Senin, 07 September 2009

Dimanakah Anda Bergaul?

Selama kekuatan hati Anda belum “jernih”, maka kemana pun Anda bergaul, Anda cenderung akan mudah dipengaruhi.
Mashab behaviorisme, di tahun 70-an, merupakan mashab yang paling mendominasi pemikiran orang-orang di negeri Paman Sam. Mashab ini mendasari pemikirannya bahwa setiap orang belajar karena faktor stimulus dari lingkungannya. Walau mashab ini tidak mampu menjelaskan motivasi internal pada manusia, namun apa yang digagas oleh behaviorisme memberikan andil yang besar bagaimana manusia itu belajar.
Saya ingin mengajak Anda untuk melihat dan merasakan bagaimana Prof. Philip Zimbardo melakukan sebuah eksperimen yang kontroversial. Prof. Zimbardo bersama-sama dengan rekannya ingin mengetahui apakah perilaku para tahanan dan penjaganya disebabkan oleh situasi penjara atau karena karakter mereka sendiri. Akhirnya, diseleksilah sekitar 75 orang mahasiswa yang diperiksa secara klinis, dan 21 orang dipilih karena kepribadiannya dianggap dewasa dan sehat.
Agar para mahasiswa tersebut mau mengikuti eksperimen tersebut, mereka akan dibayar $15 sehari. Eksperimen tersebut rencananya akan dilakukan selama dua minggu, dan secara acak, sebagian peserta akan menjadi tahanan dan sebagiannya lagi akan menjadi penjaga tahanan. Dan eksperimen ini dilakukan dengan suasana yang persis betul dengan kenyataannya.
Para “tahanan” dijemput polisi dari rumah-rumah mereka, dan mereka dituduh sebagai pencuri dan digeledah, dibelenggu, diambil sidik jarinya, dan kemudian diinterogasi. Di ruang bawah tanah gedung Psikologi Stanford, yang dijadikan sebagai penjara, para tahanan tersebut dibawa kesana, dan kemudian diperlakukan dengan semena-mena. Para tahanan kemudian ditelanjangi, disemprot dengan pembasmi kutu, diberi pakaian napi, dan ditempatkan pada sel sempit bersama dua “napi” lainnya. Semua yang mau dilakukan oleh para “napi” harus mendapat izin dari para penjaga.
Para “penjaga” bekerja secara bergiliran dalam menjaga para “napi”. Seragam yang digunakan oleh para “penjaga” pun adalah seragam penjaga penjara lengkap dengan kaca mata hitam, pentungan karet, peluit, dan borgol. Para “penjaga” dilarang melakukan kekerasan, tapi boleh melakukan apa saja untuk menjaga ketertiban dan keamanan.
Dan inilah akhir eksperimen tragis itu. Hanya dalam tempo 6 hari saja, para “tahanan” menjadi sangat depresif dan pasif. Sedangan para “penjaga” menjadi sangat otoriter, brutal, dan memaksa tahanan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh. Para mahasiswa yang tadinya normal dan sehat, telah menjadi “psikopat”.
Di hari kelima eksperimen, empat orang “tahanan” dibebaskan karena berteriak-teriak histeris, menderita kecemasan, dan gejala-gejala depresi lainnya. Seorang diantara mereka dikeluarkan karena menunjukkan gejala psikosomatis. Eksperimen yang rencananya akan dilakukan selama dua minggu, harus diakhiri setelah seminggu berjalan. Para “tahanan” merasa sangat gembira, sedangkan para “penjaga” merasa kecewa.
Eksperimen tersebut, merupakan penelitian Zimbardo bahwa perilaku sadis para “penjaga” dan perilaku pasif para “tahanan” bukanlah perilaku “bawaan” mereka. Perilaku tersebut terjadi karena mereka dipengaruhi oleh kelompok rujukan yang diidentifikasi oleh mereka. Dengan kata lain, budaya sebuah kelompok cenderung mempengaruhi perilaku individu-individu di dalam kelompok tersebut.
Jika Anda sering bergaul dengan orang-orang yang pesimis, besar kemungkinan Anda akan ikut pesimis. Hal tersebut tidak akan terjadi jika saja Anda memiliki kekuatan hati yang jernih, dimana bukan Anda yang dipengaruhi tapi Anda yang mempengaruhi. Dan ketika Anda bergaul dengan kelompok pembelajar, maka besar kemungkinan Anda pun akan menjadi seorang pembelajar. Oleh sebab itu, pilihlah secara bijak kemana Anda ingin bergaul!


Syahril Syam

Baca selengkapnya...

Selasa, 01 September 2009

Introspeksi Diri

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Tak terasa tahun demi tahun, hari demi hari dan bulan demi bulan terus berganti, semua itu telah kita lewati bersama. Banyak kenangan yang telah kita lakukan bersama, yang mungkin tak dapat kita lupakan. Tahun, hari dan bulan yang selalu berganti merupakan suatu momen yang telah ditunggu banyak orang, karena hari yang baru bisa merubah suasana yang baru didalam kehidupan kita.
Misalnya; tahun baru, hari ulang tahun, bulan kemenangan, yang kadang-kadang kita ingin merayakan dengan meriah, pesta-pesta dengan teman-teman agar dicap sebagai orang modern, atau biar dianggap sebagai orang yang tidak ketinggalan jaman atau kampungan. Bahkan ada yang punya persepsi pada tahun, hari, bulan-bulan tertentu semuanya harus baru, mulai dari pakaian, makanan hingga pacar dan yang lebih parah lagi istri juga tidak mau ketinggalan. Sesungguhnya kita disaat-saat itu perlu merenungkan kegiatan-kegiatan, yang telah kita kerjakan selama ini. Apakah sudah sesuai Dhamma atau belum?

Segala sesuatu akan segera berubah

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa segala sesuatu akan mengalami perubahan atau mengalami ketidakkekalan, demikian pula diri kita juga tidak bisa terlepas dari perubahan. Misalnya; yang sering terjadi, dulunya mungkin kita baik terhadap seseorang, selalu welcome terhadap mereka, tapi pada akhirnya tidak menutup kemungkinan diri kita bisa menjadi benci, tidak suka, jengkel, bahkan ingin mengusir mereka dari dalam dari kehidupan kita.
Delapan kondisi dunia memang selalu mempengaruhi dan itu semua tidak bisa kita hindari dari dalam kehidupan kita, suka dan tidak suka, bahagai dan menderita, selalu mempengaruhi kehidupan kita semua. Perubahan demi perubahan ini disebabkan kamma-kamma kita yang pernah kita perbuat, yang telah memulai berbuah, kitalah yang bertanggungjawab atas semua itu.
Jangankan kita, kondisi disekitar kita aja bisa berubah setiap saat. Misalnya; lampu, yang dulunya pakai lampu minyak tapi sekarang kita pakai listrik, dan tadinya kita pakai mesin ketik sekarang kita pakai computer bahkan sudah pakai jaringan untuk bisa berkomunkasi melalui internet. Ini merupakan bukti bahwa segala sesuatu mengalami perubahan.
Janganlah kita selalu membiarkan diri kita terjebak didalam keegoisan kita sendiri, dan janganlah kita selalu memanjakan diri kita secara berlebihan, yang hanya mengakui kebaikan atas diri kita sendiri tetapi tidak pernah mengakui kesalahan atas diri kita, dan bahkan yang lebih ironis lagi, kita hanya menyalahkan orang lain atas kegagalan atau kesalahan diri kita. Batin dan moral kita juga memerlukan perubahan, perkembangan dan perlu ditumbuhkembangkan setiap saatnya.
Badan kita akan hancur tetapi batin kita, sebelum mencapai kebebasan atau merealisasi kebahagiaan, akan melanjutkan proses kealam-alam berikutnya lagi sesuai dengan perbuatan kita sendiri. Selalu berbuat jahat akan mengalami penderitaan, selalu berbuat baik akan merasakan kebahagiaan. Jika kita hanya egois akan badan jasmani ini saja, yang tidak mau disalahkan tapi mau yang benar saja, bagaimana kita akan mendapatkan kebahagiaan didalam kehidupan saat ini dan berikutnya.
Semua orang mengharapakan kebahagiaan, termasuk penyaji sendiri, tetapi kebahagiaan yang kita cari pastilah ada perbedaan. Ada yang berbahagia atas penderitaan orang lain, ada pula yang bahagia ketika mereka menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang paling benar dan sesuai dengan ajaran Buddha.
Tetapi ternyata Buddha tidak pernah dan tidak akan pernah mengajarkan umatnya untuk mencari kesalahan orang lain atas kegagalan-kegagalan mereka sendiri. Sangat ironis sekali, jika kita hanya selalu mengutamakan sikap yang tidak terpuji tersebut, sekalipun kita setiap saat kita selalu hadir ditempat ibadah atau tempat-tempat yang disucikan, tetapi kita belum bisa mengintropeksi diri kita dengan kesadaran , maka kita akan terus diperbudak oleh kebodohan – kebodohan kita sendiri.
Disinilah kadang kita bisa tertipu oleh mata jasmani, yang selalu memandang segala sesuatunya dari sisi negatif saja, bukan dari sudut pandang yang positif. Alangkah baiknya kita merenungkan perbuatan-perbuatan kita sendiri daripada merenungkan perbuatan orang lain, karena perbuatan kita masih banyak kekurangannya tetapi dengan melihat dan memahami kenyataan saat ini kita akan mengaplikasikan perbuatan-perbuatan yang bisa memberikan kontibusi yang baik serta bermanfaat, dan yang bisa membawa kita keperealisasian Dhamma.

Pentingnya disiplin moral

Seorang yang kehilangan nafas (alias meninggal dunia), kehilangan materi adalah sesuatu yang menakutkan, tetapi seorang yang kehilangan moral itu sangat menakutkan sekali, ini adalah Dhamma. Tetapi sangat berbeda dengan kondisi sekarang, karena orang yang kehilangan moral sampai 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun bahkan lebih mereka tidak pernah takut, tetapi seorang yang kehilangan Hp (Mobilephone) 1 menit saja, mereka sudah merasa sangat ketakutan sekali. Mereka menganggap Hp atau materi yang lain adalah sesuatu yang sangat berharga ketimbang moralitas yang hilang.
Kita, yang kehilangan moralitas, adalah orang-orang yang telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga sekali didalam hidup kita, sudah barang tentu bagi mereka yang ingin menjadi orang baik. Oleh karena itu, sangatlah penting kita selalu menjaga kedisiplinan moral, agar bisa tetap eksis didalam kehidupan kita. Dengan menjaga moralitas, maka kita akan tetap bisa bergaul dengan semua golongan.
Karena adanya kedisiplinan moral yang tinggi, sesuatu yang kita kerjakan dalam seharian, akan sesuai dengan Dhamma, dengan demikian segala sesuatu yang kita lakukan akan penuh perhatian. Berikanlah batin kita makanan yang bermanfaat dan berguna serta bisa menjadi teladan bagi diri sendiri dan orang lain. Dhamma harus kita gali sebanyak-banyak agar kita bisa menjadi orang yang benar, orang yang menjadi teladan bagi masyarakat, yang bisa memberikan kontribusi dengan baik.
So, sudah saatnya kita mempraktekkan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai pegangan hidup, sehingga kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga didalam kehidupan kita, dan makluk lain juga akan turut berbahagia. Kadang-kadang kita ingin berubah tetapi sering muncul berbagai kendala misalnya; kemalasan, keragu-raguan dan lain sebagainya. Memang dalam realitanya kendala itu merupakan suatu rintangan yang perlu kita sadari dan perlu kita atasi bukan harus lari darinya.
Rasa malas adalah salah satu benturan yang sangat kuat didalam keseharian kita. Sebetulnya, menghilangkan rasa malas bukanlah sesuatu yang sangat sulit, dan bukan pula susuatu yang sangat mudah. Semua itu membutuhkan semangat dan tekad kita, dan yang paling penting adalah kesabaran kita. Ketika kita sabar dalam menghadapi segala sesuatu maka kita yakin apa yang menjadi target kita akan tercapai. Asalkan kita mau menyadari dan merenungkan bahwa diri kita adalah manusia biasa.
Tetapi apakah kita pernah merenungkan bahwa kita adalah manusia? Jawabannya hanya ada didalam diri kita masing-masing. Disinilah pentingnya kita menerapkan suatu motivasi yang sangat luar biasa, yang bisa mendorong agar diri kita bisa menerapkan apa yang seharusnya diterapkan. Sebetulnya semua orang mempunyai motivasi, hanya saja kita sendiri yang tidak mau tahu, dan bahkan kita tidak mau tahu.
Apabila setiap orang bisa mengetahui motivasi yang ada, maka orang tersebut akan menjadi kuat dalam menghadapi benturan-benturan dan menjadi teguh dalam kehidupannya, dan mereka akan berangsur-angsur menjadi orang yang baik. Seseorang yang menjadi baik atau tidak, tergantung pada diri sendiri bukan pada diri orang lain. Diri kitalah yang membuat suci atau tidak suci atas diri kita sendiri.
Contoh konkretnya ada pada diri Bhante Ananda, Pendamping Buddha atau Buddha Uppatakkha, yang selalu mendampingi Buddha kemana Beliau pergi. Tetapi Bhante Ananda tidak bisa merealisasi tingkat kesucian tertinggi ketika Buddha parinibbana. Mengapa kesucian arahat, beliau realisasi setelah Buddha Parinibbana? Disini Nampak dengan jelas bahwa tingkat kesucian bhante Ananda adalah hasil usaha beliau sendiri, bukan karena Buddha beliau dapat merealisasi Nibbana. Demikian juga atas diri kita, semua tergantung atas diri kita, kitalah penentu diri kita. So, kita harus berani mengubah tindakan-tindakan kita dan berusaha dengan penuh semangat menerapkan Sila (moralitas) sebagai dorongan batin kita.

Tumbuhkan Metta didalam Diri kita

Metta adalah cinta kasih yang universal, cinta yang tidak memandang ras, agama dan suku. Untuk mewujudkan metta (cinta kasih), banyak sekali umat Buddha yang menunjukkan aktivitas mereka demi memancarkan metta dan bahkan ada yang memperingatinya sebagai hari Metta, yaitu pada 1 Januari. Penyaji tidak tahu dari mana sumber itu, apakah dari Sutta atau dari Vinaya. Kayaknya penyaji belum menemukannya.
Banyak lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh umat, seperti melepas makluk (Fang Shen), tetapi dalam kenyataannya hanya sebagai simbolisasi saja, karena ketika makluk itu mau dilepas banyak makluk yang mati ketimbang yang dilepas karena ritualnya terlalu lama.
Mengapa kita hanya selalu mengutamakan binatang-binatang saja yang kita cintai? Tetapi saudara-saudara kita, manusia, yang butuh kasih sayang dari kita, tidak pernah kita hiraukan sama sekali, tetapi justru saling mengejek, membenci, irihati, mencurigai, dan selalu mencari kesalahan mereka.
Mengapa demikian? Kita harus tahu kelemahan kita bahwa ternyata kita hanya mementingkan salah satu pihak saja tetapi pihak-pihak yang lain tidak pernah kita pahami. Tunjukkan kepedulian kita kepada mereka bukan hanya kepada binatang-binatang yang selalu kita identikan untuk mewujudkan cinta kasih kita. Ada juga yang sosialisasi kepada masyarakat, dengan membagi-bagikan barang kepada mereka yang membutuhkan.
Apakah perbuatan itu hanya bisa kita lakukan pada saat hari yang disebut Metta itu? Tentu saja tidak bukan? Percuma kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan itu hanya setiap tanggal 1 Januari saja tetapi dihari lain kita selalu melanggar sila, terutama sila-sila dalam Pancasila Buddhis. Banyak sekali perbuatan –perbuatan yang baik yang seharusnya kita lakukan setiap saat. Janganlah cinta kasih kita muncul disaat hari yang disebut Metta saja.
Memang ada sebuah anggapan bahwa masih untung ada satu hari dalam setahun kita berbuat seperti itu daripada tidak pernah sama sekali. Semua itu memang benar dan tidak dapat dipersalahkan, tetapi apakah kita hanya hidup disaat tanggal yang ditetapkan itu? Tentu saja tidak bukan? Dan kelahiran kita kali ini sudah pasti bukan yang pertama kali, kita terlahir sudah berulang-ulang kali sebelum saat ini. Memang keliatannya mudah untuk mengembangkan cinta kasih, namun dalam prakteknya tidak seperti yang kita bayangkan.
Kita membutuhkan semangat dan kesabaran yang tinggi. Seperti kata para guru, bahwa zaman ini adalah zaman dimana kita sulit untuk melakukan kebaikan karena banyak sekali tantangan-tantangannya. Perbuatan-perbuatan yang kita perbuat selalu menimbulkan kesengsaraan makluk dan orang lain, karena rasa egois yang tinggi, kita tidak peduli apakah perbuatan kita itu merugikan atau tidak? Yang penting kita senang, begitu kan??
Kita tidak boleh hanya untuk mementingkan diri sendiri saja, kepedulian sosial kita perlu kita tingkatkan, dan kepedulian itu masih banyak dibutuhkan oleh saudara-saudara kita bukan hanya identik dengan binatang – binatang saja. Kita harus mensosialisasikan kepada mereka yang membutuhkan. Barangkali dengan cara itulah, kita akan semakin berkembang dalam mewujudkan cinta dan kasih sayang kita kepada semuanya, dan secara otomatis kita telah berkembang didalam Buddha Dhamma.
Rasanya tidak salah apabila kita selalu mengikuti Jalan yang Buddha ajarkan. Dengan penuh kesadaran, walaupun banyak cacian, ejekan, sindiran, makian, bahkan fitnahan, kita harus menghadapinya dengan cinta dan kasih sayang kita. Kita harus bisa merenungkan bahwa orang-orang yang selalu memfitnah, mengejek, memberitakan sesuatu yang tidak benar, mencela, memprovokasi orang lain, dan selalu menyalahkan kita, anggap sebagai guru yang sedang mempraktekkan atau sedang memberi contoh, bagaimana caranya melanggar Sila?
Semua itu adalah pelajaran untuk kita renungkan, kita harus belajar dari semua itu. Apabila kita sudah memahami sungguh-sungguh bahwa dengan marah berarti kita telah menghambat cara praktek kita, maka ketika kita ingin marah, kita harus merenungkannya terlebih dahulu. Kita harus bisa menaklukkan rasa marah, benci, dengki, dll dengan cinta dan kasih yang lembut yang kita miliki, maka kita akan bisa hidup bersama-sama tanpa ada rasa ego yang muncul.
Maka saat inilah kita harus INTROSPEKSI DIRI dan selalu memupuk benih kebajikan setiap saatnya. Semoga dengan mempraktekkan Dhamma yang benar kita akan menjadi umat Buddha yang sejalan dengan Ajaran Buddha.
ORANG HEBAT ADALAH ORANG BIASA YANG MEMPUNYAI KOMITMEN YANG LUAR BIASA. The more you do the more you will get….semoga semua makluk berbahagia


Penyaji: Khemanando Bhikkhu

Baca selengkapnya...

Ted Kennedy's Leadership Lessons

Senator Edward M. Kennedy, whose loss America is mourning, was no darling of the traditional big business community. He fought for the little guy, for children, for the poor and disadvantaged, sometimes against establishments and elites.
But as a leader, he was greatly admired across the political spectrum. Even those who disagreed with his politics can draw inspiration from his life. From knowing and observing him, I choose four leadership lessons I hope executives will take to heart.
Remember that performance is everything. No one is entitled to a position. When Ted Kennedy won his Senate seat for the first time during the Presidency of his brother, Jack Kennedy, critics said that he inherited his position in the family business and bought his way into the Senate through favoritism. Critics dismissed him as a weak younger brother who would be merely a celebrity Senator. How wrong they were. Ted Kennedy's route to the Senate stopped mattering once he began performing for his constituents and collaborating with his colleagues.
Kennedy did not rely on dynasty as destiny. He rolled up his sleeves and mastered the details, and he kept studying and learning as the issues changed. No one is entitled to a top executive position; everyone has to earn it through his or her deeds, and each is only as good as his or her command of the issues. When Mitt Romney challenged Kennedy for his Senate seat in 1994, the pivotal moment of their debate — which probably won Kennedy re-election — involved Kennedy pressing Romney for specifics on his health care plan, with Romney finally admitting he hadn't worked out all the details. "Well that's what you have to do with legislation," the Senator replied. Kennedy knew the job. His career rewards followed from his service. His career rewards followed from his service.
Even when Kennedy could not move the needle forward on really big change (health care reform), he supported incremental improvements (children's health insurance), which meant that he survived in office long enough for his big agenda to come close to being enacted.
Find a higher purpose. Think values first, and suspend ego.Ted Kennedy believed in public service as an honorable profession and in government as a vehicle for helping all citizens get their chance for high quality of life. Once he found his core mission (after losses and setbacks), it was clear where he stood and who he stood for — other people who needed a voice because they couldn't always speak for themselves.

This was not about Ted Kennedy or his ego. He was known for humility, graciousness, and geniality in the Senate; he was not engaged in partisan contests to win for the sake of winning. The goals were so important that he was willing to work with political opponents to reach agreement on measures that served the people. His work with Republican Senator Orrin Hatch was a model for collaboration that transcended ideological disagreements. He supported President Bush's No Child Left Behind legislation for school reform; the cause of children was so important that he would rather compromise and get a little something done than prevent any action. Negotiating by calling on higher principles made him effective with principled members of the other party.

Business leaders who operate from a sense of values and purpose — a theme of my new book SuperCorp — are similarly able to win adherents and negotiate better deals, because they suspend ego in support of a cause larger than themselves. By working for others rather than scrambling for career advantage, they enhance their own reputations. And the work is more important than title or position. Ted Kennedy will go down in history as the Lion of the Senate and one of the most important figures of our time, although he was not the President, nor even the "CEO" of the Senate or his party. His mission gave him moral power as important as position power.
Keep going. Ted Kennedy faced numerous public crises, any one of which could have destroyed him, yet he proved resilient and able to learn. Through strong efforts on behalf of the greater good, he restored confidence in his leadership. The still-mysterious incident at Chappaquiddick in which a young woman drowned nearly drowned his career, too; far from showing courage, he ducked accountability. But Kennedy bounced back by redoubling his efforts to do his job well. He fumbled in his bid for the Democratic Presidential nomination in 1980, but recovered by devoting even more energy and passion to his work in the Senate.
Never forget family. The hard-working Kennedy was a model for executive dads. De facto father to several touch-football-game's worth of children (his own and those of his late brothers and formidable sisters), he organized weekend outings to Civil War battlefields and made sure they studied their history lessons. Family was at the center of his satisfaction in life. At the Kennedy compound at Hyannis Port, which I toured with him, he showed pictures of the late President John F. Kennedy and late Attorney General Robert Kennedy and talked of them as if still alive. The consummate professional whose greatness grew every year was still, at heart, a family man. His concern for relationships, and the love that guided his family through numerous tragedies, gave him the strength to take on tough challenges.

Business leaders should heed that lesson above all: Performance, mission, and endurance are possible because the people we support and care about also support us.


Rosabeth Moss Kanter

Baca selengkapnya...

Mengolah Kebakaran Menjadi Keteduhan

Kebakaran, kebakaran, kebakaran, mungkin itu ekspresi panik setiap manusia yang rumahnya sedang terbakar. Tanpa ada kesempatan untuk beristirahat jernih barang sebentar. Hal serupa juga terjadi dalam peradaban manusia. Di mana-mana terjadi kebakaran. Jangankan pengusaha dan politisi yang memang dari asalnya sudah dibakar uang dan kekuasaan, para intelektual, seniman, bahkan dalam beragama pun banyak manusia terbakar. Jangankan negara berkembang yang baru-baru mengenal pendidikan dan demokrasi, Amerika Serikat yang duduk lama sebagai guru dunia mengalami ribuan kasus pelecehan agama setiap tahunnya.
Sebagai akibatnya, sejarah seperti bergerak dari satu kebakaran ke kebakaran yang lain. Bunda Theresa punya pendapat menarik dalam hal ini: The problem of the world is that we draw too narrow line on our concept of family. Tidak saja dalam konsep keluarga manusia mengalami penyempitan dan kepicikan, nyaris dalam segala hal terjadi penyempitan dan kepicikan. Dulu, hubungan sepupu itu dekat. Sekarang, banyak orang yang bersaudara kandung pun menjadi demikian jauh. Dulu, demikian mudah membuat keputusan untuk kepentingan bersama. Sekarang, yang sederhana pun dibikin rumit. Sebagai hasilnya, terlalu banyak titik api dalam kehidupan manusia.
Api menjadi air
Salah satu perlambang alam yang membawa kesejukan adalah air. Secara kimiawi dirumuskan dengan H20. Hidrogen adalah bahan yang mudah terbakar. 0ksigen adalah yang memungkinkan kebakaran terjadi. Uniknya, ketika dua bahan yang sama-sama dekat dengan api ini diramu secara tepat, ia menjadi air yang sejuk, teduh, lembut.
Ini memberi inspirasi, lingkungan boleh penuh kebakaran, zaman boleh berputar dalam putaran yang banyak apinya, namun bila semuanya diolah secara tepat, manusia pun bisa mengalami hidup yang penuh keteduhan, kesejukan. Perhatikan banyak manusia yang tekun berlatih di jalan spiritual (dzikir, kontemplasi, yoga, meditasi dll), sebelum berlatih banyak yang hidupnya terbakar. Namun begitu bahan-bahan kehidupan yang membakar itu diolah dengan latihan spiritual, banyak yang hidupnya jadi teduh, sejuk dan lembut.
Pema Chodron dalam When things fall apart adalah sebuah contoh indah. Setelah mengabdi lebih dari dua puluh tahun sebagai ibu rumah tangga, tiba-tiba hidupnya terbakar oleh perceraian. Kebakaran ini kemudian membawa ia berkenalan dengan meditasi. Di pusat-pusat meditasi umumnya, tangga pertamanya adalah etika dan tata susila. Ketekunan latihan yang dibimbing etika kemudian menghantar seseorang mengalami konsentrasi (samadhi). Ia yang sering mengalami konsentrasi, di suatu waktu dibukakan pintu sejuk kebijaksanaan. Dalam pengalaman Pema Chodron, tidak saja hidupnya jadi sejuk dan lembut, bahkan diakui sebagai salah satu meditation master.
Thich Nhat Hanh dalam retretnya pernah cerita sampah dan bunga. Manusia-manusia yang terbakar punya ciri yang sama: serakah mau bunga, mencampakkan sampah. Menerima teman membuang musuh. Teman ibarat bunga, musuh ibarat sampah organik. Bunga yang tidak terawat baik besok jadi sampah. Sampah (asal bisa merawatnya) akan menjadi bunga.
Cara terbaik mengolah sampah kehidupan menjadi bunga indah kehidupan adalah dengan menerapkan etika dan tata susila. Hentikan kejahatan, perbanyak kebajikan, murnikan pikiran. Tidak kebetulan kemudian kalau kata sila dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang membuat seseorang jadi sejuk dan lembut.
Tidak sedikit guru yang menyebut ini sebagai jantungnya spiritualitas: bersihkan batin dari segala kekotoran (keserakahan, kemarahan, kebencian) kemudian lihat dan rasakan sendiri bagaimana pintu keteduhan terbuka.
Memberikan itu menyejukkan
Menyusul berita perampokan disertai pembunuhan di Jawa Tengah, seorang guru di Mendut ditanya muridnya apakah beliau mengenal korban perampokan. Dengan lembut dan sejuk guru ini berespon: “Sakit fisik (sebagaimana dialami korban perampokan) menimbulkan rasa kasihan. Sakit mental (sebagai sebab seseorang merampok) menimbulkan kebencian. Baik rasa kasihan maupun kebencian, dua-duanya kekotoran batin. Pancarkan sinar kasih pada keduanya”. Inilah ciri manusia yang sudah bisa mengolah kebakaran menjadi keteduhan: tidak serakah memilih baik di atas buruk, kemudian memancarkan sinar kasih kepada siapa saja.
Dalam terang pemahaman seperti ini, masalah memang akan datang, godaan juga akan berkunjung, namun yang penting adalah bagaimana mengolahnya. Dan Thich Nhat Hanh mengajarkan, ketika hidup penuh bunga (baca: kaya, dipuja), jangan lupa semua bunga akan jadi sampah. Bila hidup penuh dengan sampah (baca: cacian, hujatan), ingatlah untuk mengolahnya menjadi bunga.
Di tangan-tangan manusia yang sudah cermat mengolah sampah jadi bunga, tidak setitik debu kehidupan pun yang tidak berguna. Larry Rosenberg bahkan memberi judul karyanya Living in the light of death. Dalam batin jenis ini, bahkan kematian pun menjadi cahaya penerang perjalanan. Perhatikan kesimpulan Larry Rosenberg: “the awakened mind is the mind that is intimate with all things“. Batin tercerahkan adalah batin yang bersahabat intim dengan semuanya termasuk dengan kematian.
Seorang wartawati Amerika yang bertugas ke Israel, pernah berjumpa orang yang berdoa menghadap tembok pagi-sore tanpa henti setiap hari. Ketika ditanya sudah berapa lama berdoa seperti ini, dengan tenang ia menjawab sudah lebih dari dua puluh lima tahun!. Tatkala ditanya hasilnya, dengan meyakinkan ia bergumam: ‘ada yang berdoa saja dunia seperti ini, tidak kebayang wajah kehidupan bila tidak ada yang berdoa’. Inilah wajah lain batin yang sejuk: berdoa untuk keselamatan semua.
Sejumlah sahabat bertanya, ada apa di Bali sehingga mudah sekali menimbulkan kedamaian. Sebagaimana diajarkan tetua di Bali, hidup adalah persembahan. Untuk itulah, mengerti tidak mengerti, berbuah tidak berbuah, ribuan orang Bali melakukan persembahan setiap hari. Tidak hanya sesajen dihitung sebagai persembahan, bertani, menari, memukul gamelan, semuanya adalah persembahan.
Dalam klasifikasi sederhana, persembahan luarnya (outer offering) adalah sesajen. Persembahan dalamnya (inner offering) adalah pikiran, kata-kata dan tindakan yang teduh. Persembahan terdalam (innermost offering) hanya boleh diceritakan antara para guru. Yang boleh dibuka hanya batin jadi teduh. Charlotte Joko Beck dalam Nothing Special menyimpulkan: practice is giving. Memberikan itu menyejukkan. Itu sebabnya, manusia berlatih berbahagia dalam memberikan.


Gede Prama

Baca selengkapnya...

Senin, 31 Agustus 2009

Perekonomian Multi-Faktor

Pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,4% pada triwulan I-2009 dan kemudian turun menjadi 4% pada triwulan II-2009 merupakan fakta yang justru mengharuskan kita untuk kembali menengok makna penting aspek multi-faktor penggerak dinamika perekonomian. Bagaimana pun, proses menuju terciptanya pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari kontribusi faktor Sumber Daya Manusia (SDM), modal, kewirausahaan dan peran kondusif jejaring birokrasi pemerintahan. Faktor-faktor tersebut niscaya untuk hadir sebagai pilar penentu pertumbuhan sektor per sektor dalam perekonomian. Tanpa adanya kejelasan peran akan faktor-faktor ini, maka sulit membayangkan adanya pertumbuhan ekonomi dalam konteks sektor per sektor.

Mengacu pada kategorisasi BPS, maka terdapat sembilan sektor dalam perekonomian nasional. Sektor-sektor tersebut adalah: (1) Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, (2) Pertambangan dan penggalian, (3) Industri pengolahan, (4) Listrik dan air bersih, (5) Konstruksi, (6) Perdagangan, hotel dan restoran, (7) Pengangkutan dan komunikasi, (8) Keuangan, real estat, dan jasa perusahaan, serta (9) Jasa-jasa. Dengan memerhatikan kategori sektoral ini, penurunan pertumbuhan ekonomi antara triwulan I-2009 dan triwulan II-2009 mencuatkan pertanyaan krusial: faktor apa sesungguhnya yang lemah sehingga pertumbuhan ekonomi nasional mengalami penurunan?
Data BPS menunjukkan, pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian turun dari 9,07% pada triwulan I-2009 menjadi 8,80% pada triwulan II-2009. Pada periode yang sama, pertumbuhan industri pengolahan turun dari 27,29% menjadi 26,57%, pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran turun dari 13,38% menjadi 13,31%, pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi turun dari 6,47% menjadi 6,37%, sedangkan pertumbuhan sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan turun dari 7,59% menjadi 7,29%. Dengan demikian, dari sembilan kategori sektoral, sebagian besar sektor-sektor dalam perekonomian nasional selama triwulan II-2009 dihantam oleh penurunan tingkat pertumbuhan dibandingkan dengan perkembangan selama kurun waktu triwulan I-2009.
Sektor-sektor yang tidak mengalami penurunan dalam dua momentum waktu tersebut adalah: (1) sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, (2) sektor listrik dan air bersih, (3) sektor konstruksi, dan (4) sektor jasa-jasa.

Soliditas Per Sektor
Namun sebuah catatan yang mendesak untuk dengan segera dikemukakan terkait erat tidak sederhananya proses menuju terciptanya pertumbuhan ekonomi. Soliditas setiap sektor merupakan penentu kualitas pertumbuhan ekonomi. Misalnya sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang digambarkan mengalami peningkatan pertumbuhan dari 15,63% pada triwulan I-2009 menjadi 15,64% pada triwulan II-2009, sesungguhnya tidaklah mengambarkan adanya soliditas pada tingkat sektoral. Sebagaimana ditujukkan oleh data tahun 2006, sektor ini adalah yang terbanyak menyerap tenaga kerja. Dari total tenaga kerja yang mencapai 95.456.935 orang, 42,05% bekerja di sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan.
Dengan fakta ini, tampak sepintas lalu bahwa pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan sektor yang mampu menyanggah daya tahan perekonomian nasional. Hanya saja, sektor ini tidak memiliki tingkat keunggulan kompetitif memadai. Dengan kemampuan menyerap jumlah tenaga kerja hingga 42,05% dari total tenaga kerja nasional, kontribusi sektor ini terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) ternyata berada pada peringkat ke-8, yaitu hanya 3,36%. Dengan memperbandingkan kecilnya kontribusi terhadap PDB dan besarnya daya serap terhadap tenaga kerja, maka dapat disimpulkan bahwa Produktivitas Relatif (PR) sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan berada pada tataran memprihatinkan, yaitu hanya 0,08%. Dengan demikian berarti, sektor ini merupakan pilar yang rapuh untuk bisa mendukung daya saing perekonomian nasional. Dengan kata lain, pertumbuhan sektor ini bukanlah refleksi dari adanya soliditas sektoral dalam maknanya yang kongkret.
Secara skematik, PR sama dengan PDB sektoral dibagi Tenaga Kerja (TK) sektoral (PDB : TK = PR). Rendahnya PR sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang sedemikian rupa itu bahkan merupakan kecenderungan yang telah berjalan sejak lama. Pada tahun 2004, misalnya, PR sektor ini mencapai 0,07%. Sedangkan pada tahun 2005, PR sektor ini mencapai 0,06%. Pertanyannya, apa makna kenyataan ini manakala disimak berdasarkan perspektif sosiologis? Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja pada satu pihak, ternyata bukanlah basis yang dapat diandalkan untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang lebih menyeluruh seperti pengentasan kemiskinan pada lain pihak.
Sangat bisa dimengerti kemudian, mengapa dari tahun ke tahun cenderung muncul persoalan displacement pada kegiatan usaha pertanian. Tenaga-tenaga produktif bidang pertanian cenderung berburu pekerjaan dan peruntungan di wilayah-wilayah urban, sehingga memperbesar tekanan urbanisasi. Atau, mereka memilih menjadi pekerja migran di mancanegara.

Multi-Faktor
Dalam situasi belum beresnya upaya mewujudkan soliditas sektoral itu, perekonomian nasional Indonesia juga diperhadapkan dengan persoalan inkoherensi antar-faktor. Baik faktor SDM, modal, kewirausahaan dan peran pemerintah tidak berada dalam spektrum yang sinergis satu sama lain. Catatan tentang sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan di atas justru membawa kita pada kesimpulan terlampau besarnya beban sektor tersebut untuk hanya menjadi bamper bagi ledakan tenaga kerja. Tragisnya, sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan tidak cukup mendapatkan perhatian untuk meraih dukungan faktor modal, kewirausahaan dan dukungan dari faktor pemerintah.
Ke depan, sangatlah tidak memadai manakala hanya menyimak angka-angka pertumbuhan ekonomi. Bahkan, penurunan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi secara statistikal menjadi kehilangan makna jika dengan parade pertumbuhan itu tidak ada penjelasan secara saksama perekonomian multi-faktor.
Dalam kaitan konteks dengan pertumbuhan ekonomi, fokus kita dari sejak sekarang bukan saja menakar kapasitas sektoral dalam memberikan kontribusi pada pembentukan PDB. Di atas segalanya, haruslah ada telaah secara mendalam terhadap bekerjanya faktor SDM, modal, kewirausahaan dan peran pemerintah terhadap perkembangan seluruh sektoral dalam perekonomian nasional.
Sebagai faktor fundamental penentu perkembangan sektoral, maka SDM, modal, kewirausahaan dan peran pemerintah harus memasuki fase reka ulang, yaitu agar sepenuhnya berkualitas. Sebagaimana terjadi sejak era Orde Baru, perekonomian bangsa ini menuntut adanya input factor berkualitas. Namun hingga Orde Baru "turun panggung", perekonomian bangsa ini tidak sepenuhnya didukung oleh kehadiran input factor berkualitas. Bukan saja, kualitas SDM kita tergolong rendah saat diharapkan mampu mendukung perkembangan sektoral untuk mencapai kemajuan secara signifikan, penanaman modal asing didistorsi oleh transfer negatif kekayaan nasional, kewirausahaan berpijak pada kapitalisme semu dan jejaring birokrasi pemerintahan menjadi lahan subur tumbuhnya nepotisme, kolusi dan korupsi.
Pada akhirnya kita harus kembali mempertimbangkan hakikat dan logika kepemimpinan nasional. Bahwa tidaklah cukup dan tidaklah memadai manakala kepemimpinan nasional semata memandang penting pertumbuhan ekonomi dengan hanya menyimak aspek makro kontribusi sektoral terhadap pembentukan PDB. Sudah saatnya kepemimpinan nasional bekerja menyelesaikan seluruh masalah yang berkerumuk dalam faktor SDM, modal, kewirausahaan dan jejaring birokrasi pemerintahan. Kalau kepemimpinan nasional kini dan di masa depan yang dekat gagal penyelesaian masalah-masalah ini, apa lalu bedanya dengan kepemimpinan nasional era Orde Baru. Apa bedanya?


Businessnews

Baca selengkapnya...

In Simplicity We Trust

Have you ever filled out an application form that was so long and complicated as to be almost unintelligible? Or one that asked for your date of birth in one place and your age in another, and then required you to sign your name over and over again (and also print it out each time)?

If you're a car dealer in the "cash for clunkers" program, you've seen something similar recently in the ten-page application for reimbursement. In fact, many dealers dropped out of the program prematurely because the paperwork was so onerous that it caused a huge backlog in reimbursements, which caused the dealerships to "front" the money for the government.

Why do managers (and government officials) perpetuate these complex, time-consuming, and downright annoying processes? And would it make a difference if they were changed? Here's a quick example of what can happen when managers don't accept complexity.

When Paul van de Geijn was the CEO of Zurich's Global Life Insurance business, he brought his European country managers together for a conference in Barcelona. At the meeting he gave each of them five minutes to fill out the application form for the simplest type of life insurance for his or her country. When nobody was able to fill out the form in the allotted time, van de Geijn convinced his team to start a simplification program that they called "Make Life EaZy". In this program, the Zurich managers looked at every aspect of their business from the perspective of how to make it easier for the customer to understand, purchase, and renew life insurance. The results: In the first year, in the participating countries, sales increased by 7%, re-investment rates (buying new products when old ones mature) went up by 24%, and far fewer customers cancelled policies (all astounding numbers in a low-growth, mature business).

Why did simplicity make such a substantial difference for Zurich? Besides making it easier to do business, simplicity also changed the underlying relationship between the company and its customers. When you ask redundant questions, one of the subtle messages to customers is that we don't trust your answers — we need to ask you the same thing several times in different ways so that we can make sure you're being truthful. Similarly, when you create complicated explanations of products, services, and contracts, customers often feel that you aren't being truthful about what's being offered — otherwise the material would be straightforward and easy to understand. In other words, complexity does more than just waste your customers' time — it potentially undermines the relationship.

But herein lies the opportunity. If complexity causes distrust, then simplicity can foster the opposite — a relationship in which customers want to do business not only because it's easy but also because they trust you. So take a fresh look at your customer contact mechanisms. Do they not only make it easy for the customer to do business with you, but do they make the customer want to do business with you? The answer can make all the difference.

What customer contact mechanisms do you employ to achieve simplicity — and foster trust?


by Ron Ashkenas

Baca selengkapnya...

Tips Agar Uang THR Tak Ludes

Kebutuhan yang meningkat terkadang membuat anda tak sadar tiba-tiba THR langsung lenyap.
Saat menjelang Lebaran, tentunya anda tak sabar menunggu Tunjangan Hari Raya (THR) masuk ke rekening. Kebutuhan meningkat menjelang Lebaran terkadang membuat anda tak sadar tiba-tiba THR langsung lenyap.

Bahkan setelah liburan berakhir, tiba-tiba anda merasa menjadi bangkrut? Apakah kebutuhan sehari-hari yang tiba-tiba sulit anda penuhi?

Parahnya lagi, mungkin anda justru terpaksa berutang pada saudara atau teman setelah bulan sebelumnya anda mendapatkan THR. Lalu kemana larinya uang banyak yang kita peroleh sebelum libur hari raya ini?

Bila kita tidak ingin bangkrut setelah lebaran, caranya adalah menyisihkan atau menabung sebagian dari THR. Tapi mungkinkah THR ditabung? Jawabannya sangat mungkin!

Hal itu dikarenakan pemasukan bersifat terbatas sedangkan kebutuhan dan keinginan bersifat tidak terbatas. Salah satu hal yang menyebabkan seseorang sulit menabung adalah karena kita tidak mempunyai tujuan keuangan.

Tanpa tujuan keuangan yang spesifik, maka tidak ada dorongan atau motivasi untuk mencapai apa yang diidamkan selama ini.

Berikut ini tips dari Citibank agar uang THR anda tidak mudah habis:

Pertama, berusaha menjadi lebih bertanggung jawab. Setiap orang sebenarnya bisa mengatur keuangan pribadi atau keluarganya. Baik anda yang memang sudah pintar menabung, atau anda yang masih punya kebiasaan boros. Sebenarnya bisa menabung, syaratnya mau berusaha.

Kedua, menjadikan menabung sebagai prioritas sebelum berbelanja. Menabung lah sebelum berbelanja keperluan hari raya. Sisihkanlah paling tidak 10 persen dari THR anda.

Ketiga, mempunyai kontrol diri yang ketat. Hindari pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Kalau kita ingin bisa menabung dengan baik, kita harus bisa hemat.

Keempat, memisahkan rekening tabungan dari rekening penerimaan gaji dan kebutuhan harian. Karena bila anda menyatukan tabungan untuk kebutuhan harian dan tabungan untuk tujuan masa datang dalam rekening, maka bisa jadi anda menemui kesulitan untuk menyisihkan sebagaian dari tabungan tersebut.


VIVAnews

Baca selengkapnya...

Minggu, 30 Agustus 2009

Ilmuwan Bisa Ubah Jenis Kelamin Ayam

Peneliti di Murdoch Childrens Research Institute Universitas Melbourne dan CSIRO menemukan kunci genetika yang menjadi penentu jenis kelamin burung. Penelitian seperti itu telah diusahakan ilmuwan selama berdekade.

Dengan memanipulasi embrio ayam dan mengurangi tingkat gen dari DMRT1, para ilmuwan telah dapat mengubah testis menjadi ovarium dan membuat pembalikan jenis kelamin jantan dan wanita.

Dengan 80% genetik sama antara burung dengan manusia, teknologi itu juga dapat digunakan untuk mengeksplorasi gen penyakit manusia.

Peneliti Dr. Craig Smith mengatakan DMRT diperkirakan memainkan peranan kecil pada jenis kelamin manusia, tetapi penelitian mungkin mungkin membantu untuk mengetahui penyebab cacat kelamin.

“Ini merupakan kemajuan dalam memahami determinasi jenis kelamin pada burung dan menyediakan petunjuk bagaimana proses itu berhubungan dari burung dan mamalia” kata Dr. Craig.


Hari YD

Baca selengkapnya...

Perekonomian Dunia Berangsur Keluar dari Resesi Terburuk

Kelesuan ekonomi dunia yang telah dirasakan sejak kuartal terakhir 2008, kini mulai menunjukkan tanda-tanda harapan akan berakhir, tidak hanya di negara-negara kawasan Asia Pasifik, namun juga di kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Negara-negara di kawasan Asia Pasifik dalam pemulihan ekonomi tampak berjalan lebih cepat dari kawasan lainnya di dunia, terutama berkat adanya paket kebijakan stimulus miliaran dolar AS dan permintaan pasar yang tetap kuat dari China.

Negara-negara Asia, seperti China, India, Indonesia, Korea Selatan, dan Vietnam selama resesi ekonomi dunia tetap mampu menjaga pertumbuhan positifnya, meski ada perlambatan.

Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia mulai keluar dari resesi di kuartal kedua tahun ini berkat paket stimulus dan kebijakan moneter sangat longgarnya.

Jika pada kuartal keempat 2008 dan kuartal pertama 2009, perekonomian negeri sakura masing mencatat negatif 3,5 persen dan negatif 3,1 persen, pada kuartal kedua mulai positif 0,9 persen, yang menandakan masa resesi susah memudar.

"Selama ini peran AS sangat penting terhadap pertumbuhan Asia, namun untuk periode ini menjadi kurang penting. Adalah kemampuan negara kawasan Asia menggunakan instrumen kebijakan domestik dan mengambil keuntungan adanya pasar regional yang terus tumbuh telah membantu pemulihan lebih cepat, daripada AS dan Eropa," kata Subir Gokarn, Kepala Ekonom Standard and Poor`s wilayah Asia Pasifik.

Namun demikian ada beberapa negara Asia yang masih terseok-seok merangkak untuk mencapai pertumbuhan positif di antaranya Singapura, Malaysia dan Thailand. Di tiga negara itu masih terlilit kondisi resesi, walau indikator ekonomi menujukkan tren perbaikan untuk kembali ke jalur pertumbuhan.

Singapura diyakini membaik karena produksi manufaktur telah pulih, dengan naik 12,4 persen hingga Juli tahun ini, yang merupakan kenaikan tertinggi selama 12 bulan terakhir.

Perekonomian Malaysia masih dalam kondisi resesi teknikal setelah pada kuartal kedua pada kondisi merosot 3,9 persen, walau lebih baik dari kuartal pertama tercatat penyusutan 6,2 persen, yang merupakan kemerosotan ekonomi pertamakali dalam hampir delapan tahun terakhir.

Hampir sama juga dialami perekonomian Thailand yang pada kuartal kedua masih kontraksi walau sudah berkurang dengan minus 4,9 persen, dibanding kuartal pertama minus 7,1 persen.

Subir Gokarn menilai peran China yang memiliki populasi terbesar di dunia dan mampu menjaga pertumbuhan sekitar delapan persen menjadi lokomotif kawasan Asia dengan permintaan pasar yang besar telah menolong pergerakan ekonomi negara-negara di kawasan Asia lainnya, termasuk negara Asia yang sebelumnya sangat bergantung pada ekspor ke negara Barat.

Eropa membaik

Di Barat sendiri, beberapa negara utama di Eropa yang mengalami resesi mulai menunjukkan perbaikan ekonomi. Berdasarkan data kantor statistik Eurostat, perekonomian Prancis dan Jerman untuk kuartal kedua 2009 telah tumbuh sama masing-masing 0,3 persen, dari kuartal pertama sebelumnya masing-masing negatif 1,3 persen dan negatif 3,5 persen.

Pertumbuhan positif dua negara besar di wilayah yang menggunakan mata uang euro (eurozone) merupakan sinyal positif, walau aktivitas ekonomi di seluruh eurozone yang terdiri atas 16 negara anggota itu masih menunjukkan resesi.

Pertumbuhan di eurozone di kuartal kedua itu masih negatif 0,1 persen, walau angka itu lebih baik daripada kuartal pertama tahun ini yang tercatat pertumbuhan negatif 2,5 persen.

Perusahaan informasi keuangan Markit dalam survei terakhirnya menyebutkan, lepas kuartal kedua ini aktivitas bisnis di eurozone untuk Agustus -- yang ditunjukkan dengan indeks gabungan pembelian dari para manajers -- mengalami perbaikan. Indeks itu telah naik tiga poin menjadi 50, yang berarti pada posisi tengah antara ekspansi dan kontraksi.

Di luar eurozone, masih di Eropa, negeri Ratu Elizabeth untuk kuartal kedua juga masih menunjukkan kondisi resesi ekonomi. Data kantor Eurostat menyebutkan Inggris pada kuartal kedua masih mencatat pertumbuhan negatif 0,8 persen, yang merupakan kontraksi kelima kalinya secara berturt-turut.

Namun angka itu lebih kecil dibandingkan kuartal pertama 2009 yang mencatat negatif 2,4 persen, yang menandakan adanya sinyal pemulihan yang berangsur.

Pada level professional di Inggris sendiri, menurut survei the Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), ada optimisme bahwa resesi negerinya saat ini "pada posisi berakhir".

Melalui pengukuran dengan indeks keyakinan bisnis di Inggris, ternyata ada lonjakan pencapaian dari minus 28,2 persen menjadi positif 4,8 persen, yang merupakan perbaikan kuartalan terbesar sejak survei mulai dilakukan pada 2003.

"Dari indeks tersebut menunjukkan resesi di Inggris Raya `pada tahap berakhir`. Tidak diragukan lagi perekonomian Inggris Raya pada jalur pemulihan, meski kami tidak meremehkan adanya tantangan ke depan untuk bisnis," kata Direktur Pelaksana ICAEW Michael Izaa.

Untuk AS, yang merupakan biang krisis keuangan global terburuk setelah depresi besar 1930-an, menunjukkan prospek kembali pada pertumbuhan dalam waktu dekat.

Untuk kuartal kedua 2009 perekonomian AS masih negatif 1,0 persen, namun sudah lebih baik dari puncak resesi pada kuartal pertama 2009 yang tercatat negatif 6,4 persen.

Ketua bank sentral AS, the Federal Reserve, Ben Bernanke di hadapan para bankir di Jackson Hole, negara bagian Wyoming akhir pekan lalu menyatakan bahwa aktivitas ekonomi AS saat ini mendatar setelah mengalami kontraksi selama setahun sebelumnya.

Kabar positif juga keluar dari para pialang properti di AS yang tergabung dalam National Association of Realtors bahwa penjualan perumahan AS naik 7,2 persen pada Juli. Angka ini merupakan kenaikan bulanan terbesar dalam satu dekade terakhir.

Selama ini kelesuan pasar perumahan dan problem kesulitan pemilik rumah untuk membayar kredit perumahan adalah faktor pemicu krisis ekonomi AS dan kelesuan global yang mengikutinya.

"Pemulihan ekonomi akan berlangsung lambat pada awalnya, dan akan terjadi penurunan tingkat pengangguran secara bertahap dari level tertingginya," kata Bernanke.

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi perekonomian AS akan tumbuh 0,75 persen pada tahun depan, setelah merevisi prediksi sebelumnya bahwa di AS tidak ada pertumbuhan.

Tak diragukan lagi, perekonomian dunia pada paruh kedua tahun ini mulai menggeliat dan satu per satu negara-negara yang terkena resesi mulai menancapkan kakinya keluar dari resesi ekonomi global terburuk ini.(*)


Zaenal Abidin - ANTARA

Baca selengkapnya...

Marie Curie

Ini kisah tentang sosok seorang ilmuwan wanita, Marie Curie, si penemu Radium. Terlahir di Warsawa, Polandia sebagai Marja Sklodowska pada 7 November 1867 (142 tahun lalu), ia menghabiskan masa kecilnya sebagai seorang siswi yang menonjol dalam hal kecerdasannya. Pada 1883, dalam usia 15 tahun Marja berhasil menamatkan sekolah menengahnya dengan mengantungi medali emas sebagai penghargaan atas kecemerlangannya di sekolah.

Masa depan baginya semula sangat suram karena saat itu pemerintah Polandia yang kolot tidak menginjinkan kaum wanita untuk menempuh jenjang pendidikan di universitas. Marja sempat bergabung dengan apa yang disebut sebagai "Universitas Bawah Tanah", sebuah sebutan yang agak aneh untuk kegiatan sekelompok pemuda yang dengan keberaniannya bertekad untuk mempelajari apa saja yang sebenarnya terlarang bagi mereka. Pada masa inilah Marja beserta kakaknya, Bronja memutuskan untuk pergi ke negara lain untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka memilih Paris sebagai tempat menimba ilmu. Bronja berangkat terlebih dahulu, sementara Marja bekerja sebagai pengasuh anak untuk membiayai studi kakaknya. Mereka sudah bersepakat, apabila kelak Bronja sudah menyelesaikan studi dan hidup cukup mapan di Paris, maka Marja dapat menyusul, dan giliran Bronja untuk membiayai kuliah adiknya itu.

Pada 1891, dalam usianya yang 23 tahun, Marja menyusul kakaknya berangkat ke Paris. Ia berhasil memperoleh gelarnya yang pertama dalam bidang Fisika di universitas Sorbonne pada 1893. Setahun kemudian, ia menyabet gelar keduanya dalam bidang Matematika. Pada 26 Juli 1895, dalam usia 27 tahun, Marja menikah dengan Piere Curie, seorang ilmuwan terkemuka yang juga menjabat kepala laboratorium akademi Fisika dan Kimia di kota Paris. Piere bertemu Marja setahun sebelumnya, ketika usianya 35 tahun. Setelah menikah, Marja lantas lebih dikenal sebagai Marie Curie. Sementara itu, ilmu Fisika berkembang dengan pesat. Pada 8 November 1895, Wilhelm Rontgen, seorang ahli Fisika berkebangsaan Jerman berhasil menemukan Sinar-X. Berikutnya, pada 28 Februari 1896, Henri Becquerel, seorang Fisikawan Prancis menemukan bukti bahwa mineral uranium memancarkan sejenis sinar yang tidak kasat mata namun dapat membekas pada pelat fotografi.

Pada 1897, setelah melahirkan anaknya yang pertama, Irine, Marie memutuskan untuk memulai penelitian tentang sinar tak kasat mata yang ditemukan Becquerel sebagai subjek untuk memperoleh gelar doktornya. Dengan melakukan penelitian ini saja, ia sebenarnya sudah mencatatkan sejarah mengingat hingga saat itu di Eropa belum ada seorang wanitapun yang berhasil meraih gelar doktor. Marie melakukan penelitiannya pada sebuah ruangan kecil yang sebagiannya dipakai sebagai gudang di Akademi Fisika dan Kimia kota Paris. Ruangan itu sebenarnya kurang memenuhi syarat sebagai sebuah laboratorium. Hawa didalamnya sangat dingin, lembab dan sangat tidak nyaman. Udara yang dingin juga membuat beberapa perangkat sensor tidak dapat bekerja dengan akurasi yang semestinya.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah menemukan cara untuk mengukur sinar misterius tersebut melalui kuat arus listrik yang ditimbulkannya di udara. Untuk itu, ia dibantu oleh sebuah alat yang diciptakan oleh Piere beserta saudaranya, Jacques. Alat yang disebut elektrometer itu bekerja dengan mengukur arus listrik di udara, seberapapun kecilnya. Becquerel telah membuktikan bahwa sinar yang dipancarkan uranium menimbulkan arus listrik di udara. Dengan memanfaatkan elektrometer, Marie dapat mengetahui intensitas sinar dengan mengukur kuat arus listrik di udara. Marie segera mengumpulkan sampel aneka mineral dan kemudian mengujinya satu demi satu. Dalam beberapa hari ia segera memperoleh hasilnya yang
pertama. Ia segera mengetahui bahwa intensitas sinar misterius tersebut bergantung pada banyaknya kandungan uranium dalam sampel: makin banyak kandungan uranium, maka intensitas sinar makin kuat. Kekuatan sinar juga tidak tergantung pada bentuk maupun kondisi sampel (apakah dalam keadaan basah, kering, panas, dingin, dalam bentuk bongkahan atau serbuk).

Marie kini tahu bahwa memang uraniumlah yang memancarkan sinar tersebut. Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah: apakah ada mineral-mineral lain yang memancarkan sinar yang sama? Setelah meneliti berbagai sampel, ia kemudian menemukan bahwa mineral yang disebut thorium juga memancarkan sinar sejenis. Jelas orang tidak dapat menyebut sinar misterius ini sebagai "sinar uranium". Oleh karena itu, maka Marie menggunakan istilah "radioaktifitas", suatu sebutan yang masih dipakai hingga kini. Penelitian lebih jauh pada sejenis mineral yang bernama pitchblende menunjukkan tingkat radioaktifitas yang sangat tinggi dibandingkan dengan uranium dan thorium. Namun hingga saat itu, unsur yang bertanggung jawab terhadap radioaktifitas masih berupa tanda tanya.

Pada 1898, Piere yang telah menyaksikan segala upaya yang dilakukan isterinya memutuskan untuk ikut terjun membantu penelitiannya. Bersama mereka memisahkan berbagai unsur yang membentuk material pitchblende untuk menemukan unsur yang dicari. Pada 6 Juni 1898, mereka berhasil menemukan sebuah unsur yang kemudian mereka beri nama "Polonium", sebagai penghargaan terhadap Polandia, tanah air Marie. Akan tetapi, bukti-bukti menunjukkan bahwa masih ada unsur lain yang tersembunyi. Unsur yang belum diketemukan itu mereka sebut sebagai Radium.

Mengekstraksi radium dari batuan pitchblende menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Pekerjaan yang mereka mulai sejak 1898 itu baru menampakkan hasil pada 1902. Saat itu, 4 tahun setelah ia pertama kali mengumumkan bahwa radium mungkin ada, Marie akhirnya memenangkan pertempuran dengan keberhasilannya mengekstraksi sepersepuluh gram radium dari batuan pitchblende. Saat itulah, untuk pertama kalinya dunia dapat melihat sumber sinar misterius yang telah dicari selama bertahun-tahun itu. Hasil ini akhirnya membawa Marie untuk memperoleh gelar doktornya pada 1903. Berikutnya, bersama dengan Becquerel, pasangan Piere-Marie Curie memperoleh hadiah Nobel dalam bidang Fisika atas penemuannya mengenai prinsip- prinsip radioaktifitas.

Sayang, penelitian terhadap radioaktifitas ini akhirnya menggerogoti kesehatan Marie. Pengetahuan yang masih minim tentang radiasi membuat Marie tidak menyadari bahaya yang mengintainya. Gas radioaktif berkeliaran dengan bebas didalam laboratoriumnya. Sementara itu, radiasi sinar Gamma berpengaruh buruk terhadap jaringan sumsum tulang dan memicu serangan kanker. Bahkan hingga kini, 100 tahun kemudian, buku-buku catatan penelitian Marie masih sangat radioatif sehingga harus dilindungi oleh lempengan timbal. Setelah melahirkan anak keduanya, Eve, pada 1904, kesehatan Marie terus menurun. Kesedihan juga menimpanya ketika pada 19 April 1906, suaminya Piere meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Di lain pihak, kariernya sebagai ilmuwan terus bersinar. Pada 1906, ia tercatat sebagai wanita pertama yang memberikan kuliah di Sorbonne. Pada 23 Januari 1911, Marie dianugerahi Nobel dalam bidang Kimia (Ia orang pertama yang pernah mendapat hadiah nobel hingga dua kali). Pada 1912, Marie ditunjuk sebagai direktur pada institut radium di Paris. Selama Perang Dunia I (1914-1918) Marie mengatur pengadaan unit-unit sinar-X untuk menangani korban perang, dan mendidik 150 orang operator. Sementara itu, pemahaman terhadap radioaktifitas berkembang dengan pesat, ketika puterinya, Irene, beserta suaminya Frederic Joliot, ilmuwan Fisika berkebangsaan Prancis berhasil menemukan radioaktifitas buatan.

Pada 4 Juni 1934, Marie Curie akhirnya meninggal dunia setelah bertahun-tahun mengidap penyakit akibat terus menerus terpapar radiasi. Setahun kemudian, putrinya, Irene beserta Frederic mengikuti jejak ibunya dengan meraih nobel dalam bidang Fisika. Kelak, sekitar dua puluh tahun kemudian, pasangan suami-isteri ini menyusul Marie ke alam baka, juga karena penyakit akibat paparan radiasi. Radioaktifias terus berkembang, dan digunakan untuk berbagai keperluan. Kita memanfaatkannya untuk terapi radiasi bagi penderita kanker, juga untuk memodifikasi gen tanaman untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul. Buah karyanya juga membuka jalan bagi penemuan tentang struktur dan pengembangan daya nuklir. Sejarah kelak mencatat bahwa nuklir selain dapat digunakan sebagai sumber energi yang efisien, juga dapat dikembangkan sebagai senjata pemusnah massal yang mengerikan dalam masa perang.

Walaupun dikenal sebagai ilmuwan besar, pasangan Piere-Marie Curie hidup dalam kesederhanaan. Sebenarnya mereka bisa saja menjadi kaya-raya apabila mematenkan proses ekstraksi radium temuannya. Tetapi betapapun miskin, mereka tetap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari temuan mereka. Tidak ada sedikitpun yang mereka rahasiakan bagi dunia untuk kepentingan kemanusiaan.


Kompas forum

Baca selengkapnya...

Jumat, 28 Agustus 2009

Renungan Indah

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak
sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....."


W.S. Rendra

Baca selengkapnya...

Kamis, 27 Agustus 2009

What to Do When You're Out of Control

"Ladies and gentleman, this is your Captain speaking. We have a situation." And with those words, the saga of my aborted flight from New York to Dallas began. The captain told us we had an "equipment problem" that required we make an emergency landing at Washington Dulles, the nearest airport. But, he continued, the plane was too heavy to land safely; we had to shed fuel. So we would fly around in a circle for 45 minutes and land as soon as we were light enough.
I was sitting at the front of the plane and made eye contact with the flight attendant.

"What's the problem?" I mouthed.
"I don't know," she responded with the hint of a shrug, "they won't tell us."
"If we're going to fly for 45 minutes, can't he fly toward Dallas instead of in circles?" I asked. She smiled and looked down.
So we circled. If you had taken a picture of us before the announcement and another one after, you would have had difficulty telling the difference. People were reading, listening to music, talking softly.

But in fact, everything had changed. Our level of anxiety had skyrocketed. We were on a plane that was stuck in the air, unable to land but apparently unsafe to fly for a reason none of us but the pilot knew, and there was nothing we could do about it.

It occurred to me how psychologically similar this circumstance was to so many others we experience. We were stuck in a situation in which we are not in control and cannot immediately escape. Like the economy. Or at times, our company or our team.
This plane was a lab and we were the rats. How do we respond when we are stuck, vulnerable, nervous, and have no positional power?
Unfortunately there was nothing to observe. What I needed was a stimulus. Something to bring people's reactions to the surface. Something like ... a screaming baby.
The baby in the seat behind me generously accommodated. He let out a sharp cry, followed by waves of wailing. His mother tried to soothe him — shushing, gently tapping on his back — but the screeching only got louder.
Let the games begin.
Sitting across the aisle from the mother was a woman, probably in her 60's who became increasingly annoyed. She glared. Sighed loudly. And finally, in a "whisper" to her seatmate that was clearly meant to be heard said, "Can't that woman control her baby?" Her seatmate smiled awkwardly without looking up from her magazine.
"I think I've figured out what's wrong." The man sitting next to me who had been staring out the window now turned to face me. "It's a problem with the wheels. They just let the gear down and we're way higher than 1,000 feet. Must be a problem with the landing gear." He proceeded to talk to me about the mechanics of an airplane and what would happen in a crash landing with inoperative wheels.
I turned to look down the aisle just in time to see one woman cry out, say something about the baby, and beat her magazine on the back of the seat in front of her. Unfortunately for the man sitting there, she hit him on the head. When he turned in utter surprise, she started babbling out an apology. I kid you not.
There were, of course, many others — most people on the plane — who didn't have any observable reaction.
Then the woman sitting next to the mother offered to hold the baby for a few moments, to provide the mother a little relief. I turned in time to see the mother smile — it didn't appear that they knew each other — pass the baby, thank her profusely, and shut her eyes. The baby continued to cry, but everyone else settled down a bit.
In a few short minutes I'd observed many of the common reactions to frustration during stress. While each of the responses might be psychologically useful, one came out the clear winner. What would life be like if more of us offered to hold the baby?

Someone on your team is consistently unprepared at meetings. You're not the leader so you can't declare it unacceptable. What do you do? You could complain to others or roll your eyes or try to ignore it. Or you could hold the baby: partner with him on a project, offer to prepare with him, or share ideas before the next meeting.
One of your colleagues is overworked, stressed, seemingly unproductive, and making your team look bad. On top of that, she's constantly complaining about how much harder her job is than yours. Annoying right? You'd be justified in gossiping about her or simply letting her fail. But what if you offered to help? Maybe even stayed late one night working with her?
Your company comes out with a new technology initiative that seems to make everyone's lives more complicated. Yet they say it's necessary. It's so easy to complain about it. Or to nod along with others when they complain about it. But what if you learned enough about it to help the people who were struggling with it?
In situations in which we may have no positional authority — we're not the leader, we don't have all the information, we can't make the decisions, we aren't in control — we still have power: the power to influence our own experience and, sometimes, the experiences of others. Holding the baby gives us something useful to do. It makes us and others feel good. It might even help solve the problem. What's important is to remember that it's always a choice.
35 minutes after his first announcement, the Captain told us we had been cleared to land. I looked out the window and saw the flashing lights of ambulances and fire trucks lining the runway. The man next to me, having already described all the possible ways we might die, gave me a see, I told you it was bad look. I tightened my seat belt.
The wheels touched the ground. Nobody moved. Would the plane stop? The engines roared and the plane slowed. Everyone burst into applause. We had landed gently and easily.
Our saga, and my experiment, was over.
Then the airline representative explained the procedures for getting rebooked on another flight, and people started jockeying for a place on line and speaking loudly on cell phones to their travel agents. One woman started to plead for a spot on the next flight. People around her started to roll their eyes.
Let the games begin.


Peter Bregman

Baca selengkapnya...

Cara Berpikir

Dalam ujian Fisika di Universitas Copenhagen, penguji bertanya kepada seorang mahasiswa, "Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer." Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang pada leher barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi pencakar langit."

Jawaban yang luar biasa orisinilnya ini membuat pemeriksa ujiannya begitu geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak diluluskan. Si mahasiswa naik banding atas dasar bahwa jawabannya tidak bisa disangkal kebenarannya, sehingga universitas menunjuk seorang arbiter yang independen untuk memutuskan kasusnya.

Arbiter menyatakan bahwa jawabannya memang betul-betul benar, hanya saja tidak memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Untuk mengatasi permasalahannya, disepakati bahwa sang mahasiswa akan dipanggil, serta akan diberikan waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang menunjukkan paling tidak sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai prinsip2 dasar ilmu fisika.

Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, sampai dahinya terlihat berkerut. Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah sangat terbatas, yang mana sang mahasiswa menjawab bahwa ia sudah memiliki berbagai jawaban yang sangat relevan, tetapi tidak bisa memutuskan yang mana yang akan dipakai.

Saat diingatkan hakim untuk ber-buru2, sang mahasiswa menjawab sebagai berikut:
"Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar langit. Lemparkan melewati pinggir atap, dan ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa dihitung dari rumus H = 0.5g x t pangkat 2. Tetapi ya sayang barometernya menjadi rusak."

"Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi barometer, tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah itu, ukurlah panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan aritmatika proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian pencakar langitnya."

"Tapi kalau anda betul-betul ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat seutas tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seolah pendulum, pertama di permukaan tanah kemudian saat diatas pencakar langit. Ketinggian pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan gravitasi T = 2 pi akar dari (l/g)."

"Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat yang eksternal, akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya barometer sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi pencakar langit = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding pencakar langit."

"Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya anda akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap pencakar langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari milibar ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan."

"Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila anda menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada anda jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."

Sang Arbiter termangut-mangut mendengarkan penjelasan si Mahasiswa yang berapi-api.

Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr. Dia dikenal sebagai satu- satunya warga Denmark yang memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.

Lihat, tidak perlu berpikir rumit bukan?


Sumber : Kompas forum

Baca selengkapnya...

Geser Dikit !

Ada seorang bapak yang sedang berkunjung ke rumah anaknya yang baru saja menempati rumah baru. Pagi itu sang bapak menikmati terbitnya matahari pagi. Ternyata ada pohon yang cukup besar menghalangi pandangannya. Sang bapak memanggil anaknya dan mengatakan, 'nak tolong tebang saja pohon ini sebab menghalangiku menikmati indah sinar matahari pagi.'

'Bapak, kenapa harus dipotong ? Bukankah bapak cukup menggeser tempat duduk saja,' kata anaknya.

Sang bapak menggeser tempat duduknya dan terlihat matahari pagi, 'Oh ya..kamu benar nak,' jawabnya.

Begitulah kita seringkali beranggapan masalahnya ada diluar tanpa berani mengatakan sebenarnya masalahnya ada di dalam diri kita sendiri yaitu cara berpikir kita.

Cara kita memandang masalah sebenarnya sumber dari masalah. Menggeser sedikit cara pandang kita berarti menyelesaikan masalah.

Seperti cerita diatas, sang bapak tidak perlu menebang pohon, akan butuh berapa banyak biaya yang dikeluarkan sementara hanya dengan menggeser tempat duduk masalahnya menjadi selesai.

Itulah sebabnya cara pandang seseorang merupakan cerminan dari kehidupan yang dijalaninya.
cara pandang yang sehat, maka akan membuat perkataan kita menjadi sehat.

Melalui perkataan yang sehat dan baik, maka akan timbul tindakan yang baik dan sehat.
Melalui tindakan yang baik akan tercipta kebiasaan yang baik dan sehat.
Dan melalui kebiasaan yang baik inilah akan menentukan hidup sehat dalam diri kita.

Jadi menjaga pikiran agar senantiasa berprasangka baik kepada orang lain, bersyukur pada malam hari ketika menjelang tidur, tidak lupa pula mendoakan untuk semua orang maka kebahagiaan akan melimpah di dalam hati kita dan membuat tubuh kita menjadi bugar dan sehat dipagi hari.


Oleh : Agussyafii

Baca selengkapnya...

Rabu, 26 Agustus 2009

A good Story

The man slowly looked up. This was a woman clearly accustomed to the finer things of life. Her coat was new. She looked like she had never missed a meal in her life. His first thought was that she wanted to make fun of him, like so many others had done before. "Go away. Leave me alone," he growled. To his amazement, the woman stayed standing. She was smiling -- her even white teeth displayed in dazzling rows.

"Are you hungry?" she asked.

Suddenly the man felt a gentle hand under his arm. "What are you doing, lady?" the man asked angrily. "I said to leave me alone."

Just then a policeman came up. "Is there any problem, ma'am?" he asked.

"No problem here, officer," the woman answered.

"I'm just trying to get this man to his feet. Will you help me?"

The officer scratched his head. "That's old Jack. He's been a fixture around here for a couple of years. What do you want with him?"

"See that cafeteria over there?" she asked.

"I'm going to get him something to eat and get him out of the cold for a while."

"Are you crazy, lady?" the homeless man resisted. "I don't want to go in there!" Then he felt strong hands grab his other arm and lift him up. "Let me go, officer. I didn't do anything."

"This is a good deal for you, Jack," the officer answered. "Don't blow it."

Finally, and with some difficulty, the woman and the police officer got Jack into the cafeteria and sat him at a table in a remote corner. It was the middle of the morning, so most of the breakfast crowd had already left and the lunch bunch had not yet arrived.

The manager strode across the cafeteria and stood by his table. "What's go! ! ing on h ere, officer?" he asked. "What is all this, is this man in trouble?"

"This lady brought this man in here to be fed," the policeman answered.

"Not in here!" the manager replied angrily. "Having a person like that here is bad for business."

Old Jack smiled a toothless grin. "See, lady. I told you so. Now, if you'll let me go. I didn't want to come here in the first place."

The woman turned to the cafeteria manager and smiled. "Sir, are you familiar with Eddy and Associates, the banking firm down the street?"

"Of course I am," the manager answered impatiently. "They hold their weekly meetings in one of my banquet rooms."

"And do you make a goodly amount of money providing food at these weekly meetings?"

"What business is that of yours?"

"I, sir, am Penelope Eddy, president and CEO of the company."

"Oh." said the manager.

The woman smiled again. "I thought that might make a difference."

She glanced at the cop who was busy stifling a laugh. "Would you like to join us in a cup of coffee and a meal, officer?"

"No thanks, ma'am," the officer replied. "I'm on duty."

"Then, perhaps, a cup of coffee to go?"

"Yes, ma'am. That would be very nice." The cafeteria manager turned on his heel. "I'll get your coffee for you right away, officer."

The officer watched him walk away. "You certainly put him in his place," he said.

"That was not my intent. Believe it or not, I have a reason for all this."

She sat down at the table across from her amazed dinner guest. She stared at him intently. "Jack, do you remember me?"

Old Jack searched her face with his old, rheumy eyes.

"I think so. I mean you do look familiar."

"I'm! a ! lit tle o lder perhaps," she said.

"Maybe I've even filled out more than in my younger days when you worked here, and I came through that very door, cold and hungry."

"Ma'am?" the officer said questioningly. He couldn't believe that such a magnificently turned out woman could ever have been hungry.

"I was just out of college," the woman began. "I had come to the city looking for a job, but I couldn't find anything.
Finally I was down to my last few cents and had been kicked out of my apartment. I walked the streets for days. It was February and I was cold and nearly starving. I saw this place and walked in on the off chance that I could get something to eat."

Jack lit up with a smile. "Now I remember," he said. "I was behind the serving counter. You came up and asked me if you could work for something to eat. I said that it was against company
policy."

"I know," the woman continued. "Then you made me the biggest roast beef sandwich that I had ever seen, gave me a cup of coffee, and told me to go over to a corner table and enjoy it. I was afraid that you would get into trouble. Then, when I looked over and saw you put the price of my food in the cash register, I knew then everything would be all right."

"So you started your own business?" Old Jack said.

"I got a job that very afternoon. I worked my way up. Eventually I started my own business that, with the help of God, prospered."

She opened her purse and pulled out a business card. "When you are finished here, I want you to pay a visit to a Mr. Lyons. He's the personnel director of my company. I'll go talk to him now and I'm certain he'll find something for you to do around the office." She smiled. "I think he might even find the funds to give you a little advance so that you can bu! y some! clothes and get a place to live until you get on your feet. If you ever need anything, my door is always open to you."

There were tears in the old man's eyes. "How can I ever thank you?" he asked.

"Don't thank me," the woman answered. "To God goes the glory. He led me to you."

Outside the cafeteria, the officer and the woman paused at the entrance before going their separate ways.

"Thank you for all your help, officer," she said.

"On the contrary, Ms. Eddy," he answered.

"Thank you. I saw a miracle today, something I'll never forget. And thank you for the coffee."

"Have a Wonderful Day. May God bless you always, and don't forget that when you 'cast your bread upon the waters,' you never know how it will be returned to you."

God is so big He can cover the whole world with his Love and so small He can curl up inside your heart. When God leads you to the edge of the cliff, trust Him fully and let go. Only 1 of 2 things will happen: either He'll catch you when you fall, or He'll teach you how to fly!

The power of one sentence: God is going to shift things around for you today and let things work in your favor. God closes doors no man can open & God opens doors no man can close. Have a blessed day and remember to be a blessing.

Baca selengkapnya...