Minggu, 18 Oktober 2009

Ditjen Pajak Terapkan Total Benchmarking

Direktorat Jenderal Pajak akan menerapkan total benchmarking untuk mengidentifikasi wajib pajak dan pemenuhan kewajibannya sebagai akibat dari terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki.

"Ditjen pajak kan SDM-nya terbatas, jadi kami akan gunakan Total Benchmarking untuk perusahaan di berbagai sektor," ujar Penanggungjawab teknis sub tim Benchmarking Direktorat Transformasi Proses Bisnis Ditjen Pajak, Singgih, saat diskusi pajak di Citarik, Sukabumi, Sabtu (17/10/2009)

Total Benchmarking ini dibuat untuk menyusun prioritas wajib pajak di sektor mana yang harus diawasi secara ketat. Pasalnya jumlah SDM dalam satu Kantor Pelayanan Pajak (KPP) rata-rata hanya berjumlah 80 orang, sedangkan wajib pajak yang harus ditangani dalam satu KPP bisa mencapai 20 ribu wajib pajak.

Adapun total benchmarking yang aplikasikan oleh Ditjen Pajak ini adalah membandingkan rasio-rasio yang terkait dengan tingkat laba perusahaan dan berbagai input dalam kegiatan usaha, di antaranya biaya usaha, aktivitas luar usaha, objek pemungutan dan pemotongan pajak penghasilan (PPh), dan pajak masukan.

Dari hasil benchmark tersebut akan diperiksa ulang dari surat pemberitahuan tahunan (SPT serta data lain yang disampaikan wajib pajak. Jika dari hasil verifikasi tersebut terdapat ketidaksinkronan data maka Ditjen Pajak akan menindaklanjutinya dengan himbauan, konseling, maupun pemeriksaan.

Untuk itu, Ditjen Pajak tengah merilis benchmarking untuk 20 sektor usaha meskipun demikian jumlah tersebut masih sangat kecil dibanding 1.200 sektor usaha yang sudah ada.

"Dari 20 sektor ini akan dilihat efektifitasnya dulu, kalau hasilnya bagus akan kita lanjutkan untuk sektor-sektor lain. Tapi kalau ada masukan, nanti akan kita perbaiki dulu," pungkasnya.


Andina Meryani - Okezone

Baca selengkapnya...

Jumat, 16 Oktober 2009

My Bag & My Mind


My Bag :
Setiap hari, sebagian besar dari kita membawa tas kerja dalam perjalanan pergi dan pulang kantor. Untuk kaum wanita, tas merupakan salah satu atribut penampilan yang penting. Waktu libur, cobalah kita bongkar semua isi tas kita. Ternyata sepertiga atau separuh dari isi tas itu adalah barang yang sudah tidak kita perlukan: struk ATM yang sudah buram, bungkus tissue, agenda atau buku yang jarang dibaca, sekumpulan uang logam, ballpoint yang sudah macet, kumpulan tagihan kartu kredit bulan-bulan lalu dsb. dsb.. Meskipun mungkin ringan, tetapi barang-barang yang tidak diperlukan itu terus menambah berat tas kita ... sehingga kita harus membuang barang-barang tidak berguna yang membebani tas kita ....

My Mind :
Mirip dengan my bag di atas, pikiran kita (tanpa kita sadari) selama ini sering kita bebani dengan hal-hal yang tidak perlu juga : penyesalan masa lalu, rasa kecewa, kejengkelan dan iri kepada rekan kerja lain, sikap egois dan kurang kooperatif, perasaan tidak puas atas kondisi yang terjadi, snobisme, obsesi-obsesi yang kurang realistis, konflik keluarga dsb. dsb.. Pikiran-pikiran yang tidak perlu itu akan terus membebani perjalanan hidup kita, sehingga dampaknya, wajah akan kelihatan kurang bersinar, suntuk/ jutek, punggung terasa berat (karena pikiran berkorelasi dengan punggung), stress, hidup kurang nyaman dan yang paling parah adalah kita akan selalu membenci hal-hal yang tidak sesuai dengan kemauan kita, dsb..

Yang harus kita lakukan adalah sama dengan apa yang kita lakukan dengan my bag di atas, buanglah segala beban pikiran yang tidak ada manfaatnya itu.

Percayalah, hidup Anda di hari berikutnya terasa jauuuuuhhhh lebih nyaman ....

Makanan akan terasa lebih enak ....

Kita akan lebih jarang sakit ...

Bekerja menjadi lebih nyaman meskipun kita menghadapi rutinitas yang itu itu saja dan juga kita menghadapi orang-orang yang kadang membuat kita menjadi tidak betah untuk terus bekerja.

Ciptakan "POSITIVE THINKING" di setiap pagi ketika kita bangun tidur, karena pikiran itu erat sekali kaitannya dengan fisik kita. Biarkan positive thinking itu bekerja di dalam diri kita hingga akhirnya, keindahan hari itu akan ditentukan oleh kita dan cara pandang kita dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah .....

Baca selengkapnya...

Kamis, 15 Oktober 2009

Bahagia Dalam Keheningan

Seorang klien datang ke saya untuk minta tolong. Masalah klien ini yaitu dia merasa hidupnya saat ini hampa. Padahal ia bukan orang sembarangan. Telah banyak yang ia capai dalam hidupnya. Karir dan bisnisnya cemerlang. Keluarganya juga sangat ok. Terus, apa yang salah dengan klien ini?

Setelah berdikusi beberapa saat saya menemukan apa yang menjadi akar masalahnya. Ternyata ia jarang memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Pikirannya terlalu aktif. Keinginannya banyak dan ia ingin mencapainya sekaligus sehingga ia merasa ada tekanan yang sangat tinggi.

Apa yang saya sarankan untuk ia lakukan? Mudah. Saya hanya minta klien ini melakukan meditasi setiap pagi sekitar 30 menit.

Waktu mendengar saran ini reaksinya adalah, “Lho, kok meditasi? Saya justru merasa kalau waktu saya ini sangat kurang. Saya berharap kalau bisa satu hari bukan 24 jam tapi 30 jam”.

Pembaca, mengapa saya menyarankan klien ini melakukan meditasi?

Alasannya begini. Saat kita (sangat) sibuk maka pikiran kita sangat aktif. Aktifnya pikiran tentu akan sangat menguras energi (psikis) kita. Pikiran yang aktif ini membuat tungku mental kita panas. Belum lagi emosi atau mood yang kurang kondusif akibat tekanan pekerjaan. Semua ini membuat diri kita lemah.

Jika diibaratkan gelas yang berisi air dan ada partikel atau pasir di dalamnya maka saat pikiran aktif yang kita lakukan adalah kita mengaduk-aduk isi gelas. Apa yang terjadi? Isi gelas akan menjadi keruh karena pasir akan naik .

Saat kita bermeditasi maka sebenarnya yang kita lakukan adalah mendiamkan isi gelas (baca: pikiran) dan memberikan waktu pasir untuk turun dan mengendap. Setelah itu air akan menjadi bening dan jernih. Saat itu pikiran kita menjadi segar dan kuat.

“Lho, bukankah untuk membuat pikiran kuat kita perlu sering-sering menggunakannya?”

Inilah pemahaman yang kurang tepat yang diyakini kebanyakan orang. Untuk membuat pikiran kuat maka kita perlu melatihnya. Melatih pikiran tidak sama dengan melatih otot tubuh. Ajahn Chah, guru meditasi dan spiritual yang sangat luar biasa, pernah berkata, “Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan menggerakkannya seperti menguatkan tubuh, tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat, tenang dan hening.”

Mengapa kita perlu hening?

Ada sangat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Saat hening sebenarnya kita mengistirahatkan pikiran dan melakukan charging aki psikis kita. Saat aki psikis kita terisi penuh, fully charged, maka menjadi tenang, dan pengendalian diri kita meningkat.

Saat aki psikis “penuh” maka kita tidak akan mudah goyah atau terprovokasi dengan berbagai kejadian yang kita alami. Ibarat sebuah gentong yang terisi penuh oleh air maka tidak akan mudah untuk bisa menggoyang gentong ini. Namun bila gentongnya kosong siapa saja akan sangat mudah menggoyang dan kalau perlu menggulingkan gentong ini.

Anda mungkin bertanya, “Pak, maksudnya “penuh” itu seperti apa?”

Nah, ini yang saya nggak bisa jelaskan karena anda perlu mengalaminya sendiri. Saat anda melakukan meditasi maka anda pasti akan bisa merasakan apa yang saya maksudkan. Saat kita “penuh” maka kita akan merasa puas dan nyaman.

Saat pikiran hening kita bisa melakukan sangat banyak hal. Stillness speaks. Ibu Teresa menggambarkan keheningan dan hubungannya dengan spiritualitas dengan pernyataan,”Tuhan adalah sahabat keheningan. Lihat bagaimana alam – tanaman, rumput tumbuh dalam keheningan; lihat bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dlaam keheningan. Kita butuh keheningan untuk menyentuh jiwa”.

Meditasi tidak hanya memberikan efek positif untuk diri kita namun juga untuk orang-orang di sekitar kita. Saat kita tenang, hening, dan damai maka kita akan menyebarkan vibrasi energi positif yang luar biasa. Dan sesuai dengan hukum LOA, likes attract likes, saat vibrasi energi kita positif maka kita akan menarik hal-hal, kejadian, situasi, orang, keadaan, sumber daya, atau apapun yang serupa dengan vibrasi kita.

Efek positif lainnya adalah bila kita sering bermeditasi dan berada di gelombang theta dan khususnya delta maka power kita akan meningkat luar biasa. Saya mendapat informasi ini dari Tom Silver saat saya belajar langsung dengannya. Saya bisa merasakan kharisma dan power yang ia pancarkan ke sekelilingnya. Saat saya bertanya, “Tom, how can you be so powerful?” Dengan tersenyum ia berkata, “The secret is in your delta. The higher amplitude of your delta, the more power you have.”

Wow… ini baru informasi berharga. Dan hal ini benar adanya. Saya sempat bertanya pada seorang kawan, yang kebetulan juga seorang pembicara publik dari Jakarta, “Pak, apa yang membedakan presentasi anda dengan rekan pembicara lain? Saya melihat materi anda sebenarnya bisa dibawakan oleh orang lain. Namun herannya efek yang anda ciptakan sangat berbeda dan lebih powerful, membekas di hati, dan sungguh luar biasa. Apa rahasianya?”.

Rekan ini dengan tersenyum dan berbisik, “Sstt… saya selalu melakukan “charging.” “Maksudnya?” kejar saya lagi. “Saya mendapat power yang luar biasa saat diam dalam hening. Ini saya lakukan setiap pagi” jawabnya.

Lalu, bagaimana kita melakukan meditasi?

Ada banyak cara melakukan meditasi. Meditasi adalah kondisi kesadaran, bukan teknik. Apapun teknik yang digunakan tidak penting. Yang penting adalah kita bisa masuk ke kondisi meditatif. Inilah yang saya pelajari dari Anna Wise.

Ada 40 objek yang bisa digunakan untuk meditasi. Dalam kesempatan ini saya menyarankan anda untuk menggunakan objek pikiran anda sendiri yaitu dalam bentuk imajinasi.

Berikut cara anda melakukan meditasi:
• Sediakan waktu untuk hening selama sekitar 30 menit.
• Pastikan anda tidak terganggu selama meditasi. Matikan HP atau telpon. Bermeditasilah di ruang yang tenang dan nyaman.
• Ambil posisi duduk yang nyaman. Tidak harus dalam posisi bersila. Lebih baik jika anda duduk santai di kursi, kaki menapak lantai, dan punggung anda bersandar.
• Putar musik lembut (jika ini bisa membuat anda lebih rileks).
• Tutup mata dan ciptakan suasana atau pemandangan alam yang sangat anda sukai. Tempat yang pernah anda kunjungi atau yang ingin anda kunjungi. Beradalah di tempat ini seorang diri dan rasakan perasaan nyaman, tenang, damai, dan bahagia. Gunakan semua indera anda untuk mengalaminya.
• Nikmati suasana ini selama yang anda inginkan.
• Jika sudah dirasa cukup, keluarlah dari kondisi meditasi dengan perasaan nyaman, damai, dan bahagia.

Kembali pada klien saya. Setelah melakukan saran saya dua hari kemudian ia mengirim sms yang berbunyi, “Selamat pagi Pak Adi. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa metode meditasi sederhana yang bapak ajarkan benar-benar dahsyat. It works. I mean it really works. So simple, so easy, and so effective. Sejak melakukan hal ini segala sesuatu di sekeliling saya tampak berubah begitu ramah, menyenangkan, dan enak tenan. Salam hangat…..”

So pembaca, bermeditasilah setiap pagi, minimal 30 menit. Masuklah ke dalam diri dan alami hal luar biasa yang tidak akan pernah bisa anda dapatkan di luar diri.


Adi W. Gunawan

Baca selengkapnya...

Agar Pelanggan Bisa Membantu Tingkatkan Penjualan

Pernahkah Anda menghitung berapa pelanggan Anda? Dan, berapakah pelanggan setia Anda? Maukah Anda jika para pelanggan/ nasabah Anda bisa membantu meningkatkan penjualan? Salah satu rahasia sukses para penjual hebat di dunia ini adalah bagaimana mereka bisa menjaga hubungan baik dengan para pelanggan/ nasabahnya.

Ternyata, jika kita mampu menjaga hubungan baik dengan para pelanggan dalam waktu yang cukup lama, bisa saja pelanggan kita dengan senang hati turut membantu penjualan. Sebagai contoh, strategi tersebut pernah dilakukan salah satu penjual hebat di dunia yaitu Barry Farber.

Meskipun saat itu dia menjual mesin fotokopi dari merek yang belum terkenal, saat itu merek yang terkenalnya adalah Xerox, dia tetap bisa menghasilkan penjualan yang dahsyat. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memberikan suatu penawaran yang luar biasa kepada calon pelanggan/konsumennya agar mereka yakin dan sangat yakin dengan apa yang ditawarkan, sampai akhirnya mereka bisa melakukan pembelian.

Setelah melakukan pembelian, Barry juga memberikan jaminan servis yang luar biasa yang tidak diberikan oleh pesaing lainnya. Dia bahkan memberikan pelayanan servis 24 jam. Dia mengatakan kepada para pelanggannya, dia benar-benar bisa dihubungi selama 24 jam dalam satu hari jika ada kerusakan atau permasalahan yang dialami oleh pelanggannya berkaitan dengan mesin fotokopi yang dijualnya.

Layanan yang dijanjikan itu bukan sekadar perkataan. Barry benar-benar membuktikan bahwa dia memberikan servis dengan penuh profesionalisme hingga para pelanggannya benar-benar puas. Setelah pelanggan benar-benar puas, Barry juga meminta testimoni dari para pelanggannya.

Karena memang servis yang diberikan Barry benar-benar baik, banyak pelanggan mau dengan senang hati memberikan testimoni yang positif tentang produk yang dijualnya, layanan purnajual, dan servis yang memuaskan. Begitu seterusnya Barry selalu meminta testimoni setiap kali ada pelanggan yang puas.

Hingga akhirnya kekuatan dari testimoni tersebut membuat banyak calon pelanggan lain yang tertarik dengan produk yang ditawarkan olehnya. Seperti juga yang saya praktikkan sendiri, ketika saya mengadakan seminar, selalu saya berikan yang terbaik sehingga banyak peserta seminar yang puas dan bisa mendapatkan hasil yang dahsyat setelah mengikuti dan mempraktikkan seminar yang saya gelar.

Akhirnya banyak pula peserta yang memberikan testimoni dan salah satunya dengan testimoni-testimoni itu bisa menjadi sarana efektif sehingga banyak orang yang tadinya belum pernah mengikuti seminar menjadi tertarik untuk mengikuti seminar-seminar saya yang lainnya.

Saya juga seringkali membantu para peserta seminar yang memberikan testimoni untuk semakin mendapatkan hasil yang dahsyat antara lain jika produk/ jasa mereka memang benar-benar bagus, saya juga dengan senang hati menginformasikan produk/ jasa mereka kepada para peserta seminar saya yang lainnya. Dengan sinergi saling membantu/ mendukung, terjalin kerja sama yang lebih baik.

Di mana para peserta seminar semakin untung, dan saya juga semakin untung karena peserta seminar semakin banyak. Dengan cara seperti ini, banyak peserta seminar saya yang dengan senang hati dan penuh semangat senantiasa mengikuti seminar-seminar yang lainnya bahkan lebih dari sepuluh kali berturut-turut.

Karena itu, yang harus benar-benar diperhatikan adalah menjaga dan membina para pelanggan dengan baik. Karena dengan demikian para pelanggan Anda bisa dengan sendirinya dengan senang hati membantu penjualan Anda atau setidaknya ikut membantu proses penjualan Anda hingga bisa menjadi lebih dahsyat lagi.


TUNG DESEM WARINGIN

Baca selengkapnya...

Rabu, 14 Oktober 2009

Great Ideas, Lack of Execution

Jika Anda sering mendengar istilah "omdo" atau "omong doang", atau juga "NATO" yang merupakan singkatan dari "no action, talk only", keduanya merupakan hal umum yang kerap terjadi dalam kehidupan.

Sering kali kita lebih mudah berkata-kata, namun begitu sampai tahap implementasi, nanti dulu.Di sini terlihat jelas bahwa eksekusi bukan hal yang mudah. Ada beberapa analogi yang mungkin mirip berikut ini. Apakah Anda mau belajar menyetir mobil dari orang yang tidak pernah mengendarai mobil sebelumnya?

Apakah Anda mau membeli obat penumbuh rambut jika si penjual ternyata hampir botak? Apakah Anda mau belajar menjadi eksekutor dari orang yang tidak pernah melakukan eksekusi? Marilah kita melihat perkembangan dunia pendidikan yang luar biasa selama tiga dekade terakhir.

Jika pada tahun 1970-an, menjadi sarjana adalah kebanggaan, maka di era 1980-an mendapatkan gelar master merupakan jaminan untuk mendapatkan promosi kerja yang cepat. Namun, kemudian yang terjadi dalam 10 tahun terakhir adalah fenomena sebaliknya, cukup banyak peraih gelar sarjana ataupun master yang menganggur.

Jelas banyak para lulusan baru tersebut yang tidak mempunyai kemampuan sesuai yang di-butuhkan pasar. Jika diurut lagi, proses belajarnya, mungkin kita akan geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin program magister bisnis diajar oleh orang yang tidak pernah berbisnis sebelumnya? Lalu program magister keuangan diketuai dan diajar oleh orang yang tidak pernah bekerja di industri keuangan.

Kalaupun mengaku rajin main saham, itu pun hanya dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Kategori orang seperti ini jelas tidak bisa disebut praktisi keuangan. Tak terbayangkan jika Anda belajar bedah di sekolah kedokteran dari dokter yang tidak pernah melakukan bedah sebelumnya.

Lalu belajar bermain piano hanya dengan membaca buku, tanpa praktik. Terlalu banyak teori menyebabkan Anda tidak akan bisa merasakan visualisasi. Hal ini membuat pandangan seseorang menjadi sangat terbatas dan hanya melihat suatu permasalahan dari satu sudut pandang.

Akibatnya wajar jika ada istilah populer lainnya, "GILE" yaitu "great ideas, lack of execution". Ide-ide yang dilontarkan begitu cemerlang, namun eksekusinya sangat minim. Berikut adalah tiga langkah yang merupakan kunci sukses seorang eksekutor sehingga tidak akan disebut "GILE" lagi.

Take the Risk

Berani ambil risiko. Walaupun banyak teori membahas kemampuan mengeksekusi, ada satu prinsip dasar yang sering dilupakan, yaitu keberanian untuk mengambil risiko. Umumnya, ketika seseorang memiliki sudut pandang terbatas, ia menjadi takut mengambil risiko. Ditambah lagi jika peristiwa yang dialami merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketika perusahaan berada di zona nyaman, biasanya manajemen menghindari rencana baru di luar kebiasaan perusahaan. Yang lebih parah, para manajemen ini berusaha untuk pindah dari satu zona nyaman ke zona nyaman yang lain. Ketidakmauan manajemen dalam mengambil risiko inilah bisa menyebabkan perusahaan tidak berkembang, atau yang lebih cocok adalah seperti analogi Anda mendayung di dalam perahu untuk melawan arus.

Jika diam tidak mendayung, bukan jalan di tempat, tapi malah mundur terseret arus. Seseorang dituntut memiliki sudut pandang yang beragam sehingga bisa membayangkan konsekuensi dari tiap langkah yang diambil, termasuk jika tidak melakukan tindakan sama sekali. Kemampuan mencerna berbagai aspek inilah yang menimbulkan keberanian seseorang untuk mengambil risiko. If you don't try, you never win.

See the Sign of Times

Mampu melihat tanda-tanda mengenai situasi. Tidak cukup hanya dengan keberanian, untuk bisa sukses seorang eksekutor butuh kemampuan untuk melihat tanda-tanda perubahan karena tidak ada suatu perekonomian suatu negara yang terus-menerus mengalami ekspansi, pasti ada saatnya mengalami kontraksi.

Jangan sampai kita keasyikan ekspansi, namun lupa diri karena keberhasilan kita bisa diikuti dan direbut oleh yang lain juga. Sama seperti ketika mencoba mendeteksi penyakit jika kita sudah melihat gejala akan batuk pilek, jelas kita tidak bisa main hujan terus-menerus.

Atau ketika kita tahu salah satu ban mobil kita tidak sekuat yang lainnya,maka Anda sudah harus mengurangi kecepatan jika tidak mau terjadi kecelakaan. Tiap tindakan biasanya berdasarkan asumsi pada masa yang akan datang.

Padahal, asumsi ini umumnya berkaitan dengan asumsi lain sehingga belum tentu terjadi. Di sini kemampuan manajemen untuk tetap menginjak gas atau mulai mengerem menjadi kunci keberhasilan kelangsungan hidup perusahaan.

Adapt Quickly

Beradaptasi secepat mungkin. Sampai sejauh ini, tidak ada teknologi yang bisa memprediksi secara tepat kapan gempa akan terjadi. Negara seperti Jepang yang sudah terbiasa dilanda gempa pun dan memiliki tingkat teknologi yang canggih sekalipun tidak mampu memprediksi kapan gempa itu muncul.

Artinya, rakyat Jepang harus membangun bangunan yang jika terjadi gempa akan minimal dampaknya. Dalam dunia bisnis, setelah kita dapat mengantisipasi perubahan makro yang akan terjadi berdasarkan gejala-gejala yang kita analisis, kemampuan melakukan adaptasi adalah mutlak untuk bisa bertahan. Jangan sampai kita keasyikan lari kencang,namun lupa bahwa kekuatan ada batasnya.

Apalagi jika kondisi likuiditas memburuk sehingga harus terjadi perubahan strategi.Kemampuan beradaptasi ini sebaiknya sudah dilakukan sebelum pasar telah berubah sehingga prosesnya lebih lancar dan tidak menyakitkan.

Beradaptasi di sini artinya perusahaan tetap bisa berjalan normal dan siap lari lagi ketika kondisi makro sudah menunjang. Ide cemerlang menjadi sia-sia jika tidak dilaksanakan. Pelaksanaan yang tidak memperhatikan gejala di sekitarnya juga akan mengakibatkan rugi yang lebih dalam. Kemampuan mendeteksi dan melakukan adaptasi terhadap situasi yang baru menjadi kunci sukses pelaksanaan perencanaan. Selamat melakukan eksekusi!


Ferdinand Sadeli, CFA, CPA

Baca selengkapnya...

Selasa, 13 Oktober 2009

Bernanke: Kebijakan Lebih Ketat sebagai Penyembuh

Federal Reserve harus terus menopang perekonomian untuk jangka waktu yang panjang, namun bukan berarti dapat melakukannya tanpa batas waktu karena dikhawatirkan memicu kenaikan inflasi.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke, yang dikutip pada Minggu Kamis (11/10/2009), seperti dilansir Reuters.

Bank Sentral Amerika telah memangkas suku bunga mendekati nol persen dan memompa ratusan miliar dolar ke dalam sistem keuangan untuk mengatasi krisis keuangan terburuk semenjak Depresi Besar.

Dalam konferensi The Fed, di mana dia membahas mengenai penggelembungan neraca bank sentral, Bernanke menjelaskan perihal pembuat kebijakan yang berpikir bagaimana untuk mengakhiri dukungan sebagai bentuk pemulihan.

"Kebijakan akomodatif ini kemungkinan akan dijamin untuk jangka waktu yang panjang," ucap Bernanke kepada peserta konferensi yang diselenggarakan di kantor The Fed.

"Pada beberapa titik, bagaimanapun juga, pemulihan ekonomi terus dilakukan, kita perlu untuk mengetatkan kebijakan moneter untuk mencegah munculnya masalah inflasi di masyarakat."

Bernanke mengirim sinyal bahwa The Fed secara perlahan namun pasti bergerak menuju jalan keluar dari kebijakan yang mendukung, bahkan ketika pembuktian mengenai pemulihan ekonomi telah tercampur.

Laporan akhir pekan lalu menunjukkan bahwa para pekerja di Amerika Serikat melakukan pekerjaan lebih banyak dari yang diharapkan pada September untuk mendapatkan kepercayaan dalam pemulihan. Tapi, data yang dikeluarkan pada hari Kamis menunjukkan peningkatan penjualan dan sembilan bulan terendah dalam klaim pengangguran tentang optimisme kebangkitan ekonomi.

Dolar Amerika meranjak naik dari posisi terendah selama 14 bulan terhadap beberapa mata uang asing usai Bernanke memberikan komentar. Sementara kolega The Fed, Presiden Fed di Kansas City Thomas Hoenig, juga mengingatkan bahaya tentang mempertahankan tarif yang rendah untuk waktu yang lama.

"Saya tidak percaya perlu ada sebuah jangka waktu yang pasti dari kebijakan yang sangat akomodatif dalam jangka panjang merupakan kepentingan yang terbaik bagi negara," ucapnya dalam sebuah forum ekonomi yang diadakan banknya di Kota Oklahoma.

"Jika anda membiarkan hal itu (suku bunga) di nol persen untuk jangka waktu yang lama, maka kita akan memiliki masalah yang lain," kata Hoenig.

Dolar telah berada pada tekanan karena perekonomian Amerika telah tertinggal oleh yang lain dalam upaya pemulihan dari krisis yang melanda seluruh dunia.

Pada hari Selasa lalu, Australia menjadi yang pertama dari anggota negara industri dan bekembang G20 yang meningkatkan biaya pinjaman, dan mengatakan bahwa bahaya terburuk dari ekonomi telah berlalu.

Hoenig, ditanya perihal keputusan Bank Sentral Australia oleh para peserta, mengatakan ini sebagai refleksi dari kinerja yang lebih baik bagi perekonomian negara.

Di amerika serikat sendiri, kebanyakan analis tidak melihat Fed akan menaikkan suku bunga sampai pertengahan tahun depan.

Sementara Bank Sentral Eropa pada hari kamis memperingatkan harapan pemulihan ekonomi yang cepat pada 16 negara Uni Eropa karena meninggalkan suku bunga pada rekor terendah 1,0 persen untuk bulan kelima secara berturut-turut.

Presiden ECB Jean-Claude Trichet juga muncul untuk mendukung pemerintah melakukan pengendalian terhadap anggaran yang membengkak, dan ia mengatakan melihat tanda adanya harapan normalisasi di pasar uang yang memberikan permintaan lebih rendah untuk pinjaman bank sentral.

Meskipun Bernanke menunjukkan bahwa belum saatnya untuk memutar-balikkan kebijakan The Fed, ia mengatakan bank memiliki peralatan dan kemampuan untuk menarik uang tunai dan pinjaman secara besar kepda perekonomian dan untuk menaikkan suku bunga pada saat yang tepat.

"Ketika prospek ekonomi terlihat membaik, kita akan siap untuk memperketat kebijakan moneter dan akhirnya mengembalikan keseimbangan neraca kami untuk konfigurasi yang lebih normal," katanya.

Bernanke memberikan penjelasan rinci tentang aset dan kewajiban The Fed yang telah membengkak dari sekira hampir USD2,1 triliun dari USD900 miliar.

Ketika Amerika Serikat terlihat keluar dari resesi berkepanjangan dan menyakitkan ini, para pengamat mengawasi dengan cermat tanda-tanda kapan dan seberapa cepat The Fed berniat untuk menarik bantuan.

Bernanke mengatakan The Fed bisa menghapus kebijakan easy money sementara neraca tetap berkembang. Untuk melakukannya, The Fed akan menaikkan suku bunga untuk menjaga keseimbangan The Fed dan dengan tindakan-tindakan lain yang khususnya perjanjian pembelian kembali, deposito berjangka, dan penjualan dari kepemilikan asset jangka panjang. Langkah tersebut akan menarik uang tunai dan membantu meningkatkan suku bunga jangka pendek, katanya.


Eko Haryanto

Baca selengkapnya...

PBB dan Krisis Ekonomi Global

Setelah hiruk-pikuk pertemuan G-20 di Pittsburg, AS, akhir September 2009, dan kuatnya rekomendasi memperkuat entitas G-20 menggantikan G-8, PBB pun terus menggodok gagasan untuk terlibat penuh dalam penanganan krisis keuangan dan ekonomi dunia.

Jauh sebelum pelaksanaan KTT puncak G-20, Presiden Majelis Umum PBB sebenarnya telah meminta Joseph Stiglits untuk membentuk Commission of Expert yang akan memberikan advis kepada PGA untuk masalahmasalah krusial di bidang ekonomi dunia, komisi ini telah mengkaji usulan Kanselir Jerman Angela Markel mengenai pembentukan "global economic council" atau biasa juga disebut "Global Economic Coordination Council".

Gagasan tersebut masih terus dalam status pematangan dan menunggu feedback negara-negara anggota PBB lain. Langkah terbaru upaya ini kembali digelindingkan pada pelaksanaan pertemuan puncak lima hari kalangan pakar ekonomi,pendidikan, pengusaha, peneliti, pemerintahan, LSM, pemimpin agama,dan swasta pada pertengahan September 2009 lalu di London, Inggris.

Tujuannya mengidentifikasi langkah-langkah jangka panjang dan darurat dalam memitigasi dampak krisis ekonomi.Apa yang mendorong PBB demikian antusias terlibat dalam menentukan arah respons global terhadap krisis ekonomi dan keuangan dewasa ini? Analisis paling objektif yang harus disikapi PBB dalam penanganan masalah krisis keuangan dan ekonomi tersebut adalah krisis itu refleksi kegagalan "the inclusive multilateralism" di bidang ekonomi.

Kesimpulan ini pernah disampaikan Mr Jomo Kwane Sundaran, Asisten Sekjen PBB untuk Pembangunan Ekonom dalam suatu forum terbuka di markas PBB di Wina,Austria. Secara historis PBB sebenarnya menyimpan memori cukup mendalam mengenai hal ini pada saat persiapan Bretton Woods, 1944.

Konsepsi Bretton Wood 1944 sesungguhnya juga lahir dari sebuah konferensi yang diprakarsai "PBB", walaupun badan dunia tersebut belum lahir saat itu. Dalam hal ini, Bretton Woods 1944 merupakan jelmaan dari United Nations Conference on Monetary and Financial Affairs ketika itu.

Hanya saja saat itu penekanan objektifnya pada beberapa sektor penting seperti sustaining growth, employment creation, dan development terpinggirkan oleh aspek financial stability. Alhasil, keberadaan Bretton Woods sebagai governance arrangements yang menjadi sangat berbeda daripada yang diharapkan semula.

Kegagalan "The Inclusive Multilateralism"

Keraguan masyarakat dunia terhadap langkah-langkah terkini yang diambil oleh banyak kelompok negara merupakan kritik terhadap kegagalan antisipasi "the inclusive multilateralism".Ketidakmampuan itu mengakar pada polapola neoliberalisme yang berinfiltrasi ke dalam sistem keuangan dunia (international financial architecture) yang lebih bersifat ad-hoc, sehingga menjadi masalah tersendiri.

Akibatnya, krisis itu semakin meningkatkan pengaruh serta mengentalkan dikotomi antara ideologi pro-deregulation dan self-regulation yang kemudian menghasilkan inadequate ataupun inappropriate regulation capital account liberalization. Kritik paling terbuka terhadap kegagalan itu karena globalisasi keuangan pada hakikatnya tidak memberikan kontribusi pada pertumbuhan.

Krisis keuangan itu justru menjadikan banyak negara sedang berkembang sebagai innocent victims utama. Policy response yang dihasilkan oleh sebagian besar major playerseperti G-7 maupun G-20 dianggap inadequate dan lebih bersifat double standard serta cenderung mengirimkan sinyal menguatnya proteksionisme.

Realitas yang dengan mudah kita saksikan saat ini adalah betapa arsitektur keuangan global lebih mengedepankan net capital flows dari Selatan ke Utara dan memperlihatkan bagaimana AS menjadi peminjam terbesarnya. Padahal seyogianya net capital flows itu memberi ruang bagi aliran modal yang lebih berimbang dari Utara ke Selatan (capital rich to capital poor). Arsitektur keuangan yang banyak dipuja orang sesungguhnya tidak menggambarkan short-term capital inflows yang sehat.

Hal itu dikarenakan kontribusinya terhadap investasi maupun rasio pertumbuhan tidak ada.Pengelolaan aset ekonomi, baik menyangkut sharesmaupun prices,cenderung dilakukan secara bubbles management. Bahkan dukungan keuangan yang lebih murah dan royal diberikan kepada kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat consumption binges. Mengapa demikian?

Karena kondisi pengelolaan ekonomi semacam itu umumnya dibangun dengan landasan booming economic activity yang kerap berakhir dengan sudden collapse. Artinya, kadang-kadang investasi, yang seharusnya menjadi salah satu pilar pertumbuhan, cenderung mengalami over-investmentdengan ekses kapasitas sebagai ciri utamanya. Semua itu justru memperkisruh instabilitas keuangan dan mengubahnya menjadi pro-cyclicality.

Fokus Penanganan

Jika PBB ingin serius menyelami langkah yang harus disiapkan masyarakat global, maka penanganan krisis ekonomi dunia harus diarahkan pada dua front, yakni prioritas penguatan aspek regulatorydan policy. Upaya pada tingkat regulatory ditunjukkan dengan langkah-langkah seperti kemampuan untuk menciptakan prudential risk management, terutama untuk memonitor arus modal (capital control), mendorong finance growth yang berbasis pada output dan optimalisasi ketersediaan tenaga kerja, mengembangkan struktur keuangan yang krusial bagi investasi dan pengembangan kebijakan di bidang teknologi, serta mendorong terciptanya inclusive finance yang mampu menopang stabilitas keuangan dunia.

Di tingkat policy priorities, langkah-langkah yang mesti dilakukan adalah dengan membendung tersebarnya krisis keuangan dengan cara menjamin likuiditas untuk memastikan adanya pertumbuhan real economy, menurunkan restriksi ekonomi melalui langkah-langkah fiskal dan moneter, serta mengembangkan regulatory reform yang tepat di sektor keuangan, baik secara nasional maupun internasional.

Pada tataran praksis, tampaknya kita juga tetap dituntut untuk melanjutkan kebijakan stimulus. Hal itu diperlukan guna merangsang permintaan asing bagi tujuan ekspor yang cenderung melemah dalam kondisi tersebut. Hanya,masalahnya memang kapasitas produktif domestik dan kapabilitasnya telah hilang ditelan liberalisasi ekonomi.

Apalagi hampir semua negara mengalami keterbatasan fiskal. Ironisnya, terdapat kecenderungan hampir setiap negara memfokuskan diri pada pembiayaan domestik, bukan eksternal-baik melalui pembangunan atau perbaikan infrastruktur maupun penguatan perlindungan dan pelayanan sosial.

Bagaimanapun,keinginan PBB untuk mengembangkan UN-Systemdalam penanganan isu keuangan dan ekonomi dunia sebaiknya ditempatkan pada upaya untuk memainkan peranan pemberian second opinion bagi banyak negara anggota yang memerlukan. Harus diakui bahwa mandat dari kemungkinan badan yang dibentuk serta kapasitas untuk melaksanakan fungsi tersebut tidak mudah dirumuskan dalam waktu dekat.

Sementara pada saat bersamaan dunia menuntut untuk memperoleh akuntabilitas yang lebih besar dalam penanganan ekonomi global. Karena pada dasarnya, ketiadaan akuntabilitas telah menjadi salah satu ciri kegagalan sistem yang berlangsung sekarang.


Muhammad Takdir

Baca selengkapnya...

Ratio Laporan Keuangan

Investor di pasar modal minimal memahami pengatahuan dasar mengenai analis laporan keuangan. Hal ini merupakan suatu kewajiban yang perlu dipahami oleh semua investor, mengingat laporan keuangan merupakan gambaran yang dihasilkan perusahaan dari waktu-kewaktu.

Hal yang penting dilakukan investor mengenai neraca rugi laba perusahaan. Analisa laporan keuangan, bukan pekerjaan mudah, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan.

Karena dengan berpedoman pada rasio yang diungkap laporan keuangan investor dapat menyimpulkan kondisi keuangan emiten. Beberapa rasio yang lazim menjadi patokan dalam meng-analisis laporan keuangan, sehingga dapat memutuskan kebijakan investasi.

Secara umum rasio laporan keuangan dibagi dalam berberapa kelompok, seperti rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio utang atau leverage, rasio kemampuan laba serta rasio saham. Beberapa rasio penting yang umum digunakan dalam menganalisis laporan keuangan di antaranya, current ratio (rasio lancar), rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar dapat menutupi kewajiban lancar.

Semakin besar hasil perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menutupi kewajiban jangka pendek.

Debt to equity ratio (rasio utang atas modal). Rasio ini sering disebut dengan istilah rasio leverage, menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur risiko tidak tertagihnya hutang. Semakin kecil angka rasio ini maka akan semakin baik total debt to total assets merupakan penggambaran aktiva yang dipergunakan oleh perusahaan untuk menutupi hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang yang dihitung dengan rumus total hutang dibagi total aktiva, maka akan diperoleh rasio, debt to capital assets.

Operating profit margin (OPM), rasio ini mengukur seberapa besar kontribusi penjualan terhadap laba operasi. Makin besar rasio ini maka akan semakin baik.

Rumus mencari OPM dengan cara membagi laba operasi dengan penjualan. Net profit margin, rasio yang mengukur kontribusi penjualan terhadap laba bersih. Makin besar rasio ini maka akan semakin baik, karena rumus yang digunakan laba bersih dibagi dengan penjualan.

Return on equty (ROE) menggambarkan kontribusi keuntungan bagi pemegang saham, laba bersih dibagi ekuitas. Erning per share merupakan penggambaran jumlah laba yang dihasilkan perusahaan untuk tiap pemegang saham yang diterbitkan. Price earning ratio (PER) menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. PER dihitung dalam satuan kali. Sebagai contoh jika status saham memiliki PER sebesar 10 kali berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba sebanyak 10 kali.

Bagi investor semakin keci PER berarti saham tersebut relatif murah. PER dihitung berdasarkan hasil pembagian harga saham dengan erning per share (laba per saham). Disamping itu sejumlah rasio lain yang juga layak diperhatikan adala nilai buku (book value) dan, price to book value.

Book value merupakan penggambaran perbandingan total dana pemegang saham terhadap jumlah saham, sedangkan price to book value menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham sebuah perusahaan. Makin tinggi rasio ini berarti pasar percaya pada prospek perusahaan.

Baca selengkapnya...

Senin, 12 Oktober 2009

Kisah Guru dan Penjual Bubur yang Terpuji

Yakinkah Anda bahwa buah dari kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan oleh Tuhan? Entah dibalas dalam bentuk kebaikan yang sama ataupun dalam bentuk lainnya. Entah balasan tersebut tiba seketika ataupun tiba pada waktu yang lain. Demikian pula balasan serupa atas keburukan. Balasan atas kebaikan atau keburukan seseorang dapat tiba pada saat di dunia dan pastinya akan tiba pada kehidupan selanjutnya kelak. Sebagai orang beriman, tentunya kita yakin. Begitu kan?

Kali ini saya mau bercerita tentang dua keluarga yang saya kenal baik, yang keduanya memiliki akhlak yang terpuji. Keluarga guru dan keluarga penjual bubur ayam.

Saya sering mengamati para guru dan keluarganya yang sederhana, khususnya para guru yang mendidik anak-anak yang dibimbingnya di sekolah dengan kegairahan dan ketekunan yang tinggi. Mereka mencintai dan bangga dengan pekerjaanya. Guru yang mencintai pekerjaannya ini jauh lebih banyak dari yang sebaliknya. Saya selalu terkesan terhadap para guru yang terpuji ini dan selalu berusaha memetik inspirasi kebaikannya.

Saya sering membayangkan bagaimana para guru ini mendidik anak-anaknya di rumah. Terhadap anak didiknya saja, mereka mengajar penuh cinta, tentunya dapat dibayangkan bagaimana mereka mendidik anak-anaknya sendiri.

Dengan gaji guru yang dulu belum sepenuhnya layak, adakah buah yang hilang dari kebaikan-kebaikan para guru itu? Saya yakin tidak. Banyak bukti, setelah dewasa anak-anak para guru dan pendidik terpuji itu umumnya berprestasi dan memiliki kepribadian yang tidak berbeda dengan orangtuanya.

Salah satu yang saya kenal baik adalah guru kami saat belajar di SMP 1 Pandeglang, Pak Oman. Pak Oman mendidik kami dengan penuh cinta, menemani kami saat di kelas maupun di luar kelas dengan sama antusiasnya. Di luar kelas, ia sering menempatkan diri sebagai teman. Kami sering bermain pingpong sore hari. Kadang, ia selipkan pelajaran-pelajaran moral saat bermain tersebut, meskipun ia bukan guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Setahu kami, Pak Oman hidup tidak berlebihan, tinggal di rumah sederhana dan sepenuhnya mengajar di SMP tempat kami menimba ilmu.

Beberapa puluh tahun kemudian, saya mendapat kabar keempat anaknya telah berhasil menamatkan perguruan tingginya. Semuanya berhasil diterima dan tamat di perguruan tinggi negeri (PTN). Semua anaknya rajin mengunjungi kedua orang-tuanya setelah masing-masing berkeluarga dan tinggal di luar kota Pandeglang, kota Pak Oman tinggal dulu dan sekarang.

Dua tahun lalu, saya sengaja berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi sekaligus ingin menyampaikan ungkapan terima kasih atas banyaknya nilai-nilai moral yang beliau tanamkan saat di SMP. Rumahnya yang sederhana saat itu sedang direnovasi atas inisiatif keempat anaknya. Pak Oman hidup sehat dan bahagia. Ada wajah berseri-seri yang saya tangkap saat jumpa dengan beliau, dan kata-kata syukur yang selalu diucapkannya. Wajah berseri-seri itu sama dengan wajah saat dulu beliau mengajar.

Terima kasih Pak Oman, bapak luar biasa. Bapak mengajarkan kami tentang bagaimana mencintai pekerjaan, layaknya bapak sedang mengukir karya agung, sebuah persembahan terbaik kepada Sang Pencipta, Dia yang Maha Menatap. Ilmu yang Bapak berikan pada kami, Insya Allah menjadi salah satu sumber amalan yang akan terus mengalir sebagai tambahan bekal untuk kehidupan Bapak selanjutnya kelak, amien.

Cerita kedua adalah kisah seorang penjual bubur ayam bernama S. Kartajaya (alm), yang saya kenal pada awal tahun 90an di Bogor. Saya sebut beliau, Pak Karta saja. Sejak sebelum tahun 1988, Pak Karta membina hubungan persahabatan dengan seorang pemilik restoran yang memiliki cita rasa yang luar biasa, sebuah restoran terkenal di Bogor pada tahun 80an dan 90an. Tempat parkirnya selalu sesak oleh antrian mobil pelanggan.

Di depan restoran tersebut, Pak Karta mendapat tempat untuk berjualan warung bubur ayam atas izin sang pemilik restoran, sahabatnya. Pak Karta bahkan diperbolehkan menggunakan nama restoran tersebut sebagai merek dagang warung bubur ayamnya. Selain cita rasa bubur rumahan yang unik, ada juga pangsit yang rasanya nikmat. Saya tidak sempat menggali informasi, apakah Pak Karta menyewa atau tidak untuk berjualan bubur tersebut, kecuali bahwa ia membangun warungnya dengan biaya sendiri.

Keadaan berubah ketika sang pemilik restoran terkenal tersebut wafat. Anak-anak pemilik resto terkenal tersebut berbeda sikap dengan ayahnya yang sudah wafat tentang keberadaan warung bubur ayam tersebut. Sang anak, pewaris restoran tersebut meminta Pak Karta pindah dan melarang penggunaan merek restorannya pada tahun 2002.

Dalam keadaan kebingungan, Pak Karta tiba-tiba harus pindah lokasi sekitar 200 meter dari lokasi semula dengan posisi warung agak menjorok ke dalam dari jalan raya dan memilih merek dagang yang baru, tanpa sempat memberitahu semua pelanggannya. Namun, rupanya Pak Karta cerdik dan tidak kehabisan akal. Mobil kijang merah tua tahun 70an, yang biasanya terparkir di depan warung buburnya diparkirkan di pinggir jalan raya, sebagai penanda kepindahannya. Sebagai pelanggan, saya tetap dapat mengenali kijang merah tua tersebut, dan tetap mengunjunginya secara rutin, sama seperti banyak pelanggan lainnya.

Cita rasa bubur ayamnya memang tak tergantikan, disertai pelayanan ramah Pak Karta dan anak-anaknya. Kadang-kadang, Pak Karta juga ikut bincang-bincang dengan para pelanggannya, termasuk kami sekeluarga.

Saya hanya sempat mendapat informasi dari Pak Karta bila beliau terpaksa pindah dan mengganti merek dagangnya, karena tidak diizinkan oleh sang pewaris restoran terkenalnya, dan mengetahui bila anak-anak pemilik restoran tersebut tidak ikut mengelola restoran tersebut pada saat jayanya. Pak Karta pernah bercerita tentang indahnya persahabatan dengan sang pemilik restoran terkenal tersebut.

Pada tahun 2006, Pak Karta juga wafat, menyusul sahabatnya, sang pemilik restoran bercita rasa tinggi itu. Pak Karta meninggalkan warisan sikap ramah, loyalitas pelanggan dan kebaikan bagi anak-anaknya, pelanjut usaha bubur ayamnya. Setiap kami berkunjung ke tempat bubur ayam itu, anak-anaknya melayani para pelanggannya dengan ramah, tidak berbeda dengan ayahandanya yang sudah wafat.

Bagaimana nasib restoran bercita rasa tinggi itu? Setelah ditinggalkan sang pendiri, tahun-tahun selanjutnya restoran tersebut tampaknya mengalami kesulitan dan tidak mampu bersaing dengan beberapa restoran sekitarnya. Beberapa tahun terakhir, saya sering mengamati saat makan siang tiba, tidak banyak kendaraan yang terparkir di depan restoran tersebut. Keadaan justru berbeda dengan restoran yang terletak di seberang restoran yang pernah terkenal itu, yang selalu penuh dijejali pengunjung, padahal baru berdiri awal tahun 2000an.

Puncaknya, beberapa kali kami lewati beberapa bulan terakhir, restoran tersebut tampak telah berganti nama. Apa yang terjadi sebenarnya, wallahu’alam.

Apa moral kedua kisah nyata tersebut? Anda bebas mengambil moral cerita apa saja. Yang pasti, saya menyaksikan raut wajah kebahagiaan dari Pak Oman; Sang Guru Terpuji itu. Saya juga menyaksikan raut wajah keramahan dari Pak Karta, Sang Penjual Bubur Ayam Terpuji itu dan anak-anaknya; pelanjut warung bubur ayamnya.

Teman, saya yakin Anda semua punya banyak kisah sejenis. Tuhan pernah berujar “Aku, sebagaimana prasangka Hamba-ku”. Prasangka baik dan berpikir positif adalah sikap yang terpuji, sebab semua yang kita alami hari ini adalah buah dari perbuatan kita pada masa lalu.

Bila Anda setuju dengan saya, tak ada pilihan lain untuk memperbaiki masa depan diri, keluarga dan lingkungan kita, baik di rumah maupun di lingkungan kerja, kecuali dengan memperbaiki sikap dan tindakan kita hari ini terhadap seburuk apapun sikap dan perbuatan orang lain terhadap kita, bukan?


Ahmad Mukhlis Yusuf

Baca selengkapnya...

Minggu, 11 Oktober 2009

5 Fase Orang Yang Berduka Akibat Kematian

Kematian merupakan akhir dari tahap kehidupan manusia. Setiap orang yang hidup akan mengalami kematian. Ketidakpastian tentang kematian itu sendiri menimbulkan rasa takut pada diri manusia. Demikian juga dengan kematian salah satu anggota keluarga ataupun teman dekat, akan menimbulkan rasa duka cita bagi orang yang ditinggalkannya.

Menurut Dr. Elisabeth Kubler-Ross, seorang psikiatri dari Swiss, Ada lima fase yang biasanya dilalui oleh seseorang ketika mengalami duka cita akibat kematian salah seorang anggota keluarga atau teman dekat yaitu shock, denial, anger, mourning dan recovery.

1. Shock (Terkejut)
Saya merasa terkejut dan tidak percaya dengan kabar yang saya dengar. Dalam diri saya bilang “Tidak”, ini tidak boleh dan tidak mungkin terjadi.

2. Denial (Penyangkalan)
Saya merasa kematian kakak saya hanyalah mimpi buruk saya saja, dan bukan merupakan suatu kenyataan.

Menurut Kubler-Ross, kata ‘meninggal’ merupakan suatu kata yang memperhalus kata ‘mati’ sebagai produk dari budaya masyarakat yang menyangkal kematian.

3. Anger (Kemarahan)
Saya tidak terima dengan kematian dan mulai menyalahkan semua pihak yang menyebabkan itu terjadi. Saya cenderung menyalahkan Tuhan (Ini adalah reaksi wajar bagi orang-orang yang mengakui adanya Tuhan yang Maha Kuasa), juga menyalahkan situasi dan orang lain seperti penabrak kakak saya, dokter dan tim medis, ambulan yang tidak tersedia dan rumah sakit yang tidak memiliki peralatan yang memadai untuk menolong kakak saya.

4. Mourning (Berkabung)
Menurut Kubler-Ross, Fase ini merupakan fase yang berlangsung cukup lama, bisa berlangsung dalam beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun. Perasaan depresi, rasa bersalah, rasa kehilangan, kesepian, panik dan menangis tanpa pemicu yang jelas bisa saja ditampakkan dalam fase ini, bahkan bisa termanifestasi dalam penyakit fisik ringan.

5. Recovery (Pemulihan)
Menurut beberapa orang, kematian tidak bisa dipulihkan karena kematian telah mengubah hidup mereka selamanya dan tidak bisa mengembalikan situasi kembali seperti sebelumnya. Namun demikian rasa sakit akibat kematian akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu.

Dalam budaya Jawa sendiri dikenal ritual peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan terakhir 1000 hari. Hal ini merupakan tahapan untuk melepas rasa sakit dan kehilangan akibat kematian.

Tiga hari setelah kematian. biasanya mulai sedikit menerima kematiannya meski semua harapan menjadi kacau balau. Hidup sedikit banyak akan mengalami perubahan dengan tiadanya orang yang meninggal dalam keluarga .

Semua fase ini menurut saya tidak berlaku mutlak pada diri seseorang, bisa terlihat ataupun tersembunyi. Fase-fase ini juga bisa saling tumpang tindih satu sama lain dalam waktu yang bersamaan.

Setiap pribadi memiliki perilaku yang unik dan mungkin tidak sama satu sama lain, perbedaan kecepatan dan cara menghadapi kematian tergantung pada pengaruh kebudayaan, kepribadian dan situasi keluarganya. Orang yang beriman tentunya memiliki cara yang berbeda menghadapi kematian orang yang dicintainya dibandingkan dengan orang yang tidak beriman.

Beberapa hal yang membantu untuk memulihkan perasaan kesedihan dan emosi-emosi yang ditimbulkan akibat kematian :

- Menerima semua emosi. Emosi panik, rasa bersalah, marah, sedih dan kalut merupakan suatu hal yang wajar dalam menghadapi kematian. Jadi tidak perlu takut untuk menangis atau berteriak. Jika merasa malu kita bisa masuk kamar dan menggunakan bantal sebagai peredam tangisan kita. Kesedihan yang dipendam dan ditahan bisa membuat kita semakin tertekan dalam jangka waktu yang lama ataupun termanifestasi dalam perilaku-perilaku buruk lainnya.

- Mengekspresikan emosi kepada teman-teman atau orang terdekat cukup membantu saya dalam memulihkan rasa sakit.

- Tidur dan beristirahat untuk menenangkan pikiran dan menata kembali pikiran yang kacau.

- Blogging. Menuliskan segala sesuatunya termasuk kemarahan dan kesedihan dalam blog bagi saya bisa menjadi media katarsis yang cukup baik dan bermanfaat daripada membentur-benturkan kepala ke tembok. Selain itu blog memungkinkan kita tidak perlu bercerita terlalu sering tentang kejadian itu, saya cukup mempersilakan mereka membaca sendiri ceritanya.

Dalam kuliah psikologi konseling saya mendapatkan beberapa pelajaran dalam mendampingi orang yang berduka cita. Saya sendiri merasa beberapa perilaku orang lain yang niatnya baik untuk menghibur saya ternyata justru membuat saya semakin sakit. Beberapa hal yang sebaiknya dihindari dalam mendampingi orang yang berduka, yaitu :

- Melarang menangis. Banyak orang yang menganggap menangis adalah hal yang tidak perlu dan berusaha menghentikannya. Sebaiknya kita membiarkan saja seseorang menangis sepuasnya karena menangis merupakan salah satu mekanisme penyembuhan dari rasa sakit.

- Membuat janji sebagai basa-basi. Kadang saya sering mendengar ada orang yang mengatakan “Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya” padahal orang tersebut berlalu begitu saja dengan kesibukan lain seperti tidak terjadi apa-apa.

- Empati yang salah dengan mengatakan “Saya tahu apa yang kamu rasakan”. Saya tidak percaya dia tahu apa yang saya rasakan, mungkin lebih tepat kalau dia memberikan empati dengan mengatakan “Apa yang kamu rasakan memang berat, saya sendiri akan seperti kamu jika mengalaminya. Tabah ya.”

kompasforum
Referensi : The psychology of death

Baca selengkapnya...

Rabu, 07 Oktober 2009

Bunga Tidak Pernah Bersuara

Riuh, ribut, demikianlah kira-kira suasana komunikasi antarmanusia di tahun 2009. Mantan presiden AS George W. Bush mengakhiri jabatannya dengan dilempar sepatu. Negeri ini juga riuh dan ribut urusan presiden dan pemilu.

Di tengah-tengah suhu komunikasi yang memanas ini, ada indahnya bila sekali-sekali sepi-sunyi yang mengemuka. Bukan sebagai lawan keributan. Hanya mengemuka seperti menarik nafas dalam-dalam sekali waktu setelah lama tidak merasakan segarnya bernafas.
Dalam menelusuri segarnya kehidupan, ada dua jalur yang tersedia. Ada yang berjalan dengan intelektualitas, ada yang melangkah di jalan-jalan bakti (devotion). Pada pendekatan pertama, semuanya dianalisis. Itu sebabnya para master meminta penekun meditasi di Barat (yang kebanyakan berjalan di jalan intelektualitas) segera merealisasikan kekosongan (emptiness). Begitu mengalami langsung kekosongan (bukan mengerti melalui intelek) baru bisa mengagumi sepi-sunyi.
Di jalan bakti, tidak diperlukan terlalu banyak perdebatan. Yang ada hanya bakti yang tulus, penuh sujud, rasa hormat yang mendalam. Dan ujung-ujungnya sama, mengalami kekosongan. Dalam bahasa seorang guru yang sudah sampai di puncak, lakukan terus menerus bakti. Sampai di sebuah titik sehingga yang memberi, yang diberi maupun pemberian sesungguhnya tidak ada. Itulah sepi-sunyi.
Sembah rasa
Di Timur dulunya kebanyakan manusia berjalan di jalan-jalan bakti. Itu sebabnya berdoa dipadankan dengan sembahyang. Ada kata sembah di sana. Awalnya memang dimulai dengan dualitas antara penyembah dan yang disembah, namun kemudian keduanya menjadi satu, serta ujungnya yang satu pun lenyap dalam keheningan.
Dan semua sembah mulai dengan sembah raga. Namun karena badan terbuat dari bahan-bahan yang bertentangan (air-api, tanah-udara), banyak manusia yang hanya menggunakan sembah raga kemudian mengalami guncangan-guncangan. Seberguncang bahan-bahan yang membentuk tubuh. Dari sinilah lahir kebutuhan melakukan sembah rasa. Di mana lebih dari sekadar menggunakan raga, badan mulai dibimbing oleh getaran-getaran rasa. Bukan rasa suka yang bertentangan dengan duka, bukan suci yang diseberangkan dengan kotor. Melainkan rasa yang memeluk mesra semuanya.
Seperti seorang Ibu yang merawat putera tunggalnya. Tatkala puteranya tersenyum, ia gendong. Manakala puteranya menangis sambil menyisakan kotoran di tempat tidur, lagi-lagi ia gendong puteranya dengan penuh kasih sayang. Sembah rasa juga serupa, belajar tersenyum pada apa saja yang datang dalam kehidupan. Sebagai hasilnya, hidup berputar lentur bersamaan dengan irama alam. Siang tersenyum pada cahaya terang dengan jalan bekerja. Malam berpelukan dengan kegelapan melalui istirahat di tempat tidur.
Di jalan ini, semuanya menjadi sembahyang. Tatkala makan maka makanlah dengan penuh rasa syukur. Di hari yang sama ada jutaan manusia kelaparan. Ketika menyapu, menyapulah sambil bersiul. Di menit yang sama ada jutaan manusia sakit di rumah sakit. Bila begini caranya, every act is a rite. Setiap langkah adalah sembah.
Puisi Jalalludin Rumi menjadi wakil dalam hal ini. Hidup serupa bawang merah. Di luar kotor kecoklatan. Tatkala dibuka jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tambah dibuka tambah putih. Dan tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh.
Sembah rahasia
Ia yang sudah berjalan jauh dengan sembah rasa, suatu waktu akan melihat bila alam menyimpan banyak rahasia. Di Timur, Tantra adalah salah satu jalan rahasia. Tidak banyak orang yang bisa membuka pintu Tantra. Di samping berat juga berbahaya. Ada yang mengandaikan Tantra dengan jalan tol yang cepat sampainya. Namun mengalami kecelakaan di jalan tol amat sangat berbahaya.
Itu sebabnya ada yang membagi perjalanan Tantra ke dalam tiga gerbang. Kehidupan diandaikan dengan pohon beracun karena banyak godaannya. Di tahap pertama, manusia disuruh menjauh dari pohon beracun. Makanya banyak imbauan melakukan puasa, pengendalian diri, hidup berkecukupan, penuh rasa syukur. Begitu lewat gerbang pertama yang ditandai oleh kemampuan menguasai diri (self mastery) yang baik, kemudian di langkah kedua murid akan diminta untuk menjadi penjaga pohon beracun. Mulailah seorang penekun menjadi “penggembala domba” bagi banyak kehidupan.
Ada yang jadi guru, penulis, pemimpin upacara, pemimpin yang jujur. Intinya satu, menjaga jangan sampai terlalu banyak kehidupan keracunan. Begitu jam terbang menjadi penggembala domba sudah cukup, baru boleh masuk ke inti sari Tantra: mengolah racun menjadi obat kehidupan. Makanya, bila di kebanyakan jalur hawa nafsu dilarang, di Tantra ada pendekatan menggunakan hawa nafsu (khususnya seks) sebagai kendaraan transformasi spiritual. Bukan untuk dibawa hanyut oleh nafsu, namun menghanguskan nafsu dengan nafsu.
Itu sebabnya di banyak tempat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, India, Amerika Latin banyak peninggalan-peninggalan tua yang memamerkan hubungan seksual. Di Bali disebut lingga-yoni, nyegara-gunung. Siapa saja yang sudah membumihanguskan semua keinginan (termasuk keinginan menjadi suci atau tercerahkan), ia mulai belajar melihat rahasianya rahasia.
Persembahan di banyak tradisi (tidak saja di Bali) seringkali berisi bunga. Di sejumlah negara (seperti Jepang) bahkan menempatkan bunga secara amat istimewa. Seperti ada rahasia di sana. Bunga mekar mewakili keindahan. Namun seberapa indah pun bunga, beberapa waktu kemudian harus ikhlas menjadi sampah. Dan baik tatkala diberi sebutan indah maupun sebutan sampah, bunga tidak pernah bicara. Siapa yang hidupnya mengalir sempurna dari bunga (sukses, dipuja) menjadi sampah (gagal, dicerca), kemudian (bila bisa mengolahnya) menjadi bunga lagi, ia sudah membuka salah satu pintu rahasia.
Seorang guru yang sudah sampai di sini pernah menulis: Physical isolation is not the true solitude. Totally free from any grasping, that’s the true solitude. Lepas bebas dari segala kemelekatan (baik-buruk, benar-salah), itulah keheningan sesungguhnya.
Ada yang bertanya, bila sudah lepas-bebas, lantas apa pedoman bertindak? Seorang guru berbisik pada muridnya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti ibu pertiwi. Langit memayungi semuanya, ibu pertiwi bertindak ketat mengikuti hukum alam. Bila menanam jagung, buahnya jagung. Kalau memelihara kelapa, buahnya kelapa.


Gede Prama

Baca selengkapnya...

Selasa, 06 Oktober 2009

How Jokeable Are You?

Tawa adalah penurun stres. Semua orang tahu itu. Tapi, tahukah Anda bahwa tawa juga merupakan obat mujarab bagi bermacam penyakit, termasuk penyakit besar kepala, dan bahkan bisa jadi tolok ukur kedewasaan kita?
Anda pernah mendengar nama Norman Cousins? Saya menulis kisah tentang orang ini dalam buku saya BO WERO, Tips mBeling untuk Menyiasati Hidup. Dia bukan seorang dokter, tetapi dari pengalamannya sendiri ia mempelajari proses penyembuhan yang memberi inspirasi luar biasa bagi dunia medis.
Dalam bukunya, Anatomy of an Illness, Norman Cousins menceritakan bagaimana dia tinggal menunggu akhir hanyatnya karena penyakit mematikan yang disandangnya. Tetapi ia tidak menyerah. Dibangunnya pikiran-pikiran dan sikap positif terhadap diri dan kehidupannya, yang membuahkan harapan untuk sembuh. Setiap hari, dia memutar video dagelan, dan dengan itu dia mau melewatkan hari-harinya dengan penuh tawa.
Langkah sederhana itu membuahkan keajaiban. Dengan video banyolan itu dia menjadi relaks, lalu bisa tidur. Kemajuan sederhana ini menghasilkan spiral perkembangan yang dahsyat: pikiran dan sikap terhadap diri dan hidupnya semakin positif, sehingga ia menjadi jauh lebih relaks lagi, dan tidur pun menjadi semakin pulas dan panjang… Hidup jadi damai, kecemasan lenyap, dan akhirnya: tubuhnya menyembukan dirinya sendiri.
Pengalaman inilah yang kemudian dia tulis. Dia juga banyak berceramah mengenai pemanfaatan kekuatan pikiran dan tawa dalam penyembuhan. Karena inspirasi luar biasanya itu, UCLA Medical School menunjuk dia sebagai penceramah di sekolah medis yang bergengsi itu.
Saya kutip William A. Cohens, Ph.D., yang dalam bukunya The New Art of the Leader menceritakan bagaimana Cousins memandang badan kita. “Ada apotek serba ada di dalam tubuh kita,” katanya dalam salah satu ceramahnya di UCLA. “Tubuh anda memiliki stok obat-obatan paling mujarab di dunia, untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Tetapi, kita hanya dapat mendapatkan obat-obatan itu dengan pikiran dan sikap positif serta rasa humor.”
Dalam artikelnya yang berjudul “Laughter”, Zig Ziglar, motivator asal Amerika dan penulis 27 buku, mengatakan, “Next to love, laughter has been described as the second-most powerful emotion we can express.” Setelah cinta, tawa adalah emosi paling kuat kedua. Ia memerinci bahwa konon tawa itu setara dengan joging, bukan joging fisik, tetapi joging emosional, mental dan spiritual.
Tawa memproduksi zat-zat kimiawi di otak yang diyakini menimbulkan efek mengenakkan, menenteramkan, meringankan. Karena itu, kita tidak bisa sekaligus tertawa tekekeh-kekeh sambil sedih. Tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika sedang marah-marah. Tawa itu mengendorkan, maka tak mungkin kita terkekeh dan tetap tegang atau stres.
Tokoh ini menyebut bahwa tawa adalah anugerah istimewa dari Allah bagi umat manusia. Konon tawa bisa menghindarkan orang dari berbuat kejahatan dan menghindarkan perang. Tawa adalah perekat hubungan.
Bagi saya, tawa seperti kekaguman pada keindahan yang terpampang di depan mata. Kekaguman pada keindahan itu dapat dibagikan kepada begitu banyak orang tanpa berkurang. Dalam hal tawa, dia tak hanya tak berkurang, tapi malah semakin besar dan menjadi-jadi, karena tawa itu mudah menular sifatnya. Di kantor, kami pernah mempraktikan hal ini. Karena kami menerbitkan buku Madan Kataria, Laught of No Reason, kami tak ingin ketinggalan untuk mencobanya. Orang yang mengawali benar-benar tertawa tanpa alasan. Yang lain terpicu karena lucu… masak tak ada apa-apa kok ketawa. Tak selang lama, semua tertawa terpingkal-pingkal… sampai lebih dari seperempat jam dan sulit dihentikan.
Terkekeh, walau tanpa alasan, sungguh melegakan. Cuma saya tak mau melakukannya terlalu sering, nanti dikira sinting, walau sebenarnya saya juga tak perlu khawatir karenanya, sebab yang mengira itu mungkin saja lebih tak waras daripada saya, ha ha ha….
Anand Krishna, seorang guru meditasi yang telah menulis lebih dari 110 buku sejak tahun 1997, memiliki terapi tawa, dan cara meditasi dengan didahului oleh tawa. Saya pernah mengikuti salah satu sesi terapi tawanya sekadar untuk tahu. Saya dengar darinya, setiap dua minggu sekali, pada hari Minggu jam 6 – 7 pagi, terkadang ada sampai 3.000 – 5.000 orang terpingkal-pingkal tertawa bersama kayak orang gila di Monas, Jakarta. Hal yang sama terjadi di Jogja dengan peserta sekitar 500 orang. Sedangkan di Denpasar kadang diikuti oleh sekitar 800 – 1.200 orang. Pria wanita, tua muda dari berbagai latar belakang agama, suku, profesi, aliran politik, tertawa terkekeh selama satu jam bak orang tak waras, tapi keluar dari situ semuanya merasa plong dan lebih waras.
Ternyata tidak hanya itu kekuatan tawa. Tawa bahkan menjadi semacam tolok ukur kedewasaan kita.
Robin Sharma, penulis bestseller The Monk Who Sold His Ferrari, menegaskah hal itu. Dalam bukunya The Greatness Guide, buku kedua, dia mengatakan, “The best among us don’t take themselves too seriously. They do their best and then let go, letting life do the rest.” Yang terbaik di antara kita, menurutnya, tak terlalu serius menganggap diri mereka. Mereka melakukan yang terbaik, lalu melupakannya, dan membiarkan kehidupan melakukan selebihnya. Alasan dia, karena kehidupan ini memiliki kecerdasannya sendiri.
Saya paham yang dia maksudkan. Pengalaman banyak orang mengkonfirmasi kenyataan itu. Karena itu, yang penting kita telah memberikan kontribusi yang kita usahakan sebaik-baiknya, dan selebihnya biarlah kehidupan sendiri yang mengembangkan dan menggelindingkannya. Kehidupan memiliki waktunya sendiri untuk menanggapi kontribusi kita. Kadang segera. Kadang menunggu lama. Kalau waktunya belum tiba, sebesar apa pun upaya yang sudah kita investasikan tampaknya sia-sia. Kalau sudah waktunya, kadang kontribusi seupil menggelinding seperti bola salju dahsyat, dengan efek tak terduga. Masalahnya kita tak tahu kapan waktu itu, sehingga paling bijak kalau selalu mengusahakannya yang terbaik, sekarang.
Berkenaan dengan itu saya lihat paradoks luar biasa yang dipahami dan dihidupi oleh orang-orang yang terbaik di antara kita. Paradoks itu tercermin dengan jelas lewat kata-kata Robih Sharma, “No one will take you seriously, if you take yourself too seriously.” Orang justru tak akan memandang Anda dengan kekaguman ketika Anda terlalu sadar diri dan merasa diri orang penting sehingga mudah tersinggung ketika tak ada yang menyanjung.
Jangan salah sangka, orang-orang terbaik itu tetap serius dengan apa yang mereka kerjakan. Penghargaan itu cuma komplimen tambahan, yang sebagai manusia biasa tentu tetap saja diharapkan, tetapi bila tak ada pun mereka juga tetap tegak berdiri sebagai orang-orang yang percaya diri. Orang-orang terbaik itu akan menjadi pihak pertama yang bisa dan siap menertawakan diri mereka sendiri kalaupun dengan segala keseriusan itu mereka ternyata membikin kekonyolan. Dan inilah paradoks luar biasa berikutnya: Kalau kita menjadi orang pertama yang paling siap menertawakan diri sendiri, sungguh, kita hanya meninggalkan sedikit ruang untuk bisa ditertawakan orang.
Karena itu, pertanyaan Robin Sharma yang menjadi judul tulisan ini, “How Jokeable Are You?” saya teruskan dan saya rinci menjadi sekurang-kurangnya tiga pertanyaan yang perlu kita jawab sendiri-sendiri.
Pertama, sejauh mana Anda mudah dibikin atau diajak tertawa? Semakin mudah, semakin baik.
Kedua, sejauh mana Anda siap dan kuat ditertawakan? Semakin siap dan kuat, semakin baik.
Ketiga, sejauh mana Anda siap menertawakan diri sendiri? Semakin siap, semakin baik.
Konon, kehidupan ini tak pernah dimaksudkan sebagai cobaan berat, apalagi siksaan. Robin Sharma mengatakan, “It was meant to be pure joy. So, be jokeable. Yes, go for world class. But blend that drive with a sense of amusement and festivity.” Kehidupan ini dimaksudkan sebagai suka cita. Karena itu, mudahlah tertawa dan bisa menertawakan diri sendiri. Raihlah prestasi kelas satu di dunia, tapi sertai dorongan itu dengan keceriaan, rasa humor dan jiwa yang selalu siap merayakan kehidupan.
Bagaimana menurut Anda?


Wandi S. Brata

Baca selengkapnya...

Demitologisasi Gempa Bumi

Sebuah "perjumpaan" antara energi serba misteri dari perut bumi dengan makhluk ciptaan-Nya di Bumi Minang menggetarkan keharuan dan menyisakan pertanyaan, mengapa kekuatan nasib berakhir absurd adanya?

Pada Rabu (30/9), pukul 17.16, Kota Padang porak poranda, meruntuhkan ratusan bangunan, memecah ratap tangis anak manusia.

Setelah terlempar kepada tiga kata - tanpa tahu mengapa - pancaindra mengisi jalinan serabut pengalaman untuk memenuhi keingintahuan mengenai apa yang sedang terjadi. Gempa bumi berskala 7,6 skala Richter mengguncang beberapa wilayah Sumatera Barat.

Dan warta nasional, regional bahkan internasional mengabarkannya dalam rentetan kalimat dan runtutan gambar plus suara, sebagai upaya menggoyang nurani pembaca dan menyentuh imaji pemirsa. Di Bumi Minang ada gempa hati.

Satu tirai hari tertutup, 24 jam terlewat, media cetak menurunkan kepala berita agar jutaan kepala insani tersentuh kemudian hati terlibat atas nama kredo kemanusiaan. Padang Porak Poranda, tulis harian Kompas, Sumatera Barat Luluh Lantak (Media Indonesia), Padang Lumpuh (Republika), Korban gempa bisa capai ribuan orang (Bisnis Indonesia).

Media ingin menggenapi syahadat - meminjam istilah kunci filsuf dan teolog Rudolf Bultmann - demitologisasi: kita berada di dalam dan bukan di luar. Ragam pilihan kata dari empat media cetak itu ingin menjangkau pengalaman mendasar mengenai teks berjudul duka manusia.

Sementara media elektronika menayangkan laporan terkini mengenai korban jiwa, mengenai kehancuran bangunan, mengenai korban yang masih terkubur. Mengalun musik menyayat hati sebagai iring-iringan dari kereta akhir usia manusia, semoga ia beristirahat dalam damai. Requiescat in pace (RIP).

Demitologisasi gempa bumi di tanah Minang dibaptis sebagai tampilan "actum" tanpa "factum", artinya aktualitas dinomorsatukan agar nilai dan makna hidup diperoleh dalam perjalanan detak waktu. Di bawah payung musibah kemanusiaan di Sumatera barat, mengerti berarti turut mengalami, merasakan dan mencintai sesama agar dapat merancang diri sendiri. Yang rasional plus yang emosional.

Jerit korban terus dikirim, nasib korban terus disentuhkan agar keterlibatan pribadi tidak tinggal sebatas kalimat-kalimat umum. Yang diperlukan, empati. Dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berada di garis depan, bersumber dari nuansa bening demitologisasi yakni keterlibatan pribadi dalam setiap tragedi kemanusiaan.

"Dalam keadaan ini diperlukan kecepatan dan kalau ada yang bisa lebih dulu ke sana serta ada kerjasama ASEAN dan negara sahabat seperti itu, maka silakan saja. Tapi kendali tetap di tangan kita. Namun itu nomor dua, yang utama kerahkan dulu tenaga kita," kata Presiden usai melakukan rapat terbatas penanganan dampak gempa Sumatra Barat di Pangkalan TNI AU Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Dalam arahannya ketika meninjau posko penanganan bencana di Balaikota Pariaman, Sumbar, Jumat, Presiden mengingatkan kecepatan adalah faktor penting dalam menangani dampak bencana pada tahap tanggap darurat."Dana 100 miliar harus mengalir, jangan ada birokrasi lagi. Ini darurat, kecepatan penting," katanya menegaskan.

Presiden juga mengingatkan, dana bencana itu harus dipakai secara efektif dan efisien, tanpa ada penyelewengan. "Yang penting uang itu betul digunakan, jangan ada menyimpang ke sana kemari. Itu neraka, dosanya besar," katanya. Ada pijar pembaruan hidup yang ingin ditawarkan kepada publik ketika teks bencana Minang menyergap kontemplasi setiap manusia.

Kontemplasi yang dibalut aksi juga dikemukakan oleh Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Ia memperkirakan biaya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi akibat gempa di Sumbar bisa mencapai tiga sampai dengan empat triliun rupiah.

"Saya sudah perintahkan Bappenas untuk mendata, saya kira biaya untuk rehabilitasi dan rekonstruksinya akan sangat besar hingga mencapai tiga sampai dengan empat triliun rupiah," katanya usai shalat Jumat di masjid Istiqlal, Jakarta. Sebelumnya pemerintah telah menganggarkan dana Rp100 miliar untuk tanggap darurat.

Ketika merespons teks bertajuk demitologisasi gempa Sumbar, gempa bumi di Tanah Air, Presiden dan Wakil Presiden memadatkan formula kontemplasi yakni "siapa yang tidak mempunyai rumah, tidak dapat berkelana ke mana-mana". Ini kontemplasi dalam nukleus pengalaman kesejarahan ketika berwawan-kata mengenai gempa bumi.

Tanah Sumatra telah berkutat dalam narasi bencana gempa bumi. Pada 4 Juni 2000, Bengkulu dilanda gempa tektonik berkekuatan 7,3 skala Richter (SR), sebanyak 94 orang meninggal dunia dan ratusan luka-luka. Pada 26 Desember 2004, lebih dari 300 ribu orang tewas dan hilang ketika gempa 9,15 SR memicu Tsunami menerjang Aceh dan Sumatra Utara.

Pada 28 Maret 2005, gempa 8,5 SR menewaskan 900 orang lebih. Pulau Nias paling hebat dilanda bencana dan 633 orang meregang nyawa, 50 orang hilang dan 27 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Pada 6 Maret 2007, gempa berkekuatan 5,8 SR mengguncang Sumatra Barat. Sebanyak 78 orang tewas dan sejumlah bangunan dan jalan rusak berat.

Ribuan nyawa menghadap Sang Khalik untuk mengucap rumus kehidupan dari tanah kembali ke tanah, mengiyakan Alfa menuju Omega. Dan manusia Indonesia berucap dalam solidaritas kemanusiaan.

Ada gelontoran dana di beberapa gempa nasional dan dana rehabilitasi. Sebut saja, gempa Aceh dan Nias (2004) ada dana Rp5 triliun, gempa Yogyakarta (2006), Rp3.300 miliar; gempa Jawa Barat (2006) Rp1,4 triliun; gempa Pangandaran (2009), Rp800 miliar.

Nah, bagaimana semua prakarsa empati manusia Indonesia ini bermakna ketika berhadapan dengan aneka gempa bumi agar kontemplasi manusia mendekati paripurna?

Filsuf abad 17, Malebranche punya jawabannya. Ia menulis, "Matahari terbit tanpa memandang yang baik dan yang jahat, sering membakar tanah orang-orang baik. Manusia sama sekali tidak ditimpa penderitaan dan kesengsaraan menurut kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya".

Dan warta demitologisasi gempa bumi tunggal saja: hanya sesuatu yang berakar yang bisa hidup dan bertumbuh.


A.A. Ariwibowo

Baca selengkapnya...

Kamis, 01 Oktober 2009

Cara Mudah Mengusir Malas

“Kev, cepet belajar! Dari tadi buka facebook terus! Kamu itu kalau gak di suruh ga mau gerak, harus punya inisiatif dong kalau jadi orang!”, begitulah kalau keasikan main. Rasanya kalau udah main malesss banget.

Kalau saya pikir-pikir kayaknya kalau males itu diilangin pasti setiap orang bisa jadi hebat banget. Banyak orang ,termasuk saya hehehe tau kalau belajar itu bagus, bisa bikin kita pinter, kalau pinter di puji orang tua, akhirnya bisa dapet uang jajan lebih banyak hehehe… Kita tau, semua orang juga tau, tapi kok yang sukses cuma sedikit ya?! Ya karena terhalang males ini! Dan kayaknya males ini kok gak ada obatnya ya?? Bahkan waktu menulis artikel ini pun saya MALES!

Padahal akibat dari males pun kita tau, kita jadi nunda-nunda kerjaan dan akhirnya kalau PR dah numpuk kita bilang, “Gak ada waktu nih … Gurunya nyebelin kasih tugas kok gak kira-kira.” Padahal si guru udah ngasih tugas dari 2 minggu yang lalu. Jadilah kita cari alasan dan membuat excuses! Dan pada saat itu akhirnya kita tergerak buat ngerjain PR karena biasanya deadlinenya udah deket dan temen temen kita udah pada kelar ngerjain tugasnya!
Pada saat itu biasanya kita buatnya asal-asalan dan yang lebih parah lagi karena udah panik kita buru-buru nyalin PR temen!
Nah, dari pada kita “nunggu” perasaan takut itu dateng, trus kita baru termotivasi buat ngerjain PR, mendingan kita buat duluan aja perasaan takut itu. So, kita langsung bisa take action! Lah, gimana caranya?
Kalau kita mau menciptakan rasa takut itu, kita harus membayangkan dengan sangat dramatis dan seolah-olah benar benar terjadi. Ingat kita adalah makhluk emosi, jadi sebenernya otak kita gak ngenalin mana yang nyata atau hanya “bayangan” aja.
Yuk, sekarang coba kita bayangkan apa yang nani bakal terjadi kalo kita masih terus nunda-nunda pekerjaan kita, bayangin kalo kita males-malesan terus akhirnya nilai ulangan kita gak ada yang lulus! Bayangkan kita dimarahin guru-guru dan ortu, trus pada hari libur kita gak boleh kemana-mana! Cuma di kurung di kamar dan harus belajar, ditambah lagi kita gak dikasih uang jajan selama sebulan penuh! Bayangkan itu semua secara dramatis dengan penuh emosi!
Wah… serem banget kan? Trus kalau mau lebih serem lagi, bayangkan apa yang akan terjadi 5 tahun lagi kalau kamu masih nunda-nunda pekerjaan kamu! Bayangkan kamu gak lulus kuliah dan gak dapet pekerjaan! Utang sana-sini!
Wah … tambah ngeri lagi nih! Kalau temen-temen udah ngebayangin yang jelek-jelek secara dramatis, sekarang kita mau ngebayangin hal-hal yang positif!
Bayangkan apa yang akan terjadi kalau kita gak nunda nunda kerjaan atau PR kita. Bayangkan kita dipuji guru-guru dan ortu. Bayangkan kamu disukai semua temen-temen kita. Bayangkan kita dapat uang jajan tambahan! Pokoknya bayangkan kesuksesaan temen temen kalo gak lagi nunda-nunda kerjaan.
Inget ya, waktu ngebayangin sesuatu temen temen harus kasih emosi. Perjelas bayangan kita, lalu perjelas juga suaranya, rasakan suasananya. Bayangkan juga dimana tempatnya secara detail.
Temen temen inget motto ini, “No Action Nothing Happen, If you take action Miracle happen!” Pak Einstein juga ngomong, ”Bila ingin hasilnya berbeda tetapi tindakannya tetap sama, adalah definisi dari orang gila!”
Cara lain untung mengubah kita yang malas menjadi rajin yaitu dengan merubah fokus.
Temen saya, Brian yang dulunya males-malesan belajar terus yang ulangannya agak jelek, tiba-tiba kok nyamperin gua buat ngerjain PR sama sama, terus jauh jauh hari sebelum ulangan Mat udah minta ajarin saya. Saya kaget juga ketemu ketemu ternyata dia mau cari muka di depan cewek yang dia suka.. Ooooo jadi ngerti saya sekarang! Kalu dia bisa ngerjain PR dia bisa ngakarin sekalian Pedekate.. hehehe^^
Nah, si Brian itu tanpa dia sadar telah nerapin jurus merubah fokus ini.
Biar lebih jelas lagi gimana caranya ngerubah fokus, nih salah satu caranya: Merubah gerak.
Merubah gerak itu maksudnya merubah kebiasaan yang sifatnya jasmani kayak kebiasaan duduk kita misalnya. Nanti akan kita rubah dari kebiasaan yang kurang memotivasi kita menjadi kebiasaan yang bikin kita lebih semangat!
Supaya lebih jelas lagi kita buktiin sendiri yuk! Inget kalau kita berpartisipas ilmunya lebih cepet nangkep loh!
Test 1: Coba temen temen duduk seperti biasa ketika temen temen sedang bersantai.
Nah sekarang temen temen lakukan Test 2
Test 2: Sekarang coba kita duduk dengan tegak, dada dibusungkan ,tarik nafas dalam dalam … buang ….. fuhhhhhhh….. Lalu cobalah tersenyum tanpa alasan..:D
Ketauan bedanya kan? Perasaan kita jadi jauh lebih enak dan fresh!
Tentunya temen temen ngerasain perbedaanya kan?? Jadi pasti temen temen udah ngerti gimana gerak memengaruhi perasaan dan mood kita??
Saya masih inget waktu saya lagi gak mood banget ngerjain tugas, rasanya capek banget, tapi seketika moodnya berubah loh akibat dari “Guncang bumi” yang di ajarkan Pak Tung secara gak langsung lewat VCD seminarnya. Terus terang walaupun pertama saya pikir ini agak aneh, tapi begitu dipraktikkan sangat dasyat!
Nih ada PR buat temen temen! Hehehe ini PR gampang kok.. Temen temen tulis sendiri 30 cara untuk memotivasi diri lewat gerakan, saya sendiri udah nemuin lebih dari 50 cara loh. Contohnya ya, tarik nafas dalam dalam (jangan lupa di hembuskan ya!hehehe), tersenyum tanpa alasan (jangan dilakukan di depan orang-orang!XD), melihat pemandangan, ngulet, dll, pokoknya yang bisa membuat kita ngerasa lebih baik!
PS: Tips ini tidak hanya untuk pelajar seperti saya , tetapi untuk semua orang! (Hanya tinggal disesuaikan sesuai kondisi saja).

Semoga tips ini bermanfaat.


Oleh: Kevin Jordy

Baca selengkapnya...

Untung Ada Orang Gila

George Bernard Shaw (26 July 1856 – 2 November 1950), pengarang drama terkenal dari Irlandia yang menerima sekaligus Hadiah Nobel Bidang Sastra (1925) dan Piala Oscar (1938), mengatakan: “Orang ‘waras’ menyesuaikan diri dengan dunia; sementara orang ‘tak waras’ terus gigih berusaha menyesuaikan dunia dengan dirinya. Karena itu, segala kemajuan tergantung pada orang yang ‘tak waras’.”

Senang sekali saya membaca kata-kata hebat itu dalam buku Robin Sharma, The Greatness Guide, jilid kedua. Saya jadi ingat tokoh-tokoh besar yang di jamannya ditertawakan atau bahkan dikucilkan orang karena gagasan atau cita-cita mereka.
Saya ingat para astronom seperti Nicolaus Copernicus, seorang pastur dan ilmuwan generalis serba bisa yang merevolusi paham lama mengenai pergerakan benda-benda angkasa yang secara harfiah disimpulkan dari kitab suci. Melalui bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Peredaran Bola-bola Angkasa) ia menyajikan dasar-dasar astronomi modern, di tengah cercaan dan tentangan kaum kolot agama. Saya ingat Galileo Galilei yang membela Copernicus bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, tetapi sebaliknya, dan untuk itu, dia jadi tawanan rumah seumur hidup.
Saya ingat filsuf naturalis besar Charles Darwin yang menulis buku yang menggegerkan dunia berjudul On the Origin of Species, yang sampai kini pun masih ada pihak yang alergi terhadap pandangannya. Saya ingat orang-orang seperti Columbus dan Amerigo Vespucci yang tak takut kecebur ke jurang tanpa dasar yang diyakini adanya oleh orang-orang yang mengganggap dunia ini datar.
Hebat mereka semua. Orang-orang yang di jamannya dianggap “tak genah”, “pemimpi nyeleneh”, “tak masuk akal”, “tak punya akal sehat”, atau bahkan “sinting”, “tak waras” itu membuka mata kita bahwa mayoritas sebenarnya tak punya otoritas terhadap kebenaran. Bahwa mayoritas bisa keblinger, bahkan kalaupun mayoritas itu mendasarkan pandangan mereka pada pengetahuan yang mereka tarik dari kitab yang dianggap suci oleh seluruh dunia.
Dari sejarah mereka kita belajar bahwa objektivitas lebih kuat daripada klaim atau kepercayaan; bahwa penampakan kebenaran umumnya berproses seperti plot biasa film koboi. Kalah dulu, menang belakangan. Tapi, karena menutup episode, kemenangan itu terasa lebih manis. Sayangnya, dalam kasus orang-orang yang saya sebut tadi, khususnya Copernicus dan Galileo, kemenangan kebenaran mereka baru diakui sekian abad kemudian. Mereka terpaksa menunggu sekian lama untuk direstorasi nama baik mereka, walau sesungguhnya nama baik mereka tak perlu direstorasi, karena nama baik itu sebenarnya tidak rusak… cuma tidak diterima oleh otoritas yang merasa tahu objekvitas dunia hanya dari sumber yang mereka percaya secara buta. Nama yang menindas merekalah yang sesungguhnya menjadi tidak baik, dan perlu direstorasi dengan minta maaf kepada pihak yang mereka tindas, juga kepada dunia yang telah menjadi saksinya yang tak pernah lupa.
Sesungguhnya, selama sekian abad tadi, pihak yang semula menertawakan itu tersuruk-suruk dalam rasa malu. Anak cucu tertunduk-tunduk keberatan beban rasa salah atas kekonyolan kaum pendahulu. Ujung-ujungnya — kalau memang gentlemen, punya harga diri dan karenanya mau jadi rendah hati — mereka atau anak cucu tadi harus mewakili pendahulu untuk mengaku salah dan menyesal.
Ada ironi, bahkan tragika, dalam pengetahuan kita. Dia menerangi, mempermudah dan membebaskan; tetapi pada saat yang sama pengetahuan kita memerangkap kita di dalam logikanya. Begitu kita pegang logikanya, tak cukup bebas lagi kita untuk menerima logika yang lain.
Perangkap itu semakin menjadi-jadi begitu pengetahuan itu tersosialisasi, apalagi kalau disertai dengan teror, dari yang paling halus sampai yang kasar kotor. Berdasarkan pengetahuan itu lalu realitas akan terpisah antara yang masuk akal dan yang tak masuk akal, berdasarkan logika dan paradigma yang diandaikan oleh pengetahuan itu. Berdasarkan pengetahuan yang sudah tersosialisasikan itulah orang dianggap waras atau sinting. Yang sejalan dengan mayoritas yang memegang pengetahuan tersosialisasi tadi dianggap waras, masuk akal, rasional, normal, teman. Yang tak sejalan disebut aneh, nyleneh, subversif, murtad, gila, sinting, dan lawan yang sampai-sampai harus dihancurkan.
Perangkap pengetahuan inilah yang mendorong J. Krisnamurti untuk menulis Freedom from the Known, untuk memungkinkan kita merebut kembali kebebasan kita dari perangkap pengetahuan. Mistiskus India ini memberi kita perspektif untuk merebut kembali fleksibilitas kita terhadap penyingkapan fakta-fakta, tanpa dihalangi oleh prasangka. Dengan itu, jiwa kita akan jadi sedemikian lebar, untuk menampung keluasan cakrawala interpretasi yang menembus batas-batas kungkungan pengetahuan kita mengenai realitas.
Masih belajar apa lagi kita dari orang-orang “gila” itu? Dari kasus Columbus dan Amerigo Vespucci, kita jadi tahu betapa di tengah tawa sinis dan cercaan orang, impian yang paling dianggap mustahil dan sinting pun bisa terjadi dan akhirnya menang.
Sejarah peradaban mempunyai banyak contoh menyedihkan bahwa para pengritik selalu menertawakan visi pemikir genius dan orang-orang yang visioner. Nyatanya, setiap jengkal kemajuan peradaban manusia yang sungguh bermakna hampir selalu dihasilkan oleh orang yang terus berjuang di tengah cemooh yang mengatakan bahwa para visioner tadi tak lebih dari punguk yang merindukan bulan. Karena itu, akan beruntung dunia ini bila Anda terus mengejar impian Anda, tanpa mempedulikan pengritik Anda. Akan untung dunia ini, kalau Anda mengikuti pikiran liar Anda, tanpa peduli terhaap cemooh yang cuma datang dari kepicikan orang.
Dari kisah pelayaran dua pelaut ulung itu kita juga bisa belajar sesuatu mengenai ketakutan. Darinya kita bisa menyimpulkan bahwa banyak kali ketakutan kita tak lebih dari hantu jadi-jadian ciptaan kebodohan. Jurang tanpa dasar di ujung samodera yang ditakuti orang seantero dunia itu ternyata hanya mitos dungu yang dipegang oleh orang yang terpasung oleh apa yang mereka anggap ilmu.
Karena itu, saya tutup tulisan ini dengan mengutip ucapan motivator dan konsultan kepemimpinan yang sudah beberapa kali saya sebut namanya, Robin Sharma. “Jadilah orang yang tak masuk akal. Dunia ini membutuhkan lebih banyak pemimpi, yaitu orang-orang yang dianggap tak masuk akal, tak waras, yang terus berjuang melawan kecenderungannya untuk puas menjadi orang yang ala kadarnya saja!”.


Wandi S. Brata

Baca selengkapnya...