau Reformasi sekalipun), tak mau disalahkan kecuali Oknumnya? Tapi Pak Tjip, kalau ujungnya Cuma disalah-salahkan terus, apa enaknya jadi Oknum?

Pak Tjip: (Inilah kalimat akhir kolom Pak Tjip) “Enaknya jadi Oknum, punya nama sendiri, tetapi bukan manusia biasa. Karena sebagai Oknum saya tidak dilengkapi rasa malu, aib atau dosa. Oknum itu sesungguhnya siapa saja yang bukan siapa-siapa”.

Saya: Kalau begitu, hai Oknum, siapa sesungguhnya engkau? Kata Pak Tjip, engkau “siapa saja yang bukan siapa-siapa”, berarti bisa saya, bisa Anda, bisa siapa saja.

Alfan Alfian, Dosen di FISIP Universitas Nasional, Jakarta

Baca selengkapnya...

Strategi Bisnis dari SWOT ke TOWS

“Change is the law of life. And those who look only to the past or present are certain to miss the future. – Perubahan adalah hukum kehidupan. Bila mereka hanya melihat masa lalu atau masa sekarang, maka sudah pasti mereka akan kehilangan masa depan.”
John F. Kennedy, Presiden AS ke-35.


Selama ini SWOT Matrix selalu digunakan dalam analisa untuk strategi perencanaan dan pemasaran. SWOT Matrix merupakan akronim dari Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (kesempatan) dan Threats (ancaman). Metode analisa tersebut lebih menekankan pada faktor kondisi dan situasi internal, yaitu kekuatan dan kelemahan diri sendiri atau perusahaan (SW). Setelah itu baru dipelajari dan diperhitungkan faktor external, ancaman dan kesempatan (OT).

Metode analisa SWOT Matrix memanfaatkan secara maksimal kekuatan internal berupa sumber daya dan pengalaman untuk mencapai target. Tetapi seiring perubahan kebutuhan manusia dan pertumbuhan tehnologi yang sudah beralih dari konvensional ke digital, metode analisa SWOT Matrix tersebut mulai ditinggalkan. Sebab kekuatan (internal) belum tentu dapat memenuhi peluang pasar dengan baik dan mampu menghadapi tekanan atau tantangan.

Oleh sebab itu, para perencana dan pemasar sekarang beralih menggunakan analisa TOWS Matrix. Mereka terlebih dulu mempelajari dan menginvestigasi peluang faktor-faktor eksternal, karena dianggap bersifat lebih dinamis dan bersaing. Faktor-faktor eksternal tersebut diantaranya adalah; cara promosi para pesaing, budaya konsumen, daya beli masyarakat, nilai rupiah, kebijakan pemerintah, iklim politik, perubahan sosio ekonomi, profil populasi, gaya hidup, aturan sosial, perubahan tehnologi, dan lain sebagainya.

Sesudah mendapatkan informasi eksternal, barulah dilakukan beberapa penyesuaian sampai perbaikan potensi internal untuk menciptakan peluang menguntungkan. Berdasarkan analisa TOWS Matix tersebut kemudian dilakukan 4 langkah berikutnya, yaitu;
1. Memaksimalkan potensi atau kekuatan
2. Memastikan kelemahan tidak membebani usaha atau kemajuan
3. Memaksimalkan peluang yang tersedia
4. Mengantisipasi segala bentuk tantangan & menyediakan beberapa solusi.

Berdasarkan analisa TOWS Matix itu juga dihasilkan 4 strategi pencapaian target, yaitu;
1. SO (Aggressive Strategy): Menggunakan kekuatan internal untuk mengambil kesempatan yang ada di luar.
2. ST (Diversification strategy): Menggunakan kekuatan internal untuk menghindari ancaman yang ada di luar.
3. WO (Turn Around) – Menggunakan kesempatan eksternal yang ada untuk mengurangi kelemahan internal.
4. WT (Defensive strategy) – Meminimalkan kelemahan dan ancaman yang mungkin ada.

Analisa TOWS Matrix lebih memastikan kita dapat memperhitungkan dan memanfaatkan dengan baik setiap peluang di luar untuk peningkatan bisnis. Di saat bersamaan kita juga dapat mengetahui dan memanfaatkan potensi internal. Dengan menganalisa eksternal tersebut (TOWS Matrix) kita juga mampu mengantisipasi tantangan dari setiap perubahan eksternal, bahkan mengubahnya (tantangan) menjadi peluang baru.

Sedangkan dalam skala gambar yang lebih kecil, terutama di dunia persaingan bisnis mungkin Anda pernah mendengar istilah zero sum games, dimana pihak yang kalah sudah pasti merugi. Strategi saling mengalahkan seperti itu seharusnya sudah harus ditinggalkan, karena hanya menguras banyak biaya, tenaga, dan pikiran. Strategi terbaik yang seharusnya kita gunakan adalah memenangkan suatu pertempuran tanpa ada peperangan.

Strategi tersebut dikenal dengan pola keluar dari persaingan Lautan Merah (Red Ocean), dan berpindah ke Lautan Biru (Blue Ocean). Jadi masing-masing pihak bukan berpikir dan berlaku saling mengalahkan, melainkan berusaha saling mendukung dengan keunggulan masing-masing untuk mencapai suatu target secara bersama-sama. Strategi kerjasama seperti itu lebih mampu mendatangkan sinergi positif dan menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Pada masa sekarang, menjalin kerjasama dengan pihak lain lebih menjamin kemajuan bisnis. Ada bermacam bentuk kerjasama baik secara online atau offline, dan salah satunya adalah membangun jaringan. Siapapun yang mampu menguasai jaringan konsumen, maka dia pasti akan berhasil dalam bisnisnya.

Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan sebuah tim kerjasama bisnis yang baik;
1. Menciptakan target pencapaian yang jelas, sehingga masing-masing individu maupun tim kolektif mengerti peran masing-masing dan meyakini tak ada agenda atau tujuan tertentu yang tersembunyi.
2. Masing-masing pihak sama-sama bersikap konsisten dengan apa yang sudah disepakati, sehingga terbangun rasa saling percaya.
3. Mempunyai rasa saling ketergantungan dan saling memiliki.
4. Tidak saling menonjolkan diri melainkan saling mendukung satu sama lain, terutama ketika sedang menghadapi tantangan, sehingga tercipta rasa nyaman dalam bekerja.
5. Memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk menjalankan peran masing-masing berdasarkan langkah-langkah bisnis yang sudah dirancang sebelumnya.
6. Bersikap terbuka dan berusaha memahami apa yang dirasakan orang lain.

Saya menyimpulkan bahwa TOWS Matrix merupakan analisa bisnis yang paling menguntungkan untuk menciptakan design strategi bisnis. Analisa TOWS Matrix akan menghasilkan strategi bisnis terbaik jika dikombinasikan dengan pola kerjasama, dimana satu sama lain saling membangun jaringan bisnis, saling mengisi dan menerima, serta sama-sama fokus pada bisnis dan tujuan yang sama.

Strategi bisnis yang dilandasi pola kerjasama tentunya juga harus memenuhi aturan kerjasama yang baik. Beberapa aturan kerjasama yang telah saya sebutkan di atas secara garis besar menekankan pentingnya kredibilitas, untuk menarik minat banyak pihak bekerjasama dan menciptakan rasa saling percaya yang kuat. Sebagaimana hal tersebut pernah diungkapkan oleh Walter D. Scott, “Keberhasilan atau kegagalan bisnis sesungguhnya lebih dipengaruhi oleh sikap mental daripada kapasitas mental.” Tentunya design strategi bisnis tersebut akan semakin sempurna jika benar-benar digunakan dalam praktek di lapangan.


Andrew Ho

Baca selengkapnya...

Minggu, 11 April 2010

Secangkir Teh dan Makna Hidup

Baru-baru ini saya mendengar sebuah kisah dari seorang professor yang luar biasa. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang gurunya sendiri. Pernah suatu hari datang seorang pemuda yang menanyakan tentang makna hidup. Guru tersebut tidak langsung menjawab pertanyaan pemuda tadi, tapi kemudian menyuguhkan teh yang diisi di dalam beberapa cangkir yang berbagai rupa. Ada cangkir yang terbuat dari emas, ada yang dari tanah liat, ada berbentuk sangat bagus, ada yang warnanya kusam. Yang jelas terhidanglah beberapa cangkir teh yang berbeda-beda jenis cangkirnya.

Walaupun cangkirnya berbeda-beda, tapi setiap cangkir tersebut diisi teh yang sama. Kemudian dipersilahkan-lah pemuda tadi untuk memilih secangkir teh dari salah satu cangkir yang dihidangkan kepadanya. Pemuda tadi kemudian memilih cangkir yang sangat bagus dan kemudian meminum teh dari cangkir tersebut.

Guru tersebut pun berkata, “Hanya untuk teh saja, setiap orang itu memilih untuk meminumnya dari cangkir yang terbaik. Maka bagaimanakah dengan hidupmu yang sangat berharga ini? Pilihlah jalan yang penuh makna untuk hidupmu yang berharga”.

Mendengar kisah tadi saya tersentak akan diri saya. Kenapa? Karena untuk setiap makanan yang ingin saya makan, saya selalu memilih yang terbaik. Hal ini menyadarkan diri saya bahwa hidup ini jauh lebih berharga dan oleh sebab itu saya harus memilih jalan yang terbaik dan penuh makna, dan bukan memilih jalan yang biasa atau buruk untuk hidup yang sangat berharga ini.

Lantas bagaimanakah memilih jalan yang penuh makna untuk hidup yang berharga ini? Saya langsung teringat kisah lain tentang Rasulullah saw. Beliau selalu mengerjakan shalat malam, dan pernah suatu ketika beliau bangun melakukan shalat malam, dan kemudian bersujud dan menangis hingga fajar tiba. Dan ketika beliau selesai memimpin shalat shubuh jama’ah di mesjid, salah seorang sahabat yang melihat mata beliau sembab yang dikarenakan oleh shalat, berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah engkau adalah kekasih Allah dan engkau dijamin dunia dan akhirat, kenapa lagi harus shalat hingga sedemikian rupa? Rasulullah saw pun menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur”.

Saya pernah berdiskusi dengan istri saya tentang apa itu cinta. Secara defenisi begitu sulit bagi saya untuk mendefenisikan apa itu cinta, dan saya berkata kepada istri saya bahwa cinta yang hakiki itu hanya kepada Allah. Kita mencintai orang lain itu karena kecintaan kita kepada Allah. Dan bagaimanakah kita mencintai Allah tersebut? Saya kemudian berkata kepada istri saya bahwa cinta itu tidak muncul begitu saja. Cinta itu harus diaktualkan dengan penuh kesadaran diri. Karena cinta yang hakiki itu hanya kepada Allah saja, maka kita pun harus mencintai Allah dengan sepenuh hati. Kita dianjurkan untuk meng-aktualkan cinta kita kepada-Nya dengan melakukan shalat dan ibadah-ibadah lainnya yang diperintahkan kepada kita. Jadi menemukan makna hidup itu adalah sebuah jalan yang penuh kesadaran diri. Secara sadar kita memilih untuk beramal shaleh dan berbuat baik kepada orang lain. Kita diperintahkan untuk shalat dan melakukan ibadah lainnya. Melakukan semua hal ini dengan penuh kesadaran diri berarti kita mengaktualkan cinta kita untuk bersemi kepada-Nya.

Lantas, bagaimanakah kita tahu bahwa kita betul-betul mencintai Allah swt? Kita akan mengetahuinya jika kita telah mengalami kerinduan yang luar biasa kepada-Nya. Saat itulah kita tahu bahwa kita jatuh cinta kepada-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur”.

Dengan demikian menemukan makna hidup adalah memilih jalan untuk melakukan sebuah upaya kebaikan terus-menerus dengan penuh kesadaran diri. Seperti cinta, makna hidup tidak bisa hanya ditemukan begitu saja tanpa upaya berbuat baik dengan kesadaran diri.

Satu-satunya hal yang membuat kita memilih jalan lain sehingga menjerumuskan diri kita adalah ego kita sendiri. Ego ke-aku-an yang kecil dan ingin disanjung. Kebanyakan manusia selalu menjadikan segala sesuatunya berpusat hanya pada dirinya semata. Semua hal diluar dirinya selalu diarahkan hanya untuk memenuhi ke-aku-anya semata.

Ketika berbicara tentang cinta kepada pasangannya, mereka selalu ingin agar pasangan-nyalah yang harus memerhatikan dirinya. Ketika pasangan-nya melakukan hal itu, maka ia semakin mencintainya. Tapi kalau pasangan-nya kurang memerhatikan dirinya, maka ia mulai merasakan kehilangan rasa cinta. Pada dasarnya rasa tersebut jika demikian adanya bukanlah cinta, melainkan sebuah rasa “kekosongan” dihati yang butuh secercah cahaya Ilahi. Kebanyakan orang “mengisi kekosongan” hati tersebut dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan yang sifatnya sementara. Atau “memaksa” orang lain untuk mengikuti apapun keinginannya sehingga merasa diperhatikan.

Padahal seperti halnya cinta kepada Allah swt yang harus di-aktual-kan dengan berbuat baik dan beramal salah dengan penuh kesadaran diri, cinta kepada pasangan pun demikian. Kita akan dengan mudah mencintai pasangan dengan sangat dalam ketika kita melatih diri kita menjadi lebih dewasa dalam menjalani hidup ini. Bukankah cara kerja otak laki-laki dan perempuan itu berbeda? Yah karena berbeda, maka diperlukan kesabaran untuk senantiasa melatih ego ke-aku-an untuk menjadi lebih dewasa. Dan percayalah, ketika hal ini dilakukan, maka rasa cinta kepada pasangan pun akan semakin terasa.

Inilah kehidupan. Bukankah kita telah dianugerahkan berbagai potensi yang luar biasa. Menjalani hidup ini bukanlah laksana robot atau mayat hidup, dimana hidup ini akan selalu terasa hampa dan kosong. Agar bermakna, dibutuhkan upaya sadar untuk memilih melakukan hal-hal baik, sehingga rasa cinta kepada-Nya ter-aktual. Dengan mengutip kata Rasulullah saw: TIDAK BOLEHKAH AKU MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR?


Syahril Syam

Baca selengkapnya...

Sabtu, 10 April 2010

Mentalitas Timbangan

Meskipun sudah dibangun jalan bawah tanah, pertigaan Pasar Minggu, persis depan stasiun kereta, semrawutnya bukan main. Setiap saya lewat situ, angkutan umum "ngetem" sembarangan. Lolos belok kanan ke arah tol Simatupang, pemandangan sekian tahun lalu lekat tersisa.

Para pedagang buah kaki lima jor-joran menarik pembeli. Lihatlah para penjual duku itu. Di sisi sana memajang kalimat "Duku Rp 5000", sananya lagi "Rp4500", di sudut lain menawarkan Rp2500. Ada pula tulisan "Coba cukup 1."

Itulah pemandangan perang harga di kalangan rakyat pedagang kecil kita.

Khusus yang terakhir, saya menduga ditulis karena pernah ada kejadian banyak calon pembeli yang hanya icip-icip.

Sudah tidak membeli, ambil dukunya banyak pula. Biar sama-sama rugi, mending dagangan di makan sendiri, persis penjual kacang yang memakan dagangannya sendiri karena tak ada pembeli.

Kadang mereka mempraktikkan adagium "ora payu pangan dewe," tidak laku makan sendiri. Kenyataanya, menjadi pedagang makanan memang harus siap menanggung risiko "ora payu."

Ada cerita pendek dari Putu Wijaya yang mengisahkan begini: si A mempunyai warung makan yang letaknya berseberangan dengan warung makan si B.

Entah kenapa warung B selalu laris, dagangannya habis. Warung A jual soto, sementara warung B jual sate.

Suatu hari rombongan orang piknik mampir ke warung A. Semuanya ingin sate, maka hijrahlah mereka ke warung B. Si B pun gigit jari, warungnya tidak laku lagi.

Suatu hari ada lagi rombongan orang piknik ke warung A. Mereka pesan sate. Tapi kali ini pemilik warung A bilang warungnya juga ada sate, walaupun dia harus ekspor sate dari warung B.

Dengan langkah gontai, ia diam-diam melangkah ke warung B, tetapi, tiba-tiba seluruh orang yang pesan sate berpindah memesan soto.

Benar-benar kejaiban dan rejeki nomplok.

Kisahnya sederhana, tetapi Putu Wijaya mengisahkannya dengan irama ketegangan sedemikian rupa. Rejeki sudah ada yang mengatur.

Dalam kasus perang harga duku di pinggiran jalan daerah Pasar Minggu, pola persaingannya sama. Mereka harus merayu calon pembeli sedemikian rupa dengan informasi singkat nan jelas. Yang memasang harga terendah, selalu berpikir bisa menarik lebih banyak pembeli.

Apakah memang selalu demikian?

Pembeli berasumsi, tulisan harga-harga itu per kilo. Artinya kalau ada tulisan "Duku Rp5000", maka itu diartikan sekilo harganya Rp5.000. Demikian seterusnya.

Ternyata, praktiknya tidak persis seperti itu. Penjualnya kadang dengan cekatan ambil dukunya, masukkan ke plastik, ditimbang seperlunya, lalu diserahkan ke pembeli.

Kalau Anda protes, sekilo kok ringan, dan terasa sekali timbangan telah direkayasa, penjual membela diri memang sudah sesuai dengan harga tertera.

Dan memang benar tidak ada sekilo. Yang Rp2.500, juga ternyata ukurannya bukan sekilo, tetapi anggap saja sekilo. Duaribu lima ratus saja kok minta sekilo, kira-kira begitulah jalan pikirannya.

Penjual tak merasa bersalah dengan tulisan Rp2500, karena memang tak disebutkan harga itu satuan apa. Artinya, pedagang tidak wajib memberikan barang dalam hitungan per kilo.

Definisi yang tidak begitu jelas itulah yang sering membuat repot.

Pertama, pembeli diberi informasi setengah-setengah, untuk kemudian digiring kepada asumsi bahwa harga-harga itu berlaku untuk per kilo.

Kedua, ketika pembeli protes, maka protes dengan mudah segera bida ditangkis penjual, dengan gaya ludrukan (kan tidak ada tulisannya per kilo).

Saya tidak sedang menyudutkan penjual. Mungkin ini hanya pengalaman saya saja, sudah timbangannya tidak jelas, barang yang diberikan pun jelek-jelek.

Ketika hendak protes, penjualnya malah komentar, "Jangan pelit-pelit Mas sama orang kecil." Saya hanya geleng-geleng kepala, sambil bergumam, "Wah, wah, kok bisa sampeyan berdagang model begini."

Persoalannya tentu bukan saya pelit pada orang kecil. Tetapi, bukankah ini transaksi dagang? Ada timbangannya pula.

"Sekilo kan?"

"Iya, sekilo"

Tetapi ternyata sekilo versi timbangannya, bukan sekilo sebenarnya.

Saya pikir ini persoalan serius. Dalam kasus saya, penjual itu memang telah mengurangi timbangan. Ini bukan saja tidak profesional dan merugikan pembeli, tetapi juga telah melanggar hal yang prinsipil, memanipulasi keadilan. Agama melarang keras praktik itu.

Tetapi, bagaimana kalau mereka menggunakan dalih bahwa mereka orang kecil? Merasa orang kecil, cari uang susah, mereka seolah tak berdosa merekayasa timbangan.

Yang dicontohkan yang bagus-bagus, tapi begitu pembeli setuju, dagangan yang diambil jelek-jelek.

Pembeli pun menggerundel, mencari perbandingan, 'Andai saya beli di supermarket, yang profesional dan takarannya pas."

Inilah dilemanya: kalau terlalu sering membeli barang di supermarket apalagi hipermarket alias pasar modern yang dilindungi kapital demikian besar, maka di kepala saya terngiang-ngiang anjuran para sosialis dalam seminar-seminar, bahwa "Anda telah menjadi bagian dari peminggiran pada pasar-pasar tradisional, sektor informal, yang digerakkan oleh rakyat kecil." Atau, "Anda telah membela Dinosaurus yang memangsa makhluk-makhluk kecil yang seharusnya dibela."

Ironisnya di pasar tradisional, kenapa orang sering menjumpai "mentalitas mengurangi timbangan, bukan "mentalitas timbangan" yang adil dalam bertransaski. Kenapa pula pembeli harus berpayah-payah dulu menawar, sekalipun demi sebuah pisang?

Kenapa begitu ribet? Kenapa pula pembeli harus dipaksa 'menyedekahi' penjualnya?

Kenapa yang terjadi sering antagonistik kalau bukan paradoks: yang profesional yang bermodal besar, yang bermodal kecil (dan karenanya orang kecil) malah tidak jujur.

Sebuah iklan kampanye jual beli secara jujur di televisi belum lama ini saya kira sangat positif. Iklan itu mengkampanyekan agar para penjual tidak mengurangi timbangan. Ini sangat terkait dengan kredibilitas dan kepercayaan pembeli.

Saya kira iklan itu berlaku bagi siapa saja, bukan hanya yang berprofesi pedagang, tetapi juga pengacara, akuntan, manajer, konsultan ini dan itu, dan profesional lainnya. Juga bagi politisi, birokrat, pejabat negara dan sejenisnya. Bahwa "mentalitas timbangan" lah yang seharusnya diutamakan.

Yang adil, yang setimbang, yang jujur, yang wajar.

Kalau Anda pegawai negeri golongan sekian, dengan standard gaji sekian, kok bisa mempunyai mobil mewah dan rumah megah, padahal tidak ada bisnis atau harta warisan apapun? Wajarkah hidup Anda?

Kalau Anda politisi, kok cita-citanya menebus ongkos pemilu dan meraup materi berlipat ganda dengan segala cara memanipulasi kebijakan dan kongkalingkong? Bukankah itu sama dengan mereka yang mengurangi timbangan?

Kalau Anda, apapun profesinya, sengaja atau tidak membiarkan "mentalitas mengurangi timbangan" lestari, adilkah Anda menyalahkan penjual duku yang mengurangi timbangannya itu?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak mengurus korupsi kelas teri atau super teri, apalagi repot-repot mengusut penjual buah yang mengurangi timbangan. Kecuali kalau penjual buah itu sangat nyata merugikan uang negara di atas satu miliar rupiah.

Polisi dan jaksa sebagai aparat penegak hukum, juga punya skala prioritas.

Rasulullah SAW memberikan teladan, berdagang tanpa pernah mengurangi timbangan. Kalau ada barang cacat, informasikan itu sejelas-jelasnya kepada pembeli sehingga pembeli tidak merasa dirugikan setelahnya.

Tidak pula beliau mengambil laba di luar kewajaran. Semuanya dilakukan secara etis dan terukur. Tidak pula mengenakan riba.

Untuk itu, tampaknya kita harus melakukan revolusi mental, suatu "revolusi kebudayaan" untuk menghancurkan "tradisi" rakus dan manipulatif, dengan mengubahnya menjadi tradisi yang setimbang, adil, wajar. Wallahua’lam.

Alfan Alfian, Dosen di Universitas Nasional, Jakarta

Baca selengkapnya...

Menyongsong Indeks Menuju Level 3.300

Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam dua tahun terakhir ini cukup mengesankan sekaligus mencengangkan. Disebut mengesankan, karena indeks terus melonjak dari level 1.500 dua tahun lalu menjadi 2.600-an di penghujung tahun 2009 silam. Lalu terangkat lagi menuju level 2.880-an di pekan ini.

Kenaikan indeks disebut mencengangkan, karena terjadi di saat dunia sedang dilanda krisis keuangan hebat dan hingga kini belum sepenuhnya pulih. Memasuki tahun 2010, ketika signal pemulihan ekonomi dunia sudah terdeteksi, gerak indeks dalam sebulan terakhir bisa membuat investor terjebak.
Di samping fluktuasinya sangat tinggi, polanya juga sulit ditebak. Beberapa kali gerak indeks tidak berjalan paralel dengan indeks regional dan global, seperti lazimnya selama ini. Setelah mencapai titik tertinggi selama pascakrisis tahun 2008 di level 2.667,3 pada tanggal 20 Januari 2010 lalu, indeks melanjutkan penguatan secara konsisten. Pada perdagangan Selasa (6/4), indeks sempat ditutup turun tipis 1,575 poin setelah sempat naik tajam menembus level 2.900. Penguatan saham sektor pertambangan dan konsumsi berhasil menahan laju penurunan indeks.
Indeks dibuka naik tipis ke level 2.888,806 dan langsung menguat hingga sempat menyentuh level 2.911,463 atau naik 24 poin dari penutupan sebelumnya di level 2.887,246 (5/4). Penguatan indeks di awal perdagangan dipicu oleh perburuan selektif atas sejumlah saham-saham unggulan di berbagai sektor, khususnya sektor pertambangan dan konsumsi serta beberapa saham unggulan sektor perbankan.
Saat ini pergerakan indeks kembali ke jalur yang relatif normal untuk menemukan valuasi yang wajar. Jadi, sekarang adalah momentum yang tepat bagi pemodal untuk masuk ke pasar saham. Meski dalam jangka pendek ketidakpastian masih menyelimuti bursa, diyakini investasi di saham masih memberikan hasil terbaik dibanding jenis portofolio lain.
Gain tahun ini tidak akan sefantastis tahun 2009 yang kenaikan indeksnya mencapai 87%. Diproyeksikan gain saham tahun ini minimal 20%-30%, bahkan bisa 40% jika kondisi ekonomi dan politik relatif stabil. Indeks bisa tembus 3.200-3.300 pada akhir tahun.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 diprediksikan lebih baik, minimal 5,5%, dibanding 2009 yang hanya 4,5%. Itu berarti, potensi perolehan laba emiten diharapkan juga membaik. Tahun lalu, per kuartal ketiga, rata-rata kenaikan laba emiten di BEI mencapai 48,5%.
Sektor komoditas dan perbankan diperkirakan menjadi pendorong indeks tahun ini. Harga komoditas, terutama pertambangan, cenderung naik seiring membaiknya perekonomian global. Sektor perbankan didukung oleh ekspansi kredit tahun ini yang cukup besar dan margin bunga bersih (NIM) yang tetap tinggi.
Pasar modal domestik diyakini menjadi fokus baru bagi para pengelola dana global, baik private equity fund maupun hedge fund. Di mata investor asing, Indonesia bakal menjadi Cinderella baru, setelah India dan China selama ini menjadi tempat favorit. Ini dipicu oleh prestasi ekonomi ketiga negara yang mampu tumbuh mengesankan dibanding negara-negara lainnya.
Dana asing juga terus mengalir ke instrumen portofolio, baik saham, Surat Utang Negara (SUN), maupun sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kecenderungan perilaku investor asing adalah terus membukukan net buying, dalam arti mereka lebih banyak membeli ketimbang menjual saham. Ini tentu merupakan sinyal positif. Di SUN dan SBI, selama Februari lalu ada pembelian baru oleh asing sekitar Rp4 triliun. Posisi asing di kedua portofolio itu cenderung terus meningkat.
Meski secara umum bursa membersitkan optimisme, namun para pelaku bursa perlu mencermati berbagai risiko. Untuk faktor domestik, potensi ketidakstabilan politik mungkin saja terjadi. Tetapi kemungkinan gejolak ini bersifat temporer atau jangka pendek karena fundamental makro ekonomi masih bagus.
Ancaman lain adalah tergerusnya sektor manufaktur karena harus bertarung melawan produk-produk China dan ASEAN sebagai konsekuensi pemberlakuan Asean-China Free Trade Agreement (AC-FTA) mulai 1 Januari lalu. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi AC-FTA akan memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 7,5 juta pekerja.
Perjanjian perdagangan ini juga akan menghilangkan potensi penerimaan negara dari bea masuk dan mengancam pertumbuhan ekonomi nasional. AC-FTA merupakan sinyal bahaya yang bisa mengakselerasi deindustrialisasi. Bahkan lebih dari itu, bisa menjadi lonceng kematian bagi sejumlah industri nasional.
Dari sisi eksternal, faktor ketidakpastian bersumber dari harga minyak mentah yang kemungkinan bakal naik lagi. Selain itu, dampak dari stimulus fiskal besar-besaran yang digelontorkan negara maju akan membanjiri surat utang, yang bisa menyedot dolar AS. Dana fund managers yang selama ini ditempatkan di negara-negara emerging markets kemungkinan akan dipindahkan ke obligasi negara-negara maju.
Tentu kondisi tersebut bisa berpotensi memicu keluarnya investor asing dari portofolio, baik di saham, SUN, maupun SBI. Terlebih lagi jika Bank Sentral AS menaikkan suku bunga pada semester II-2010, sebagai dampak dari tekanan inflasi yang meningkat seiring pemulihan ekonomi negeri itu. Maklum, kenaikan suku bunga The Fed biasanya diikuti oleh bank sentral lain.
Pemerintah dan Bank Indonesia sebagai penjaga gawang otoritas fiskal dan moneter perlu memiliki kewaspadaan yang kuat menghadapi isu-isu tersebut. Khusus bagi investor pasar modal, pengambilan keputusan investasi yang tepat menjadi mutlak agar jangan sampai merugi.


Businessnews

Baca selengkapnya...

Lima Miliarder Dunia yang Hidup Sederhana

Mereka tidak suka menghambur-hamburkan uangnya.

Setidaknya satu kali dalam hidup, pernahkah Anda berfantasi menjadi orang yang bergelimang harta? Lantas, apa yang akan Anda lakukan dengan uang miliaran atau triliunan di tangan Anda?

Memang tidak sedikit jumlah orang kaya di planet ini. Namun percaya atau tidak, masih ada di antara orang-orang kaya dunia tersebut yang hidup relatif normal, dalam arti hidup seperti orang kebanyakan.

Rahasia "kotor" dari orang-orang kaya bersahaja ini adalah bahwa mereka tidak bertingkah laku seperti orang kaya. Mereka sibuk berhemat dan berinvestasi demi masa depan, daripada menghambur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan sesaat.

Coba simak beberapa orang kaya bersahaja di dunia berikut ini, seperti dikutip dari laman San Francisco Chronicle, Kamis 1 April 2010.

1. Warren Buffett
Buffett adalah seorang investor sukses, pebisnis, sekaligus filantropis, dan pemilik Berkshire Hathaway. Namun, rahasia sebenarnya dari kekayaan pribadi Buffett mungkin adalah kegemarannya untuk berhemat. Pemilik harta kekayaan senilai US$47 miliar ini menjauhi rumah dan benda-benda mewah. Bersama istrinya, pria 79 tahun ini masih tinggal di rumah sederhana mereka di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat yang mereka beli dengan harga US$31.500, lebih dari 50 tahun lalu. Meski Buffett sering menikmati hidangan di restoran terbaik di berbagai belahan dunia, bila disodori pilihan, Buffett akan lebih memilih burger dan kentang goreng beserta Coke cherry dingin. Saat ditanya mengapa dia tidak memiliki sebuah kapal pesir, Buffett menjawab: "Kebanyakan mainan cuma menimbulkan rasa nyeri di leher."

2. Carlos Slim
Nama Carlos Slim belum terlalu dikenal orang bila dibandingkan dengan nama-nama besar macam Bill Gates. Namun, pria warga Meksiko ini baru saja dikukuhkan sebagai orang paling kaya sejagat, mengalahkan pendiri Microsoft tersebut. Kekayaan Slim bernilai lebih dari US$53 miliar. Meski dia bisa membeli berbagai barang mewah duniawi, Slim hampir tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu. Seperti Buffett, Slim tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat, dan tetap menghuni rumah yang sama sejak 40 tahun lalu.

3. Ingvar Kamprad
Kamprad, pendiri ritel furnitur terkemuka asal Swedia, Ikea. Bagi Kamprad, mencari cara untuk menghemat uang bukan hanya persoalan konsumennya, tetapi juga menjadi nilai berharga bagi dirinya sendiri. Kamprad pernah berujar, "Orang-orang Ikea tidak mengendarai mobil mencolok atau tinggal di hotel-hotel mewah." Aturan tersebut berlaku juga bagi dirinya, pendiri perusahaan ritel Ikea. Dia sering menggunakan kereta untuk mengurus bisnisnya yang tersebar di mana-mana. Untuk urusan di dalam kota, Kampard cukup memanfaatkan bus kota atau mengendarai mobilnya yang telah berumur 15 tahun, sebuah Volvo 240 GL.

4. Chuck Feeney
Feeney tumbuh besar sebagai seorang keturunan Amerika-Irlandia saat terjadi Depresi Besar di Amerika Serikat. Faktor itu bisa jadi mempengaruhi gaya hidup hemat pria kelahiran 23 April 1931 ini. Dengan motto pribadi "Saya ditakdirkan untuk bekerja keras, bukan untuk menjadi orang kaya," salah seorang pendiri Duty Free Shoppers ini diam-diam menjadi seorang miliuner dunia.

Namun, hal lain yang juga dilakukan diam-diam adalah bahwa Feeney memberikan nyaris semua kekayaannya ke yayasan kemanusiaan, Atlantic Philanthropies. Selain memberikan lebih dari US$600 miliar ke almamater Cornell University, dia juga menyumbangkan miliaran dolar ke berbagai sekolah, rumah sakit, dan badan penelitian. Feeney bahkan mengalahkan Buffett dan Kamprad dalam "kategori donasi".

Pemakai rutin fasilitas transportasi umum ini juga selalu terbang menggunakan kelas ekonomi, membeli pakaian dari toko ritel, dan tidak menghamburkan uang hanya untuk membeli rak sepatu besar. "Kita hanya bisa mengenakan satu pasang sepatu dalam satu kali kesempatan," katanya. Dia juga membesarkan anak-anaknya dengan cara normal, yakni dengan meminta mereka bekerja paruh waktu saat musim panas seperti yang dilakukan anak-anak remaja di Amerika.

5. Frederik Meijer
Toko-toko kelontong Meijer banyak tersebar di Midwest, Amerika Serikat. Nilai kekayaan Meijer mencapai lebih dari US$5 miliar, dan hampir separuh dari kekayaan itu justru ditimbun saat pendapatan bersih bisnis Meijer anjlok pada 2009.

Seperti Buffett, Meijer membeli mobil dengan harga logis dan mengendarai mobil-mobil itu sampai tidak bisa digunakan lagi. Seperti Kamprad, Meijer memilih motel-motel biasa saat bepergian untuk urusan bisnis. Dan seperti Chuck Feeney, Meijer fokus pada sesuatu yang bisa diberikan pada masyarakat, dan bukan memboroskan uang untuk kepentingan pribadi.


Umi Kalsum, Harriska Farida Adiati

Baca selengkapnya...

Jumat, 09 April 2010

Fakta Menarik di Balik Logo Mobil Top Dunia

Bentuk dan model mobil selalu berubah-ubah, tapi ada satu hal yang nyaris abadi, logo.

Banyak orang menasbihkan diri sebagai pecinta mobil tertentu, namun hanya sedikit orang yang benar-benar peduli maksud dan sejarah dari logo mobil kesayangan.

Logo tak hanya sekedar simbol identitas visual suatu produk otomotif. Tapi, logo punya fungsi penting -- memperkenalkan produk ke pasar dunia.

Ada tiga tipe logo mobil yang kini dikenal, berbentu simbol, teks, maupun kombinasi antarkeduanya.

Yang jelas, ada maksud tertentu atau kisah di balik sebuah logo yang bisa membuat penasaran. Ini cerita dan fakta menarik di balik logo mobil-mobil top dunia.

Mercedes Benz

Logo bintang segitiga Mercedes punya arti khusus -- dominasi perusahaan yang meliputi darat, laut, dan udara.

Sedangkan nama Mercedes berasal dari seorang pengusaha Austria dan pecinta otomotif, Emil Jellinek. Dia memiliki seorang anak bernama Mercedes.

Jellinek tak hanya menjual mobil Daimler-Motored-Gesellschaft (DMG) namun berpartisipasi dalam balap motor pertama di Jerman. Saat itu dia mengendarai kendaraan yang dibuat DMG di balik nama samarannya, Mercedes.

Saat itu, Mercedes merujuk ke nama tim dan pengemudi. Namun, saat ini Mercedes adalah hasil merger dua perusahaan mobil, Daimler-Motored-Gesellschaft atau DMG, yang didirikan oleh Gottlieb Daimler dan Wilhelm Maybach, serta Benz & Cie, yang didirikan oleh Karl Benz.

Logo saat ini, bintang dalam lingkaran, diperkenalkan untuk pertama kalinya di 1937.


Audi

Insinyur Jerman, August Hoch mendirikan perusahaan A. Horc & Cie pada 1899.

Satu dekade kemudian, dia terpaksa hengkang dari perusahaan yang didirikannya. Tak patah arang, bersama patner bisnisnya, Franz Fikentscher, dia mendirikan perusahaan baru.

Ketika mendiskusikan nama perusahaan barunya, putra Fikentscer yang sedang belajar Bahasa Latin di sudut ruangan menanyakan arti 'audiatur et altera pars' [bukankah ide bagus untuk menyebutnya Audi bukannya Horch?]

Kata 'Horc' adalah singkatan dari kata 'mendengar' dalam Bahasa Jerman. Sementara Audi adalah kata latin yang juga berarti 'mendengar'.

Kemudian, pada 1932, empat perusahaan yakni, Audi, Hoch, DKW, dan Wanderer merger menjadi satu perusahaan, Auto Union.

Kemudian dipilihlah logo berupa empat cincin yang bertautan, simbol penyatuan empat perusahaan yang jadi kebanggaan sekaligus rahmat bagi mereka hingga saat ini.

BMW

Logo lain yang menarik perhatian adalah BMW. Berwujud lingkaran terbagi empat dengan dua warna, putih dan biru langit berselang-seling.

Itu melambangkan baling-baling pesawat yang berputar di langit biru.

Simbol itu relevan dengan sejarah BMW sebagai pemasok utama mesin pesawat terbang, misalnya 'Red Baron' untuk pemerintah Jerman selama Perang Dunia I.

Pada 1918, ketika perang dunia berakhir, pemerintah Jerman menghentikan permintaan mesin pesawat pada BMW.

Kondisi tak punya pilihan saat itu, justru membuat BMW berkreasi. Arah bisnis berubah. Perusahaan tersebut mulai dengan membuat rem kereta api, lalu sepeda bermotor, sepeda motor, dan lalu mobil -- yang mendunia.

Chevrolet

Ada dua kisah mengenai logo Chevrolet, 'bowtie'. Yang pertama, pendiri perusahaan, William C Durant terinspirasi kertas pelapis dinding di sebuah hotel di Perancis. Dia merobeknya untuk dijadikan logo.

Versi cerita berbeda datang dari istrinya. Dikatakan, inspirasi emblem bowtie datang dari sebuah surat kabar Virginia -- ketika mereka berlibur di daerah Hot Springs, Virginia, sekitar tahun 1912.

Ferrari

Simbol 'Cavallino Rampante' alias kuda jingkrak Ferrari ternyata punya cerita menarik.

Simbol itu aslinya adalah emblem para penerbang Italia dalam Perang Dunia Kedua. Simbol itu dipakai juga Franceco Baracca -- penerbang Italia yang gugur dalam perang.

Ketika Enzo Ferrari memulai perusahaan mobil miliknya, dia menggunakan logo tersebut di mobil balap Alfa Romeo, atas dorongan orang tua Baracca.

Kemudian, 'kuda jingkrak' tak hanya dipasang di mobil Ferrari. Popularitasnya melebihi yang diperkirakan. Kini, logo Ferrari bisa ditemukan di sepeda, kaos, dan apapun yang bisa dibayangkan.

Fiat

Pada 1899, perusahaan bernama "Fabbrica Italiana Automobili Torino" atau disingkat Fiat didirikan di Turin. Poster khusus dicetak untuk merayakan hari itu.

Di kiri atas poster, terdapat gambar seniman lengkap dengan perkamen kecil berisi nama perusahaan, itulah logo pertama Fiat.

Logo itu kemudian mengalami beberapa modifikasi hingga saat ini.

Dalam ulang tahun ke 100 Fiat, pada 1999 diperkenalkan logo baru berlapis krom dengan karakteristik khusus pada huruf 'A' dengan latar belakang biru.

Logo baru Fiat baru pertama kali digunakan pada Bravo, pada tahun 2006.

Logo baru mewakili visi Fiat -- sebuah merek yang fokus terhadap tantangan di masa depan, tetapi juga bangga dengan identitas historisnya .

Ford

Logo mobil asal Amerika Serikat ini sederhana, dengan huruf 'Ford' yang ditonjolkan. Logo ini telah digunakan lebih dari 50 tahun.

Bentuk huruf ini diperkenalkan Harold Wills -- rekan dekat Henry Ford.
Ketika remaja, Wills mencari uang dengan membuat kartu nama.

Ketika rekannya, Henry Ford mencari logo untuk perusahaannya, Wills menyodorkan set cetakan tuanya dan model huruf yang digunakan di masa remajanya untuk mencetak kartu nama.

Pada 1912, lingkaran oval ditambahkan dalam logo Ford. Pada 1927, logo juga mengalami perkembangan, warnanya menjadi biru. Logo terakhir -- oval biru ini dirilis 2003 untuk menghormati 100 tahun Ford Motor Company.

Lamborghini

Beberapa logo mobil mencerminkan selera sang pemilik. Salah satunya logo 'banteng mengamuk' di Lamborghini.

Pendiri perusahaan, Ferrucio Lamborghini adalah penggila matador, sampai-sampai memilihnya sebagai logo perusahaan mobilnya.

Banyak mobil Lamborghini yang diberi nama banteng yang telah mendapatkan penghargaan dalam event-event dunia.

Renault

Perusahaan Renault didirikan oleh Louis Renault ketika baru berusia 21 tahun. Logo pertama perusahaan adalah tiga huruf depan Renault bersaudara, Louis, Ferdinand, dan Marcel.

Perusahaan ini juga punya logo khusus untuk tank militer -- setelah tank ringan produksi perusahaan Renault, FT-17 digemari selama Perang Dunia I.

Logo bentuk berlian diperkenalkan pada tahun 1925 dan didesain ulang pada tahun 1972 oleh desainer terkenal Victor Vasarely. Logo yang berlaku saat ini, berlian dikelilingi persegi kuning adalah simbol kualitas.

Volkswagen

Sederhana tapi mengena, itu yang menggambarkan logo mobil Volkswagen. Logo VW adalah adalah satu logo mobil yang paling sederhana dan cepat dikenal di dunia.

Logo berbentuk V di atas huruf W dengan latar belakang lingkaran warna biru.

Volkswagen dalam Bahasa Jerman berarti 'mobil rakyat'.

Logo ini diperoleh dari hasil kompetisi yang dimenangkan Franz Reimspiess.

Volkswagen punya latar belakang sejarah menarik -- dimulai pada 1930-an, era Nazi Jerman.

Adalah ide Hitler untuk memulai produksi mobil dengan harga terjangkau untuk masyarakat. Hitler dan Gercinand Porsche mengeluarkan ide mobil kumbang Volkswagen yang bisa membawa dua orang dewasa dan tiga anak kecil.

Namun, pabrik pembuat mobil kumbang lebih banyak memproduksi kendaraan militer ketimbang mobil untuk rakyat -- membuka kedok di balik maksud Hitler sebenarnya.

Pasca kekalahan Jerman dalam perang, Inggris mengambil alih pabrik Volkswagen dan mencoba menjualnya.

Awalnya, orang-orang menolak desain kumbang VW, yang dianggap inferior.

Namun, VW berhasil membuktikan dirinya, Volkswagen Beetle menjadi salah satu mobil terlaris di dunia.

Volvo

Volvo berarti 'saya berputar' dalam bahasa latin. Kata Volvo berasal dari kata latin 'volvere' yang berarti berputar.

Logo Volvo adalah simbol kuno untuk besi -- yakni lingkaran dengan anak panah menunjuk ke atas secara diagonal ke kanan.

Simbol ini juga merepresentasikan 'Mars' dewa perang. Mobil Volvo juga secara tradisional dikenal untuk fitur keselamatan.

Simbol kuno besi digunakan untuk juga mencerminkan tradisi kuat industri besi Swedia.

Logo Volvo terpasang di atas latar belakang biru.


Hyundai

Perusahaan mobil Korea Selatan ini memiliki slogan 'Drive your way' ini memiliki logo huruf 'H' dikelilingi bentuk oval -- menggambarkan keinginan kuat perusahaan untuk mendunia.

Huruf H yang miring dan bergaya, juga menggambarkan simbol dua orang -- representasi perusahaan dan pelanggan -- sedang berjabat tangan.


Toyota

Dari kejauhan, logo Toyota mirip huruf 'T' yang berarti 'Toyota'.

Namun, jika diamati lebih dekat, logo mobil Jepang itu terdiri dari tiga bentuk oval.

Dua oval yang saling bertautan menyerupai huruf 'T' merepresentasikan hubungan saling menguntungkan dan saling mempercayai antara pelanggan dan Toyota.

Latar belakang oval yang lebih besar menggambarkan perkembangan kemajuan teknologi dan kesempatan tak terbatas bagi perusahaan untuk terus maju.


Elin Yunita Kristanti

Baca selengkapnya...