Pengamat ekonomi, Ifan Kurniawan, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan cukup cerah karena berbagai faktor positif baik internal maupun eksternal sangat mendukung.
Investasi asing yang semula hanya dalam jangka pendek mulai meningkat menjadi jangka panjang karena melihat prospek pasar domestik yang makin bagus, kata Irfan yang juga analis PT First Asia Capital di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan, investasi asing di Indonesia tidak hanya di pasar uang, pasar saham, obligasi maupun di instrumen Bank Indonesia (BI), tetapi mereka mulai masuk ke sektor riil.
Ini karena Indonesia diharapkan akan dapat menjadi basis relokasi produksi apalagi tenaga kerja di pasar domestik mudah diperoleh, ucapnya.
Menurut dia, ekonomi Indonesia sebenarnya dapat tumbuh lebih dari target yang ditetapkan pemerintah maupun Bank Indonesia, asalkan pemerintah juga mempercepat penyaluran belanja modalnya agar sektor riil dapat tumbuh lebih baik.
Apalagi peluang investasi asing lebih fokus ke pasar Asia ketimbang ke Amerika Serikat dan Eropa yang ekonominya masih belum menentu.
Eropa saat ini masih dilanda krisis keuangan yang terus terjadi di berbagai negara kawasan itu seperti Spanyol, Italia dan Irlandia, sedangkan Amerika Serikat saat ini harus dapat meningkat peringkat utangnya agar paket stimulusnya dapat digulirkan lagi.
AS bahkan mendapat ancaman lembaga pemeringkat Moody`s bahwa tingkat utangnya akan segera diturun apabila tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan kongres mengenai pagu utangnya, tuturnya.
Pelaku asing, lanjut dia, juga makin aktif bermain di pasar Asia, setelah laju pertumbuhan ekonomi China diluar perkiraan pasar yang semula hanya 9,3 persen saat ini mencapai tumbuh 9,5 persen pada semester kedua 2011.
Karena itu pelaku asing makin optimis untuk lebih aktif bermain di pasar Asia melakukan berbagai usaha, karena pasarnya tetap menarik untuk melakukan investasi baru, ujarnya.
Sumber : ANTARA News
Sabtu, 16 Juli 2011
Prospek Ekonomi Indonesia Kedepan Cerah
Berharap Pada Pemimpin IMF Yang Baru
Polemik pemilihan Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) yang baru selesai. Adalah Christine Lagarde (55 tahun) dari Perancis yang pada Selasa lalu (28/6) ditunjuk menjadi ketua IMF. Wanita pertama yang menjadi ketua IMF ini bakal langsung menghadapi krisis karena kekerasan protes anti penghematan Yunani mengguncang stabilitas zona euro.
Menteri keuangan Perancis mengatakan, Lagarde dihormati secara luas untuk kepemimpinannya selama krisis keuangan Eropa selama tiga tahun terakhir sehingga dia layak terpilih untuk menggantikan sesama Perancis Dominique Strauss-Kahn, yang mengundurkan diri tiba-tiba pada 18 Mei setelah ditangkap di New York untuk dugaan pelecehan seksual terhadap pelayan hotel.
Dewan eksekutif IMF telah memilih Christine Lagarde untuk mengabdi sebagai Direktur Pelaksana IMF dan ibu ketua dewan eksekutif untuk jangka waktu lima tahun mulai 5 Juli 2011. Lagarde menjadi wanita pertama yang ditunjuk untuk pos tertinggi IMF sejak lembaga didirikan awal 1944. Semua anggota dewan eksekutif IMF yang berjumlah 24 orang menyebut Lagarde sebagai kandidat berkualitas baik dan akhirnya memutuskan memilih Lagarde dengan konsensus.
Sekarang banyak Negara menanti bagaimana kiprah dan kontribusi akan diberikan oleh ketua IMF yang baru, terutama untuk kawasan Asia. Maklum, kendati dia memperoleh suara bulat, namun ada juga yang menyangsikan kemampuannya. Apalagi pemerintah Amerika Serikat sudah memikirkan untuk menaruh pejabatnya asal Departemen Keuangan untuk menempati posisi Kepala Bank Dunia.
Jika secara tradisi Direktur IMF dikepalai Eropa, maka kepala Bank Dunia dijabat oleh AS. Beberapa waktu lalu sempat berhembus kabar Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton berniat meninggalkan jabatannya sebagai menteri dan bersiap menjadi perempuan kepala Bank Dunia yang pertama.
Reaksi Negatif
Sayangnya, penunjukan Lagarde juga memancing reaksi negatif dari sejumlah orang. Ada yang mengatakan Lagarde adalah pilihan yang salah untuk mengepalai IMF karena mengambil lebih dalam ke dalam penyelamatan zona euro. Itulah pernyataan seorang mantan kepala ekonom (IMF), Simon Johnson. Menurutnya, Lagarde secara eksplisit diajukan sebagai seseorang yang dapat mewakili kepentingan zona euro pada saat zona euro membutuhkan bantuan.
Masih menurut Johnson, ada cacat desain utama di zona euro dan Lagarde adalah orang yang terakhir bahwa pemerintah non-Eropa harus mau ditugaskan membantu menyelesaikan masalah ini. Johnson, seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menjabat sebagai kepala ekonom IMF pada 2007-2008, mengatakan kehancuran keuangan Yunani, Irlandia dan Portugal mewakili “cacat desain” dan bahwa hal itu menuntut respon strategi yang sulit. Kesimpulannya, kepemimpinan zona euro perlu membuat sebuah pilihan.
Johnson mengakui Lagarde mungkin sudah memiliki cukup dukungan untuk menjadi direktur pelaksana IMF setelah pengunduran diri Dominique Strauss-Kahn. Tetapi sebagai ketua IMF, ia akan paling mungkin terus melemparkan kredit pada masalah zona euro, merujuk pada kemungkinan fasilitas pinjaman pencegahan untuk Spanyol, Italia, atau Belgia.
Sementara itu, mantan pejabat IMF, Eswar Prasad, menilai seiring upaya menangani krisis keuangan di Yunani, IMF harus lebih tegas dalam aturan pendanaan dan mampu memaksa Eropa menerima program restrukturisasi utang. Tantangan terbesar Lagarde adalah mengelola upaya IMF mengatasi krisis Yunani tanpa menjadikannya sebagai masalah yang lebih besar dan sekaligus tak ada perlakuan istimewa.
Komentar sinis juga datang dari ekonom Indonesia. Terpilihnya Christine Lagarde menjadi Direktur Pelaksana IMF tidak akan memberikan perubahan berarti bagi perekonomian dunia. Justru, terpilihnya Menkeu Perancis itu membuktikan dominasi AS dan beberapa negara Eropa sebagai pemegang saham IMF masih sangat besar. Soalnya kepentingan IMF bukan untuk membantu negara-negara yang terkena krisis, tetapi demi kepentingan negara-negara Barat. Itulah pernyataan ekonom senior, Rizal Ramli, di Jakarta (29/6).
Janji Lagarde untuk memberikan “ruang bermain” lebih besar kepada Asia, terutama China dan India, menurutnya sulit direalisasikan, karena dia harus menjalankan kepentingan pemegang saham IMF. Makanya, bagi Indonesia yang mendukung Lagarde, jangan heran kalau nanti IMF tidak memberikan dampak langsung.
Sedangkan pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, menyatakan terpilihnya Lagarde karena konsensus bersama AS dan beberapa negara maju Eropa. Sebagai pemilik suara tertinggi, AS tentunya akan memilih orang yang sejalan dengannya. Ekonomi Prancis sepaham dengan AS sehingga Lagarde terpilih.
Tapi semua kritik dan pandangan negatif itu tentu akan menjadi referensi bagi ketua IMF yang baru untuk menunjukkan bahwa pilihan yang dijatuhkan kepada dirinya adalah pilihan yang tepat dan benar.
Salah Langkah
Salah satu aspek yang harus dibenahi oleh ketua IMF yang baru adalah ketepatan untuk memberikan advis, solusi dan rekomendasi dalam menangani negara yang terlanda krisis ekonomi. Maklum, IMF selalu salah langkah ketika ingin membantu negara-negara berkembang seperti Indonesia. IMF berpikir dengan mengucurkan dana besar permasalahan di negara berkembang akan selesai.
IMF tidak melihat masalah yang struktural yang terjadi, terutama dalam mengatasi masalah kemiskinan sehingga berapa pun besarnya dana yang dikucurkan, tidak menyelesaikan masalah. Eropa juga terbukti gagal dalam mengatasi masalah ekonomi. Terbukti dengan gagal menerapkan jaminan sosial pada orang tua dan jompo. Program gagal menyebabkan uang di negara-negara maju di Eropa terkuras.
Beberapa waktu lalu, setelah memberikan bantuan utang kepada Indonesia, IMF serta-merta mensponsori kebijakan-kebijakan pro-investasi di sektor industri tambang dan energi. Produk kebijakan tersebut, di antaranya UU Migas, UU Kelistrikan dan UU Panas Bumi, serta UU No. 19 Tahun 2004 (BN No. 7140 hal. 31B-32B) tentang Kehutanan.
Intervensi IMF itu tidak membuat rakyat sejahtera. Pasalnya, sumber daya alam dan keuangan yang semestinya dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat justru dijarah dan digadaikan untuk kepentingan pihak asing. Jadi, jangan pernah bermimpi Indonesia dan negara-negara lain akan sejahtera selama masih bergantung IMF. Jangan pula pernah bermimpi bisa memberikan kemakmuran kepada masyarakatnya, karena dalam konsep ekonomi liberal, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin bertambah miskin.
Indonesia memang tidak bisa sepenuhnya meninggalkan IMF. Terbukti, intervensi IMF di Indonesia masih sangat kuat, tidak hanya dalam menentukan arah kebijakan ekonomi, tetapi juga dalam produk politik seperti undang-undang (UU). Bahkan, puluhan UU yang ada saat ini, sangat kental dengan campur tangan IMF, sebut saja UU Migas, UU BUMN, UU Penanaman Modal Asing, hingga UU Pemilu.
Dampaknya, sumber daya alam dan keuangan ikut dirambah dan tergadaikan untuk kepentingan pihak asing. Padahal, UU yang diduga “pesanan asing” tidak berdampak baik dalam kehidupan rakyat. Dampak buruk sangat jelas sekali, di mana sumber daya alam dijarah pihak asing. Akibatnya, Indonesia tidak menjadi mandiri dan berdaulat secara ekonomi dan politik.
Dengan semakin pentingnya posisi Indonesia di dunia internasional, ke depan pemimpin Indonesia harus lebih berani menyuarakan kepentingannya untuk melindungi negara dan bangsanya dari eksploitasi IMF melalui berbagai program, kebijakan dan rekomendasi.
Sumber : BusinesNews
Ulat & Pohon Mangga
Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia menghampiri pohon mangga sambil berkata, “Aku lapar, bolehkah aku makan daunmu?”
Pohon mangga menjawab, “Tanah di sini tandus, daunku pun tidak banyak. Apabila kau makan daunku, nanti akan berlubang dan tidak kelihatan cantik lagi. Lalu aku mungkin akan mati kekeringan. Hmmm… tapi baiklah, kau boleh naik dan memakan daunku. Mungkin hujan akan datang dan daunku akan tumbuh kembali.”
Ulat naik dan mulai makan daun-daunan. Ia hidup di atas pohon itu sampai menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.
“Hai pohon mangga, lihatlah aku sudah menjadi kupu-kupu. Terima kasih karena telah mengizinkan aku hidup di tubuhmu. Sebagai balas budi, aku akan membawa serbuk sari hingga bungamu dapat berbuah.”
Dalam hidup kita sering memperhitungkan untung rugi pengorbanan yang dilakukan. "Jika saya memberi, saya akan kekurangan. Bagaimana mengatasinya?" Atau, "Bagaimana kalau ternyata saya ditipu?"
Tapi sadarkah kita, setiap kita memberi, ada sepercik sukacita di hati? Mother Teresa pernah berkata, “Lakukan apa yang menjadi bagianmu, dan jangan berpikir apa yang akan kita dapat.” Bila ingin memberi, lakukan saja karena semuanya akan kembali ke kita juga.
Oleh Andrie Wongso
Minggu, 03 Juli 2011
CUKUP itu Berapa?
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib.
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya, seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti, bila si petani mengucapkan kata "cukup".
Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan matanya.
Diambilnya beberapa ember untuk menampungnya.
Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana.
Kucuran uang terus mengalir, sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.
Masih kurang ......, dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya.
Belum cukup ......, dia membiarkan mata air itu terus mengalir, hingga akhirnya ......, petani itu mati tertimbun.
Ya, dia mati tertimbun bersama ketamakannya, karena ..... dia tak pernah bisa berkata "CUKUP".
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia, adalah "cukup".
Kapankah kita bisa berkata cukup ?
Hampir semua pegawai, merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha, selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang ......, kurang ......, dan kurang .......
Kapankah kita bisa berkata "cukup" ?
Cukup, bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup, adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup, hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa bersyukur.
Tak perlu takut berkata cukup !
Mengucapkan kata cukup, "bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya."
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini,
maka kita akan menjadi manusia yg berbahagia.
Rabu, 15 Juni 2011
Penyampaian
Suatu hari seorang tukang kayu yang buta huruf menerima sepucuk surat. Karena ia buta huruf, maka ia tergesa - gesa menuju ke penjual daging kenalannya, yang punya watak keras untuk minta tolong membacakan surat.
"Ini surat dari putramu", seru si tukang daging. "Begini bunyinya, Ayah aku sakit dan tidak punya uang sesenpun, tolong kirimkan aku sejumlah uang sesegera mungkin.
Putramu". Dibacakan dengan keras dan kasar oleh si tukang daging. Tukang kayu menjadi marah, ia berkata, "Dasar anak tak tahu diri ! Memangnya dia siapa memerintah aku, ayahnya ? Jangan kira aku akan mengirimi dia sesenpun "
Dalam kemarahannya ia kembali ke rumah, tapi di perjalanan ia bertemu sahabatnya, Seorang penjahit yang bersuara lembut.
Ia pun bercerita tentang surat yang tadi. "Coba kau lihat sendiri surat putraku ini". Penjahit itu lalu membaca surat itu dengan suaranya yang lembut, tenang, dan jelas.
Tiba-tiba surat itu berbunyi sangat lain, si Tukang kayu itupun menjadi sedih "Oh anakku malang!", katanya dengan cemas.
"Ia pasti sangat menderita, lebih baik aku segera mengirimnya uang sekarang juga"
Memang benar !!! Pesan sangat tergantung pada cara penyampaiannya.
Bila kita renungkan, konflik yang sering terjadi antara pasangan, sahabat, rekan kerja, sering bukan karena ada masalah besar dan rumit yang tidak bisa dipecahkan.
Namun karena kita tidak dapat mengatur cara kita menyampaikannya.
Terutama saat kita tidak setuju, lalu menyampaikannya dengan sikap lebih sabar, ramah, lembut, maka yang mendengarnya akan mudah menerima dan tidak akan terjadi pertentangan.
Senin, 23 Mei 2011
Ekonomi Makin Kencang Tapi Kian Timpang
Pembangunan ekonomi makin kencang namun makin timpang. Bagaimana mengatasinya? Namun masih ada solusinya bagi persoalan ini.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika melihat perekonomian secara umum terus bergerak dengan laju yang cukup kencang. Sayang, pemerataan dan keadilan sosial makin timpang.
Pertumbuhan ekonomi selalu menjadi kisah manis yang membuat bangsa ini dianggap sebagai salah satu dari emerging markets (dulunya termasuk negara yang ajaib di kawasan Asia Timur). “Sayangnya, dalam soal pemerataan pendapatan (pembangunan), masalah yang terjadi tidak pernah mengalami perbaikan,bahkan akhir-akhir ini justru melaju ke arah yang memburuk. Ketimpangan kian tajam,” kata Ahmad Erani yang juga Direktur Eksekutif Indef, kemarin.
Menurutnya, pada 1999, Rasio Gini (mengukur ketimpangan pendapatan dari skala 0-1) masih cukup bagus, yakni 0,31. Setelah itu, Rasio Gini memburuk berturut-turut 0,32 (2002); 0,34 (2005); 0,35 (2006); 0,37 (2009); 0,36 (2008); dan 0,35 (2009). Pengukuran Rasio Gini ini masih menggunakan dasar pengeluaran, bukan pendapatan. Seandainya pengukuran Rasio Gini memakai dasar pendapatan, barangkali akan jauh lebih tinggi (timpang).
Pemburukan ketimpangan itu terjadi pada saat pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan misalnya pada 1999 pertumbuhan ekonomi 0,79%; 2002 (4,30%); 2005 (5,60%); 2006 (5,50%); 2007 (6,20%); 2008 (6,00%), 2009 (4,50% karena krisis ekonomi); dan 2010 (6,10%). Data tersebut dengan terang mengungkapkan pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan ketimpangan.
Ketimpangan lain, ungkapnya, bisa dilihat dari disparitas antarsektor ekonomi. Dengan melihat rata-rata pertumbuhan sektor ekonomi (2004-2009), akan terlihat ketimpangan pertumbuhan sektor tradeable (riil) dan sektor non-tradeable. Pada periode itu sektor tradeable hanya tumbuh rata-rata 3,33%, sedangkan sektor nontradeable tumbuh 8,80%.
Secara lebih rinci, pertumbuhan rata-rata sektor tradeable dalam kurun waktu tersebut: sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan (3,70%); pertambangan(2,38%); danindustripengolahan(3,92%). Sementara itu, pertumbuhan rata-rata sektor non-tradeable dalam kurun waktu tersebut: sektor listrik,gas,dan air bersih (9,42%); konstruksi (7,79%); perdagangan, hotel, dan restoran (6,33%); pengangkutan (14,62%); keuangan, real estat, dan jasa perusahaan (6,69%); serta jasa-jasa (6,08%).
Data tersebut memaklumatkan betapa makin terpinggirkannya sektor pertanian dan industri sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Padahal, sektor pertanian dan industri menjadi tulang punggung perekonomian nasional, khususnya dari sisi penyerapan tenaga kerja. Pada 2010 sektor pertanian tercatat menyerap 38,34% dan sektor industri menampung 12,77% tenaga kerja.
Ketimpangan itu bisa juga diperiksa dari sisi wilayah. Jamak dikatakan, pembangunan ekonomi di Indonesia sebetulnya hanya terjadi di Jawa dan Sumatera. Jika pernyataan itu dikonfirmasi dengan data, nyatanya tidaklah salah.
Secara nasional, Pulau Jawa dan Sumatera menguasai lebih dari 80% dari PDB Indonesia. Pada 2008 misalnya kontribusi Sumatera terhadap PDB sebesar 22,9%; Jawa 57,9%; Bali dan Nusa Tenggara 2,5%; Kalimantan 10,4%; Sulawesi 4,3%; dan Maluku dan Papua 2,0%. Jadi, pada 2008 Sumatera dan Jawa menyumbang 80,8%; namun pada 2010 meningkat menjadi 81,0%. Pada 2010, kontribusi Kalimantan bahkan merosot tinggal menjadi 9,1%.
Sebagai solusi, Ahmad Erani mengimbau pemerintah, ini saatnya pembangunan ekonomi di geser ke Indonesia Timur. Salah satu yang terpenting adalah infrastruktur seperti jalan,listrik,dan pelabuhan.
Program pengembangan koridor ekonomi dan konektivitas mesti diletakkan dalam konteks pergeseran wilayah pembangunan ekonomi ini. Terakhir,kelembagaan ekonomi merupakan bagian yang harus disentuh, tidak boleh dialpakan. Agar ketimpangan antara Indonesia barat dan timur dapat dikikis dan keadilan sosial bisa ditingkatkan.
Oleh: Herdi Sahrasad
Minggu, 22 Mei 2011
Diam
Di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur.
Suatu hari, 2 orang mnghadap sang hakim. Mereka bertengkar hebat dan nyaris
beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungn 3x7.
Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27.
Ternyata sang hakim memvonis cambuk 10x bagi orang yang menjawab 21.
Spontan si terhukum memprotes.
Sang hakim menjawab, "hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu tetapi untuk kebodohanmu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!".
Hikmah dari crita ini adalah bahwa jika kita sibuk mmperdebatkn sesuatu yang tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan. Sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
Bukankah kita sering mengalaminya? Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga/ kolega.
Berdebat/ bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma.
Ada saatnya kita diam untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yang sia-sia.
Diam bukan berarti kalah, bukan?
Memang bukan hal yang mudah tapi janganlah sekali-sekali berdebat dengan orang bodoh yang tidak menguasai permasalahan.
Janganlah berdebat dengan seseorang manakala kita tahu bahwa sudut pandangnya bertolak belakang dengan kita.
MERUPAKAN SUATU KEARIFAN BAGI ORANG YANG BISA KONTROL & HINDARI KEMARAHAN
ATAS SUATU KEBODOHAN.
Kamis, 10 Maret 2011
Tiga Tips Hindari Penyesalan Seumur Hidup
Salam funtastic, selamat pagi, selamat siang atau selamat sore atau selamat malam bagi para pembaca sekalian. Hidup ini terasa indah saat saya dapat menerima dan mensyukuri apapun yang saya miliki dan kejadian apapun yang menimpa hidup saya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda merasa hidup ini indah ?
Hmmmmm menarik apa yang menjadi jawaban anda…. Ada sebuah survei di sebuah rumah sakit yang merawat orang orang yang lanjut usia. Para orang tua lanjut usia tersebut diberikan suatu pertanyaan sebagai berikut: “Apa yang membuat mereka menyesal semasa hidupnya?”
Dari hasil survei ditemukan kurang lebih 90% memberikan jawaban: Mereka menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang mereka tahu seharusnya dilakukan. Misal: seharusnya menyelesaikan S2, tetapi mereka menunda-nunda.
Ingin memulai bisnis, tetapi ditunda karena terlalu banyak pertimbangan dan tidak mau ambil risiko. Ingin membahagiakan orang yang dicintai, tetapi tidak melakukan sesuatu sampai akhirnya orang yang dicintai tersebut sudah meninggal.
Mark Twain berkata kebanyakan orang setelah 20 tahun ke depan kecewa dengan sesuatu yang tidak mereka lakukan. Orang gagal adalah orang yang hanya selalu bermimpi dan menunda melakukan sesuatu untuk mencapai mimpi.
So bagaimana dengan anda: apakah anda termasuk orang yang hanya bermimpi atau orang yang selalu bertindak? Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dan lakukan. Marilah kita lihat di bawah ini:
Pertama, Selalu Belajar.
Seorang pemain bola basket terkenal bernama Grant Hill memberikan pernyataan selama tidak ada pertandingan dengan berkata: “Saya tidak dapat berhenti latihan meskipun hanya 1 hari, karena dengan berhenti 1 hari, saya merasa keahlian saya berkurang”.
Suatu kali saya melihat video tentang olimpiade untuk orang cacat, saya amati bahwa tanpa belajar dan latihan yang keras tidak mungkin mereka bisa melakukan kegiatan olah raga dengan kondisi badan yang cacat.
Bill Gates mengatakan: “I really had a lot of dreams when I was kid, and I think a great deal of that grew out of the act that I had a chance to read a lot”. Dikatakan: “saya memiliki banyak mimpi saat kecil, dan bersyukur sekali pertumbuhan itu datang karena saya memiliki kesempatan untuk membaca banyak hal”.
Rick Warren mengatakan: “Begitu anda berhenti belajar, anda berhenti memimpin”. Ronald E. Osborn mengatakan : “Belajarlah dan kerjakan sesuatu yang sulit, itu baik buat kita. Jika kita mengerjakan sesuatu yang telah kita kuasai, kita tidak akan pernah berkembang".
Kedua, Sadar di tahap kehidupan yang mana.
Ada 7 tahap dalam kehidupan ini, coba pilih di tahap manakah anda berada saat ini. Tahap pertama: Lahir, kedua: fisik tumbuh menjadi dewasa, ketiga: belajar/sekolah/kuliah/kursus, keempat: Berkeluarga/menikah/memiliki anak, kelima: Berkarya menghasilkan penghasilan, keenam: Tua – sakit sakitan – rentan, ketujuh: meninggal dunia. Jika anda sudah di tahap kelima, maka anda tinggal memiliki 2 tahap dalam hidup yaitu : tua dan akhirnya meninggal dunia. Sadarlah !
Ketiga, Terimalah apa yang tidak dapat diubah.
John C. Maxwell mengatakan: “Kita terlalu sering mencoba memilih dan mengatur hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, tetapi kita terlalu jarang memilih dan mengatur hal hal yang dapat kita kendalikan, yaitu sikap hidup kita”.
Beberapa hal yang tidak dapat diubah seperti: dilahirkan suatu keluarga, bentuk fisik, jenis kelamin pria/wanita, kenyataan pendidikan hanya terbatas saat ini, kenyataan harus bekerja, hidup di Indonesia, cuaca, masa lalu, kematian orang yang sudah meninggal. Sekeras apapun kita berusaha untuk mengubah apa yang tidak dapat kita ubah, tak mungkin dapat berubah. Janganlah lari dari hal hal yang tidak dapat kita ubah. Tetapi terimalah dan hadapilah dan menyerahkan kepada Tuhan, maka akan ada kedamaian.
Hematlah energi dengan menghentikan pergumulan sesuatu yang tidak dapat diubah. Menerima kenyataan akan menghentikan kepedihan anda. Jangan pernah mengkuatirkan apapun yang di luar kuasa anda untuk dapat anda ubah. Berhentilah upaya mengubah orang lain, ubahlah diri anda dengan meminta kekuatan Tuhan: sikap anda, kepribadian, kebiasaan buruk, pekerjaan anda, pernikahan, keremukan hati. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya dan Ia akan bertindak.
ANTARA News
Minggu, 27 Februari 2011
KENAIKAN CADANGAN DEVISA DAN PERBAIKAN PERINGKAT
Cadangan devisa Indonesia terus menggemuk. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan cadangan devisa RI kembali menggelembung hingga mendekati USD100 miliar, tepatnya sudah mencapai USD98,5 miliar.
Angka tersebut disumbang dari penerimaan minyak dan gas sebagai bagian dari penerimaan pemerintah. Kenaikan harga minyak dunia ternyata tidak memberikan efek yang negatif bagi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia justru menyebabkan penerimaan minyak dan gas cukup besar sehingga cadangan devisa terus bertambah. Meski demikian, terdapat dampak negatif pada inflasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak disubsidi.
Di akhir Desember 2010 cadangan devisa tercatat sebesar USD96,207 miliar. Kemudian turun tipis di Januari 2011 menjadi sebesar USD95,3 miliar. Pada pekan ketiga Februari 2011, cadangan devisa RI kembali meningkat menjadi USD97 miliar.
Lebih jauh, menggelembungnya cadangan devisa menjadi salah satu sentimen positif bagi lembaga pemeringkat internasional untuk menaikkan peringkat Indonesia menuju investment grade. Bermula dari Fitch yang menaikkan outlook peringkat utang Indonesia atau long-term foreign and local currency issuer default ratings (IDRs) pada rating ‘BB+’ dan merevisi outlook keduanya menjadi positif dari stabil, pada 24 Februari 2011.
Tentu saja perbaikan peringkat ini disambut gembira meski ini baru outlook-nya. Namun biasanya upgrade di outlook akan segera dilanjutkan dengan rating-nya menuju investment grade. Banyak kalangan optimis Indonesia dapat menuju investment grade dalam waktu dekat apalagi cadangan devisa mendekati angka USD100 miliar.
Yang pasti, angka tersebut menunjukkan nilai tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Berikut posisi cadangan devisa selama 2010. Pada 31 Januari 2010 baru mencapai USD70 miliar dan terus bertambah secara konsisten di 30 Juni 2010 menjadi USD76,3 miliar hingga pada akhirnya di 31 Desember 2010 bertambah lagi menjadi USD96,2 miliar. Memasuki 2011, cadangan devisa masih melanjutkan peningkatan, di mana pada 22 Februari 2011 mencapai USD97 miliar.
Perbaikan peringkat, yang salah satunya didorong oleh lonjakan cadangan devisa, memberikan perspektif positif bahwa prospek ekonomi Indonesia ke depan cukup menjanjikan. Hal ini berpeluang menarik sebesar-besarnya modal asing baik ke sektor riil maupun ke sektor keuangan. Yang diharapkan tentu masuknya modal asing ke sektor riil karena akan memberikan dampak positif bagi perekonomian secara luas. Masuknya modal asing ke sektor riil akan memperkuat stabilitas ekonomi dan moneter karena sifatnya jangka panjang.
Sebaliknya masuknya modal asing ke investasi portofolio di sektor keuangan, terutama di pasar modal, berpotensi menimbulkan instabilitas ekonomi dan moneter apabila sewaktu-waktu modal asing itu ditarik ke luar oleh pemiliknya.
Pemicu larinya modal asing diantaranya iklim investasi yang tidak kondusif, ketidakstabilan sosial politik, ketidakpastian hukum, dan yang paling ekstrim terjadi aksi sosial seperti unjuk rasa yang mengarah ke tindakan anarkis.
Dengan spirit pemerintah untuk mendorong partisipasi swasta nasional dan asing dalam pembangunan ekonomi, maka peluang perbaikan peringkat harus dapat diterjemahkan dengan baik oleh jajaran pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas layanan birokrasi agar pemilik modal asing yang akan masuk merasa nyaman.
Momentum kebangkitan ekonomi kawasan Asia, termasuk Indonesia, belakangan ini menjadi perangsang bagi pemilik modal asing untuk menanamkan modalnya di kawasan ini. Ketika pemulihan ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika belum sepenuhnya memenuhi harapan para pemilik modal atau investor, maka mereka cenderung akan melirik kawasan Asia sebagai destinasi yang atraktif untuk penanaman modal.
Ketersediaan sumber daya alam baik di sektor pertanian maupun pertanian, memberikan daya tarik lebih bagi kalangan investor asing. Hal ini ditunjang oleh ketersediaan tenaga kerja yang mencukupi. Kalau pun masih ada sedikit kelemahan, itu pun masih di seputar ketersediaan infrastruktur yang belum memadai.
Namun dengan tekad pemerintah untuk memperbaiki sarana dan prasarana fisik di berbagai daerah, tentu ini memberikan daya ketertarikan yang lebih bagi investor asing. Perbaikan sarana transportasi baik jalan tol maupun pelabuhan laut dan bandar udara menjadi faktor penarik utama karena konensitas antarpulau dan/atau antardaerah, bahkan antarnegara, menjadi lebih efisien.
Perbaikan peringkat memang patut disyukuri, namun lebih dari itu menjaga agar peringkat itu tidak jatuh lagi adalah persoalan yang jauh lebih penting. Ibarat sebuah pentas kejuaraan, merebut piala kejuaraan terasa lebih mudah dibandingkan dengan mempertahankan piala kejuaraan.
Bahkan yang harus diupayakan oleh pemerintah beserta seluruh komponen kelembagaannya, capaian peringkat yang sudah baik ini harus ditingkatkan secara berkelanjutan sehingga Indonesia benar-benar mampu meraih predikat sebagai negara layak investasi (investment grade) di mata investor global. Harus dimengerti bahwa pesaing Indonesia tidak saha China dan India, namun juga sudah meluas mencakup Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina.
Pemerintah tidak boleh terlena dengan capaian perbaikan peringkat ini, namun justru berupaya keras menjaga dan bahkan meningkatkannya lagi. Capaian pertumbuhan ekonomi Singapura (14,7%), Malaysia (7,0%), Thailand (7,2%) Vietnam (6,7%) dan Filipina (7,3%) yang melampaui pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 yang sebesar 6,1% hendaknya menjadi peringatan khusus bahwa ternyata perekonomian negara-negara tetangga bertumbuh lebih baik.
Bukan tidak mungkin mimpi Indonesia untuk menyejajarkan dirinya dengan kelompok BRIC (Brasil, Rusia, India dan China) tidak akan kesampaian, karena yang mampu melakukan itu justru negara-negara tetangga dekat Indonesia.
Untuk itulah reformasi birokrasi di jajaran pemerintahan harus terus diupayakan agar standar kualitas layanan birokrasi Indonesia bisa menyamai standar di negara-negara lain yang tecermin dari level pertumbuhan ekonominya yang lebih tinggi dari Indonesia. Termasuk dalam upaya mereformasi birokrasi adalah melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahn yang bersih dan bertanggung jawab (clean government).
Business News
Petani dan Tetangganya
Pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yg berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yg kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?” Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
“Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus menjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman.” Mendengar solusi Pak Hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi Pak Hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut. Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Di samping rasa terimakasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yg baik.
Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan, “Cara Terbaik untuk mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih.
Senin, 07 Februari 2011
APA ALASAN BANK INDONESIA MENAIKKAN BI RATE?
Ditengah teriakan para pengusaha, Bank Indonesia kelihatannya menyerah pada lobby-lobby asing yang sarat mencari keuntungan sesaat. Ketika kita membaca tulisan analis asing, mereka mengatakan kebijakan Bank Indonesia ketinggalan kereta dibanding dengan Bank Sentral regional dan internasional, istilahnya Bank Indonesia behind the curve dalam meng-antisipasi pergerakan inflasi. Itu sebabnya mereka dengan yakin meminta Bank Indonesia untuk menaikkan acuan tingkat bunga –BI Rate- sebesar 25 basis point.
Nyatanya memang Bank Indonesia melepas BI rate naik menjadi 6.75% hari Jum’at lalu, 4 Februari 2011. Pasar obligasi langsung bereaksi, obligasi tenor panjang naik harganya (imbal balik turun), dengan volume yang cukup besar. Sementara itu obligasi tenor pendek tidak banyak bergerak. Bisa jadi penurunan imbal balik obligasi tenor panjang merupakan ungkapan para pelaku pasar fixed income bahwa ekspektasi ekonomi jangka panjang menjadi lebih baik, risiko lebih kecil, sedangkan ekspektasi prospek ekonomi jangka pendek masih belum terpantau dan terukur.
Pasar saham bereaksi sebaliknya, disesi penutupan naik 0.44%. Pasal naiknya IHSG saat acuan tingkat bunga Bank Indonesia berubah naik merupakan cerminan naiknya ekspektasi pasar modal atas pendapatan para emiten di tahun 2011 ini, dalam jangka pendek, sekitar satu tahun kedepan.
Dua reaksi yang saling berlawanan ini bisa membuktikan bingungnya para investor atas kebijakan Bank Indonesia: sebetulnya positif bagi ekonomi Indonesia, atau malah negatif?
Dari sisi ekonomi riil, kenaikan bunga acuan ini akan meningkatkan biaya dari sisi modal. Pasalnya biaya bunga bakal naik, dan biasanya bank akan langsung menaikkan biaya bunga investasi dan modal kerja. Alhasil, akan ada kenaikan biaya modal secara instan. Ini yang tidak cocok dengan kenaikan IHSG, biaya naik mustinya menurunkan revenue, tetapi IHSG tetap begerak positif. Aneh bin ajaib.
Mungkin pasar berpikir akan ada arus modal asing masuk kedalam sistem ekonomi Indonesia karena imbal balik yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kalau investasi portfolio bisa saja, asing akan masuk membeli SUN karena imbal baliknya naik. Tetapi investasi portfolio ini tidak ada efek langsung terhadap perekonomian riil, karena pintu masuknya hanya ada dua. Pertama, uang pembelian SUN akan masuk ke penerbit SUN yaitu pemerintah (departemen keuangan) dan digunakan untuk membiayai APBN yang defisit. Padahal pencairan APBN terkenal sangat lelet.
Kedua, saat asing membeli SUN yang sudah beredar, kebanyakan mereka membeli dari sektor perbankan. Sehingga sektor perbankanlah, dari semua usaha riil, yang paling diuntungkan. Dua kali untung: dari kenaikan bunga pinjaman dan capital gain SUN. Padahal perbankan Indonesia sudah terkenal sangat susah meningkatkan pinjamannya ke sektor riil.
Pemerintah pun kelihatan gerah dengan keputusan Bank Indonesia. Menko Ekuin Hatta Radjasa tidak bisa menahan reaksi negatifnya: “Bank jangan latah menaikkan bunga kredit,” katanya setelah mendengar keputusan Bank Indonesia. Dia tambahkan: “”Bahkan kita kan justru inginnya bunga untuk dunia perbankan itu malah kita inginkan ada penurunan,” alasannya perbedaan bunga deposito dengan bunga kredit masih tinggi, sekitar 6%.
Kebijakan Bank Indonesia terakhir bisa jadi mencemarkan kredibilitasnya. Sebulan sebelumnya, di bulan Desember 2011, alasan utama tidak menaikkan tingkat bunga acuan adalah tidak berubahnya core inflation (inflasi komoditas yang harganya diatur pemerintah). Angka inflasi Janauri 2011 malah menunjukkan perbaikan core inflation, kok malah BI menaikkan bunga acuan, bukan sebaliknya? Aneh bin ajaib. Bank Indonesia seakan menelan ludah sendiri.
Memang kita masih meraba-raba alasan kebijakan Bank Indonesia minggu lalu itu. Bisa jadi biaya intervensi valas dirasakan terlalu berat, apalagi dengan gejala pergerakan dollar Amerika Serikat yang cenderung menguat karena adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi Amerika Serikat. Tanpa kenaikan BI rate, biaya intervensi semakin tinggi.
Padahal pergerakan inflasi bukan gejala moneter, masih berasal dari sisi produksi yang naik biayanya. Sehingga sesungguhnya kenaikan bunga acuan malah akan meningkatkan inflasi di dalam jangka pendek. Belum lagi ada halangan didepan, penghapusan cap tarif listrik dan efek psikologis pembatasan penjualan premium. Apalagi kalau cuaca alam kembali tidak bersahabat, merusak panen, harga pangan kembali naik.
Artinya, efek akhir dari naiknya BI rate malah meningkatkan inflasi, bukan sebaliknya. Bisa sia-sia pengorbanan petani kita karena pemerintah menghapus bea masuk komoditi pertanian. Petani jadi semakin susah, inflasi tetap saja naik.
Business News
Rabu, 26 Januari 2011
MAKNA PERBAIKAN PERINGKAT INDONESIA
Lembaga pemeringkat, Moody’s Rating menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari Ba2 menjadi Ba1, atau satu peringkat (notch) di bawah ‘investment grade’ dengan outlook stabil. Perbaikan peringkat ini diberikan karena Moody’s menilai ada perbaikan dari sisi surat utang pemerintah, membaiknya prospek Penanaman Modal Asing (PMA) dan cadangan devisa yang cukup besar.
Peringkat Moody’s ini setara dengan peringkat yang diberikan lembaga pemeringkat lain, Fitch Ratings di level BB+ dan satu peringkat lebih tinggi dari peringkat S&P di level BB dengan outlook stabil.
Kenaikan peringkat dari Moody’s ini sangat spesial bagi Indonesia karena diberikan kepada suatu negara di tengah situasi negara-negara lain di berbagai kawasan yang sedang mengalami masa sulit. Perbaikan peringkat ini akan menambah confidence investor khususnya asing untuk bertahan di Indonesia.
Terdapat beberapa alasan Moody’s menaikkan peringkat Indonesia. Pertama, dari faktor ketahanan ekonomi Indonesia diikuti neraca makroekonomi yang berkelanjutan. Kedua, dari faktor posisi utang pemerintah dan cadangan devisa valuta asing bank sentral yang membaik. Ketiga, dari faktor rospek arus investasi asing juga terus membaik. Ini bisa memperkuat posisi eksternal dan outlook ekonomi Indonesia.
Ke depan, perbaikan peringkat masih bisa dilakukan dengan melakukan berbagai upaya. Misalnya, melanjutkan kebijakan stabilitas moneter dan stabilitas harga. Lalu pengawasan perbankan yang lebih bagus, membaiknya permodalan dan kredit untuk mendukung langkah pemerintah dalam mengelola utang. Juga masuknya aliran investasi asing langsung untuk mendukung neraca pembayaran eksternal.
Kalau upaya perbaikan tidak dilakukan, peringkat yang sudah diperoleh bisa diturunkan lagi. Misalnya, apabila pemerintah kehilangan kontrol inflasi dan stabilitas moneter. Atau terjadi goncangan yang kuat terhadap fiskal, utang dan posisi cadangan devisa. Hal ini bisa datang akibat kesalahan kebijakan atau beberapa guncangan dalam politik domestik. Hasilnya kepercayaan investor dan masyarakat bertambah buruk.
Moody’s juga menimbang beberapa risiko kunci pada peringkat dan outlook Indonesia terutama menyangkut sistem politik. Oposisi dari mitra koalisi telah memperlambat aksi pemerintah untuk menerapkan reformasi ekonomi. Namun ini belum berdampak secara menyeluruh pada manajemen kebijakan secara menyeluruh. Atau prospek ekonomi jangka pendek. Walau begitu, bila hambatan politik menghalangi kebijakan dan administrasi atau pengawasan perbankan, kepercayaan investor akan menurun dan tekanan pada pasar finansial akan naik.
Jumlah orang asing yang memegang surat utang pemerintah Indonesia berbentuk rupiah meningkat. Keadaan ini bisa membikin masalah melihat relatif dangkalnya pasar kapital domestik di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus bekerja keras menciptakan pasar keuangan yang lebih dalam melalui program financial inclusion.
Untuk itu, sudah benar langkah pemerintah yang selama ini sudah melakukan deepening domestik bond market melalui diversifikasi instrumen dan dengan menjaga stabilitas pasar dengan pembentukan bond stabilization fund serta meningkatkan koordinasi dengan berbagai otoritas termasuk moneter dan pasar modal.
Makna sesungguhnya dari perbaikan peringkat utang domestik dan internasional pemerintah adalah pengakuan bahwa pengelolaam makroekonomi Indonesia sudah on the track. Pertumbuhan ekonomi terjaga dengan baik, mampu mencapai 6 persen (angka perkiraan) pada tahun 2010.
Nilai tukar rupiah juga relatif terjaga pada posisi yang cukup kuat di kisaran Rp 9.000 per dolar AS. Kredit perbankan juga tumbuh dengan baik sebesar 21 persen atau dua kali lipat dari 2009 yang hanya 10,6 persen. Situasi makroekonomi yang kondusif membuat pemodal asing tergoda untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia, terlihat dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat menyentuh level 3.700. kalau pun sekerang indeks mengalami penurunan hingga ke kisaran 3.500, hal ini diyakini hanya respon sesaat dari para investor.
Hanya inflasi yang tinggi, yakni 6,96 persen di 2010, yang sedikit “mencoreng” prestasi pemerintah dalam membangun pondasi perekonomian. Namun dengan komitmen kuat untuk mengantisipasi lonjakan inflasi di tahun ini, diyakini laju inflasi akan dapat dikendalikan pada level yang lebih moderat.
Dengan mengusung plaftorm strategi pembangunan ekonomi bertumpu pada empat pilar, yaitu pro growth, pro jobs, pro poor, dan pro environment, diharapkan prestasi ekonomi Indonesia akan terus terjaga dengan baik. Persoalan inflasi ditambah ancaman krisis pangan dan energi hendaknya menjadi catatan serius pemerintah untuk menyelesaikannya.
Khusus terkait ancaman krisis pangan, hal ini hanya bisa diantisipasi apabila pembangunan pertanian domestik digagalkan kembali. Jangan lagi berharap bahwa Indonesia bisa mengimpor bahan makanan dari negara lain, karena negara-negara lain juga mengalami ancaman yang sama. Thailand dan Vietnam sebagai contoh, secara perlahan-lahan sudah menghentikan ekspor beras ke negara-negara lain karena berorientasi untuk mengatasi problem dalam negerinya.
Jadi, Indonesia harus mandiri, tidak boleh bergantung kepada negara lain, untuk dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri. Bukan hanya oal pangan, melainkan juga soal energi. Pemnerintah harus inovatif dan kreatif menemukan sumber-sumber energi alternatif yang murah dan berisiko rendah. Potensi sumber energi alternatif terbuka luas baik dari sumber matahari, air laut dan sungai, udara, dan pertambangan.
Business News
Selasa, 25 Januari 2011
Outside The Box
SBY dituduh “berbohong”. Kabar angin mengatakan bahwa pernyataan “bohong” itu masih berupa konsep, dan masih belum disetujui oleh semua yang terlibat. Tetapi memang pernyataan “bohong” itu keluar dan tercium oleh media, bergulir seperti bola salju menggelinding dengan cepat, sampai membuat SBY uring-uringan. Nasi sudah jadi bubur, pernyataan SBY “berbohong” jadi konsumsi masyarakat.
Jarang SBY bereaksi cepat, mungkin karena kata “bohong” terlalu kuat dan kasar. Kemarin dulu SBY mengumpulkan 100 tokoh agama, termasuk 9 tokoh agama inisiator tuduhan “bohong” itu. Dengan cerdas SBY mengepung 9 tokoh agama, dengan mengundang tokoh agama lainnya, mencoba menetralisir “bohong” dari 9 tokoh agama, sekaligus menunjukkan masih banyak tokoh agama yang mewakili umat dan tidak berkata “bohong”.
Dari belasan “kebohongan” itu, mari kita lihat sisi ekonominya saja. Kadang kala indikator makro bisa menipu persepsi masyarakat. Misal saja indikator inflasi. Per definisi inflasi adalah indikator yang menyatakan kenaikan harga yang terus menerus. Kalau harga cabai dari Rp20.000,-/kilo naik menjadi Rp30.000,-, maka terjadi inflasi 50% atas harga cabai. Besok harga cabai menjadi Rp25.000,-, inflasi turun (deflasi) sebesar 17%. Di satu pihak indikator menunjukkan deflasi, tetapi masyarakat tetap membayar cabai lebih mahal dari sebelumnya.
Di sini bisa jadi pangkal sengketa: pemerintah bilang deflasi, masyarakat bilang harga naik. Dua-duanya benar, tetapi masing-masing memakai definisi yang berbeda, bukan apple to apple.
Indikator kemiskinan dan pengangguran tidak kurang ribet. Definisi Biro Pusat Statistik berbeda dengan World Bank, masing-masing punya argumentasi sendiri. Definsi BPS kemiskinan 30 juta orang, definisi World Bank 70 juta. Kenapa pemerintah memakai definisi BPS? Gampang saja, BPS adalah lembaga resmi Indonesia yang mengeluarkan angka statistik, sementara World Bank bukan. Kalau pemerintah tidak percaya dengan definisi BPS, ya bubarkan saja BPS, kita ikut World Bank.
Tetapi dibalik debat definisi ini, harusnya kita sadar bahwa baik angka 30 juta dan 70 juta hampir sama gawatnya: gawat dan sangat gawat. Kenyataan 30 juta rakyat miskin itu luar biasa besar. Bayangkan penduduk Singapura tidak sampai 10 juta manusia, jadi angka 30 juta adalah tiga kali jumlah penduduk Singapura. Artinya di Indonesia ada tiga negara Singapura yang miskin, itu perbandingan yang dahsyat.
Bagaimana kemampuan pemerintah mengatasinya? Ini musti jelas, melihat angka APBN yang tidak bisa “berbohong”. Kalau lihat angka APBN harus diakui kemampuan pemerintah untuk menjawab masalah ini sangat minim dalam jangka waktu pendek. Apa pasal? Anggarannya tidak cukup. Lihat saja tabel APBN. Pada tahun 2010, total belanja negara sebesar 1.100 triliun. Dari total belanja, 30% masuk ke daerah, sisanya pemerintah pusat.
Kalau dana masuk ke daerah, pemerintah pusat tidak bisa apa-apa. Paling banter, minta mereka ikut program pemerintah pusat. Kalau menolak tidak ada sangsi.
APBN 2010 2011
Pendapatan Negara 992,4 1.104,9
Pajak 743,3 850,3
Bukan Pajak 247,2 250,9
Hibah 1,9 3,7
Belanja Negara 1.126,1 1.229,6
Belanja Pusat 781,5 836,6
Transfer ke Daerah 344,6 393,0
Pembiayaan 133,7 124,7
Dalam Negeri 133,9 125,3
Luar Negeri (0,2) (0,6)
Belanja pemerintah pusat, 781 triliun, 90% adalah belanja rutin (pegawai dan barang), bayar bunga, dan subsidi, sisanya 10% belanja modal. Total belanja modal hanya 77 triliun (sumber: Data Pokok APBN)
Misalkan saja pemerintah mengeluarkan semua 77 triliun kepada masyarakat miskin yang 70 juta itu, maka program pengentasan kemiskinan pemerintah pusat dalam setahun berjumlah Rp1,1 juta per orang nya, atau Rp3.000,- per orang per hari. Pertanyaannya apakah uang Rp3.000,- per orang per hari cukup? Sama sekali tidak cukup!
Defisit APBN terlihat jelas dibiayai oleh dalam negeri, yaitu menjual obligasi pemerintah, dan hampir semuanya dibeli oleh bank dan BUMN. Kalau pemerintah pusat mau menaikkan budget Rp3.000,-, maka kemampuan dalam negeri untuk financing tidak ada.
Harapan satu-satunya adalah pinjaman luar negeri, tetapi kalau dari tabel, uang yang masuk sebagai pinjaman lebih sedikit dari yang keluar. Artinya, pinjam uang untuk bayar hutang luar negeri.
Jadi bagaimana? Di dunia business, dikenal transaksi refinancing, jadi hutang luar negeri negara seharusnya bisa meniru transaksi seperti itu. Siapa yang paling mampu membiayai refinancing ini? Ada dua negara raksasa yang mempunyai cadangan devisa yang luar biasa besar: China dan India.
China punya punya devisa USD2.7 triliun . Utang Indonesia sebesar USD60 miliar sangat kecil dari cadangan devisa itu. Coba kita bisa melakukan transaksi refinancing dengan China, bakal luar biasa dahsyat. Refinancing bisa dengan memanjangkan tenor pinjaman, mengecilkan bunga, di mana total efeknya meringankan cash flow APBN. Artinya, belanja modal pemerintah bisa didongkrak paling sedikit dua kali karena biaya bunga berkurang, plus hutang luar negeri bertambah karena kemampuan pemerintah untuk berutang juga bertambah.
Sehingga sudah seharusnya, silang pendapat “berbohong” dihentikan. Semua duduk bersama memikirkan 70 juta orang itu mendapat program yang memadai. Kalau kita tetap bertumpu pada model APBN seperti sekarang, kita tidak akan bisa menjawab masalah kemiskinan dan pengangguran dalam waktu jangka pendek. Pertanyaannya: Apakah sang miskin bisa menunggu??
Businessnews
ANGKA KEMISKINAN DAN PUJIAN BANK DUNIA
Menarik mencermati polemik soal prestasi ekonomi Indonesia yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang kemudian mendapat respon “negatif” dari kalangan aktivis dengan mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan kebohongan di balik angka-angka yang disajikan.
Ada baiknya polemik itu ditelaah secara jernih dengan kepala dingin sehingga kita bisa mengambil intisari dan hikmahnya sekaligus. Mari simak sejenak polemik itu. Pemerintah SBY dituding berbohong dengan angka kemiskinan. Angka kemiskinan diklaim pemerintah turun dari 32,53 menjadi 31,02 juta orang. Satu setengah juta orang telah terentas dari kemiskinan.
Sontak penurunan angka kemiskinan ini menuai berbagai reaksi masyarakat yang dianggap jauh api dari panggang. Realitanya, masyarakat miskin bertambah banyak. Memang, angka kemiskinan akan mengalami dinamika dalam penafsiran.
Penafsiran angka kemiskinan akan sangat beragam sesuai sudut pandang (background) akademis, profesi dan pengetahuan pengguna data. Terlebih, jika sudah terjebak dalam “kontaminasi politik”, maka penafsiran akan menjadi jauh berbeda.
Cara Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur kemiskinan sudah sangat standar dan dilakukan banyak negara di dunia. Data kemiskinan yang dirilis BPS dihimpun dari 33 provinsi dengan mengerahkan 12 ribu petugas lapangan mitra independen BPS.
Hingga sangat sulit diterima, ada rekayasa di balik angka kemiskinan. Karena penduduk miskin masih 31,02 juta atau sekitar 13,3 persen dari penduduk Indonesia tentu masih mudah dijumpai orang-orang miskin itu.
Di sisi lain kita terkadang lupa merasakan denyut pengurangan kemiskinan. Misalkan makin panjang antrean masyarakat di berbagai daerah untuk ibadah haji, makin meningkatnya penjualan kendaraan dan mobil mewah.
Makin meningkatnya konsumsi barang-barang sekunder (handphone, televisi dan barang elektronik lain). Mencermati fenomena di atas marilah lebih arif dalam menerjemahkan angka kemiskinan dan memacu diri turut serta mengawal program perlindungan sosial yang digulirkan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.
Jadi, kepada para tokoh masyarakat janganlah menjadikan angka-angka ilmiah statistik menjadi konsumsi politik. Marilah kita beri kesempatan pemerintah agar masyarakat dapat menikmati kebutuhan dasarnya. Kasihan rakyat yang tidak tahu apa-apa sering dijadikan “komoditas politik” oleh segelintir elit politik.
Sejauh ini banyak kalangan ekonom memproyeksikan perekonomian Indonesia bakal mengalami pertumbuhan lebih baik dibanding negara Asia lain. Indonesia, bersama China dan India, terus memimpin pertumbuhan ekonomi kawasan. Perekonomian Indonesia didukung pasar domestik yang besar dan kemampuan mempertahankan ekspor.
Tingginya, permintaan pasar dalam negeri dan penduduk banyak ini salah satu faktor pendukung pertumbuhan. Semoga ekonomi Indonesia bisa terus tumbuh pada tahun-tahun selanjutnya. Indikator perekonomian naik itu antara lain belanja pemerintah masih cukup besar dan angka inflasi masih terkendali. Dana investasi asing diperkirakan meningkat tahun 2011.
Lonjakan kelas menengah Indonesia bisa diidentifikasi dari pola konsumsi mereka. Misal, masyarakat kelas menengah bawah sudah mampu mengangsur sepeda motor. Masyarakat kelas menengah, tengah memadati mal-mal dan membeli mobil dengan cc kecil.
Masyarakat kelas menengah-atas, mampu berobat dan menyekolahkan anak ke luar negeri, serta membeli mobil jenis sedan. Ini menunjukkan, ekonomi di Indonesia makin maju. Ini merupakan bukti, bertambahnya orang kaya di negeri ini.
Melihat fenomena besar ini, para pelaku bisnis baik dari dalam dan luar negeri telah mencermati sejak beberapa tahun lalu. Mereka sudah mempersiapkan strateji atas membesarnya kelas menengah Indonesia itu. Produsen mancanegara malah sudah banyak mengincar Indonesia sebagai pasar produk mereka dengan mengusung bendera globalisasi.
Memang kalau prestasi ekonomi itu lantas disandingkan dengan fakta bahwa ada sekian orang rakyat Indonesia masih berkekurangan dari segi papan, pangan, dan pendidikan, tentu kekurangan ini tidak boleh men-discourage keberhasilan yang sudah dicapai.
Sebagai perbandingan, perekonomian China tumbuh rata-rata 10 persen setiap tahunnya. Namun jumlah pengangguran di China tetap terbilang tinggi, berkisar 9,5 persen. Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang hasil kebijakan pembangunan bidang ekonomi tidak serta merta bisa diserap atau dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara individual.
Jumlah penduduk China sekitar 1,6 miliar jiwa dengan jumlah usia kerja sekitar 800 juta jiwa, sementara angka pengangguran berkisar 80-90 juta orang. Inilah yang menjadi pemikiran pemerintah China bagaimana dapat memperluas daya serap hasil pembangunan ekonomi kepada seluruh warganya.
Bukti bahwa prestasi ekonomi Indonesia sudah berada pada jalur yang benar diakui oleh Bank Dunia. Lembaga internasional ini terus memuji Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi terus naik dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan dunia internasional mengakui, secara ekonomi Indonesia memang kuat.
Bank dunia mengakui, pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari para investor. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga di tengah krisis global, kita dianggap sebagai negara tangguh dan selalu lepas dari jerat krisis. Semoga kedepan pemerintah melalui tim ekonomi terus bekerja keras, harus optimistis menatap kedepan harus lebih baik. Sehingga hasil pembangunan ekonomi makin tersebar merata dinikmati oleh seluruh rakyat di seluruh pelosok Tanah Air.
Businessnews
Selasa, 04 Januari 2011
Prediksi Ekonomi 2011: Menjaga Momentum
Indonesia salah satu negara di dunia yang beruntung. Saat negara-negara adijaya di dunia tergolek lemas terkena virus krisis hutang, Indonesia tetap berkibar dan tumbuh ekonominya dengan angka yang relatif sehat.
Sebetulnya ada dua jenis virus yang berbahaya di dalam perekonomian dunia. Virus defisit anggaran belanja negara dan virus hutang swasta. Untungnya Indonesia sudah minum antibodi dua jenis ini. Sejak krisis tahun 1998 antibodi ini sangat kuat bekerja, malah seringkali membunuh sel-sel tubuh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Sangking kuatnya antibodi ini, pemerintah sampai tidak sanggup melakukan pencairan proyek-proyek tepat waktu. Lihat saja angkanya: di bulan Desember 23, 2010 konon hanya ada realisasi 83,4% pencairan dana pemerintah, padahal tahun 2009 lebih dari 86,5%. Jauh dari ideal. Proses pembusukan ini harus dihindari di tahun 2011, karena dari sisi expenditure pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat dan pemerintah masih menjadi primadona pertumbuhan ekonomi Indonesia. Walau dua sektor lainnya, sektor investasi dan ekspor masih cukup kuat andilnya di tahun 2010, tetapi kemungkinan besar akan menjadi faktor risiko di tahun 2011.
Faktor risiko internal yang utama adalah ancaman inflasi, utamanya dari bahan pangan dan enerji. Bahan pangan (beras) yang mempunyai andil cukup besar dalam komponen inflasi, kemungkinan akan naik. Hal ini disebabkan faktor cuaca yang masih mengancam Asia, khususnya penghasil beras seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Dua negara tetangga sudah mengalami penurunan panen yang cukup tajam, dan kemungkinan besar tidak bisa ekspor untuk negara konsumen beras seperti Indonesia. Alhasil harga beras di dunia akan loncat ke atas. Sementara enerji, bahan bakar dan listrik, diprediksi secara perlahan akan naik. Jika inflasi terjadinya hanya sementara, pemerintah bisa secara penuh mencairkan dana proyek untuk menggenjot perekonomian.
Sebaliknya memang bilamana tekanan inflasi menguat, pemerintah harus mengerem proyek-proyeknya agar tidak membanjiri sistem keuangan dengan excess liquidity, agar tekanan inflasi tidak berlebihan.
Inflasi juga akan bisa timbul saat gejala over heating terjadi, di mana permintaan barang dari masyarakat terlalu cepat daripada produksi barang. Di sini sektor expenditure masyarakat (consumer demand) menjadi faktor utama (lebih dari 50% dari total PDB). Saat Bank Indonesia menahan tingkat bunga dengan maksud mendorong investasi, masyarakat mempunyai cash/tunai yang berlebih, dan memberikan motivasi masyarakat untuk berbelanja. Dorongan ini bisa terlalu besar karena struktur balance sheet perbankan Indonesia masih belum berubah, sehingga pada titik tingkat bunga rendah bank masih tidak memberikan pinjaman dan lebih memilih masuk pasar obligasi korporat dan negara. Kembali seperti skenario di atas, pemerintah harus mengerem pencairan dana proyek agar excess liquidity di sistem keuangan tidak kelebihan beban dan mendorong inflasi semakin cepat.
Fine tuning belanja pemerintah sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dimana saat pemerintah mengerem proyek maka laju perekonomian melemah dan sebaliknya. Sehingga faktor koordinasi pemerintah dalam menjalankan proyek-proyek, terutama manajemen pencairan dana APBN, tidak bisa tidak harus diperbaiki secepat mungkin. Belanja Pemerintah menjadi senjata counter cyclical memerangi inflasi, selain senjata yang dipegang oleh Bank Indonesia, seperti penjualan obligasi untuk menyerap kelebihan likuiditas.
Faktor risiko eksternal datangnya dari menurunnya perbaikan ekonomi dunia, khususnya zona Amerika Serikat dan Eropa. Beberapa lembaga penelitian dunia meramalkan bahwa pertumbuhan riil dunia akan menurun, dari 4,1% di tahun 2010 menjadi 3,7%. Amerika Serikat hanya akan tumbuh 2,7% di tahun 2011 (2.8% di tahun 2010), Zona Eropa menjadi 1,7% di tahun 2011 (1,8% di tahun 2010). China pun diperkirakan mengalami penurunan dari 10% di tahun 2010 menjadi 9% di tahun 2011.
Singkatnya, pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat, karena perbaikan perekonomian dunia di tahun 2010 bukan akibat perbaikan bottom line (meningkatnya permintaan dan produksi barang) tetapi dari perbaikan balance sheet (mengurangi hutang dan langkah efisiensi) di tahun 2010. Tidak heran recovery ekonomi dunia tidak sustainable dan sangat rentan oleh gangguan-gangguan kecil.
Jika skenario ini benar terjadi maka prospek investasi dan ekspor Indonesia belum tentu akan secerah di tahun 2010, apalagi kalau terjadi reversal capital outflow mengakibatkan pelemahan Rupiah yang mendadak dan akan mendorong imported inflation dan mengurangi potensi foreign investment. Perlambatan pertumbuhan China bisa mengurangi potensi ekspor, khususnya ekspor mineral dan barang-barang mentah Indonesia lainnya.
Business News memprediksi bahwa perekonomian riil Indonesia bisa mencapai 6,5% dengan potensi inflasi sebesar 6,3%, dan kemungkinan besar Bank Indonesia akan menahan 50 basis point diatas inflasi, paling tidak diakhir kwartal kedua.
Indeks Saham diprediksi minimal akan meningkat sebesar 12,8% (sebesar pertumbuhan nominal PDB) dengan potensi 20% di akhir tahun, atau maksimal indeks mencapai 4.440 di akhir periode. Sementara itu penerbitan obligasi korporat bisa menanjak tajam karena adanya peningkatan investment grade baik dari sovereign maupun korporat, sehingga dengan spread yield goverment bonds sekitar 100 – 150 basis point (1% – 1,5%) terhadap inflasi, maka government bonds bisa berkisar 7,5% (satu tahun), sementara itu corporate bonds bisa mencapai 8,5% (satu tahun). Dinamika yield ini akan bergantung dari perubahan besarnya demand karena excess liquidity yang akhirnya menekan yield seperti yang terjadi di tahun 2010.
Sekali lagi isu paling penting di 2011 adalah menjaga momentum, sehingga pada saat proyek-proyek infrastruktur jalan dan listrik sudah terbangun di akhir tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jalan lebih cepat karena tersingkirnya bottle neck di sisi supply.
Business News